Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Usaha Hendra Tak Sia-Sia 1
Penyelidikan kemarin yang dilakukan Hendra tidak sia-sia. Sorenya, dia membawa semua bukti itu ke rumah Rahesa dan memberikannya langsung ditangan Bramasta.
Di tengah ruangan, Hendra berdiri dengan sikap tegap yang formal. Ia menyodorkan sebuah map jilid tebal berwarna biru tua ke atas meja kaca.
Di hadapannya, Bramasta Rahesa duduk dengan punggung tegak, sementara sang istri, Amelia, sudah menggenggam selembar tisu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ini semua bukti yang saya dapatkan, Tuan Bramasta," ujar Hendra dengan nada suara yang berat dan lugas.
"Saya bergerak cepat begitu melihat kejanggalan kemarin. Dan ini adalah salinan resmi dari Akta Perceraian antara Nona Zarlin dan Theo Falcon yang diterbitkan tepat dua minggu yang lalu."
Bramasta tidak langsung menyentuh map itu. Sepasang matanya yang tajam menatap dokumen tersebut, sebelum perlahan membuka lembaran pertama.
Begitu nama putrinya bersanding dengan kata "Cerai" di atas kertas segel resmi itu, amarah pria paruh baya itu seketika menaik.
Namun, kejutan mengerikan belum selesai. Di lembar-lembar berikutnya, Hendra melampirkan tumpukan dokumen medis, rekaman suara, hingga foto-foto intim.
"Tidak hanya perceraian sepihak, Tuan. Ini adalah bukti visum atas kekerasan fisik yang dilakukan Theo Falcon pada Nona Zarlin. Dan di lembar setelahnya..."
Hendra jeda sejenak, melirik Samuel yang makin berkerut.
"Ada bukti perselingkuhan mendalam antara Theo Falcon dengan seorang wanita bernama Bianca, yang ternyata sudah berjalan bahkan sebelum perceraian terjadi. Saya juga melampirkan laporan saksi mengenai perlakuan lisan dan fisik yang sangat kasar dari mantan mertua Nona Zarlin, Nyonya Ratna, selama Nona Zarlin tinggal di sana."
...Plak!...
Bramasta mengempaskan tumpukan dokumen itu kembali ke meja dengan kekuatan yang sangat keras hingga membuat vas bunga di dekatnya bergetar.
"Kurang ajar!" teriak Bramasta dengan suara yang menggelegar, sarat akan amarah dingin seorang ayah yang siap meledak.
"Dia berselingkuh, ibunya bertingkah seperti binatang, dan dia sendiri berani main fisik pada anakku?! Kemarin di telepon dia berani berkata seolah-olah dia adalah suami yang paling tulus di dunia?!"
Mendengar kemarahan dan melihat foto memar serta foto mesra Theo-Bianca di dokumen itu, tangis Amelia langsung pecah.
Bahunya bergetar saat dia membekap mulutnya sendiri.
"Zarlin... anakku... tega sekali keluarga Falcon memperlakukan kamu seperti itu, Nak," isak Amelia histeris, hatinya hancur berkeping-keping.
"Jangankan memukul atau memarahi, aku saja sebagai ayahnya tidak pernah mengasari anakku sendiri dari kecil! Sedikit pun aku tidak pernah menyentuhnya dengan kasar atau membentaknya! Tapi bajingan-bajingan itu berani menginjak-injak harga diri anakku?!" Bramasta kembali menggeram, emosinya benar-benar berada di puncak tertinggi.
Hendra berdeham pelan untuk menenangkan situasi.
"Satu hal lagi, Tuan Bramasta. Berdasarkan bukti yang saya temukan, semua kebusukan ini baik perceraian, perselingkuhan, maupun kekerasan fisik, sama sekali belum diketahui oleh ayah Theo, Tuan Paulus Falcon. Beliau masih mengira hubungan Theo dan Nona Zarlin baik-baik saja." ujar Hendra
"Aku pikir Paulus adalah teman kuliahku yang terbaik. Tapi ternyata anaknya sendiri pun tak terdidiknya dengan bagus!" ujar Bramasta
Selain Hendra, Samuel juga datang ke rumah itu.
Samuel terus menunduk kaku, jantungnya serasa mau copot. Lututnya lemas, dan dia harus sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke lantai karena ketakutan setengah mati menahan kemarahan sang konglomerat
"M-Maafkan saya, Tuan Bramasta, Nyonya Amelia..." suara Samuel bergetar
"Jadi Samuel, kamu tahu semua tentang ini? Kamu pengacara anak saya dipersidangan waktu itu?"
"Iya tuan, itu adalah saya." ujarnya gugup.
Ternyata, Hendra adalah teman dekatnya Samuel, makanya dia mengetahui tentang perceraian Zarlin. Samuel tidak punya pilihan selain memberitahu semua rahasia itu.
Tepat ketika ketegangan di dalam ruangan itu berada di puncaknya, pintu rumah terbuka perlahan. Sosok yang sedari tadi menjadi pusat pembicaraan masuk ke rumah.
Zarlin mengenakan setelan kemeja formal berwarna navy, memancarkan aura wanita karier kelas atas yang sangat berwibawa.
Zarlin sedikit mengernyit saat melihat keberadaan Samuel yang gugup serta panik, dan ibunya yang sedang menangis tersedu-sedu di sofa.
Namun, sebelum Zarlin sempat berbicara, Bramasta sudah mendekatinya dengan wajah tegang.
"Zarlin, kemari," ujar Bramasta tegas.
Tanpa menunggu jawaban, Bramasta langsung meraih tangan putrinya dan dengan cepat tapi hati-hati, dia menarik paksa lengan kemeja sebelah kanan yang dikenakan Zarlin ke atas.
Dikulit lengan Zarlin, masih ada sedikit bekas memar berwarna biru keunguan yang samar, sisa dari cengkeraman kasar Theo.
Melihat memar itu dengan mata kepalanya sendiri, Bramasta kembali meluapkan amarahnya.
"Lihat ini... Lihat apa yang bajingan itu lakukan padamu!" suara Bramasta bergema di rumah itu.
Amelia yang melihat memar di lengan anaknya langsung histeris dan menangis memeluk Zarlin dengan sangat erat. Tangis sang ibu menumpahkan segala rasa sesak.
"Zarlin... kenapa kamu tidak bilang ke Ayah dan Ibu, Nak? Ibu hancur melihatmu terluka seperti ini..."
Zarlin membalas pelukan ibunya dengan hangat. Anehnya, tidak ada satu pun tetesan air mata di wajah cantik wanita itu.
Yang ada hanyalah ketenangan di dalam sorot matanya. Dia mengusap punggung ibunya dengan pelan.
"Ibu, jangan menangis lagi," bisik Zarlin.
"Aku tidak menderita sama sekali, Bu. Ini hanya bekas kecil yang akan segera hilang. Percayalah padaku, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyakitiku lagi. Segalanya, dari awal sampai akhir, sudah berada di bawah kendaliku."
Zarlin melepaskan pelukannya perlahan. Setelah memastikan ibunya sedikit lebih tenang, Zarlin mengalihkan pandangannya ke arah Samuel yang sudah kepanikan sejak tadi.
Tetapi bukannya marah, Zarlin malah tersenyum pada Samuel.
"Tenanglah Samuel, sekarang tidak ada yang perlu disembunyikan." ujar Zarlin membuat Samuel sedikit lega.
Zarlin kemudian menatap ayahnya yang masih berdiri dengan amarah yang masih terpampang diwajahnya.
"Ayah, Ibu... aku sengaja menyembunyikan perceraian dan semua kelakuan mereka dari kalian karena aku ingin menghancurkan Falcon Corp dengan tanganku sendiri. Aku tidak mau mereka hancur dengan mudah jika Ayah langsung turun tangan menggunakan kekuasaan Rahesa Group," ujar Zarlin tegas, memancarkan aura kepemimpinan yang mutlak.
"Paulus Falcon bahkan tidak tahu apa-apa soal kelakuan anak dan istrinya yang busuk itu. Jika Ayah menghancurkan mereka sekarang menggunakan nama Rahesa, Theo hanya akan menganggap ini sebagai kesialan akibat campur tangan mertua. Aku tidak mau itu terjadi," Zarlin berbalik, menatap tajam ke arah Bramasta dengan kilat mata yang mematikan.
"Aku ingin dia menyaksikan sendiri bagaimana seluruh hartanya habis, dan bagaimana wajah Paulus saat tahu kalau kehancuran total Falcon Corp disebabkan oleh kelakuan bodoh anak kesayangannya yang sudah mengusir pemilik asli Aricia International."
Bramasta terdiam sejenak, memandangi putri tunggalnya yang kini tampak begitu kuat, dewasa, dan mematikan.
Perlahan, gumpalan amarah di dadanya mereda, digantikan oleh rasa bangga yang luar biasa.
selamat datang kemiskinan.
kamu terlalu mandiri 🥴