NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Biru Yang Keras Kepala

#23

“Tidak, Bi. Dia teman.” 

“Teman, kok gadis, di jemput sampai ke rumah lagi.” Ayu ikut-ikutan meledek, ketimbang resah memikirkan prasangkanya. 

“Tapi, sepertinya tak akan hanya jadi teman, Mah.” 

Deg! 

Yang Ayu takutkan pun terjadi, suasana seketika tenang, Giana diam karena masih belum paham siapa dan dimana Ayu menjumpai Biru pagi tadi. Maka wanita itu duduk seraya menegakkan punggungnya, sebelum mulai bertanya. 

“Tunggu. Jadi sebenarnya Kau melihat dia berboncengan dengan siapa?” 

“Gadis itu, anak Anjani dan Gunawan.”

Biru terkejut, dengan ekspresi wajah yang rumit. 

“Hah?! Serius?! Kamu tahu siapa orang tua gadis itu, kan?” Alih-alih Ayu emosi, yang terjadi justru Giana yang terbawa perasaan. 

“Aku tahu, Bi. Tapi, bisakah kalian tidak ikut campur dalam urusan hidupku?” 

Deg! 

Siapa mengira Biru akan berkata demikian? Ayu pun tak menyangka, “Mereka orang yang membuat kalian terpisah selama 20 tahun! Apa itu sama sekali tak melukai hatimu?” pekik Giana. 

“Lihat Mama kau saat ini, pernahkan kau bertanya bagaimana perasaannya? Pernah kau mencoba menempatkan diri di posisinya, yang harus kehilangan suami? Harus merelakan kau diasuh orang lain? Dan harus rela-rela saja ketika kau— tanpa belas kasih sedikitpun, meminta merahasiakan statusnya sebagai ibu kandungmu?!” 

Nafas Giana naik turun bersahutan, Tuhan tak memberinya kesempatan memiliki anak. Tapi bukan berarti Giana kehilangan naluri keibuan. Karena Giana menyayangi Biru seperti anak kandungnya sendiri. 

“Kenapa? Apa kau malu memiliki ibu kandung seorang mantan narapidana? Begitu?”

Jadi, ketika Biru tetap kokoh dengan keinginannya, sejujurnya Giana sangat marah, tapi ia tahan karena menghargai Ayu. 

Tapi kini— rasanya Giana tak bisa lagi menahan diri, untuk tidak meluapkan emosi. 

Nampaknya Biru tak ingin memperpanjang masalah, pria muda itu berdiri. 

“Mau kemana? Kita belum selesai bicara,” cegah Giana emosional. 

“Maafkan aku, tapi, aku tak bisa membohongi hatiku.” 

Ayu tak bisa berkata apa-apa lagi, sepenuhnya ia sadar bahwa Biru jiwa Biru adalah milik Biru sendiri, kendati dirinya yang melahirkan. 

“Sudah bisa bicara soal hati, sudah sangat hebatkan dirimu?!” 

Namun, se emosional apapun Giana, Biru tidak terpancing sedikitpun, sebaliknya pria muda itu tetap tenang, bahkan kembali mengatakan hal yang membuat Giana dan Ayu kehilangan kata-kata. 

“Masa lalu, adalah masalah kalian, jangan libatkan kami, karena kami adalah manusia-manusia merdeka, meski Mamah yang melahirkan aku. Tapi urusan hidup, aku memiliki pemikiran sendiri, dan aku sendiri juga yang akan bertanggung jawab di akhirat kelak.” 

Selesai dengan ucapannya, Biru pun pergi, setidaknya ia tak lupa mengucap salam. 

“Waalaikumsalam—” jawab Ayu dan Giana dengan suara lemah.

Hingga beberapa saat kemudian, mereka masih tertegun setelah mendengar semua yang Biru katakan. 

“Dek, aku pernah tinggal di luar negeri, pernah juga membaur dengan masyarakat di sana, walaupun tidak terlalu dekat. Memutuskan hubungan dengan orang tua adalah hal biasa di sana, apa setidaknya kita harus bersyukur karena Biru tak memutuskan hubungan dengan kita?” gumam Giana masih dengan perasaan kacau balau. 

Sementara Ayu terlihat lebih tenang, bahkan tak bergeming. “Dek, jawab! Kenapa kau diam saja?! Apa kau rela anakmu berjodoh dengan anak mereka? Bukankah ada kemungkinan Biru adalah saudara seayah dengan anak Anjani?”

“Kak, sejak bertemu dengan Biru selepas keluar dari balik jeruji, aku sudah merasa tak memiliki hak penuh atas hidup anakku,” ucap Ayu begitu putus asa. 

Hingga Giana pun dibuat gemas olehnya. “Apa yang kau bicarakan?! Sadar, Dek, sadar! Biru itu anakmu, kau yang mengandung dan melahirkannya! Kau—”

“Tapi bukan aku yang merawat, dan menyirami jiwanya dengan kasih sayang!” sela Ayu, kini barulah ia menangis, “Sama seperti panggilan yang ia sematkan untukku, sekarang dia punya pilihan hidup dan memintaku tak ikut campur, aku bisa apa selain mendoakan?!” 

Ayu pun mulai putus asa, sekeras apapun ia berusaha membesarkan hatinya, tapi bila Biru terus membuat perasaannya semakin kerdil, lama kelamaan hati ibu yang sekeras batu itu pasti akan pecah menjadi butiran debu. 

Dua wanita itu pun hanya bisa saling berpelukan dalam tangis, jika di luar mereka terlihat tangguh, namun, hati mereka mendadak rapuh dihantam kecewa akibat sikap dan penolakan Biru. 

•••

Di sebuah ruangan yang berfungsi sebagai privat restaurant. 

Gunawan sedang mengadakan pertemuan dengan para sekutunya, mulai dari pak menteri, beserta para jajaran yang sudah sejalan dengannya, sementara di kejaksaan dan pengadilan ada jaksa umum beserta para hakim, serta Gunawan dari sisi pengacara juga bersama beberapa rekannya. 

Mereka sudah seiya sekata dalam melakukan kejahatan terstruktur, dan pertemuan rutin ini digelar karena mereka hendak bagi-bagi hasil pekerjaan mereka. 

Suara tawa, serta denting piring, sendok dan gelas, menjadi musik pengantar. Sementara di sisi masing-masing orang sudah duduk wanita cantik dengan pakaian semi terbuka yang siap melakukan apa saja yang diinginkan para pria berkuasa itu. 

Tanpa mereka sadari salah seorang pria yang duduk di ruangan tersebut, hanya ikut duduk sambil berpura-pura menikmati pesta. Padahal pria itu adalah agen rahasia yang diselundupkan untuk mengawasi pergerakan kelompok tersebut. 

Di luar ruangan, sebuah mobil box dengan gambar dan logo salah satu merek minuman sari buah, ikut berhenti di depan restoran. 

Tak berselang lama, beberapa pria nampak mengeluarkan kardus-kardus bergambar sari buah, lalu memasukkan 2 kardus minuman sari buah ke dalam masing-masing bagasi mobil. 

Kardus tersebut, bukan sembarang kardus, karena di dalamnya berisi uang tunai dalam jumlah yang sulit dibayangkan oleh orang-orang awam. 

Uang haram tersebut dibagikan secara tunai, demi menghindari pemeriksaan rekening oleh badan audit nasional. Agar mereka dengan mudah menghindar dari penyelidikan korupsi. 

“Tuan, sudah clear.” Asisten pak mentri pun berbisik, setelah menerima laporan dari luar ruangan. 

Pak mentri mengangguk senang, lalu mengangkat gelasnya, diikuti para antek-anteknya. 

“Gunawan, aku senang, kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan baik. Terus awasi istrimu, jangan sampai dia berulah lagi.” 

Gunawan berdiri seraya merapikan jasnya yang sudah semburat entah seperti apa. “Baik, Pak. Terima kasih atas perhatian Anda.” 

Acara terus berlanjut, semakin malam semakin riuh, bahkan dilanjutkan dengan iringan musik, ada pula yang sudah berpindah ke ruangan pribadi. 

•••

—Apa kabar, Jani Sayang, lama tak jumpa, kini kau semakin terdepan—

—Hubungi aku bila kau rindu, dan kita bisa bernostalgia sejenak, aku tahu pernikahanmu tak sebahagia yang terlihat di depan media—

J > 76583000134

Anjani kembali meremas kertas memo tersebut, meski hanya inisial, Anjani tahu, hanya dia yang memanggil dirinya dengan sebutan Jani. Selain itu tidak ada. 

Ada bimbang, tapi juga ingin menghubungi mantan teman kumpul kebonya tersebut, tapi Anjani sangat takut dengan Gunawan. Pria itu bisa melakukan apa saja bila sampai Anjani berani berulah, apalagi sampai mempermalukan nama suaminya. 

“Tapi, Mas Gunawan juga bersenang-senang diluar sana, mana mungkin aku percaya bahwa pria itu setia, sementara ia tak pernah lagi meminta jatah,” monolog Anjani sinis. 

“Yang penting, kan, tidak ketahuan. Lagipula, aku hanya bertemu teman lama, apa itu salah?” 

•••

Giana mengintip ponsel yang tiba-tiba berbunyi. 

—Misi berhasil, mangsa masuk dalam jebakan, padahal umpan belum lagi dilempar—

Ditengah perasaannya yang dilanda sedih, pesan singkat itu, membuat Giana dan Ayu tersenyum. 

Akhirnya, Ayu dan Giana pun pilih menyelesaikan urusan utama mereka, perkara Biru, nanti akan mereka selesaikan Perlahan-lahan. Karena, menurut penelitian  yang entah dari mana responden nya, memberi pengertian orang yang sedang jatuh cinta itu, amat sangat sulit. 

1
Nar Sih
semoga biru ngk knpa,,yaa
Esther Lestari
kecelakaan yg disengaja ?
Berita soal Biru jangan2 sumbernya dari Tian
Patrick Khan
aduhhh apa lg ini
Aditya hp/ bunda Lia
waduh ... apa ini sengaja? kalo iyah ulah siapa? gunawan, Anjani apa si Tian ?
Nar Sih
moga aja bnr klau biru dan miranda saudara satu ayah biar mereka ngk pcran
Reni
weeee mbak Jani makin lengket sama mas Jono
Rahmawati
semakin seru ini, lanjutttt
MomRea
kenapa gak langsung kena OTT saja Gunawan dan antek-anteknya 😡
MomRea
jgn jgn si Miranda adik kandung Biru lain ibu ?
Esther Lestari
tidak bisa dibiarkan karena Miranda dan Biru satu ayah, begitukah Anjani
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan beneran udah tua tuh 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yakin dia putrimu 🤭
Meliandriyani Sumardi
nah kan...ini nih tanda nya kalau biru sama miranda sebenarnya saudara satu ayah....😄anjani bisa ngelak tapi pasti fakta berbicara🤣🤣 lanjut kak
Agus Tina
Semakin penasaran ...
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ketahuan nih😒
Cindy
lanjut
Eva Karmita
kecewa banget sama sikap Biru berasa kayak Malin Kundang... kenapa Ngada sopan"nya sama ibunya 😩 biar bagaimanapun Ayu tetaplah ibu kandungnya biar di cuci seluas air laut an Ayu tetaplah ibu kandungnya Biru
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Esther Lestari
Tian sepertinya berbahaya ini buat Ayu dan Biru. Punya rencana apa kamu Tian.

Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan
Reni
biru sengaja ya sedikit menjauh dari mama ayu dia bertindak sendiri aduhhhh sayang ketahuan Tian 🤧
Reni
biru g secerah namamu kau bikin kelabu ayu lagi dan lagi pola pikirmu melukai mamamu miris
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!