Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Menjaga dari Bidikan
...Selamat membaca semuanya......
...----------...
...----------...
Boris berjalan keluar kamar mandi, matanya melihat Rania sudah tertidur dengan posisi yang terlihat tidak terlalu nyaman. Dia tersenyum dan membenarkan posisi tidur Rania, menyelimuti tubuh wanita itu sambil meninggalkan kecupan di dahi Rania.
"Selamat malam, Nona."
Boris istirahat di atas sofa di ruangan itu seperti biasa. Malam kemarin dan malam ini menjadi titik bahwa Rania mampu menjadi penyebab dirinya tidak baik-baik saja.
Matanya melirik sebentar ke arah Rania yang tidur dengan tenang, "aku sudah bertindak terlalu jauh dan kelewat batas. Besok aku harus cari penginapan sendiri."
...ΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, Boris dikejutkan oleh Rania yang tidur di atas tubuhnya. Matanya mengerjap memandangi Rania seraya berusaha mengumpulkan kesadaran. Tangannya mengelus lembut kepala Rania.
"Kenapa tidur di sini?" suara rendah Boris terdengar parau membuat Rania menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu tampan saat tidur, jadi aku ke sini," jawaban Rania mengundang kekehan kecil dari Boris. Dia melihat jam diponselnya, masih pukul 5.30 , terlalu pagi untuk bangun.
Pria itu kembali memejamkan mata, Rania mencolek dada bidang Boris. "Ris, ada yang tidak beres," mata Boris terbuka menatap Rania bingung, "dari tadi aku melihat sinar laser itu di dinding. Aku langsung pindah ke sini."
Boris terkejut melihat sinar laser berwarna merah mengenai ranjang Rania. Dia panik dan langsung mengecek keadaan di luar gedung.
"Fuck!" Boris melihat penembak jarak jauh berada di atas gedung dan menargetkan Rania. Dia lengah hari ini. Jika Rania tidak lebih dulu sadar, mungkin dia akan kehilangan wanita itu. Cerobohnya mereka tidak menutup penuh gorder kamar mereka semalam. "TIARAP!" teriakan Boris langsung diikuti oleh Rania yang tiarap di lantai kamar.
Gorden langsung di tutup rapat oleh Boris, pria itu segera ikut tiarap di samping Rania sambil melindungi kepala wanita itu.
Dor..Pyar..Dor..Pyar.. Dor.. Tiga kali suara tembakan dilepas dan mengenai kaca ranjang Rania. Boris panik, Rania hanya menegang di rengkuhan Boris. Dia menunggu situasi aman lebih dulu, baru berani bergerak dan berpindah posisi.
Beberapa menit kemudian, Boris melonggarkan rengkuhannya di kepala Rania. Wanita itu menatap Boris sudah dengan berlinang air mata.
"Aku kira akan mati hari ini," Boris menghapus air mata Rania perlahan.
"Saya semalam sudah mengatakan, Nona tidak akan mati sebelum saya lebih dulu mati," Dug.. Rania memukul pelan dada Boris setelah mendengar ucapan itu.
"Kita mati barengan!" Sentak Rania menatap tajam Boris. Pria itu menganggukkan kepala cepat.
...------------...
"Nona aman ,Tuan. Dia memakai senapan jarak jauh dari gedung depan."
Setelah kejadian tadi, Boris melaporkan semuanya kepada Frederick.
"Lalu bagaimana denganmu, Ris?"
"Saya aman, Tuan.
"Terima kasih sudah menjaga putriku, Ris. Lebih baik kalian pindah kamar. Untung saja aku memesankan satu kamar untuk kalian. Putriku bisa kau jaga."
Boris terdiam sebentar, menghembuskan napas panjangnya tidak sadar bisa terdengar oleh Frederick.
"Terserah kalian mau ngapain. Acara pernikahan kalian sudah aku atur. Asalkan jangan hamil sebelum pulang ke sini. Yang ada aku akan malu ditertawai yang lain."
Mendengar itu Boris membulatkan matanya, ternyata Ayah dan anak tidak terlalu berbeda. Senyuman tipis terbit di bibirnya.
"Tanggung jawab putriku masih aku, tapi aku jauh dengannya. Kau bisa menggantikanku menjaganya."
"Saya akan menjaga, Nona. Bahkan nyawa pun sanggup saya taruhkan," kekehan diseberang sana justru terdengar meledek.
"Kalian hati-hati di sana, masih ada cara lain untuk musuh melenyapkan keluargaku. Jadi, kau harus siap menghadapinya, Boris. Kesehatanku sudah tidak sebugar dulu," keningnya mengernyit mendengar itu. "Cepat selesaikan urusan kalian di sana, dan kembali. Aku ingin segera menimang cucu."
Dia merasa sangat didukung oleh Frederick. Tapi, tetap saja dia masih belum bisa menyeimbangi kemampuannya dan Rania. Dia masih kalah jauh.
"Sudah ya, kalau mau- pakai pengaman dulu. Jangan terburu-buru. Dan jangan mati dulu. Repot."
"Baik Tuan, saya mengerti. Terima kasih banyak mempercayakan semuanya pada saya."
Tut.. Boris menatap di luar jendela kamar yang sudah pecah berantakan, pandangannya mengarah ke atas gedung depan tepat penembak jitu melangsungkan aksinya.
Rania tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Tidak perlu dipikirkan, Boris. Aku sudah terbiasa. Nyawaku dari dulu sudah sering menjadi target musuh Perusahaan Papah."
Boris terdiam, dan mengelus tangan Rania yang sedang memeluknya saat ini. Tanpa menjawab, hanya hembusan napas panjang terdengar berat.
"Rasanya saya tidak sanggup. Bagaimana bisa Nona menjalani hidup setiap hari dengan banyak ancaman."
"Setiap hari ada kamu, Boris. Jadi, aku tidak takut."
Rania melepas kan pelukannya, mereka saling berhadapan. Senyuman Rania menghipnotis Boris kembali untuk membalas juga dengan kekehan kecil.
"Kita bersiap-siap untuk pindah kamar. Urusan pemotretan, saya sudah minta tolong kepada yang lain untuk menggantikan saya. Jadi kita fokus untuk pindah kamar lebih dulu."
Rania merenggut kesal, "yaaah.. Tidak bisa bertemu dengan Do Woo." Boris mengubah ekspresinya mendengar nama itu disebut.
"Nona bisa datang ke sana. Biar saya yang mengurus pindahan kamarnya." Boris berlagak membereskan pakaian, membuat Rania terkekeh renyah. Kecupan singkat dia berikan di pipi Boris.
"Begitu saja sudah merajuk."
...Bersambung......
Terima kasih semua yang sudah mampir. Jangan lupa like dan komen ya, itu sangat berarti untuk aku. Tunggu bab selanjutnya yaa..
•> Sejujurnya aku menunggu dia update ceritanya yang sudah terbengkalai bertahun-tahun, sebab aku penasaran dengan lanjutannya. xixixi..