NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Otoritas Sang Pelindung

Deru mesin SUV hitam itu masih terdengar seperti geraman singa yang terluka di jalanan menuju Mansion Tarkan. Di dalam kabin, suasana yang tadinya meledak-ledak kini berubah menjadi keheningan yang sarat akan dominasi. Hamdan mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggenggam jemari Amora dengan sangat erat—sebuah klaim kepemilikan yang tak terbantahkan.

"Kenapa kau diam?" tanya Amora lirih, menatap samping wajah Hamdan yang nampak begitu keras di bawah sorot lampu jalan.

"Aku sedang menghitung sisa kesabaranku, Amora," jawab Hamdan tanpa menoleh. Suaranya rendah, matanya lurus menatap aspal. "Kau pikir dengan pergi bersama Farr, kau bisa menyelesaikannya? Kau hanya memberi makan para hiu media yang sedang menunggu kita jatuh."

"Aku hanya ingin kau bicara padaku! Aku lelah dianggap tidak ada!" Amora mencoba menarik tangannya, namun Hamdan justru semakin mempererat genggamannya.

"Dan sekarang aku bicara. Dengarkan baik-baik," Hamdan melirik Amora sekilas dengan tatapan dewasa yang mengintimidasi. "Mulai detik ini, tidak akan ada lagi kencan museum, tidak ada lagi telepon rahasia dengan Farr Burhan, dan tidak ada lagi tindakan nekat yang membahayakan namamu. Kau berada di bawah otoritas penuh dariku sampai fitnah sedarah ini selesai."

Begitu sampai di depan gerbang mansion, puluhan wartawan langsung menyerbu mobil mereka. Cahaya lampu flash kamera menyambar-nyambar seperti badai kilat. Amora merasa silau dan panik, namun sebelum ia sempat menutupi wajahnya, Hamdan melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke kepala Amora, melindungi gadis itu dari pandangan publik.

Hamdan turun dari mobil dan berputar cepat untuk membukakan pintu bagi Amora. Di depan kamera yang terus membidik, Hamdan merangkul bahu Amora dengan protektif, menundukkan kepalanya agar telinganya sejajar dengan Amora.

"Jangan menunduk. Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah wanita yang tidak tersentuh oleh kotoran yang mereka lemparkan," bisik Hamdan tegas.

Langkah Hamdan begitu mantap saat ia membawa Amora masuk menembus kerumunan. Saat seorang wartawan nekat menyodorkan mikrofon dan bertanya, "Tuan Hamdan, benarkah Anda mencintai saudara tiri Anda sendiri?", Hamdan berhenti sejenak.

Ia menatap lensa kamera dengan tatapan paling mematikan yang pernah ia miliki. "Cintaku pada wanita ini bukan urusan dunia, dan bukti yang akan membungkam mulut kalian akan segera keluar. Sekarang, menyingkirlah."

-------------------

Di dalam aula mansion, suasana tidak kalah panas. Layla Tarkan berdiri di atas tangga, menatap mereka dengan tatapan yang sangat tajam.

"Kau menjemputnya secara paksa seperti penculik, Hamdan? Kau benar-benar sudah gila," sindir Layla.

Hamdan melepaskan jasnya dari bahu Amora dan menyerahkannya pada pelayan tanpa melepaskan tatapan dari ibunya. "Aku menjemput apa yang menjadi tanggung jawabku, Ibu. Mulai besok, aku akan melakukan tes DNA ulang di bawah pengawasan tim medis pribadiku. Tidak akan ada lagi manipulasi data seperti yang dilakukan 'tikus-tikus' di luar sana."

Hamdan kemudian menoleh pada Amora. Sisi "kulkas dua pintunya" mulai melunak, menyisakan pria dewasa yang penuh janji. "Masuklah ke kamarmu. Farid akan berjaga di depan pintumu bukan sebagai sipir, tapi sebagai dinding yang takkan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Besok, kita akan akhiri kegilaan ini."

Amora menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin masuk ke dalam kamar. Matanya menatap Hamdan, melihat garis-garis kelelahan di wajahnya namun juga kekuatan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa meskipun Hamdan menjemputnya secara paksa, pria ini sedang mempertaruhkan seluruh reputasi dan kerajaannya demi dirinya.

Di dalam aula mansion yang megah namun terasa mencekam, Amora masih bisa merasakan sisa-sisa adrenalin dari kejadian di mobil tadi. Ia menatap Hamdan yang kini sedang memberikan instruksi cepat kepada Farid.

"Perketat keamanan gerbang. Jangan biarkan satu pun kendaraan media masuk lebih dari sepuluh meter. Dan Farid—siapkan dokumen legal untuk tuntutan pencemaran nama baik terhadap agensi berita yang pertama kali menyebar foto palsu itu," perintah Hamdan, suaranya terdengar seperti dentum genderang perang.

Setelah Farid pergi, Hamdan berbalik menatap Amora. Ketegangan di rahangnya perlahan mengendur. Rasa cemburu itu masih ada, namun ia menekannya dalam-dalam di bawah kedewasaannya.

"Lepas cincin itu," ucap Hamdan tiba-tiba.

Amora tersentak, memegang jarinya. "Apa? Kau ingin mengambilnya kembali karena kejadian tadi?"

Hamdan melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia meraih tangan Amora dan menatap cincin berlian itu. "Bukan. Aku ingin kau melepaskannya untuk sementara agar aku bisa memberikan sesuatu yang lebih kuat daripda sekadar perhiasan. Besok, tim medis akan datang. Kita akan melakukan tes DNA di sini, di bawah pengawasanku langsung. Aku tidak ingin ada celah bagi mereka untuk memanipulasi hasilnya lagi."

Amora menatap mata Hamdan, mencari kepastian. "Bagaimana jika mereka tetap tidak percaya? Bagaimana jika berita itu sudah terlanjur menghancurkan segalanya?"

Hamdan menarik napas panjang, lalu menyentuh kening Amora dengan keningnya—sebuah gerakan yang sangat intim dan menenangkan. "Biarkan mereka bicara. Tugasku adalah menjaga kebenaran, dan tugasmu adalah tetap berdiri di sampingku. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi 'beban' lagi, Amora. Ucapan itu adalah kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan."

Di Lantai Atas Mansion

Layla Tarkan memperhatikan momen itu dari balik pilar balkon lantai dua. Wajahnya nampak sangat kaku. Ia menyadari bahwa putranya tidak lagi bisa dikendalikan. Hamdan telah memilih jalannya sendiri—jalan yang melibatkan risiko menghancurkan dinasti Tarkan demi seorang gadis pasar yang ternyata adalah pewaris dinasti Klan.

"Dia akan menghancurkan kita semua, Layla," sebuah suara pria terdengar dari kegelapan di belakang Layla. Itu adalah salah satu penasihat hukum keluarga.

"Tidak jika aku berhasil memastikan hasil tes itu tetap sesuai dengan keinginanku," desis Layla pelan, matanya tetap tertuju pada Hamdan yang kini sedang membimbing Amora menuju kamarnya dengan sangat protektif.

Malam itu, Mansion Tarkan benar-benar terkunci rapat dari dunia luar, namun di dalamnya, ketegangan justru merambat ke setiap sudut ruangan. Hamdan mengantar Amora hingga ke depan pintu kamarnya. Langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai marmer menciptakan gema yang berat, seolah mewakili beban yang mereka pikul.

"Masuklah. Jangan keluar sampai besok pagi," ucap Hamdan. Suaranya sudah kembali tenang, namun ada sisa-sisa amarah yang masih berkilat di matanya.

Amora berbalik, tangannya masih memegang gagang pintu. "Abang... soal Farr di museum tadi... aku hanya ingin—"

"Aku tahu apa yang ingin kau lakukan, Amora," potong Hamdan cepat. Ia maju satu langkah, membuat tubuhnya hampir bersentuhan dengan Amora. Aura dominasinya kembali menguar, membuat Amora merasa kecil namun terlindungi. "Kau ingin menyakitiku dengan cara yang sama seperti aku menyakitimu. Dan kau berhasil. Kau berhasil membuatku merasa seperti pecundang yang hampir meledakkan seisi museum hanya untuk menarikmu kembali ke sisiku."

Hamdan mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar mengusap helai rambut Amora yang berantakan. "Tapi jangan pernah gunakan keselamatanmu sebagai umpan lagi. Dunia ini jauh lebih licin dari yang kau duga, dan Farr Burhan bukan pria yang bisa kau kendalikan."

Di Ruang Kerja Hamdan – Pukul 01.00 Pagi

Setelah memastikan Amora aman di kamarnya, Hamdan duduk di balik meja kerjanya. Lampu ruangan dimatikan, hanya cahaya rembulan yang masuk, menyinari segelas air mineral dan beberapa dokumen hukum.

Farid masuk tanpa suara. "Tuan, semua sudah siap. Tim medis independen dari luar negeri akan mendarat subuh nanti. Mereka akan dikawal langsung oleh unit keamanan kita dari bandara ke sini."

Hamdan mengangguk kaku. "Pastikan tidak ada seorang pun, termasuk Ibuku, yang mendekati laboratorium sementara yang kita bangun di sini. Jika ada yang mencoba menyabotase sampel ini, aku tidak akan memandang hubungan darah lagi."

"Tuan," Farid ragu sejenak. "Nona Amora... sepertinya dia sangat terguncang setelah melihat Anda meledak di museum tadi. Dia tidak pernah melihat sisi gelap Anda yang seperti itu."

Hamdan terdiam. Ia menatap telapak tangannya yang masih terbalut perban karena pukulan di gerbang sebelumnya. "Dia harus melihatnya, Farid. Dia harus tahu bahwa pria yang menjaganya bukan hanya 'Abang' yang lembut di masa kecil, tapi juga seorang pria yang sanggup menghancurkan dunia demi dirinya. Jika dia membenciku karena itu, biarlah. Asalkan dia tetap hidup."

 To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!