NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Sarapan Pagi dan Foto yang Bocor

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden tipis kamar utama, menjatuhkan pendaran cahaya keemasan di atas ranjang King Size. Rani melenguh pelan, kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya perlahan terbuka. Hal pertama yang dia rasakan adalah kehangatan yang asing namun sangat nyaman di sisi kirinya.

Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, mata Rani langsung membelak sempurna.

Bantal guling yang semalam dipasang sebagai "garis perbatasan internasional" entah bagaimana sudah mengenaskan, terlempar ke ujung kaki ranjang. Lebih parahnya lagi, Rani mendapati dirinya tertidur dengan posisi miring ke kiri, sementara tangan kanannya masih tertinggal di dalam genggaman erat tangan Riko. Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga Rani bisa merasakan deru napas teratur Riko yang mengenai keningnya.

Pria itu masih terlelap. Wajah garis kerasnya saat bekerja tampak begitu tenang dan damai ketika tidur, menghilangkan kesan elang pemangsa yang biasa dia tunjukkan.

Monolog batin Rani berteriak panik, campur aduk antara rasa malu yang luar biasa dan debaran jantung yang menggila. 'Bagaimana bisa gulingnya hilang?! Siapa yang melewati batas duluan?!' Dengan sangat hati-hati, seolah sedang menjinakkan bom waktu, Rani menarik jemarinya dari genggaman Riko, lalu segera melompat turun dari kasur sebelum pria itu terbangun dan melihat wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

Tiga puluh menit kemudian, atmosfer canggung itu berpindah ke meja makan marmer di lantai bawah. Pelayan telah menyajikan sarapan sederhana berupa roti panggang, telur mata sapi, dan dua cangkir kopi.

Rani duduk dengan setelan kerja formalnya yang rapi, berpura-pura sibuk mengoles selai stroberi ke rotinya. Riko duduk di hadapannya, sudah rapi dengan kemeja hitam yang elegan. Pria itu menyesap kopinya, lalu melirik Rani dengan senyuman tipis yang sangat menyebalkan di sudut bibirnya.

"Tidurmu nyenyak semalam, Ibu Rani?" tanya Riko santai, nadanya sarat akan maksud tersembunyi. "Kulihat pertahanan militer di perbatasanmu runtuh total sebelum tengah malam."

Rani hampir saja tersedak rotinya. Dia menegakkan punggung, memasang wajah sedingin es andalannya. "Itu... gulingnya pasti tergeser secara tidak sengaja karena kualitas kasurnya yang terlalu empuk. Jangan membahas hal tidak penting, Riko."

"Oh, tentu saja. Kasurnya yang salah," kekeh Riko rendah, tidak berniat memperpanjang godaannya karena tahu wanita di depannya ini punya batas toleransi gengsi yang tipis.

Bzzzz! Bzzzz! Bzzzz!

Ketenangan sarapan pagi itu mendadak hancur berantakan saat ponsel Rani yang terletak di atas meja bergetar hebat. Nama Sekretaris Maya berkedip di layar. Firasat Rani langsung memburuk. Maya tidak akan menelepon sepagi ini jika tidak ada situasi darurat tingkat tinggi.

Rani menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ya, Maya. Ada apa?"

"I-Ibu Rani! Darurat besar, Ibu!" Suara Maya di seberang telepon terdengar sangat panik dan bergetar. "Akun portal berita bisnis dan gosip kelas atas 'Batavia Secret' baru saja merilis artikel utama lima menit yang lalu. Artikel itu... mereka membocorkan foto Ibu dan Tuan Riko!"

Alis Rani bertaut. "Foto apa? Siang kemarin di proyek banyak wartawan, itu hal biasa."

"Bukan foto di proyek, Ibu! Tapi foto subuh kemarin di jalur sekunder Cikarang!" Kalimat Maya seperti petir di pagi hari yang cerah. "Ada foto Ibu sedang memeluk erat Tuan Riko di depan truk kontainer setelah insiden preman itu! Narsinya sangat menyudutkan. Mereka menuduh pernikahan kalian hanyalah 'PR Stunt' atau rekayasa taktis untuk memanipulasi pasar saham dan menyelamatkan vendor bangkrut! Saham kita yang kemarin naik, pagi ini langsung tertahan di pra-pembukaan!"

Wajah Rani seketika berubah pucat. "Kirim tautannya sekarang."

Rani mematikan telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. Detik berikutnya, sebuah pesan masuk. Dia membuka tautan tersebut, dan layar ponselnya menampilkan sebuah foto berkualitas tinggi yang diambil dari jarak jauh menggunakan lensa tele. Di dalam foto itu, di bawah temaram langit subuh, Rani terlihat jelas sedang memeluk leher Riko dengan mata terpejam penuh emosi, sementara Riko mendekap pinggangnya erat.

Narasinya sangat kejam: “Pernikahan Settingan Sang Alpha Woman? Foto mesra di subuh buta yang bocor ini diduga kuat sebagai skenario terencana untuk membersihkan nama Pratama Corp demi meloloskan proyek Central District. Sumber dalam menyebutkan tidak ada kehangatan nyata di antara kedua mantan rival ini di belakang layar.”

"Hendra..." desis Rani, giginya gemeretak menahan amarah. Hanya Hendra yang tahu tentang pergerakan mereka di subuh buta itu, dan bajingan itu sengaja menyewa fotografer profesional untuk menjebak mereka.

Riko, yang menyadari perubahan drastis pada ekspresi Rani, langsung merebut ponsel dari tangan istrinya. Mata elangnya bergerak cepat membaca artikel tersebut. Dalam sekejap, aura di sekeliling Riko berubah menjadi sangat dingin dan pekat. Rahangnya mengencang sempurna.

"Dia tahu dia kalah di lapangan, jadi dia menggunakan media untuk menyerang titik terlemah kita: status pernikahan kontrak ini," ujar Riko, suaranya terdengar berat dan berbahaya.

"Kita harus bagaimana, Riko?" tanya Rani, ada nada kecemasan yang tidak bisa dia sembunyikan lagi dalam suaranya. Ego Alpha Woman-nya terguncang. Jika publik dan dewan komisaris memercayai narasi bahwa pernikahan ini palsu, reputasi Rani Group akan hancur dan proyek mereka bisa dibekukan oleh otoritas bursa. "Media pasti sudah mengepung lobi kantor kita sekarang."

Riko terdiam selama beberapa detik, menatap foto pelukan mereka di layar ponsel. Bukannya panik, sebuah senyuman misterius dan sangat tenang perlahan terukir di wajah tampannya. Dia meletakkan ponsel tersebut kembali ke meja, lalu menatap Rani dengan keyakinan mutlak.

"Mereka bilang pelukan ini skenario terencana dan tidak ada kehangatan nyata di antara kita, kan?" tanya Riko, binar matanya berkilat cerdas.

"Ya. Itu tuduhan mereka."

"Kalau begitu, kita beri mereka apa yang mereka inginkan, Rani. Sebuah 'pertunjukan' nyata yang akan membungkam mulut mereka semua dalam satu detik," ujar Riko tegas. Dia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, dan berhenti tepat di samping kursi Rani. Pria itu mengulurkan tangannya yang besar ke hadapan Rani. "Ganti bajumu dengan gaun terbaik yang kamu miliki untuk acara formal. Hari ini, kita tidak akan masuk lewat pintu belakang kantor. Kita akan berjalan lewat pintu utama, tepat di depan moncong kamera mereka."

Rani mendongak, menatap tangan Riko yang terulur. Monolog batinnya bergejolak hebat. Strategi Riko sangat berisiko—itu adalah sebuah PR Stunt yang ekstrem. Jika mereka gagal menunjukkan chemistry yang meyakinkan, mereka akan hancur. Namun, melihat sorot mata elang Riko yang begitu protektif dan penuh percaya diri, Rani tahu dia tidak punya pilihan lain selain memercayakan seluruh nasibnya pada pria ini.

Rani menyambut uluran tangan Riko, membiarkan jemari mereka kembali bertautan erat seperti semalam. "Baiklah, Suamiku. Mari kita tunjukkan pada dunia bagaimana cara seorang Alpha Woman dan elangnya mencintai."

Riko tersenyum bangga, menarik Rani berdiri. Badai media telah datang, namun alih-alih bersembunyi, dua kekuatan besar ini justru bersiap untuk menerjang badai tersebut bersama-sama, mengubah jebakan Hendra menjadi panggung pembuktian cinta mereka yang—tanpa mereka sadari—mulai terasa semakin nyata.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!