Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Nenek Vintage
Belum juga duduk, belum juga melangkah menghampiri, Marisa tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Casey dan Jayden mendadak bengong.
"Nenekmu ngomong sama kita?" Jayden berbisik pelan sambil matanya melihat ke arah Marisa yang tak kunjung membalikkan badan..
Casey mendelik pelan. "Iya lah, nggak mungkin sama tembok, tunggu sebentar."
Jayden mengangguk samar lalu perlahan mengedarkan pandangan di sekitar. Selera Marisa kurang lebih sama seperti Mayang, ukiran klasik mendominasi. Perabotan rumah dengan dasar kayu jati kualitas tingkat tinggi terpajang di sudut-sudut ruangan.
Sama seperti Casey, Jayden juga belum terlalu dekat dengan Marisa, mansion yang didatangi ini kali pertama ia injak.
"Nek," panggil Casey kemudian. Dan Jayden masih asik memindai ruangan.
Tak ada jawaban. Casey menghela napas sejenak. Dia lupa nadanya harus tinggi agar Marisa mendengarkan.
"Nenek!!!" teriak Casey hingga pria di samping terlonjak dan spontan menoleh ke samping.
Lain halnya dengan Marisa. Secepat kilat memutar badan. Menginjak usia angka delapan puluh tahun, Marisa masih nyentrik, masih modis dan masih gaul, bibirnya pun selalu merah merona. Sekarang, dia selalu memakai kebaya khas Jawa di rumah atau pun di luar. Kini seluruh rambutnya memutih dan disanggul ke belakang, keriput di kulitnya pun makin bertambah, tapi tetap tidak bisa memudarkan kecantikan Marisa.
"Nenek dengar kok, mendekat sini!" kata Marisa sangat ketus dan mata melotot sedikit, dia perlahan menggerakkan tongkat ke arah sofa di dekat jendela.
Suara tongkat menggema di ruangan, pelan dan sedikit berirama.
Tuk, tuk, tuk!
"Casey bantu ya Nek." Casey bergerak cepat hendak membantu Marisa berjalan menuju sofa. Jayden pun mengekorinya dari belakang.
Marisa tak membalas. Casey selalu lupa jika pendengaran neneknya bermasalah sekarang. Keluarga besar Casey terutama menantu Marisa sudah berulang kali membujuk Marisa untuk berobat tapi Marisa selalu menolak, malah memilih liburan ke luar negeri setiap bulan.
"Nek! Casey bantu ya!" jerit Casey untuk ke sekian kalinya, kini sudah berjalan di samping Marisa, tapi Marisa seakan-akan tak menyadari ada dua ekor manusia berdiri di sampingnya sekarang.
Bunyi tongkat seketika terhenti. Marisa menoleh ke samping dengan berkerut samar. "Hah? Kau bilang apa barusan?"
"Casey bantu ya Nek!" teriak Casey seketika hingga Jayden kembali terkejut dan reflek mengelus dada. Maklum belum terbiasa.
"Kau mau jadi hantu?" Marisa mengulangi perkataan Casey dengan mimik muka tampak kebingungan.
Casey menghela napas kasar hendak menjawab tapi Jayden tiba-tiba berbisik.
"Sepertinya Nenek kau tahu kalau kau selama di rumah suka jalan-jalan seperti hantu," kata Jayden.
Selama seminggu ini, di tengah malam buta, kadang kala Casey suka berjalan dalam tidurnya ke arah lemari lalu meringkuk di situ. Jayden memilih diam dan asik melihat Casey tertidur. Lalu diam-diam dia tidur di tempat tidurnya karena dia tidur di sofa selama mereka satu kamar.
Casey melirik tajam ke samping. "Diam kau!"
Jayden menahan senyum tipis.
"Hah? Kau bilang apa Casey?" tanya Marisa.
Casey menoleh cepat kepada Marisa. "Nggak, nggak Nek, ayo sini Casey bantu."
"Astaga, baru menikah saja kau mau jadi hantu, ckck, anak zaman sekarang cita-citanya aneh," celetuk Marisa.
Casey tak mampu berkata apa apa lagi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia meraih tangan Marisa hendak menuntun neneknya berjalan. Akan tetapi, Marisa tiba-tiba menghempas tangannya.
"Casey, Nenek bisa jalan sendiri, pegang saja tangan sama suamimu itu! Takutnya kau melayang-layang seperti hantu," kata Marisa lalu menggerakkan tongkatnya lagi menuju sofa, meninggalkan Casey melongo dengan mulut sedikit terbuka.
"Benar juga kata Nenekmu, ayo peganglah tanganku," kata Jayden dengan nada datar dan raut wajah templatenya yang selalu datar.
Ini terdengar seperti sebuah ejekan dan Casey hanya membalas dengan menatap tajam.
Casey pun memilih melangkah pelan mendekati Marisa. Mengimbangi langkah kaki neneknya yang berjalan seperti siput.
Lima menit kemudian, Jayden dan Casey sudah duduk di sofa berhadapan dengan Marisa yang memilih untuk berdiri. Suasana mendadak canggung, Marisa memandang Jayden dengan tatapan menyelidik.
Sementara Jayden dan Casey saling lirik satu sama lain sekilas sejak tadi.
"Jadi ini burung kakaktua itu?" lontar Marisa seketika.
Jayden kebingungan. "Nenekmu ngomong apa, burung apa katanya?" Ia langsung berbisik lagi.
Casey enggan menjawab, memilih memandang ke depan."Nek itu Bang Chester! Nenek salah orang!"
Casey ingat betul dulu Marisa menjuluki abangnya 'burung kakaktua' karena di usia 30-an ke atas belum juga menikah, tapi sekarang tentunya sudah berkeluarga dan memiliki empat orang anak kembar sekaligus.
"Nenek nggak salah orang! Kata Mayang kalian belum buat anak kemarin jadi julukan sekarang pindah sama dia!' kata Marisa ikutan emosi juga.
"Jadi kalau kau nggak mau dipanggil burung kakaktua! Ayo cepat buat anak sekarang!" tambahnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah selangkangan Jayden, yang sekarang tampak sangat syok sekaligus bertambah heran.
Jayden pun reflek menutup burungnya dengan kedua tangannya,
"Casey, Nenekmu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti," kata Jayden, melirik Casey sekilas.
Casey melempar senyum kaku. "Diamlah, jangan dijawab biar aku saja."
"Nek, masih proses loh, kalau buat anak itu nggak bisa langsung–"
"Diam kau! Aku bertanya padanya bukan denganmu!" Marisa langsung menyela lalu menatap tajam Jayden. "Jadi kalau dalam waktu dekat kalian nggak kasi aku cucu, burungmu ini akan aku sembelih!" sahut Marisa, sambil menggerakkan tangan di lehernya sendiri, seolah-olah akan menggorok Jayden.
Jayden reflek menelan ludah, hendak menjawab tapi Casey terlebih dahulu membuka suara.
"Nek, sudah aku bilang, kami sudah buat anak kok kemarin pas Nenek Mayang datang ke rumah Jayden dan ini masih proses!" jawab Casey.
Marisa berdecak kuat. "Kalian pikir bisa bohongi aku! Pokoknya tahun ini Nenek mau cucu lagi, adikmu Cataleya saja sudah tiga! Masa kau belum!"
"Iya, iya Nek! Sabar–"
"Nggak ada sabar-sabar, kalau sabar pantatnya lebar, nenek mau pantat nenek tetap kecil kayak supermodel!" sela Marisa lagi, tak mau mengalah. Semakin berumur kelakuannya seperti anak muda yang memiliki semangat membara.
"Kalau kau nggak mau diberi julukan burung kakaktua! Berikan aku cucu sekarang!" tambahnya, sejak tadi pandangannya tak lepas dari Jayden sambil menggerakan tongkat ke bawah kaki Jayden.
Jayden tampak panik, takut bila benda panjang itu mengenai asetnya. Dia belum mampu membalas, sebab Casey memberinya perintah untuk diam saja.
Casey membuang napas kasar setelahnya. "Nek, Jay–"
"Diam! Dari tadi kau yang jawab, sekarang keluar dari sini! Nenek mau ngomong sama burung kakaktua ini!" seru Marisa. Sambil mengarahkan tongkat pusakanya ke arah Casey.
"Tapi Nek!" Casey langsung protes.
"Keluar!" perintah Marisa. Membuat Casey terpaksa beranjak dari sofa sambil menoleh ke arah Jayden.
Lelaki itu tampak panik dan tak berani bersuara sekarang. Namun, dari matanya memancarkan sinyal-sinyal memohon untuk pertolongan.
Casey, tolong aku!
Kurang lebih seperti itu jeritan hati Jayden. Dan anehnya, Casey suka ekspresi Jayden saat ini. Tampak menyenangkan. Lelaki dingin dan galak itu punya sisi lain jika berhadapan dengan orang yang lebih tua darinya.
"Kenapa belum keluar?! Cepat keluar!" kata Marisa kala Casey tak kunjung menggerakkan kaki.
"Iya Nek iya!"
Casey pun bergegas sambil melempar senyum jahil ke arah Jayden sekarang lalu mulai melangkah dan menggerakkan mulutnya dari kejauhan.
"Jaga burungmu nanti Nenekku sembelih loh," kata Casey. Tanpa melepaskan pandangan dari Jayden sejak tadi.
Jayden makin tampak panik.
Casey tersenyum puas melihat mimik muka Jayden lalu bergegas keluar. Meninggalkan Marisa dan Jayden di ruangan.
Casey tampak penasaran apa yang dibicarakan Marisa dan Jayden di dalam, hingga satu jam kemudian, Jayden baru muncul di balik pintu dengan raut muka sangat serius.
"Lama banget, ngomong apa kalian di dalam?" tanya Casey.
"Kita pulang sekarang, bicaranya di rumah saja."
Jawaban Jayden membuat Casey makin penasaran. Terlebih Marisa juga mengantar kepergian mereka tanpa mengucapkan satu patah kata.
Di sepanjang jalan pulang ke rumah, hawa di dalam mobil seketika dingin. Casey memilih bungkam, dan sesekali melirik ke samping, melihat Jayden fokus mengemudi.
Sesampainya di mansion atau lebih tepatnya kamar mereka sekarang. Jayden tiba-tiba bersuara.
"Casey, malam ini kita harus membuat anak!"