NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suasana di area perkemahan semakin sibuk saat instruksi pembagian tugas mulai dibacakan oleh Pak Danu melalui pelantang suara.

"Kelompok Naura, Nadira, dan Clara... kalian bagian konsumsi sore ini! Raisa dan Arkan, ambil pasokan air di sumber mata air bawah! Bimo dan Rio, cari kayu bakar untuk api unggun nanti malam!" teriak Pak Danu tegas.

Naura dan Nadira saling berpandangan. Bagi Naura, ini adalah kesempatan sekaligus ancaman. Ia harus tetap menjaga cover-nya sebagai gadis SMA yang tidak kompeten, sementara matanya harus terus memantau pergerakan di sekitar hutan.

Di dekat meja kayu panjang yang sudah disiapkan, Clara bersama kedua temannya, Siska dan mika, sudah berdiri dengan gaya bos besar. Mereka sudah memakai celemek berwarna cerah yang entah sejak kapan mereka bawa.

"Oke, denger ya," Clara melipat tangan di dada, menatap Naura dan Nadira dengan pandangan meremehkan. "Karena gue nggak mau makan malam kita berujung keracunan, kalian berdua mending nggak usah sentuh bahan-bahan utama. Kalian bagian kupas bawang sama cuci piring aja. Biar urusan bumbu dan masak, gue yang pegang. Gue sering ikut kursus memasak di Jakarta, so... jangan bikin malu."

"Aduh, kupas bawang?" Naura memasang wajah ngeri yang sangat dramatis. Ia memegang pisau dapur dengan posisi yang sangat salah, seolah-olah benda itu adalah benda asing yang berbahaya. "Aduh, Clara... ini pisaunya tajam banget. Nanti kalau jari gue kepotong gimana? Gue beneran nggak pernah masuk dapur selain buat ambil minum di kulkas."

Nadira juga ikut mengangguk cepat, wajahnya terlihat tulus bingung. "Iya, Clara. Gue biasanya tinggal duduk manis di meja makan. Ini bumbunya banyak banget, emang harus dimasukin semua? Nggak ada bumbu yang tinggal seduh aja?"

Clara memutar bola matanya, merasa menang telak. "Duh, payah banget sih kalian. Ya udah, cuci sayur aja sana di ember! Biar gue yang tunjukin cara masak Fettuccine Carbonara versi outdoor."

Saat Clara mulai beraksi memamerkan kemampuannya memotong daging dengan lincah.

Arkan dan Raisa muncul membawa jeriken air yang cukup besar.

Arkan berjalan dengan langkah tegap, meletakkan jeriken itu dengan dentuman pelan di dekat meja masak. Kaos hitamnya sedikit basah oleh keringat, memberikan kesan maskulin yang langsung membuat Siska dan Mika berhenti memotong sayur dan mulai merapikan rambut.

"Airnya," ucap Arkan pendek, suaranya rendah dan dingin seperti biasa.

Clara langsung mengubah nada suaranya menjadi lembut. "Oh, makasih ya, Arkan. Kamu pas banget datengnya. Aku lagi mau mulai numis nih. Kamu mau tunggu sebentar? Nanti aku kasih cicipan pertama masakanku."

Naura, yang sedang berpura-pura mencuci wortel dengan gerakan sangat lambat, melirik Arkan. Mata mereka bertemu selama satu detik. Ada pesan tersirat dari Naura: 'Alat gue mati, kita dalam masalah.'

Arkan tidak memberikan reaksi berlebihan. Ia hanya mengangguk kecil pada Clara tanpa senyum. "Masak yang bener. Jangan kelamaan."

"Tentu dong! Kamu lihat sendiri kan, aku yang pegang kendali di sini karena yang lain... yah, begitulah," sindir Clara sambil melirik Naura yang sedang "berjuang" memotong wortel yang malah jadi bentuk tidak beraturan.

Raisa, yang berdiri di samping Arkan, hanya menatap Clara dengan wajah datarnya yang mematikan. Ia tahu persis Naura bisa membedah perut orang dalam hitungan detik jika mau, tapi sekarang rekannya itu malah harus berpura-pura takut pada sebatang wortel.

"Ayo, Arkan. Kita harus ambil satu jeriken lagi," ajak Raisa, mencoba memutus interaksi Clara dengan Arkan.

Saat Arkan dan Raisa berbalik pergi, Naura sengaja menjatuhkan wortelnya ke tanah. "Eh, jatuh! Nad, ambilin dong!"

Sambil berjongkok untuk mengambil wortel, Naura memastikan posisinya membelakangi Clara. Ia melihat Arkan berjalan menjauh dan memberikan kode tangan cepat di balik punggungnya, sebuah isyarat koordinasi untuk bertemu di titik buta dalam 15 menit.

"Duh, Naura! Ceroboh banget sih!" keluh Clara sambil tertawa mengejek. "Udah, mending kalian berdua diem aja deh, jangan ngerusak dapur gue."

"Iya, maaf ya Clara... habisnya pisaunya licin banget," sahut Naura dengan nada manja, sementara otaknya sudah menyusun rencana untuk menyelinap keluar dari "penjara" dapur tersebut.

Di tengah hiruk pikuk persiapan makan malam, sosok Gibran, sang ketua osis yang kharismatik, tampak berjalan santai mendekati area dapur terbuka. Kehadirannya langsung mengubah atmosfer, para siswi yang tadinya fokus pada sayuran tiba-tiba menjadi jauh lebih rajin dan rapi.

Melihat kesempatan emas, Mika langsung meletakkan pisau dapurnya dan menghampiri Gibran dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin.

"Kak Gibran!" panggil Mika dengan suara yang sengaja dilembutkan. "Lagi kontrol ya? Kebetulan banget, ini dapur kita lagi sibuk banget buat nyiapin menu spesial."

Gibran berhenti dan melemparkan senyum tipis yang membuat Mika tersipu. "Iya, mau mastiin aja semuanya aman. Gimana progresnya? Nggak ada kendala, kan?"

"Aman banget kok, Kak. Untungnya ada Clara yang pinter masak, jadi kita semua terarah," ujar Mika sambil melirik sinis ke arah Naura dan Nadira yang masih berkutat dengan satu ember sayuran. "Meskipun ya gitu, ada beberapa yang cuma bisa jadi penonton karena nggak tahu cara pegang pisau yang bener. Daripada bahaya, mending kita suruh cuci-cuci aja."

Gibran melirik ke arah Naura yang sedang berpura-pura kesulitan membersihkan sisa tanah di akar kangkung. Matanya menyipit sedikit, seolah mencoba membaca sesuatu dari ekspresi gadis itu. "Oh ya? Baguslah kalau kalian bisa saling bagi tugas. Perkemahan itu intinya kerja sama, bukan cuma siapa yang paling jago."

Clara yang tidak mau kalah perhatian, langsung menyahut dari depan kompor portabel. "Tenang aja, Kak Gibran! Nanti Kakak harus cobain masakan aku ya. Ini fettuccine dengan saus creamy rahasia. Aku jamin beda deh sama kelompok lain yang cuma masak mie instan."

"Wah, kedengarannya mewah buat ukuran di gunung," jawab Gibran ramah.

Sementara itu, Naura menggunakan momen "Gibran-sentris" ini untuk bergerak. Saat perhatian Mika dan Clara terserap sepenuhnya oleh Gibran, ia menyenggol lengan Nadira pelan.

"Nad, gue kayaknya butuh ke belakang sebentar. Perut gue mendadak nggak enak, mungkin gara-gara bau parfum lo tadi," bisik Naura, memberikan alasan yang cukup masuk akal untuk karakternya.

"Hah? Gara-gara parfum gue? Enak aja!" protes Nadira tertahan, tapi ia melihat kode mata Naura yang serius. "Ya udah sana, tapi jangan lama-lama ya! Gue nggak mau ditinggal sendirian sama mereka, nanti tangan gue makin keriput karena kelamaan kena air."

Naura mengangguk singkat. Sambil membungkuk seolah menahan sakit, ia berjalan menjauh dari area dapur. Ia sengaja melewati jalur yang sedikit memutar agar tidak tertangkap radar Gibran yang dikenal cukup jeli.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!