NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Tak sama namun serupa.

Mata Calvin masih terpaku di seberang toko. Ada boot foto selfie dimana wanita yang jutek itu ikut mengantri cukup panjang. Wanita bertopi itu terlihat kesal karena antriannya cukup panjang. Ada 9 orang di depannya. Kaki jenjangnya menghentak lantai dua kali, tangannya mengepal 'menghantam' udara kosong beberapa kali.

"Pasti selanjutnya pipinya akan mengembung dan meniupkan udara ke rambutnya bila kesal!" batinnya sambil matanya menatap lekat wanita itu sambil tersenyum tipis.

Kelakuannya mengingatkan pada seseorang yang di masa lalu. Isteri pertama yang tak diabaikan demi wanita lain yang lebih menarik dan menggoda.

Isterinya, Helga, selesai berbelanja dan memberikan dua tas kertas besar untuk dia jinjing tanpa melihat raut muka suaminya. Setelah memasukan platinum card ke dalam sling bag miliknya, Helga menarik lengan suaminya tanpa menoleh, menuju ke eskavator.

Mengapa dirinya hanya bisa memberikan isterinya Platinum Card? Jawabannya, karena dia hanya seorang pekerja, jabatan Manager Pemasaran (berwajah tampan dan blasteran) diharap sebagai 'wajah' perusahaan di Orion Group. Mengapa tidak di Ambrosia, karena dulu di bekerja disitu tapi melakukan kesalahan fatal, menghilangkan data secara permanen untuk presentasi di depan klien akibatnya dipecat oleh pamannya yang merupan CEO.

Bagaimana dengan Helga? Tentu saja kecewa. Dulu, saat berpacaran dengan Reynand seorang CEO, mendapatkan Black Card dan fasilitas mewah lainnya (di luar belanja bulanan). Tak terbayang kalau menjadi isterinya.

Tentunya saat ini dia lebih memilih Calvin yang sehat (walaupun minim fasilitas) dan mampu menggetarkan ranjangnya, dari pada hidup bersama seseorang yang berduit seumur hidup, tapi loyo di atas ranjang (karena lumpuh).

Posisi sang isteri berdiri di depan sedangkan dirinya di belakang. Untuk menguji tebakannya, tanpa diketahui Helga, dia membalikan badan agar matanya leluasa menatap wanita yang kebiasannya mirip seseorang yang dia kenal di masa lalu.

Saat dia melihat dengan seksama, betul saja seperti dugaannya. Wanita itu sedang mengembungkan pipi dan meniupkan rambut hingga helaian poninya beterbangan di udara untuk mengenyahkan kebosanan karena mengantri lama. Calvin pun terkesiap kaget melihatnya.

"Ya ampun! Masak sih, ada orang yang kebiasaannya mirip? Tak sama namun serupa! Bahkan kembar identik pun memiliki kebiasaan berbeda. Contohnya adik kembarnya!" batinnya kaget.

Ericka ekstrovert dan frontal, Erina kalem dan introvert!

"Tidak mungkin sama! Setahunya, isteri pertamanya yatim piatu, tak memiliki kembaran!"

Ketika menjadi anak angkat, keuangannya total disubsidi keluarganya. Tidak pernah kerja sambilan di luaran. Dengan kata lain merupakan gadis rumahan. Bahkan setelah menikah, murni jadi ibu rumah tangga.

Dia melihat, isterinya itu sekarat. Mustahil, dengan luka separah itu masih hidup, ditambah suasana sepi, jauh dari pemukiman warga.

"Mana mungkin dia bisa hidup!? Bagaimana dia bisa bertahan tanpa bantuan keluarganya?Kalaupun hidup, darimana Black Card yang ada di tangannya? Sembuh lalu kembali tinggal di ibukota? Operasi plastik? Atau menjadi sugar sembuh dari seseorang yang berpengaruh di kota ini?"

"Tapi melihat penampilannya yang dia lihat (atasan kardigan krem, kaos oblong dan celana kargo), jauh dari kata glamour, tidak mencerminkan seseorang yang berprofesi seperti penjaja diri pada om senang!

"Kalau dia selamat dari kecelakaan dan berada di Jakarta selama ini, mengapa tak kembali ke mansion, menemui oma opa!?"

Beribu pertanyaan mengapa dan mengapa berputar di kepalanya. Rasa penasaran yang besar, menggerakan tubuhnya untuk menemui gadis yang mirip isteri yang diceraikannya.

Dia segera memutar badan lagi menuju lantai bawah hendak menembus kepadatan pengunjung yang menggunakan elevator namun sayang, langkahnya terhenti. Helga mengajak ke tempat favorit mereka berdua bila berada di mall ini, Papitoz's Pizza and Grill.

Keduanya memasuki gerai makan. Pengamatan Calvin pun terputus dari gadis itu dan dia duduk gelisah di kursinya. Butuh 15 menit menunggu hidangan tersedia.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada seorang wanita yang menyapa isterinya. Dia mengenalnya karena rekan kerja sesama model. Helga pun berpindah tempat ke samping untuk berbincang dengan temannya yang datang dengan kekasih barunya seorang bule yang tidak kami kenal.

Tak lama, Helga dan temannya pamit ke rest room yang ada di luar sedangkan si bule sibuk memainkan handphone.

Kesempatan tersebut tidak dia sia-siakan. Dia pergunakan ke lantai bawah, mencari keberadaan sang gadis di boot foto, namun tak ditemui lagi. Saat akan bergerak menuju elevator ke lantai atas dirinya serasa menggesek benda licin.

Sssrekkk!

Dia melihat ke bawah sepatunya, ada sesuatu yang menyembul. Dia pun mengambilnya setelah permukaannya dibersihkan dari debu.

"Foto!" gumamnya.

Diperhatikannya dengan seksama profil wajah dalam selembar foto ukuran 4x6. Tampak berbeda dari sosok yang dia ingat. Wajah ini sangatlah cantik dengan alis tipis melengkung bak kepakan sayap elang yang hendak terbang, pipi mulus tanpa bintik jerawat, terisi penuh membentuk wajah oval yang sempurna. Bulu mata lebat membingkai bola mata besar tampak berbinar.

Mengingat dirinya terlalu lama meninggalkan tempat, segera dia masukan foto tersebut ke dalam dompetnya di bagian yang tersembunyi.

Sesampainya di tempat semula, dia mendapati Helga dan temannya belum sampai. Si bule yang mendampingi kawan Helga pun tak ada di tempat.

Lima menit kemudian pesanan datang dan terhidang di kedua meja. Tak lama, ketiganya muncul dan mereka makan bersama dengan menyatukan meja. Calvin kehilangan obyek pengamatannya.

Setelah satu jam, teman Helga dan pasangannya pamit berpisah. Keduanya segera menuju basement. Mobil pun keluar dari dalam gedung setelah menempelkan kartu.

"Eittt, Vin, berhenti dulu di pinggir. Aku mau beli manggo ice cream!" ujar Helga begitu melihat di sisi kiri, toko es krim bermaskot King Snowman dari negeri Tirai Bambu, kesukaannya.

Mobil pun berhenti di depan toko beseberangan dengan halte bus. Helga pun masuk dan terlihat mengantri. Dia menunggu di mobil. Saat itu dia memandang ke arah depan ada zebra cross, melintas gadis yang dia cari yang fotonya dia pungut, lalu gadis itu menghampiri taksi biru berlogo burung terbang.

Tas belanjaan si gadis begitu banyak di tangannya dan terlihat ribet. Calvin terpaku di dalam mobil dsn terus mengamati. Dia pun tersenyum melihat kerepotan yang dialami si wanita. Seperti hiburan untuknya.

"Pasti dia keluar dari taksi untuk ditempatkan di bagasi karena dia tidak mau ribet dengan banyak barang di kursi penumpang, tak perduli bagasi telah penuh sesak!" tebak Calvin asal.

Benar saja! Wanita itu keluar sesaat setelah taksi bergerak sedikit. Dia memasukan semua barang walau bagasi penuh sesak. Kakinya menghentak ke aspal dan tangannya yang penuh belanja menghentak udara kosong dan berusaha menjejalkan barang.

"Fix! Ini, sih!"

"Rembulan!" serunya lantang dari balik kaca mobil yang gelap.

Di sebrang jalan, Rembulan melihat Calvin turun dari mobil dan akan melintasi garis zebra cross, namun terhalang kepadatan lalu lintas, guna mendekati dirinya, segera dia masuk ke dalam taksi.

"Pak! Cepat pergi dari sini. Ada orang gila mengejar saya!" perintah Rembulan kepada sopir taksi yang sedari tadi standby di balik kemudi.

Walaupun bingung, dia melihat, orang ganteng turun dari mobil mewah, dikatakan orang tak waras oleh penumpangnya, sang sopir mengikuti perintah penumpang demi keamanan. Bisa saja seorang psikopat tampan, dalam hatinya. Dan melajukan mobil adalah keputusan tepat, setelah melihat raut pucat pasi penumpangnya dari balik spion.

Tangan Calvin terjulur hendak mencapai pintu belakang namun terlambat. Taksi telah melaju kencang, sulit untuk dia kejar.

"Shitttt! Kehilangan jejak lagi!" umpat Calvin sambil memukul udara dengan nafas terengah-engah.

"Fix! Itu adalah Rembulan, tak salah lagi!" ucapnya yakIn.

"Bagaimana mungkin orang berbeda tapi kebiasaan sama persis. Bahkan kembar identik pun, berbeda dalam sifat dan kebiasaan!" gumamnya berpatokan pada adik kembarnya yang identik.

Calvin hanya bisa melihat kendaraan semakin menjauhinya dengan tatapan nanar.

Rembulan menoleh ke belakang. Tampak lelaki berengsek itu masih terpaku di tempat dan akhirnya kembali ke mobilnya. Dia pun mendesah lega. Bukannya takut berkonfrontasi namun saat ini bukan waktunya mereka bertemu.

"Orang yang dikenal, mbak!?" tanya sopir taksi penasaran demi melihat kelegaan di wajah penumpangnya.

"Mantan suami!"

Dia memang gila alias psikopat. Selingkuh dan KDRT!" dustanya demi menuntaskan penasaran sopir taksi dan tak banyak pertanyaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!