Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Musim semi datang di Korea dengan cahaya yang lebih lembut.
Di sebuah kamar apartemen yang tenang, seorang perempuan berdiri di depan cermin besar. Tak ada lagi perban. Tak ada lagi bengkak. Luka-luka itu telah menghilang, seolah tak pernah ada.
Wajah itu sempurna.
Garis rahang halus, hidung yang proporsional, kulit bersih bercahaya. Matanya lebih tajam, lebih dalam, menyimpan ketenangan yang tak dimiliki Galuh dulu. Kecantikan itu bukan hanya soal rupa, melainkan aura: tenang, berkelas, dan sulit ditebak.
Perempuan itu tersenyum pelan pada pantulannya.
Galuh benar-benar telah pergi.
Yang berdiri sekarang adalah Freya Bianca.
Ia menyentuh pipinya perlahan, memastikan kecantikan itu nyata. Tak ada rasa asing lagi ... wajah ini kini sepenuhnya miliknya. Lebih cantik dari sebelumnya. Tapi yang paling berbeda adalah tatapan matanya: tak lagi rapuh, tak lagi meminta belas kasihan.
Pintu terbuka pelan. Shankara Birawa masuk dan berhenti sejenak saat melihatnya. "Pemulihanmu selesai," katanya tenang. "Dokter bilang hasilnya sempurna."
Freya menoleh. "Berarti ... kita akan segera pulang ke Indonesia, Tuan? Aku sudah tidak sabar ingin segera melakukan tugasku."
Shankara mengangguk. "Ya, besok sore ... kita akan kembali ke Indonesia. Fisik dan mentalmu sudah jauh melampaui yang kuperkirakan. Kau akan segera kukirim ke lingkaran keluarga Buana."
Freya kembali menatap cermin. Dalam pantulan itu, ia melihat bukan hanya wajah baru, tetapi seluruh perjalanan yang telah ia lalui: rasa sakit, kehilangan, pembelajaran, dan kendali diri. "Aku tidak ingin mereka mengenaliku," ucapnya pelan.
"Mereka tidak akan mengenalimu, Freya," jawab Shankara. "Bahkan jika mereka menatapmu lama."
Freya Bianca tersenyum tipis ... senyum seorang perempuan yang tahu kekuatannya dan tahu kapan harus menggunakannya.
Di luar jendela, kota bergerak seperti biasa. Tak ada yang tahu bahwa seorang perempuan yang pernah dianggap mati kini telah kembali dengan wajah baru, nama baru, dan rencana yang sudah matang.
Dan kali ini, ia tidak datang untuk memohon keadilan. Ia datang untuk mengambilnya.
______
Sebelum berangkat ke Cisaat, Freya berdiri sendiri di depan sebuah makam sederhana bertuliskan nama Galih Anugrah.
Udara pagi masih dingin. Sunyi.
Tak ada tangis. Tak ada air mata.
Hanya tatapan tajam yang menancap pada nisan itu, seolah ia sedang berbicara tanpa suara. "Dek, Teteh datang mengunjungimu. Hari ini, Teteh akan kembali ke tempat itu. Tempat di mana kehidupan kita dihancurkan oleh manusia-manusia durjana. Teteh akan ke sana untuk mulai membalas dendam. Membuat mereka hancur tak bersisa. Doakan Teteh ya, Dek." Freya berjongkok, menyentuh nisan Galih sebelum dia pergi dari area kuburan itu.
Mobil melaju meninggalkan area pemakaman.
Di kursi pengemudi duduk Nova, tangan kanan Shankara Birawa Valerius, seseorang yang berada di balik rencana besar itu.
Sepanjang perjalanan menuju perkebunan teh Cisaat, pandangan Freya menembus jendela mobil.
Hamparan hijau itu ... jalan berkelok yang dulu sering ia lewati sambil menggenggam tangan Galih kecil. Suara tawa masa kanak-kanak yang kini hanya tinggal gema di kepalanya.
Semua kenangan itu berkelebatan seperti potongan film lama.
Namun matanya tetap kering. Tak setetes air mata pun jatuh.
"Apakah tempat ini masih sama?" tanya Nova pelan, sekadar memecah keheningan.
Freya mengangguk tipis. "Ya. Semuanya masih sama. Tapi aku sudah bukan orang yang sama."
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah besar keluarga Buana ... bangunan megah yang berdiri angkuh di tengah perkebunan.
Freya turun lebih dulu, langkahnya mantap, posturnya tegak penuh percaya diri. Dan dia, berusaha mengendalikan diri, amarah serta dendamnya sesuai dengan perintah Shankara Birawa.
Di beranda, Zainal Buana menatap heran melihat wanita asing itu datang dengan aura yang tak biasa. "Maaf, Anda siapa?" tanyanya hati-hati saat sang tamu sudah berada di hadapannya.
Freya tersenyum sopan, mengulurkan tangan. "Perkenalkan, saya Freya Bianca. Saya datang ke sini atas petunjuk dari warga, katanya pemilik perkebunan ini adalah Bapak Zainal Buana. Juragan tanah dan juga anggota dewan ternama yang dermawan dan kharismatik." Bibir boleh memuji, tapi hati Freya sedang memaki. "Saya datang untuk menawarkan kerja sama pengembangan resort teh dan agrowisata kepada Pak Zainal."
Zainal mengernyit, tapi bibirnya tersenyum samar. Pujian itu seolah mengangkatnya ke langit paling tinggi. "Ah, Nak Freya ini terlalu berlebihan. Mari silakan masuk! Kita mengobrol di dalam saja," ajaknya sambil tersenyum lebar.
Di saat Freya melangkah untuk masuk ke dalam rumah yang dulu sering ia bersihkan ... tiba-tiba, Lingga Buana muncul, tatapan mereka saling bertabrakan. Dan Lingga langsung terpaku seketika menatap wajah Freya.
"Oh God ... siapa wanita ini? Dia cantik sekali. Dia seperti bidadari ..." bisik Lingga dalam hatinya, terpesona.
Freya tersenyum tenang ke arah Lingga Buana, menyembunyikan badai yang bergejolak di dadanya. Bayangan malam keji itu bermunculan. Nyaris membuatnya runtuh. Namun lagi-lagi, suara Shankara menyentak telinganya. "Jangan biarkan amarahmu merusak rencana besar ini!" Freya segera menepis semuanya, kembali tenang seperti tadi.
Zainal yang menyaksikan hal itu, buru-buru angkat bicara. "Nak Freya ... kenalkan ... ini anak sulung saya, Lingga Buana. Dia seorang sarjana hukum yang kini menjadi pengacara terkenal di salah satu firma hukum di ibu kota," paparnya dengan bangga.
Lingga dengan cepat mengulurkan tangan, dan Freya ... dengan dada yang sesak namun disembunyikan ... menjabat tangan Lingga Buana, lelaki yang dulu merampas kehormatannya. "Salam kenal Mas Lingga. Saya Freya Bianca."
"Salam kenal juga, Freya." Lingga membalas dengan diiringi senyum manis, memuja.
Zainal Buana mempersilakan Freya dan Nova duduk. "Silakan. Saya ingin mendengar lebih jelas maksud kedatangan Anda."
Lingga pun duduk di sebelah ayahnya. Sebenarnya, dia tidak tertarik pada kerja sama itu. Yang membuatnya tertarik adalah Freya.
Freya duduk anggun, mengeluarkan suara dengan tenang. "Saya mewakili konsorsium investasi yang bergerak di bidang pariwisata berkelanjutan. Fokus kami mengembangkan resort teh terpadu dan agrowisata."
Nova menambahkan dengan suara profesional, "Kawasan Cisaat memiliki nilai historis dan alam yang sangat kuat. Dengan pengelolaan yang tepat, ini bisa menjadi destinasi kelas internasional."
Zainal mengangguk pelan, masih mengamati wajah Freya. "Menarik. Tapi biasanya investor besar mengirim tim, bukan turun langsung."
Freya tersenyum tipis. "Saya lebih suka melihat sendiri calon mitra saya, Pak Zainal."
Saat itulah Lingga ikut berbicara. Tersenyum kecil. "Terus terang, saya tidak menyangka Cisaat menarik perhatian investor sekelas Anda."
Freya menatapnya lurus. "Justru di tempat seperti inilah nilai sesungguhnya berada. Alam, sejarah, dan ... manusia yang tepat."
Nova melirik Freya sekilas, lalu membuka map dokumen. "Kami tidak berniat membeli lahan. Kami menawarkan kerja sama pengelolaan. Keluarga Buana tetap pemilik utama."
Zainal terlihat sedikit melunak. "Lalu apa keuntungan untuk kami jika bekerja sama dengan perusahaan Anda?"
Freya menjawab tanpa ragu. "Peningkatan nilai aset. Lapangan kerja bagi warga sekitar. Dan tentu saja ... keuntungan finansial yang berlipat dalam lima tahun."
Lingga menyandarkan punggung, matanya tak lepas dari Freya. "Anda terdengar sangat yakin."
Freya membalas tatapan itu, suaranya tetap tenang. "Saya tidak pernah datang tanpa perhitungan."
Di balik senyum tipisnya, Freya menggenggam jemarinya sendiri. Batinnya bergumam. "Aku akan menghancurkan kalian dengan kepintaran, bukan baku hantam."
Freya berkata lagi. "Bagaimana Pak Zainal, Mas Lingga ... apakah kalian setuju bekerja sama dengan kami?"
Zainal dan Lingga saling melirik, lalu meminta waktu untuk membaca dokumen yang dibawa Freya dan juga, diskusi empat mata.
"Silakan, Pak, Mas. Saya dan Nova akan setia menunggu."
Setelah membaca-baca dokumen, Zainal dan Lingga meminta izin untuk berdiskusi sebentar di ruangan lain.
Freya dan Nova mengiyakan.
Tiba-tiba, sang nyonya rumah muncul dengan kantong belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Wajahnya masih angkuh seperti dulu.
Dan Freya sempat tertegun, dadanya bergemuruh. Bayangan ketika Lastri mencaci maki dia dan ibunya saat meminta pertanggungjawaban dulu kembali berkelebatan. Namun dengan cepat, ia mengendalikannya. Senyum kecil ia lemparkan pada Lastri Rukmiati.
"Kalian siapa ya? Apakah kalian tamu suami saya atau anak saya?" tanya Lastri heran.
Freya berdiri dan memperkenalkan diri. "Nama saya Freya, Bu. Dan ini asisten pribadi saya, Nova. Kami adalah tamunya Pak Zainal. Kami ..." Freya pun menjelaskan secara singkat.
Setelah mendengar penjelasan itu, senyum sumringah terbit di bibir Lastri. "Ooh ... jadi Nak Freya ini mau mengajak suami saya berbisnis resort dan agrowisata ya?" Wajah angkuhnya berubah antusias.
"Betul, Ibu." Freya mengangguk.
"Terus gimana kata suami saya? Apakah dia bersedia?"
Freya mesem. "Pak Zainal dan Mas Lingga sedang berdiskusi, Bu."
Lastri menekuk alisnya. "Ih, mereka berdua tuh suka kebanyakan diskusi. Biar saya susul mereka. Ngapain sih harus diskusi segala. Ini tuh kesempatan emas. Kapan lagi di daerah ini punya resort," gerutunya tidak sabaran. "Sebentar ya, saya tinggal dulu."
"Freya, sepertinya nyonya rumah ini begitu berambisi," bisik Nova tersenyum sinis.
"Dia memang seperti itu dari dulu, dan hal itu ... menguntungkan untuk kita," balas Freya menyeringai.
Tak lama, Zainal Buana dan istri serta anaknya muncul lagi. Mereka pun akhirnya menyetujui kerja sama itu.
Mereka berlima berjabat tangan.
"Pak Zainal, Bu Lastri dan Mas Lingga ... dua hari lagi, saya akan kembali ke sini untuk membawa kontrak kerja resmi dan dokumen-dokumen lainnya. Terima kasih atas waktunya. Kami permisi dulu." Freya membungkukkan setengah badannya, begitu pun Nova dan disambut hal yang sama oleh ketiga anggota keluarga Buana itu.
Lingga menatap kepergian Freya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hatinya berdebar tak karuan.
Ia sudah sering bertemu perempuan cantik, cerdas, bahkan ambisius. Tapi tak satu pun membuat dadanya bergetar seperti saat ini. Ada sesuatu pada diri Freya yang membuatnya langsung tertarik. "Aku harus mendapatkannya," batin Lingga tersenyum licik.
Freya melangkah keluar dari rumah besar itu, angin perkebunan menyapu rambutnya pelan. Nova sudah lebih dulu membuka pintu mobil.
Saat Freya hendak masuk, suara cekikikan mendekat dari arah gerbang. Ia menoleh, dan mendapati seorang lelaki dan perempuan yang sedang bergandengan tangan mesra sembari tertawa ceria.
Mendadak, napas Freya tertahan, dadanya memanas melihat wajah dari lelaki di depannya.