NovelToon NovelToon
Pak Direktur Mengejar Cintaku

Pak Direktur Mengejar Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dina Sen

Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.

Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.

Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.

Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

melihatnya dengan wanita

“Biasa aja nyonyah…” gerutu Shintia sambil berjalan cepat menjauh dari café.

“Habisnya kamu bawel mulu! Cowok mulu!”

“Iya soalnya kamu ngelamun mulu!” balas Tari tidak kalah keras.

Shintia mendengus kesal lalu pura-pura sibuk melihat etalase toko di depannya. Namun pikirannya sama sekali tidak fokus.

Matanya sesekali masih melirik ke arah café tempat Andreas berada, jujur saja… Ia masih sulit percaya.

Sejak kapan kakaknya dekat dengan perempuan?

Setahu Shintia, Andreas belum pernah benar-benar membuka hati lagi setelah kematian tunangannya dulu. Bahkan setiap Mama sempat menyinggung soal pernikahan, Andreas selalu mengalihkan pembicaraan.

Makanya melihat pria itu duduk santai dengan seorang wanita terasa seperti mimpi kecil yang mengejutkan.

“Aneh banget…” gumam Shintia pelan.

“Hm?” Tari menoleh.

“Gak ada.”

Dalam hati, Shintia mulai berpikir macam-macam.

Apa Andreas diam-diam sudah punya kekasih, Atau selama ini keluarganya sengaja tidak memberitahunya?

Namun setelah dipikir lagi, Shintia memilih tidak terlalu ambil pusing. Selama kakaknya bahagia, itu sudah cukup.

Tari yang sedari tadi memperhatikan ekspresinya akhirnya menarik tangan Shintia.

“Udah, jangan bengong lagi. Laper gue.”

“Aku belum laper.”

“Gue laper.”

“Itu masalah lo.”

“Temenin!”

Akhirnya mereka masuk ke area food court mall yang cukup ramai.

Tari langsung memilih tempat duduk dekat pagar lantai dua sambil memesan makanan.

Sedangkan Shintia… matanya diam-diam kembali mencari café tadi.

Dan benar saja. Dari posisi mereka sekarang, Andreas masih terlihat samar di kejauhan.

Tari memperhatikan arah pandangan sahabatnya lalu menyeringai.

“Eh… lo mau ngintip ya?”

“Enggak!”

“Bohong.”

Shintia mendecakkan lidah pelan.

“Aku cuma penasaran aja.”

“Nah itu ngintip namanya.”

Shintia akhirnya menghela napas pasrah.

“Iya deh.”

Tari langsung tertawa puas.

“Lucu juga ya kakak lo ternyata.”

“Apanya?”

“Kelihatannya dingin banget, ternyata bisa senyum juga.”

Shintia ikut melirik lagi ke arah Andreas.

Dan lagi-lagi dadanya terasa hangat saat melihat wajah kakaknya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya.

Entah wanita itu siapa… tapi kalau memang bisa membuat Andreas perlahan hidup lagi, Shintia rasa ia tidak keberatan.

“Semoga serius deh,” gumamnya pelan.

Tari langsung menyipit penasaran.

“Eh ngomong-ngomong…”

“Apa lagi?”

“Kalau kakak lo udah move on, sekarang giliran lo.”

Shintia hampir tersedak minum.

“Apaan sih?!”

“Ya masa satu rumah jomblo semua.”

“TARI!”

Tari ngakak puas melihat wajah panik sahabatnya.

Namun lagi-lagi… Wajah seseorang muncul di kepala Shintia.

Raffa.

Dan itu membuatnya langsung kesal sendiri.

“Kenapa malah kepikiran lagi sih…” batinnya frustasi.

....

Sementara itu… Di sisi lain kota, suasana Hotel Permata terlihat sibuk seperti biasa.

Beberapa pegawai berlalu-lalang membawa dokumen sementara suara telepon terdengar saling bersahutan.

Di lantai paling atas… Raffa baru saja masuk ke ruang kerjanya.

Pria itu melepas jas hitamnya pelan lalu duduk di kursi kebesarannya dengan wajah sedikit lelah.

Hari ini jadwalnya benar-benar padat.

Meeting dengan klien luar negeri, laporan investasi baru, sampai urusan kerja sama hotel cabang.

Namun anehnya…

Di tengah semua kesibukan itu, pikirannya justru terus kembali pada satu orang.

Shintia.

Raffa memijat pelipisnya pelan sambil tersenyum kecil sendiri.

“Bahaya…” gumamnya lirih.

Ketukan pintu terdengar.

Tok tok tok.

“Masuk.”

Asistennya masuk sambil membawa beberapa map dokumen.

“Pak, laporan meeting tadi sudah saya siapkan.”

“Taruh saja.”

Asistennya mengangguk lalu meletakkan map di meja.

Namun sebelum pergi, Raffa tiba-tiba bertanya—

“Sella mana?”

Asistennya terlihat sedikit gugup.

“Mbak Sella izin hari ini, Pak.”

Raffa langsung menyandarkan tubuh ke kursi.

“Izin?”

“Iya, katanya ada urusan keluarga.”

Raffa hanya mengangguk kecil.

Jujur saja ia sedikit lega.

Hari ini ia benar-benar tidak ingin diganggu perempuan itu.

Sella terlalu agresif mendekatinya selama beberapa bulan terakhir. Dan Raffa tahu jelas alasannya bukan karena cinta.

Tatapan perempuan itu selalu penuh ambisi.

Berbeda jauh dengan Shintia yang bahkan tidak peduli siapa dirinya sebenarnya.

“Kalau Mbak Sella datang lagi gimana, Pak?” tanya asistennya hati-hati.

“Abaikan saja.”

“Baik, Pak.”

Raffa mengangguk kecil lalu membuka salah satu map di depannya. Namun baru beberapa detik membaca… Pikirannya kembali melayang.

Shintia sekarang lagi apa ya?

Masih kesal sama dia?

Atau malah sedang memikirkan dirinya juga?

Senyum tipis muncul lagi di wajah Raffa, Asistennya yang masih berdiri sampai melirik heran.

Jarang sekali ia melihat bosnya sesantai ini.

Biasanya Raffa dikenal dingin dan terlalu fokus kerja. Tapi sejak dua hari terakhir… pria itu lebih sering melamun sendiri.

“Pak?”

“Hm?”

“Untuk program magang mahasiswa…”

Raffa langsung tersadar.

“Oh iya.”

Pria itu duduk lebih tegak.

“Pendaftar banyak?”

“Lumayan banyak, Pak.”

Raffa pura-pura terlihat biasa saja walaupun sebenarnya satu nama terus ada di kepalanya.

“Yang dari Universitas Mandala?”

“Ada beberapa.”

Raffa menahan diri beberapa detik sebelum akhirnya bertanya santai...

“Nama Shintia Almahira ada?”

Asistennya langsung membuka tablet di tangannya lalu mengecek data.

Beberapa detik kemudian pria itu menggeleng pelan.

“Tidak ada, Pak.”

Senyum tipis di wajah Raffa langsung menghilang sedikit.

“Tidak ada?”

“Iya, Pak.”

Raffa terdiam.

Aneh.

Bukannya dosen bilang Shintia mahasiswa terbaik dan direkomendasikan untuk magang?

Kenapa gadis itu malah tidak mendaftar?

“Yakin?” tanyanya lagi.

“Sudah saya cek dua kali.”

Raffa bersandar pelan sambil menatap kosong layar laptopnya.

Entah kenapa ia merasa sedikit kecewa.

Padahal diam-diam ia berharap bisa melihat Shintia setiap hari di hotel.

“Mungkin belum daftar,” gumamnya pelan.

Asistennya mengangguk kecil.

“Pendaftaran masih buka sampai minggu depan, Pak.”

Raffa menghela napas pelan, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat kecil lagi saat mengingat wajah Shintia di pantai tadi.

Cara gadis itu salah tingkah, cara pipinya memerah. Dan cara matanya membesar saat mereka berdiri terlalu dekat.

Deg.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Raffa benar-benar merasa hidupnya kembali bergerak.

Dan itu menakutkan sekaligus membuatnya bahagia.

Sementara di luar sana… Ia sama sekali tidak tahu kalau gadis bernama Shintia Almahira juga mulai sulit mengusir wajahnya dari pikiran.

***

Malam di rumah keluarga Shintia terasa tenang seperti biasa.

Suara televisi terdengar pelan dari ruang keluarga, sementara aroma teh hangat masih samar tercium dari dapur.

Shintia baru saja turun dari lantai atas sambil membawa ponselnya. Namun baru setengah menuruni tangga, pintu rumah terbuka.

Andreas baru pulang.

Kakaknya masuk sambil melepas jam tangan di pergelangan tangannya dengan wajah santai.

Shintia langsung menyeringai jahil.

“Ehem…”

Andreas seketika menoleh ke atas tangga.

“Apaan kamu tuh.”

“Dari mana, Kak?” tanya Shintia penuh selidik.

“Kepo.”

“Jelas dong.”

Andreas mendecakkan lidah malas lalu berjalan masuk kamar.

1
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa cepat dong temui Shintia...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa mau di jodohkan ke Sella 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhhh Shintia masih khawatir tuh sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Duhh Shintia kangen sama Raffa tuhhh
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh Raffa harusnya temui Shintia dong 🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee ya tuh Raffa sebenarnya berarti buat shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia... Raffa itu masih hidup 🥲🥲
Sharah ArpenLovers Khan
Sella ganggu Raffa mulu..

duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲

jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...

di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Sharah ArpenLovers Khan
Duhhh kenapa Shintia belum mendaftarkan diri? Raffa sedikit kecewa😟 donggg
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh ciiieee Shintia seperti nya sudah jatuh cinta sama Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan: Ciieee Asyik dong 😄😄
total 2 replies
Sharah ArpenLovers Khan
gk cape ya Raffa gombal mulu sama shintia😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Ya ampun... Raffa jail banget sama Shintia😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Ciiieee Raffa ajak Shintia ke Pantai😆😆
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Jangan galak² Shintia nnt jatuh cinta dg Raffa 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh seperti ny Raffa emng jatuh cinta dg Shintia 😄😄
Sharah ArpenLovers Khan
Waduhhh Raffa blg kekasih Shintia ke Andreas 😆😆😆
Sharah ArpenLovers Khan
Shintia gk tahu klo Raffa itu CEO yaa😆
Sharah ArpenLovers Khan
Cieee Shintia di blg cantik 😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!