Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Pesan Video Berantai
Setelah keluar dari kantin hanya membawa sebotol air mineral. Tujuan Faza saat ini adalah ruang kelas. Entah kenapa hatinya tertinggal di tempat tersebut.
Ceklek!
Sesuai dengan dugaan Faza. Saat dirinya membuka pintu kelas. Sosok pertama yang dirinya lihat adalah Dira tengah melamun sambil memegang sendok.
Tatapan mata Dira kini tertuju ke arahnya. Hingga tiba-tiba tatapan mata itu tertunduk saat dirinya berjalan mendekat.
Sreeeet…!
Tuk.
“Bawa bekal banyak gak?” tanya Faza duduk tepat di kursi yang dirinya seret, sambil meletakan botol air mineral di meja Dira. Kini, mereka berdua saling berhadapan.
“Bukankah kamu baru saja makan sama Sisil di kantin?” tanya Dira masih sakit hati melihat kedekatan antara Faza dan Sisil.
Sakit hati?
Entahlah, perasaan itu benar-benar membuat Dira kurang nyaman.
“Gak tahu masih lapar. Bawa bekal banyak gak?” tanya Faza mengulangi ucapannya.
“Kalau gak bawa, bekalmu buatku saja,” ucap Faza sambil mengambil bekal Dira.
“Jangan makan itu.” potong cepat Dira sambil menahan bekal miliknya agar tidak dimakan Faza.
“Kenapa? Ada racunnya?”
“Aku bawa bekal satu lagi.”
Bekal yang sebelumnya disembunyikan oleh Dira saat melihat Faza bersama Sisil. Kini dikeluarkan dari kolong laci meja.
“Ini, buat kamu.”
“Makasih.”
Faza langsung mengambil kotak bekal yang diberikan oleh Dira. Entah karena lapar karena belum makan mulai dari pagi, atau efek emosi tertahan pada Sisil. Membuat Faza lahap menyantap makanan bikinan Dira.
“Apakah buatan ini sama yang kamu titip di kantin?”
“Kenapa? Apakah rasanya tidak enak?” tanya Dira sedikit khawatir.
Sebab, bekal makanan untuk Faza spesial buatannya. Sedangkan yang dititip di kantin buatan Mbah Sekar.
“Enak, lebih enak daripada yang di kantin,” jawab Faza jujur sambil terus menikmati makanannya.
Pujian yang diberikan oleh Faza. Tidak serta merta membuat Dira bahagia. Aura sendu masih terlihat jelas di wajah cantiknya.
Hal itulah membuat Faza menghentikan suapan makanan ke mulutnya. Lalu menatap ke arah Dira.
“Kenapa gak makan?” tanya Faza tiba-tiba.
Dira yang sebelumnya menunduk. Kini mengangkat wajahnya untuk melihat ke Faza. Namun, masih enggan menjawab pertanyaan laki-laki di depannya.
“Kamu gak sedang memasukkan sesuatu ke makanan ini, kan?”
“Nggak,” jawab Dira cepat.
“Kalau gak, cepat makan! Nanti keburu dingin.”
“Iya,” jawab Dira lirih.
Tetap menyuap nasi ke mulutnya, tapi matanya nggak lepas dari Faza. Faza yang menyadari hal itu. Langsung menghentikan suapan nasinya.
Lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Dira. Membuat jarak Faza dan Dira semakin terkikis.
“Apakah wajahku tampan? Hingga kamu terus menatapku mulai sejak tadi.”
“Uhuk… uhuk!” Dira tersedak mendengar pertanyaan Faza.
Nasi uduk dengan lauk sambal itu nyangkut di tenggorokannya. Saat dirinya tertangkap basah diam-diam menatap wajah tampan Faza.
Karena saking paniknya. Dira tanpa berpikir panjang menyambar botol air mineral di atas meja.
Lebih tepatnya botol air mineral milik Faza. Tanpa sadar Dira meneguk air mineral itu sampai habis untuk mengurangi rasa panas di tenggorokan.
Glek… glek!
Faza terdiam melihat tingkah laku Dira. Matanya tertuju pada bibir Dira menempel di bekas bibirnya pada botol air mineral. Menimbulkan perasaan aneh yang baru dirasakan.
“Sudah enakan?” tanya Faza suaranya tertahan.
Mata Dira langsung melotot saat menyadari kesalahan yang dirinya buat. Dira baru sadar telah menghabiskan air mineral milik Faza untuk mengurangi rasa pedas di tenggorokan. Saking gugupnya hingga wajahnya memerah menahan malu.
“Eh… maafkan aku, Za. Aku benar-benar gak sengaja. Sebagai ucapan permintaan maaf dariku. Aku akan mengganti…”
Faza tidak menanggapi ucapan Dira. Dia justru menyambar botol minuman milik Dira yang masih tersisa setengah.
Klek.
Faza membuka tutup botol itu. Dia minum dari sisi yang sama dengan bekas Dira minum. Sekali minum langsung habis.
Duk!
“Pas banget aku juga haus,” ucap Faza sambil menatap mata Dira.
Pandangan keduanya saling mengunci satu sama lain. Membuat suasana semakin canggung diantara keduanya.
Diluar pintu kelas melalui jendela, Sisil yang melihat pemandangan kedekatan antara Dira dan Faza merasa hancur. Kukunya yang panjang menancap di telapak tangannya.
Sisil sama sekali tidak merasakan sakit di telapak tangannya. Karena luka di hatinya jauh melebihi sakit itu.
Apalagi saat melihat Faza secara sengaja minum di bagian bekas mulut Dira. Ingat, sengaja minum di bekasnya Dira. Yang artinya Faza dengan sadar telah…
“Sialan,” geram Sisil penuh penekanan saat pikirannya tertuju tentang pemikiran indirect kiss.
“Bisa-bisanya aku kalah saingan dengan perempuan rendahan sekaligus munafik seperti dia,” geram Sisil.
“Lihat saja, apakah kalian masih tetap dekat dan saling tatap setelah istirahat kedua? Aku pastikan perempuan tidak tahu malu itu akan malu-semalunya.”
Kriiing!
Bel masuk yang berbunyi untuk melanjutkan jam pelajaran mengalihkan kecanggungan antara Dira dan Faza.
Apalagi saat melihat Sisil masuk dengan wajah merah padam. Menunjukkan ada amarah yang tersimpan. Entah kejadian apa yang terjadi antara Faza dan Sisil di kantin. Dira sama sekali tidak mengetahuinya. Lebih tepatnya tidak mau tahu.
Amarah Sisil jelas ingin sekali meledak. Apalagi saat bayang-bayang interaksi antara Faza dan Dira memenuhi pikirannya.
“Cepat kembali ke kursimu,” pinta cepat Dira pada Faza saat melihat Sisil terus mengawasi.
Faza yang tahu ketidaknyamanan yang Dira rasakan. Mau tidak mau kembali ke tempat duduknya. Meskipun dirinya sangat nyaman berada di hadapan Dira.
“Hem,” deheman Faza sambil berdiri dari kursi. Lalu melewati bangku Sisil begitu saja tanpa ada rasa sedikitpun bersalah.
“Selamat siang semuanya.”
Suara staf pengajar masuk ke kelas menandakan pelajaran segera dimulai.
“Siang, Bu.”
“Ayo kita mulai pertemuan hari ini dengan materi…”
Suara dari guru mata pelajaran mencairkan sedikit suasana canggung di kelas tersebut. Dira fokus dengan materi yang diberikan. Sedangkan Faza terus mengawasi sekitar termasuk ke Sisil. Entah kenapa instingnya mengatakan untuk terus mengawasi Sisil.
Untuk Sisil sendiri jangan ditanya reaksi yang ditunjukkan saat ini. Dia tampak diam hingga tidak ada satupun orang berani menyenggolnya.
Termasuk guru mata pelajaran yang saat ini ada di kelas. Karena sudah menjadi rahasia umum. Jika hanya Miss Panda lah satu-satunya guru yang tidak bisa ditekan oleh Sisil.
Ckih.
Decitan serta senyum misterius yang tiba-tiba terlihat di wajah Sisil. Membuat Faza langsung ke mode waspada. Hingga suara bunyi notifikasi handphone terdengar berbarengan.
Ting… Ting!
“Suara notifikasi handphone milik siapa tu? Kencang bener.”
“Eh, itu juga punya siapa?”
“Handphone punyaku pun juga bunyi.”
Semua murid yang sebelumnya fokus ke pelajaran. Justru kini beralih ke handphone masing-masing. Termasuk guru mata pelajaran di kelas Dira.
Karena rasa penasaran menggelayuti mereka. Buru-buru mereka melihat notifikasi masuk ke handphone secara bersamaan.
“Eh, busyet. Video apaan ini?” teriak salah seorang murid di kelas Dira.
“Siapa perempuan yang tengah hamil dan diusir dari kampung di dalam video ini?”
“Ada yang kenal, gak?” tanya salah satu diantara teman kelas Dira.
“Gak tahu, kok tiba-tiba pesan berantai ini masuk ke nomor kita?”
“Eh, kok tiba-tiba di video ada Dira.”
“Ini ibunya Dira?”
“Eh, ini beneran gak sih?”
“Kayaknya beneran deh.”
Suara rentetan pertanyaan, serta tatapan satu kelas ke arah Dira. Membuat Dira yang sebelumnya fokus ke pelajaran menjadi pusat perhatian.
Dira langsung membuka handphone miliknya yang ternyata mendapatkan notifikasi masuk sama seperti temannya. Matanya memerah saat melihat isi pesan video tersebut.
Deg!
Jantungnya serasa berhenti saat itu juga. Video lama yang masuk di notifikasi handphone semua orang. Bagaikan disambar petir.
“Ini,” gumam Dira dengan mata berkaca-kaca, melihat isi video yang tersebar di handphone seluruh teman maupun staf pengajar. Tangannya gemetar hingga kakinya terasa lemas.
Air mata Dira menetes membasahi wajah cantiknya. Wajahnya hanya menunduk tanpa berani melihat sekitar.
Isi video sama dengan cerita Mbah Sekar tentang kejadian buruk menimpa Nimas. Rasa sakit yang sebelumnya hilang saat melihat perkembangan Nimas, kini kembali naik ke permukaan hati Dira.
Faza, yang memang tidak tergabung dalam grup kelas. Serta tidak ada satupun orang memiliki nomornya.
Berdiri menghampiri Dira. Menyambar handphone milik Dira untuk melihat isi notifikasi pesan yang tersebar secara merata dalam waktu bersamaan.
“HAPUS VIDEO ITU SEKARANG JUGA!” teriak cepat Faza setelah mengirim video tersebut ke nomornya.
Meskipun video itu menyakitkan bagi Dira. Tapi, tetap saja Faza harus menyelidikinya. Video yang diyakini sudah 18 tahun lalu bisa tersebar. Maka, bisa dipastikan ada jaringan kriminal ada di yayasan pendidikan tempat dirinya berada.
Setelah menghapus video di handphone milik Dira. Faza lalu beralih ke handphone yang lainnya.
“Faza, apa yang kamu lakukan?” tanya teman sekelas tidak terima.
“Aku katakan, HAPUS!”
Mungkin Faza bisa menghapus video itu di lingkungan kelas. Tapi, tidak diluar kelas. Karena video itu menyebar hingga sampai ke Miss Panda yang saat ini tengah berlari menuju kelas Dira. Rasa khawatir menyelimuti diri Miss Panda untuk Dira.
“Ini baru permulaan. Lihat saja apa yang aku lakukan selanjutnya. Aku pastikan kamu akan hidup menderita. Bahkan, malu melihat dirimu sendiri,” gumam Sisil dengan senyum jahat.
Dirinya merasakan sakit hati dan dipermalukan untuk pertama kali. Membuat Sisil tidak ingin menurunkan serangan ke Dira.
Ceritanya keren 👍