Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
BAB 15: SUAMIKU MULAI CURIGA
"Kalau kebenaran adalah racun, maka rasa curiga adalah gejala pertama yang muncul sebelum kematian kepalsuan itu sendiri. Dan kalimat itu, yang diucapkan dengan nada takut sekaligus bangga, menjadi bukti bahwa permainan itu mulai mendekati akhirnya."
Di dalam ruang tengah vila yang megah dan hangat, suasana terasa begitu kontras dengan udara dingin dan berkabut di luar tembok tinggi itu. Ruangan itu dipenuhi perabotan antik bernilai tinggi, lukisan-lukisan mahal yang dulu milik keluarga Wijaya, dan aroma wangi yang memabukkan—campuran antara parfum mahal, cerutu, dan kemenangan.
Claire Nathania, wanita yang selama dua tahun dikenal dunia sebagai Elena Wijaya, duduk santai di atas sofa kulit besar. Kakinya yang jenjang disilangkan, gelas berisi minuman beralkohol berwarna emas tergenggam lembut di tangannya. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini terurai indah, rias wajahnya tegas dan tajam, tanpa lagi ada sisa-sisa kesopanan atau kepolosan yang dipaksakan. Di sini, di balik dinding pemisah itu, dia adalah ratu. Ratu yang berkuasa penuh, bebas dari segala sandiwara dan kepura-puraan.
Di sebelahnya, Adrian Mahesa duduk bersandar nyaman, satu tangannya melingkar santai di bahu Claire, sementara tangan lainnya memutar-mutar cerutu yang belum dinyalakan. Pria itu tersenyum puas, menatap wanita di sampingnya dengan pandangan penuh kepemilikan. Semuanya berjalan sesuai rencana. Segalanya sempurna.
"Kau hebat, Claire," ucap Adrian pelan, suaranya berat dan penuh kekaguman. Ia meneguk minumannya sedikit, matanya tak lepas dari wajah wanita itu. "Dua tahun. Dua tahun kau memerankan gadis lugu itu dengan sangat baik. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang menyambungkan benang merah. Kau benar-benar Elena Wijaya di mata semua orang."
Claire tertawa kecil, suara renyah yang bebas, suara yang tidak pernah berani ia keluarkan di Jakarta. Ia mencondongkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya ke bahu Adrian, matanya berkilat memandang perapian yang menyala hangat di seberang ruangan.
"Itu mudah, Adrian. Sangat mudah," jawabnya santai, namun ada nada tajam yang terselip. "Manusia itu bodoh. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Arka... suamiku yang tersayang itu... dia sangat ingin punya istri yang lembut, setia, dan penuh kasih sayang. Maka dari itu, aku memberikannya persis apa yang dia inginkan. Dia melihat Elena karena dia ingin melihat Elena. Dia tidak pernah mau melihat ke belakang topeng itu."
Adrian terkekeh pelan, mengusap lengan Claire dengan gerakan lambat dan posesif.
"Tapi kau tulis di pesanmu beberapa hari lalu... suamiku mulai curiga. Apa itu hanya gertakan, atau dia benar-benar mulai mengendus sesuatu?"
Senyum Claire melebar, namun kali ini senyum itu mengandung sesuatu yang lain—sesuatu yang menyeramkan, campuran antara rasa takut yang kecil dan rasa bangga yang besar. Ia mengangkat kepalanya, menatap mata Adrian lekat-lekat. Di matanya itu, terbayang kembali kejadian pagi tadi. Bayangan Arka berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, pertanyaannya tajam, dan kalimat terakhir yang diucapkan suaminya itu sebelum ia pergi... kalimat yang membuat darahnya membeku sekejap, tapi juga membuat rasa hormatnya pada pria itu sedikit meningkat.
"Suamiku mulai curiga..." ulang Claire perlahan, seolah menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia meneguk minumannya hingga tandas, lalu meletakkan gelas itu di meja dengan bunyi klik yang tegas.
"Dia bukan lagi pria polos yang kutemui dua tahun lalu, Adrian. Aku salah menilainya. Aku pikir dia hanya pria biasa, penurut, polos, dan mudah dikendalikan. Aku memilihnya karena dia aman, karena dia tidak punya koneksi ke keluarga Wijaya, karena dia terlihat seperti orang yang akan percaya apa saja yang kukatakan."
Claire bangkit berdiri, berjalan perlahan mendekati perapian, memanaskan tangannya di dekat api yang berkobar. Ia menatap pantulan dirinya di kaca bingkai lukisan besar di dinding. Wajahnya sendiri. Wajah yang cantik, tapi di baliknya tersimpan begitu banyak darah dan dosa.
"Tapi Arka... dia lebih cerdas dari yang kita duga. Dia mulai menyambungkan hal-hal kecil. Dia mulai membandingkan masa lalu dengan masa kini. Dia menangkap perubahan sikapku, perubahan selera makan, perubahan cara bicaraku. Dia menemukan ponsel hitamku, Adrian. Aku yakin itu. Cara dia menatapku pagi tadi... cara dia mengucapkan nama Claire Nathania... itu bukan lagi tatapan suami yang bingung. Itu tatapan suami yang sudah tahu separuh kebenaran."
Adrian berubah ekspresinya. Senyumnya hilang digantikan kerutan di kening. Ia bangkit berdiri juga, mendekati Claire.
"Kau serius? Dia tahu nama itu?"
Claire mengangguk pelan, bibirnya masih tersenyum miring.
"Dia tahu. Dan kau tahu apa yang paling mengerikan, Adrian?" Claire berbalik badan, menatap pasangannya itu dengan mata yang berkilat berbahaya. "Dia tidak marah. Dia tidak berteriak. Dia tidak langsung menuduhku selingkuh. Dia hanya sedih. Dia hanya terlihat hancur. Seolah... seolah dia sudah tahu bahwa aku terjebak. Seolah dia mengerti bahwa aku bukan penjahat, tapi korban dari keadaan."
Claire tertawa getir, menggelengkan kepalanya.
"Bodoh sekali. Dia masih berpikir aku wanita baik-baik yang tertekan. Dia masih berpikir ada sisa Elena di dalam diriku yang butuh diselamatkan. Dia mencintaiku begitu buta sampai-sampai meski bukti ada di depan matanya, dia tetap mencari alasan untuk memaafkan."
Adrian mengerutkan kening, wajahnya kini berubah keras dan dingin. Sisi pengusaha kejam dan pembunuh berencana mulai muncul ke permukaan.
"Kalau dia sudah mulai curiga, kalau dia sudah mulai tahu nama yang salah... dia menjadi bahaya, Claire. Dan kau tahu aturan kita. Bahaya harus disingkirkan sebelum dia merusak segalanya. Kita sudah bertahan lima tahun. Kita sudah membakar keluarga itu, kita sudah menukar identitas, kita sudah menguasai harta. Kita tidak boleh gagal sekarang hanya karena seorang suami yang terlalu penasaran."
Ia melangkah maju, menangkup wajah Claire dengan kedua tangannya, menatap wanita itu tajam.
"Kau sudah punya rencana, kan? Kau tulis di pesanmu: termasuk menyingkirkan dia kalau perlu."
Claire diam sejenak. Untuk sesaat, bayangan wajah Arka yang tulus, wajah yang selalu menatapnya dengan penuh kekaguman dan kasih sayang, melintas di kepalanya. Pria itu tidak pernah menyakiti siapa pun. Pria itu hanya korban yang tidak sengaja masuk ke dalam jaring laba-laba mereka. Pria itu satu-satunya orang yang tidak pernah memandangnya sebagai Claire si anak angkat yang tidak diinginkan, tidak pernah memandangnya sebagai pembantu, tidak pernah memandangnya sebagai sampah. Arka memandangnya sebagai manusia utuh. Arka mencintainya tanpa syarat.
Dan itulah sebabnya kalimat "suamiku mulai curiga" itu menjadi kalimat yang paling rumit sekaligus paling berbahaya yang pernah ia ucapkan.
Claire melepaskan diri dari cengkeraman tangan Adrian, berjalan mundur selangkah. Ia kembali memasang topeng dinginnya, topeng pembunuh yang kejam dan ambisius. Perasaan lembut itu hanyalah kelemahan yang harus dibuang. Di Bandung, Claire tidak punya hati.
"Aku punya rencana," jawabnya dingin. "Arka menganggap dirinya cerdas. Arka menganggap dia bisa menyelamatkanku. Maka aku akan gunakan itu. Aku akan biarkan dia datang ke sini."
Adrian mengangkat alisnya kaget. "Datang ke sini? Ke vila ini? Kau gila? Kalau dia datang, dia melihat semuanya!"
"Justru itu!" potong Claire cepat, matanya berbinar licik. "Biarkan dia datang. Biarkan dia melihat 'kebenaran' yang akan kuberikan padanya. Aku akan berakting lebih hebat dari sebelumnya. Aku akan menjadi korban yang terancam, wanita yang dipaksa, wanita yang terjebak dan butuh pertolongan. Aku akan membuat Arka percaya bahwa Adrianlah penjahatnya, bahwa aku korban yang tidak berdaya."
Claire berjalan mendekati jendela besar yang tertutup tirai tebal. Di balik tirai itu, di kegelapan di luar sana, ia tahu Arka ada di sana. Ia tahu suaminya mengikuti. Ia tahu suaminya mengawasi. Dan anehnya, pengetahuan itu membuatnya merasa... hidup.
"Arka rela melakukan apa saja demi aku. Dia rela mati demi aku. Dan kalau aku memintanya mengorbankan dirinya sendiri agar aku bisa 'bebas' dari cengkeraman Adrian... dia akan melakukannya tanpa bertanya," bisik Claire dingin.
Ia menoleh kembali ke arah Adrian yang masih menatapnya dengan pandangan bercampur antara kekaguman dan kewaspadaan.
"Suamiku mulai curiga, Adrian. Itu benar. Tapi rasa curiganya itu bukan kebencian. Itu cinta yang terlalu besar. Dan cinta... adalah kelemahan terbesar seorang pria. Aku akan pakai cintanya itu untuk menjerumuskannya ke dalam lubang yang paling dalam. Begitu dia masuk ke dalam permainan kita malam ini... dia tidak akan pernah keluar lagi. Dan identitas Elena Wijaya akan mati bersamanya, selamanya. Tinggalah Claire Nathania yang bebas dengan segala harta dan kekuasaan kita."
Adrian tersenyum kembali. Risiko, intrik, dan pembunuhan... itulah dunia mereka. Dan Claire adalah ratu yang paling pandai memainkannya. Ia mengangguk puas, lalu berjalan mendekati meja kecil di sudut ruangan, membuka laci, dan mengeluarkan sebuah benda kecil berkilau. Sebuah botol kaca berisi cairan bening.
"Zat ini. Satu tetes saja cukup untuk membuatnya sakit parah, dan sehari kemudian meninggal seolah terkena serangan heart attack alami. Tidak ada jejak, tidak ada racun yang terdeteksi."
Ia meletakkan botol itu di tangan Claire.
"Atur semuanya, Sayang. Pikat dia, bingungkan dia, buat dia percaya kau masih Elena yang dia cintai. Lalu berikan ini padanya. Begitu dia mati, kita bakar sisa-sisa dokumen yang tersisa. Kita tinggalkan Indonesia, pindah ke Eropa, dan hidup happily ever after sebagai pasangan kaya raya yang sah."
Claire menggenggam botol kecil itu di tangannya. Dingin. Keras. Mematikan.
Di benaknya, kembali bergema kalimat yang ia ketik di ponsel hitam itu, pesan yang tidak terkirim ke Adrian, tapi pesan yang mengungkapkan apa yang tersisa jauh di lubuk hatinya yang paling dalam:
"Aku lebih takut kehilangan dia daripada takut mati."
Tapi sekarang, botol racun ini ada di tangannya. Dan rencana sudah disusun rapi.
Claire menyimpan botol itu ke dalam saku gaunnya. Ia berjalan kembali ke arah Adrian, memeluk pinggang pria itu, dan menatap ke arah jendela yang tertutup itu dengan senyum paling manis dan paling mengerikan.
"Siapkan segalanya, Adrian. Malam ini tamu istimewa kita akan datang. Dan dia akan datang dengan keyakinan buta bahwa dia di sini untuk menyelamatkan istrinya yang malang."
Claire mengeratkan pelukannya pada pasangannya. Di luar sana, di balik kabut dan kegelapan, Arka sedang bersiap masuk, membawa kebenaran yang ia kira akan membebaskan mereka berdua.
"Suamiku mulai curiga..." bisik Claire pelan, hampir seperti nyanyian. "Dan rasa curiga itulah yang akan menjadi peti matinya sendiri."
Di luar tembok, angin berhembus makin kencang, mengguncang dahan-dahan pohon cemara. Di balik semak-semak gelap, Arka berdiri di samping Daniel Sihombing, hatinya penuh tekad dan rasa sakit, siap masuk ke dalam sarang itu.
Ia tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa kalimat yang ia duga sebagai tanda bahaya... justru menjadi jebakan paling sempurna yang pernah dibuat oleh wanita yang dicintainya.
Permainan akhir telah dimulai. Dan di malam yang dingin itu, takdir mereka bertiga akan ditentukan:
Siapa yang akan selamat?
Siapa yang akan terbawa ke dalam kuburan?
Dan apakah masih ada tempat bagi kebenaran di antara ribuan kebohongan yang telah dibangun begitu kokoh?
— BERSAMBUNG.......