NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Rahasia di balik meja kerja

Rahasia di balik meja kerja ini hanyalah awal dari pengungkapan besar yang akan mengguncang pondasi seluruh kekuasaan paman dan ayahnya. Anindira terduduk lemas di atas lantai karpet yang tebal sambil menggenggam foto masa kecilnya yang baru saja dilempar oleh Hendra. Ia merasakan tangannya gemetar hebat karena bayangan wajah murka ayahnya masih terbayang jelas di pelupuk mata.

Devan melangkah mendekat dan berjongkok di hadapan Anindira dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan oleh siapa pun. Ia mengambil foto itu dari jemari Anindira yang dingin lalu menyimpannya kembali ke dalam saku jas hitamnya yang mahal. Keheningan di dalam ruangan itu terasa sangat menekan hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman genderang perang.

"Apakah Anda sadar betapa bahayanya membiarkan benda ini tersimpan di tempat yang bisa dijangkau olehnya, Tuan?" bisik Anindira dengan suara yang serak.

"Saya sengaja meletakkannya di sana agar dia tahu bahwa ada hantu dari masa lalu yang sedang mengawasinya," jawab Devan dengan nada yang sangat dingin.

Anindira mendongak dan menatap mata Devan yang berkilat penuh dengan tekad yang tidak tergoyahkan sedikit pun oleh ancaman Hendra. Ia menyadari bahwa Devan selama ini telah menyusun rencana yang jauh lebih besar dan lebih rumit daripada yang ia duga sebelumnya. Pria itu tidak hanya ingin melindunginya, tetapi nampaknya sedang menggunakan Anindira sebagai senjata untuk menghancurkan kejayaan keluarga mereka sendiri.

Kegelisahan Anindira semakin memuncak saat ia teringat pada laci tersembunyi yang berada di bawah meja kerja kayu mahoni milik Devan. Ia merangkak sedikit mendekat dan memperhatikan sebuah celah kecil yang nampak tidak wajar pada ukiran kayu yang sangat halus tersebut. Dengan gerakan yang sangat cepat, Devan segera menahan tangan Anindira sebelum wanita itu berhasil menyentuh bagian yang sangat rahasia itu.

"Jangan pernah mencoba membuka apa yang tidak seharusnya Anda lihat sekarang, Dira," peringat Devan dengan cengkeraman tangan yang sangat kuat namun tidak menyakitkan.

"Saya hanya ingin tahu apakah ada hubungan antara foto ini dengan kejadian yang menimpa saya lima tahun lalu," balas Anindira dengan tatapan yang menantang.

Devan akhirnya melepaskan tangan Anindira dan menghela napas panjang seolah sedang membuang beban yang sangat berat dari dadanya. Ia kemudian menekan sebuah tombol kecil yang berada di bawah daun meja hingga sebuah kotak logam muncul dari balik papan kayu yang sangat tebal. Di dalam kotak itu terdapat beberapa tumpukan surat lama yang nampak sudah mulai menguning dimakan oleh waktu yang terus berjalan.

Anindira mengambil salah satu surat dan membacanya dengan saksama hingga matanya membelalak karena rasa terkejut yang luar biasa besar. Surat itu berisi tentang perjanjian gelap antara ayahnya dan pimpinan grup bisnis lain untuk menyingkirkan ibu kandung Anindira dari posisi ahli waris. Ia merasakan hatinya hancur berkeping berkeping saat menyadari bahwa pengusirannya lima tahun lalu sudah direncanakan bahkan sebelum ia lahir ke dunia.

Tiba tiba, suara langkah kaki yang sangat terburu buru terdengar mendekati pintu ruangan kerja yang nampak tertutup rapat. Anindira segera berdiri dan merapikan setelan kerjanya sementara Devan menutup kembali kotak logam rahasia itu dengan gerakan yang sangat lincah. Pintu terbuka secara mendadak dan menampilkan sosok sekretaris utama yang nampak sangat pucat dan penuh dengan tetesan keringat di dahinya.

"Tuan Devan, ada seseorang yang mengaku sebagai pengacara dari mendiang ibu kandung Nona Anindira menunggu di lobi utama!" seru sekretaris itu dengan suara yang sangat terbata bata.

"Bawa dia masuk melalui jalur lift pribadi sekarang juga tanpa sepengetahuan siapa pun di gedung ini," perintah Devan dengan suara yang sangat tegas.

Anindira merasa dunianya seolah sedang diputar balikkan oleh takdir yang nampaknya mulai berpihak kepadanya setelah sekian lama menderita. Ia bertanya tanya apakah pengacara ini membawa bukti baru yang bisa mengembalikan nama baiknya di depan publik yang selama ini menghujatnya. Harapan kecil mulai tumbuh di dalam lubuk hatinya yang terdalam meski ia tahu bahwa jalan di depannya masih sangat berliku.

Beberapa menit kemudian, seorang pria tua dengan tas kulit yang sudah usang masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang sangat mantap. Pria itu menatap Anindira dengan pandangan yang sangat lembut dan penuh dengan rasa rindu yang sangat mendalam kepada klien lamanya. Ia meletakkan sebuah map hitam di atas meja dan membukanya secara perlahan lahan di hadapan Devan dan Anindira yang sedang menunggu.

"Sudah bertahun tahun saya menunggu saat yang tepat untuk memberikan dokumen wasiat yang asli ini kepada Anda, Nona Anindira," ucap pria tua itu dengan suara yang bergetar.

"Dokumen wasiat? Bukankah ayah saya sudah menyatakan bahwa seluruh aset sudah berpindah tangan kepada Sarah dan ibu tirinya?" tanya Anindira dengan nada yang penuh dengan keraguan.

Pengacara tua itu menggelengkan kepalanya dan menjelaskan bahwa dokumen yang selama ini digunakan oleh Hendra adalah sebuah pemalsuan yang sangat rapi. Ia menunjukkan sebuah tanda tangan asli yang memiliki pola khusus yang hanya bisa dilihat jika diletakkan di bawah sinar cahaya lampu tertentu. Anindira merasakan tangannya kembali gemetar saat ia menyentuh permukaan kertas yang berisi tanda tangan ibu kandungnya yang sangat ia cintai.

Namun, di tengah momen haru tersebut, sistem alarm keamanan gedung kembali berbunyi dengan suara yang sangat melengking dan sangat memekakkan telinga. Layar monitor di ruangan Devan menunjukkan bahwa sekelompok orang bersenjata sedang mencoba mendobrak gerbang utama gedung untuk masuk ke dalam. Anindira menyadari bahwa musuh musuhnya tidak akan membiarkan kebenaran ini terungkap begitu saja tanpa adanya pertumpahan darah yang mengerikan.

Devan segera menarik Anindira menuju jendela kaca yang besar dan menunjuk ke arah sebuah helikopter yang mulai mendekat ke arah atap gedung. Ia memerintahkan asistennya untuk membawa map hitam itu dan segera melarikan diri demi keselamatan nyawa mereka berdua yang sangat terancam. Anindira menatap Devan dengan penuh rasa khawatir karena pria itu nampak berniat untuk tetap tinggal dan menghadapi para penyerbu tersebut sendirian.

"Anda harus ikut dengan saya, Tuan Devan, jangan biarkan mereka melukai Anda demi melindungi saya!" teriak Anindira di tengah suara bising sirine gedung yang menyiksa.

"Tugas saya adalah memastikan Anda dan bukti ini sampai ke tempat yang aman, sekarang pergilah sebelum pintu ini meledak!" sahut Devan sambil mendorong Anindira menuju tangga darurat atap.

Anindira berlari sekuat tenaga menaiki anak tangga sambil memeluk erat map hitam yang menjadi kunci kebebasannya di masa depan nanti. Ia melihat pintu ruangan kerja Devan mulai dihantam oleh kapak besar dari arah luar hingga kayu jati yang sangat kokoh itu mulai retak. Ketika sang bos bertemu si kecil di atap gedung yang berangin kencang ini, ia menyadari bahwa pertaruhan nyawa ini baru saja memasuki babak yang paling mematikan.

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!