NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

BAB 23: Angin Baru dari London dan Sengatan Cemburu Sang Singa

Pagi itu, suasana di SMA Pelita berjalan seperti hari-hari biasanya. Koridor sekolah dipadati oleh riuh obrolan para murid tentang rencana akhir pekan, sebagian sibuk menyalin tugas di atas loker besi, dan sebagian lagi berkumpul di depan mading sekolah. Namun, ketenangan rutinitas tersebut mendadak terusik ketika sebuah mobil sedan mewah berwarna perak metalik yang sangat jarang terlihat di Jakarta berhenti tepat di depan lobi utama gedung sekolah.

Kabar mengenai kedatangan seorang murid pindahan dari luar negeri langsung menyebar bagai api yang tersiram bensin ke seluruh penjuru kelas. Bukan sekadar murid pindahan biasa, melainkan putra tunggal dari salah satu keluarga diplomat terpandang yang baru saja menyelesaikan masa tugasnya di London, Inggris.

Suasana di dalam kelas IPS-1 terasa sedikit lebih bising dari biasanya saat bel masuk berbunyi nyaring. Elva Ileana duduk tenang di kursinya dekat jendela, jemari lentiknya sibuk mencatat penjelasan materi geografi di buku tulisnya. Di lehernya, kalung perak dengan liontin berinisial 'Z' dan 'E' tampak berkilau indah diterpa sinar matahari pagi. Sifat lugu dan polosnya masih sama, namun pancaran kebahagiaan yang sehat kini seutuhnya menggantikan bayang-bayang trauma masa lalunya.

TOK! TOK! TOK!

Wali kelas mereka, Bu Widya, melangkah masuk ke dalam kelas bersama sesosok pemuda tegap yang berjalan di belakangnya. Seketika itu juga, desah napas tertahan terdengar secara serentak dari para siswi di dalam kelas.

"Anak-anak, tolong perhatiannya sejenak. Hari ini kelas kita kedatangan teman baru yang pindah dari salah satu sekolah internasional di London. Silakan perkenalkan dirimu, Nak," ucap Bu Widya dengan senyuman ramah.

Pemuda itu maju satu langkah. Dia memiliki postur tubuh yang tinggi atletis, hampir menyamai tegapnya tubuh Zayn Dominic. Rambut cokelat gelapnya dipotong dengan gaya undercut yang rapi, membingkai wajahnya yang memiliki rahang tegas namun memiliki pahatan yang sangat ramah.

Sepasang mata hazel-nya berkilat cerdas, sangat kontras dengan mata elang Zayn yang selalu tajam menembus. Seragam SMA Pelita yang dipakainya tampak sangat pas, memberikan kesan seorang pemuda terdidik dari kalangan aristokrat yang sangat elegan.

"Halo, semuanya. Kenalin, nama gue Christian Narendra," ucap cowok itu dengan nada suara yang bariton, terdengar sangat bersahabat dan memiliki aksen bahasa Inggris British yang sangat halus dan seksi saat mengucapkan beberapa kata.

 "Gue baru pindah ke Jakarta minggu lalu karena bokap selesai tugas di London. Salam kenal, dan mohon bantuannya ya."

Christian tersenyum hangat, menampilkan deretan giginya yang rapi serta lesung pipi samar di pipi kirinya yang langsung membuat beberapa siswi di barisan depan saling berbisik heboh.

"Baik, Christian. Kamu bisa duduk di kursi kosong yang ada di barisan ketiga" tunjuk Bu Widya ke arah kursi kosong di samping seorang murid laki-laki. Namun, saat melangkah menuju kursinya, pandangan mata hazel milik Christian mendadak terhenti sempurna pada sosok Elva yang sedang menatap ke depan dengan mata bulatnya yang jernih.

Ada jeda satu detik di mana Christian terpaku menatap kemurnian wajah Elva. Senyum ramah di bibir cowok pindahan London itu tampak melebar secara alami. Dia mengangguk kecil ke arah Elva sebagai bentuk sapaan sopan, sebelum akhirnya mendudukkan diri di kursinya.

Elva yang merasa tidak enak jika mengabaikan anak baru, refleks membalas anggukan itu dengan sebuah senyuman tipis yang sangat sopan. Dia tidak tahu, bahwa senyuman kecilnya itu baru saja menyulut sumbu ledak dari sebuah bom waktu yang sangat berbahaya.

...----------------...

Saat bel jam istirahat pertama berbunyi, Christian langsung dikerumuni oleh beberapa murid yang penasaran dengan kehidupannya di London. Namun, dengan sikapnya yang sangat gentleman dan pembawaannya yang tenang, Christian berhasil menjawab setiap pertanyaan tanpa terkesan sombong.

Di sela-sela obrolan, mata Christian berkali-kali melirik ke arah meja Elva. Dia melihat gadis itu sedang kesulitan merapikan tumpukan buku paket tebal yang baru saja dibagikan oleh ketua kelas untuk mata pelajaran berikutnya. Karena ukuran tubuhnya yang mungil, Elva tampak kewalahan membawa tiga buku ensiklopedia besar sekaligus.

Christian berdiri dari kursinya, meminta maaf dengan sopan kepada murid-murid yang mengerumuninya, lalu melangkah lebar mendekati meja Elva.

"Hai, butuh bantuan?" tanya Christian lembut, suaranya yang ramah mendadak memutus kefokusan Elva. Sebelum Elva sempat menjawab, Christian sudah mengulurkan kedua tangan panjangnya, mengambil alih dua buku paling tebal dari pelukan Elva dengan gerakan yang sangat sigap.

 "Buku ini terlalu berat buat ukuran tangan kecil kayak lo. Biar gue yang pindahin ke lemari belakang."

Elva tertegun kecil, wajah polosnya tampak sedikit canggung. "Ah... eh, nggak usah, Christian. Aku bisa sendiri kok, takut merepotkan kamu anak baru."

"Nggak repot sama sekali, Elva. Anggap aja ini cara gue buat cepat beradaptasi dan cari temen baru di sini," sahut Christian sambil terkekeh pelan, lesung pipit di wajah tampannya kembali terlihat.

 Jarak di antara mereka cukup dekat, dan Christian bisa mencium aroma wangi sampo stroberi yang manis dari rambut hitam panjang Elva yang tergerai indah. Tepat saat Christian hendak meletakkan buku-buku tersebut ke lemari loker di sudut kelas, pintu kelas IPS-1 yang tadinya tertutup mendadak terbuka dengan sentakan yang sangat kasar dan nyaring.

BRAKK!

Atmosfer di dalam ruangan kelas seketika anjlok hingga ke titik beku dalam hitungan mili sekon. Riuh obrolan para murid langsung senyap total, digantikan oleh rasa tegang yang mencekat leher.

Zayn Dominic berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya terbenam di dalam saku jaket kulit hitam andalannya, namun rahang tegasnya mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang kuat. Sepasang mata elangnya yang biasanya sedingin es kini berkilat memancarkan api cemburu murni yang luar biasa mengerikan.

Zayn baru saja kembali dari ruang OSIS setelah mengurus jadwal pertandingan persahabatan antar sekolah bersama Leo. Langkah kaki Zayn mendadak terhenti di koridor luar saat mendengar ada suara cowok asing yang sedang tertawa bersama gadisnya di dalam kelas. Begitu dia melangkah masuk dan melihat seorang cowok jangkung berwajah blasteran sedang berdiri sangat dekat dengan Elva, seluruh saraf protektif dan posesif di dalam otak Zayn langsung putus seutuhnya.

Zayn melangkah lebar membelah kelas. Setiap langkah sepatunya menimbulkan bunyi hentakan yang sangat berat, seolah membawa beban intimidasi seorang penguasa tertinggi sekolah. Murid-murid yang berada di jalurnya langsung mundur teratur dengan wajah pucat pasi.

Zayn berhenti tepat di antara Christian dan Elva, memposisikan tubuh tingginya yang tegap untuk menyembunyikan tubuh kecil Elva seutuhnya di balik punggung bidangnya—sebuah gestur kepemilikan mutlak tak terbantahkan.

"Lo siapa? Dan ngapain tangan lo berani deket-deket sama cewek gue?" tanya Zayn, suaranya begitu rendah, berat, dan bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan. Tatapan mata elangnya mengunci manik mata hazel Christian dengan pandangan membunuh yang sangat tajam.

Christian tertegun sejenak melihat kedatangan Zayn yang begitu intimidatif. Sebagai anak seorang diplomat yang biasa menghadapi berbagai situasi tegang, Christian tidak langsung mundur atau ketakutan seperti murid-mudid lainnya. Dia meletakkan sisa buku di loker dengan tenang, lalu menegakkan tubuhnya, menatap balik mata tajam Zayn dengan ketenangan yang berwibawa.

"Gue Christian, anak baru di kelas ini," jawab Christian, nadanya tetap santai namun tegas, tidak menunjukkan indikasi tunduk pada kekuasaan Zayn. "Gue cuma lagi bantu Elva mindahin buku paket yang terlalu berat buat dia. Nggak ada niat lain."

"Gue nggak peduli lo anak baru atau anak presiden sekalipun," bisik Zayn tepat di depan wajah Christian, memajukan tubuhnya satu sekon lebih dekat hingga atmosfer di antara kedua cowok dominan itu memercikkan bunga api konfrontasi yang sangat pekat.

"Aturan di sekolah ini mutlak, dan aturan nomor satu adalah: jangan pernah ada satu laki-laki pun yang berani menyentuh, mendekat, atau bahkan menatap Elva lebih dari tiga detik kalau lo masih mau sisa tahun lo di sekolah ini berjalan tenang. Lo paham kata-kata gue?"

Christian menyipitkan matanya sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan tantangan terselubung. Dia melirik sedikit ke arah Elva yang berdiri cemas di belakang punggung Zayn, lalu kembali menatap mata elang sang tuan muda.

"Aturan yang menarik. Tapi gue rasa, membantu teman yang kesulitan nggak melanggar hukum apa pun di sekolah ini, kan?"

Mendengar tantangan terbuka dari murid pindahan London itu, kepalan tangan Zayn di dalam saku jaket kulitnya mengencang hingga buku jarinya memutih sempurna. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun, bersiap untuk melayangkan pukulan keras ke wajah Christian.

"Z-Zayn... udah, cukup," sebuah suara lembut dan bergetar mendadak memecah ketegangan. Elva melangkah maju, jemari tangan kecilnya meremas pelan ujung jaket denim yang dikenakan Zayn, mencoba menahan emosi cowoknya yang sudah meluap.

"Christian cuma bantu aku mindahin buku aja kok, tadi aku emang agak kesusahan. Jangan berantem di kelas, aku mohon..."

Mendengar suara cemas dan merasakan sentuhan tangan Elva di lengannya, bara api di dada Zayn seketika melunak dalam satu kedipan mata, teredam oleh kepolosan gadisnya. Zayn menghela napas pendek yang berat, lalu berbalik seutuhnya menghadap Elva.

Zayn menyambar tas sekolah Elva dengan satu gerakan cepat, lalu menggenggam jemari tangan Elva dengan sangat erat, mengunci sela-sela jari mereka di depan Christian.

 "Ikut gue ke kantin sekarang. Lo nggak boleh ditinggal sendirian lagi di kelas ini mulai besok," ketus Zayn, matanya merengut kesal sambil menarik Elva berjalan keluar kelas dengan langkah lebar.

Elva hanya bisa pasrah dituntun oleh cowok posesifnya, namun sebelum melewati pintu kelas, dia sempat menoleh ke belakang dan memberikan pandangan mata minta maaf yang tulus kepada Christian atas keributan yang terjadi.

Christian Narendra berdiri diam di sudut kelas, menatap kepergian Zayn dan Elva dengan senyuman tipis yang misterius di bibirnya. Tangannya terlipat di depan dada, dan matanya berkilat penuh rasa penasaran yang semakin mendalam terhadap sosok Elva Ileana.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!