Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvaro Rendra Wilson
5 tahun kemudian.
Mobil lamborgini hitam berhenti di area Perusahaan Wilson, yang terletak di pusat kota. Nampak kaki panjang turun dari mobil tersebut.
Dengan setelan jas putih, dipadukan dengan aksesoris jam tangan, serta gaya rambut slide back, pria itu melangkah masuk ke dalam perusahaan. Paras yang tampan, serta postur tubuh yang tinggi, membuat siapa saja yang melihatnya merasa langsung jatuh hati.
"Selamat pagi, Tuan Muda Rendra" ucap para staf karyawan silih berganti sambil membungkuk hormat, saat Rendra melalui mereka.
Sementara Rendra hanya mengangguk tanpa tersenyum, dan para staf karyawan juga tidak terkejut dengan sikap atasannya itu.
"Pagi, Tuan Muda Rendra!" sapa Lisa manajer keuangan, sambil membungkuk hormat.
"Hmm," Rendra hanya mengangguk sebentar, lalu melewati Lisa begitu saja.
"Eh, buset punya bos kaku amat," gumam Lisa menggelengkan kepala.
"Kayak baru kerja pertama kali disini, Neng" ucap seseorang yang membuat Lisa ...
"Eh! David!" Lisa terkejut melihat kehadiran David, ajudan pribadi Rendra, yang tiba-tiba berada di dekatnya.
Bugh
"Aww, Lis. Sakit!" rintih David saat Lisa main memukul kasar bahunya.
"Biarin! Suruh siapa lo bikin gue kaget!" kesal Lisa menatap tajam David.
"Hahaha, iya gue minta maaf. Tapi sebagai tanda permintaan maaf gue, gimana kalau nanti malam kita ngedate?" rayu David sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Huekk! Ogah gue ngedate sama lo!" tanpa basa basi lagi, Lisa memilih pergi meninggalkan David sendirian. Sedangkan David hanya tertawa, karna sekali lagi merasa puas sudah menjahili rekan kerjanya.
"Oh iya, gue ada laporan yang harus gue kasih sama si Rendra spek muka pucet kek Vampire," David langsung berlari ke arah lift, karena ia tau jika Rendra sedang menunggu laporannya, tentang pembelian properti kawasan perumahan yang Rendra incar selama ini.
Kawasan perumahan tersebut saat ini memang menjadi incaran para pebisnis seperti Rendra. Banyak diantara mereka bergantian mendatangi real estat, untuk bekerja sama membujuk para warga untuk menjual tanah mereka.
Bagi warga yang tidak tau, mereka dengan suka rela menjual tanah mereka berapapun itu. Namun bagi warga yang tau, mereka memilih bertahan karna sadar nilai properti akan semakin terus meninggi.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" mendengar perintah Rendra membuat David melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
Disana ia melihat Rendra tengah duduk di kursi kerja, sambil menatap serius ke arah laptop. Tumpukan beberapa berkas di atas meja terlihat jelas di samping kanan kiri Rendra. Sepertinya Tuan Muda Rendra cukup sibuk akhir-akhir ini, pikir David.
"Tuan Muda!" David menyapa sambil membungkuk hormat terlebih dahulu, sebelum memberikan laporannya.
"Hmm, cepat jelaskan gimana proyek pembelian properti sekarang ini!" perintah Rendra tanpa basa basi.
"Baik, Tuan Muda. Sejauh ini kita berhasil menguasai pembelian properti sebesar 90% dari seluruh area perumahan," David memberikan dokumen hasil pembelian properti kepada Rendra.
"Dan sesuai perintah, Tuan. Kami juga berhasil mempengaruhi beberapa warga, yang menjual properti mereka ke perusahaan lain. Dengan cara membeli 3 kali lipat dari yang perusahaan itu tawarkan," jelas David.
Rendra masih memperhatikan dokumen hasil pembelian properti. Namun alisnya mengernyit saat tau, "Kenapa masih ada perusahaan lain yang terlibat dalam pembelian properti kawasan itu?"
"Maaf, Tuan. Sejauh ini kita memang kalah cepat dan-"
Bruak
Perkataan David terputus, saat Rendra dengan kasar menaruh berkas dokumen yang ia pegang.
"Saya tidak ingin mendengar alasan apapun. Yang saya inginkan kawasan itu harus sepenuhnya kita kuasai. Saya tidak ingin ada perusahaan lain, yang terlibat dalam pembelian properti itu," tegas Rendra.
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
"Lalu bagaimana dengan 10% yang lain? Kenapa mereka tidak segera menjual tanah mereka?"
"Sepertinya mereka tau jika kawasan mereka menjadi incaran para pebisnis, Tuan. Dan menurut pengamatan saya, mereka memilih bertahan karna mereka tau, daya jual properti mereka akan semakin naik, seiring waktu berjalan."
"Ck, dasar orang miskin. Selalu saja cari untung," umpat Rendra kesal.
"Baiklah, David. Kalau gitu gunakan cara-"
"Sayangggg..." suara seseorang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Rendra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan membuat Rendra langsung menghentikan perkataannya
"Sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Selvi, tunangan Rendra.
Sadar posisinya sedang berada di waktu yang tidak tepat, David memilih meminta izin untuk pergi melanjutkan pekerjaannya. "Maaf Tuan Muda, saya permisi dulu, " ucapnya membungkuk hormat, dan di balas anggukan Rendra.
Melihat David yang sudah pergi, Rendra kembali menatap serius ke arah laptop. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, tanpa memperdulikan kehadiran Selvi yang berada di sampingnya.
"Sayangg..." panggil manja Selvi, namun Rendra sama sekali tidak meresponnya.
Kesal karena merasa diacuhkan, Selvi dengan nekat menutup layar laptop Rendra, dan tentu saja hal tersebut membuat Rendra naik pitam.
"Lo apa-apaan sih!" gertak Rendra.
"Ya abisnya kamu cuekin aku sayang. Aku gak suka tau," Selvi ingin membelai wajah Rendra, namun dengan kasar Rendra menangkisnya.
"Jangan coba-coba lo sentuh wajah gue!" ucap Rendra dengan suara dingin.
"Kok kamu masih kasar sih sama aku. Kita udah tunangan loh, masa kamu lupa?" Selvi menunjukan cincin, yang melingkar di jari manisnya.
"Ni liat kita udah tunangan kan? Bulan depan kita nikah. Masa kamu terus bersikap kasar kayak gini sama aku?"
Rendra memilih untuk tidak memperdulikan perkataan Selvi. Ia bangkit dari tempat duduknya, berniat ingin keluar dari ruang kerjanya.
"Loh sayang, kamu mau kemana?" Selvi mengejar Rendra, dan berusaha meraih tangannya.
Namun sekali lagi Rendra tidak mau disentuh oleh Selvi, "Udah gue peringati, jangan deket-deket sama gue kenapa masih lo langgar, Hah?!"
"Emang salah kalau aku mau deket sama kamu? Kita udah tunangan sayang," namun Selvi sedikit mengernyitkan dahi, saat tau jika di jari manis Rendra tidak ada cincin yang melingkar.
"Kok kamu gak pakek cincin tunangan kita?"
Rendra mengangkat satu alisnya, "Sejak kapan kita tunangan? Emang gue pernah bilang ada rasa ke lo? Gak kan? Jadi stop ganggu hidup gue!"
"Om Danu sudah memintamu untuk menikahi ku, Rendra. Kalau sampai ayahmu tau kamu masih bersikap seperti ini terhadapku. Aku bisa pastikan kamu bakalan dicoret dari Keluarga Wilson!" ancam Selvi.
"Oh, kalau gitu silahkan!" balas Rendra dengan santai.Melihat itu Selvi tentu saja merasa kesal.
"Sebenarnya apa yang kurang dari diri aku, Rendra? Sampai-sampai kamu terus menolak ku?"
"Udah gue katakan dari sebelumnya. Gue gak cinta apalagi tertarik sama lo. Dan urusan kita bertunangan itu semua cuma untuk kepentingan perusahaan ayah lo dan ayah gue," Rendra menatap dingin Selvi.
"Jadi, jangan berharap kita bakalan menikah. Setelah urusan bisnis keluarga kita selesai, kesepakatan kita bertunangan juga selesai. Paham?"
"Gak! Aku gak terima!" Selvi merasa kesal. Bisa-bisanya dia cuma dijadikan alat untuk membuat bisnis keluarga mereka sukses.
"Terima gak terima, lo sendiri yang memulai. Lo terlalu obsesi sama gue semenjak gue udah jadi CEO,"
"Bahkan lo sendiri yang bujuk, dan paksa ayah lo agar membuat kesepakatan dengan ayah gue. Dengan iming-iming untuk menaikan saham perusahaan, biar lo bisa tunangan sama gue," ucap Rendra dengan penuh penekanan.
Selvi yang merasa tidak terima, dengan semua perkataan Rendra tentang dirinya. "Rendra! Bukannya dulu lo suka sama gue?"
"Itu dulu, dan sekarang udah gak lagi."
"Kenapa?"
"Lo masih bisa nanya kenapa?" Rendra tersenyum sinis melihat sikap Selvi, yang lupa dengan kesalahannya di masa lalu.
"Udahlah, lebih baik lo pergi dari sini sekarang juga!" usir Rendra dengan suara dingin.
"Gak! Aku gak mau, Rendra. Dan kamu tidak bisa mengusirku seperti ini. Aku ini tunang-"
"Ahhhh! Rendra... sakittttt," rintih Selvi saat Rendra dengan tega mencengkram kasar rahangnya.
"Udah gue bilang, pertunangan kita hanya sekedar formalitas 2 perusahaan. Jadi," Rendra menghempaskan wajah Selvi dengan kasar.
"Stop bersikap seolah-olah kita mempunyai hubungan. Camkan itu!" Rendra menunjuk kasar wajah Selvi.
Air mata jatuh menetes di pipi Selvi, namun dengan cepat ia menghapusnya. "Baik kalau itu maumu. Tapi ingat ini baik-baik. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita tetap akan menikah bulan depan. Camkan itu juga Elvaro Rendra Wilson!" Selvi langsung pergi meninggalkan ruang kerja Rendra dengan perasaan terluka.