Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Mandat yang Bernyanyi
Air terjun itu jatuh tanpa suara gemuruh. Bukan karena tekanan airnya kecil, melainkan karena seluruh ruang di sekitarnya seolah menelan bunyi. Tirai air mengalir lurus dari tebing tinggi, jatuh ke sebuah kolam bundar yang permukaannya tenang seperti kaca. Sementara di tempat itu, qi terasa begitu pekat.
Tempat itu adalah Ruang Pemurnian Lianzhou, sebuah situs suci yang hanya digunakan oleh inti kekuasaan sekte milik Kekaisaran Tianyuan.
Air terjun tersebut menyimpan banyak manfaat seperti air yang mampu menstabilkan fondasi kultivasi, menenangkan jiwa yang tergerus qi liar, serta mempercepat pemulihan meridian yang rusak. Batu-batu di sekitarnya mengandung sisa qi alam kuno, cukup kuat untuk menekan penyimpangan batin bagi kultivator tingkat tinggi. Bahkan udara di sana mampu memurnikan niat “jahat” atau menghancurkan mereka yang tak layak.
Di sekeliling kolam berdiri patung-patung batu yang telah lapuk. Wajah para tokoh legendaris Lianzhou terpahat di sana, seorang pelindung, pemimpin, dan pahlawan masa lampau. Namun hampir semuanya telah rusak.
Satu patung berdiri paling dekat dengan air terjun. Wajahnya baru saja terbelah dua secara rapi, dari dahi hingga dagu, diikuti beberapa lentera batu yang ambyar karena kuatnya tekanan lokasi.
Tekanan itu adalah perbuatan seorang pria yang duduk bertelanjang dada di tengah kolam. Zhao Tianlong bersila di atas permukaan air, tubuhnya setengah terendam. Rambut hitamnya panjang, dibiarkan terurai hingga menyentuh air. Kulitnya pucat bersih, nyaris tanpa cacat.
Sedang tubuhnya kekar, tapi tidak berlebihan. Otot-ototnya padat, menyimpan kekuatan yang tidak perlu dipamerkan. Dadanya naik turun perlahan, ritmenya stabil, selaras dengan jatuhnya air terjun.
Matanya terpejam. Fokus berkultivasi.
Qi di sekitarnya berputar pelan, membentuk pusaran halus yang hampir tak terlihat. Alam tidak menolak kehadirannya. Justru tunduk.
Pada saat yang sama langkah kaki terdengar di kejauhan. Seorang pria berhenti di ambang ruang suci. Ia mengenakan jubah putih dengan sulaman biru langit di bagian pundak, tanda Penjaga Inti Tianyuan. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras menahan ketakutan.
Namanya Han Qiu. Tingkat kultivasinya berada dua tingkat di bawah Zhao Tianlong. Statusnya adalah tangan kanan atau penghubung antara perintah Tianlong dan seluruh operasi Tianyuan di Lianzhou. Sama seperti Tianlong, dia lebih mengandalkan kekuatan otaknya ketimbang kekuatan untuk bertempur di lapangan.
Meski orang itu tetap memiliki banyak pengalaman di medan berdarah. Namun berdiri di sini… lututnya selalu saja gemetar. Han Qiu berlutut, dahi menyentuh batu.
“Tu… Tuan Tianlong.”
Dalam sekejap, semua api lilin dari lentera batu di sekeliling kolam padam. Kegelapan jatuh seperti tirai. Qi membeku dan jantung Han Qiu hampir berhenti. Tenggorokannya kering. Ia tidak berani mengangkat kepala. Dalam benaknya, kematian sudah menunggu di ujung napas berikutnya.
“Bangunlah.” Suara itu lembut. Tenang. Hampir ramah. Api lilin menyala kembali satu per satu. Zhao Tianlong membuka matanya. Sepasang mata hitam pekat menatap Han Qiu, lalu melengkung dalam senyum tipis yang hangat. “Apa berita yang membuatmu begitu tergesa datang saat aku berkultivasi?”
Han Qiu menelan ludah, lalu berdiri dengan tubuh masih gemetar. “Laporan… dari distrik barat, Tuan.”
“Mm.” Tianlong mengangguk. “Katakan.”
“Mo Wuxie… telah tewas.”
“Mo Wuxie?” Senyum Tianlong tidak hilang. Namun pusaran qi di sekeliling kolam berhenti sesaat. “Bukankah tugasnya hanya memburu seorang cabang kecil Penolak Langit?”
Han Qiu mengangguk cepat. “Benar, Tuan. Itu sebabnya kami… terkejut. Bukti di lokasi minim. Gua runtuh total. Ditemukan beberapa jasad pemberontak dan Mo Wuxie.” Ia ragu sejenak, lalu melanjutkan, “Namun… kuda hitam milik Mo Wuxie dan Tombak Pemangsa Qi miliknya tidak ditemukan.”
Tianlong memiringkan kepala sedikit. “Artinya?”
“Pembunuhnya selamat,” Jawab Han Qiu. “Sudah jelas dia berhasil melarikan diri sebelum runtuhan menelan segalanya.”
Air terjun tetap jatuh tanpa suara. Tianlong menghela napas, seperti seseorang yang mendengar kabar cuaca buruk. “Menarik,” gumamnya. “Mo Wuxie aku beri tugas untuk melakukan misi penumpasan yang sepele dan tetap mati. Orang yang membunuhnya sudah pasti pendatang baru, atau pihak ketiga?” Ia menatap Han Qiu lagi. “Ada kabar lain?”
Han Qiu menegang. “Distrik selatan kehilangan dua pos tambang. Rakyat mulai melawan. Beberapa sekte kecil menolak pajak qi. Pejabat Paviliun Tianlu yang saling membunuh karena perselisihan dan… rumor tentang Penolak Langit mulai menyebar intens hampir ke seluruh ibu kota Lianzhou.”
Satu demi satu diucapkan kemudian. Mayoritas kabar buruk.
“Kenapa,” senyum Tianlong menegang, “akhir-akhir ini yang kudengar hanya kemunduran?” Ia pun menutup mata kembali, lalu bernyanyi dengan lirih.
“Langit memilih, bumi berlutut.”
“Darah adalah sumpah, nyawa adalah harga.”
“Yang hidup tunduk pada kehendak.”
“Yang menolak dilenyapkan oleh takdir.”
“Akulah… Mandat Kegelapan.”
Setiap nada mengalun dari bibirnya yang kembali melengkung. Lagu itu kuno, syairnya memuja mandat langit, tentang bagaimana langit memilih, dan dunia wajib tunduk, meski dia merubah bait terakhirnya. Suaranya lembut, hampir meninabobokan.
Han Qiu berusaha menahan diri. “Tuanku tidak perlu cemas—”
“DIAM.”
Suara itu meledak. Dua lengan Han Qiu terputus bersih dari bahu. Darah menyembur segar dari kedua sisi. Tubuhnya terlempar ke pinggir kolam. Ia menggeliat, menjerit tanpa suara, wajahnya pucat oleh rasa sakit yang melampaui batas.
Tianlong tetap bernyanyi. Hingga lagu itu selesai. Barulah ia membuka mata dan menoleh. “Ah.” Ia tersenyum lembut. “Maafkan aku. Aku tidak suka diganggu saat menyanyikan lagu suci.”
Han Qiu terengah-engah, tersenyum lemah. “Kesalahan… hamba sendiri… Tuan Zhao… .”
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kolam. Air menelan darahnya. Saat ia muncul kembali di sisi Tianlong, kedua lengannya telah utuh kembali. Tidak ada luka. Tidak ada bekas.
Tianlong berdiri, menatap langit yang tersembunyi di balik tebing. “Aku bosan.” Senyumnya melebar. “Bosan menjaga kandang anjing bernama Lianzhou.”
Ia menggigit telapak tangannya sendiri. Darah menetes ke kolam. Air berubah merah. Qi bergejolak.
Dari dasar kolam, sebuah sosok naik perlahan. Tubuh kekar. Rambut kusut. Baju hitam-merah compang-camping. Mo Wuxie. Namun bola matanya kini abu-abu pucat, kosong tanpa cahaya kehidupan.
Han Qiu menahan napas.
Zhao Tianlong menatap Mo Wuxie dengan penuh minat. “Pergilah! Cari orang yang membunuhmu. Yang merebut tombak dan kudamu.” Senyumnya menajam. “Dan bawakan kepalanya kepadaku.”