Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 — Wanita yang Tidak Direstui
Suasana kantor berubah tegang sejak kedatangan ibu Reno.
Wanita itu berdiri dengan anggun dalam balutan dress abu-abu mahal. Wajahnya terlihat tenang, tetapi tatapannya pada Alya terasa dingin dan menilai.
Reno langsung berdiri di depan Alya seolah melindunginya secara refleks.
“Ma, kenapa datang ke sini?” tanyanya datar.
Ibunya tersenyum tipis. “Mama harus buat janji dulu untuk bertemu anak sendiri?”
Nada suaranya lembut, tetapi terasa tajam.
Tatapan wanita itu kemudian beralih ke Alya.
“Jadi ini perempuan yang sedang ramai dibicarakan.”
Alya langsung merasa tidak nyaman.
Namun ia tetap mencoba bersikap sopan.
“Saya Alya, Tante.”
“Ibu Reno,” koreksi wanita itu cepat.
Senyum kecil di bibirnya tidak mencapai mata sama sekali.
Alya langsung terdiam canggung.
Reno mengembuskan napas pelan. “Ma, jangan mulai.”
“Mama belum melakukan apa-apa.”
“Tapi aku tahu cara Mama lihat Alya.”
Untuk beberapa detik, suasana menjadi sunyi.
Seluruh karyawan pura-pura sibuk bekerja, padahal diam-diam memperhatikan mereka.
Ibu Reno akhirnya melangkah mendekati Alya.
“Kamu kerja di sini?”
“Iya.”
“Sudah berapa lama kenal Reno?”
Pertanyaan itu membuat Alya bingung harus menjawab apa.
Karena hubungan mereka terlalu rumit untuk dijelaskan singkat.
“Cukup lama,” jawab Alya hati-hati.
“Teman sekolah?” tebak wanita itu.
Reno langsung mengeras mendengar pertanyaan tersebut.
Dan Alya sadar…
Keluarga Reno mungkin tidak tahu tentang masa lalu mereka.
“Mama cuma penasaran,” lanjut wanita itu santai. “Karena biasanya Reno tidak pernah sedekat ini dengan perempuan mana pun.”
Reno menatap ibunya tajam. “Kalau cuma mau tanya begitu, Mama bisa telepon aku.”
Namun ibunya justru tersenyum kecil.
“Mama juga mau melihat perempuan yang membuat anak Mama menolak pertunangan.”
Deg.
Alya langsung menoleh kaget ke arah Reno.
“Pertunangan?”
Tatapan Reno berubah tidak nyaman.
“Itu bukan—”
“Keluarga kami sudah lama berencana menjodohkan Reno dengan Vanessa,” potong ibunya tenang. “Tapi Reno tiba-tiba menolak.”
Alya langsung terdiam.
Ia tidak tahu harus merasa apa.
Sementara Reno terlihat semakin kesal.
“Ma, cukup.”
“Kenapa? Mama salah bicara?” Wanita itu kembali menatap Alya. “Atau kamu belum tahu kalau Reno rela membuat keluarganya marah demi mempertahankan hubungan ini?”
Hubungan.
Kata itu membuat pipi Alya memanas sekaligus gugup.
Karena mereka bahkan belum resmi menjadi apa-apa.
“Aku dan Alya belum pacaran,” ujar Reno tegas.
“Belum?” Ibunya mengangkat alis tipis. “Tapi kamu terlihat seperti pria yang sudah jatuh terlalu dalam.”
Suasana mendadak hening.
Dan untuk pertama kalinya, Reno tidak langsung menyangkal.
Tatapannya justru mengarah pada Alya.
Dalam.
Jujur.
Membuat napas Alya terasa tercekat.
“Aku serius sama Alya,” ucap Reno akhirnya pelan namun tegas.
Jantung Alya langsung berdetak kacau.
Sementara wajah ibu Reno perlahan berubah dingin.
“Serius?” wanita itu tertawa kecil. “Reno, kamu bahkan baru mengenalnya kembali.”
“Aku mengenal dia jauh lebih lama daripada yang Mama pikir.”
“Perempuan ini tidak cocok untuk dunia kita.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Alya langsung menunduk pelan.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Reno tiba-tiba menggenggam tangannya erat.
“Jangan bicara tentang Alya seperti itu.”
Nada suara Reno berubah tajam.
Dan Alya bisa merasakan kemarahan pria itu.
Ibunya terlihat terkejut beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis penuh arti.
“Mama mengerti sekarang.”
“Mengerti apa?”
“Kamu benar-benar menyukainya.”
Tidak ada jawaban dari Reno.
Karena diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban.
Alya bisa merasakan genggaman Reno yang semakin erat.
Dan anehnya,di tengah ketegangan itu, untuk pertama kalinya ia merasa ada seseorang yang benar-benar memilih berdiri di pihaknya.
Namun Alya belum tahu perlawanan Reno terhadap keluarganya baru saja dimulai.
Dan badai yang lebih besar akan segera datang menghampiri hubungan mereka.
Setelah percakapan menegangkan itu, ibu Reno akhirnya pergi meninggalkan kantor dengan wajah dingin.
Namun suasana tetap terasa tidak nyaman bahkan setelah wanita itu menghilang dari pandangan.
Alya perlahan melepaskan genggaman tangan Reno.
“Kamu harusnya nggak ngomong begitu ke ibumu,” ucap Alya pelan.
Reno menatapnya lama. “Aku cuma nggak suka dia merendahkan kamu.”
“Tapi dia tetap ibumu.”
“Aku tahu.”
Nada suara Reno terdengar lelah.
Untuk pertama kalinya Alya benar-benar melihat seberapa besar tekanan yang selama ini dipikul pria itu.
“Alya…” Reno mengusap wajahnya pelan. “Maaf kalau kamu jadi ikut terseret.”
Alya menggeleng kecil.
“Aku cuma nggak mau hubungan kamu sama keluargamu makin buruk gara-gara aku.”
Reno tersenyum hambar.
“Hubunganku sama mereka memang sudah buruk dari dulu.”
Kalimat itu membuat hati Alya terasa tidak nyaman.
Sebelum Alya sempat menjawab, Reno tiba-tiba berkata pelan,
“Ayo keluar sebentar.”
“Hah?”
“Aku pengen pergi dari kantor sebelum aku marah lebih besar.”
Reno membawa Alya ke sebuah kafe kecil yang cukup jauh dari pusat kota. Tempatnya tenang, dengan suasana hangat dan lampu-lampu redup yang nyaman.
Mereka duduk di dekat jendela sambil menikmati suasana sore yang mulai mendung.
Awalnya tidak ada yang bicara.
Sampai akhirnya Reno membuka suara lebih dulu.
“Dulu waktu sekolah…” ia tersenyum kecil pahit, “aku pikir punya banyak uang berarti bisa ngelakuin apa aja.”
Alya diam mendengarkan.
“Papa selalu ngajarin aku buat menang dalam segala hal.” Reno menatap kopi di depannya. “Dan aku tumbuh jadi orang yang arogan.”
Tatapan Alya perlahan melembut.
“Kenapa kamu berubah sekarang?”
Reno tertawa kecil tanpa humor.
“Karena aku kehilangan banyak hal.”
“Contohnya?”
Tatapan Reno perlahan terangkat ke arah Alya.
“Kamu.”
Deg.
Jantung Alya langsung berdebar lagi.
“Aku sadar setelah lulus sekolah…” lanjut Reno pelan, “satu-satunya orang yang terus muncul di kepala aku justru orang yang paling sering aku sakiti.”
Alya menggigit bibirnya pelan.
Ia tidak tahu kenapa pengakuan Reno selalu berhasil membuat pertahanannya melemah.
“Aku nyesel tiap ingat wajah kamu waktu nangis,” bisik Reno lirih. “Dan semakin aku cari kamu, kamu malah hilang.”
Alya menatap Reno cukup lama.
“Jadi kamu nyari aku?”
“Bertahun-tahun.”
Mata Alya langsung membesar sedikit.
“Aku bahkan sempat datang ke sekolah lama cuma buat tanya kabar kamu.”
Suasana mendadak terasa jauh lebih emosional.
Dan Alya mulai sadar…
Perasaan Reno ternyata jauh lebih dalam daripada yang ia kira.
“Kenapa?” tanya Alya lirih.
Reno tersenyum kecil penuh kesedihan.
“Awalnya karena rasa bersalah.” Tatapannya melembut. “Tapi lama-lama aku sadar alasannya bukan cuma itu.”
Napas Alya terasa tercekat.
Karena cara Reno memandangnya sekarang terlalu jelas untuk disalahartikan.
Dan sebelum Alya sempat menghindar, Reno berkata pelan,
“Aku jatuh cinta sama kamu sejak lama, Alya.”
Kalimat itu membuat dunia Alya seolah berhenti sesaat.