Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : A Burning Week (Minggu Yang Membara)
Ini masih area +++ ya?. Harap bijak untuk membaca. Karena, tulisan ini hanya khusus untuk dewasa. Jangan lupa juga, sediakan tissue. Ya kali meneteskan air mata karena terlalu sedih...
__________>>>>>>>>>>>>
Masih di toilet belakang di Mansion Kaelric. Suasana yang sepi itu benar-benar dimanfaatkan mereka untuk bercumbu, merayu saling menumpahkan hasrat yang membakar tubuh mereka.
Hari itu, di minggu yang tenang. Veliora benar-benar menjerat Kaelric ke dalam desahan nafas birahi cintanya.
"Dad, geli ah!. Sakit tau! "
'Ini belum seberapa Veliora, nanti kamu akan merasakan sakit sepanjang malam, sepanjang waktu. "
Kata Kaelric sambil mengerang penuh kenikmatan. Air dari kran masih mengalir deras.
"Bagaimana kalau Mami tahu, kalau kita berdua seperti ini, Dad? "
Tanya Veliora.
"Gak akan, Veliora. Mamimu gak akan pernah marah pada kita berdua. "
"Tapi, bukankah kalian berdua menikah?"
"Sstt! "
Telunjuk Kaelric dia tempelkan ke bibir Veliora yang basah.
"Jangan lagi bicara soal pernikahan kami. "
"Kami memang menikah, tapi itu hanya status saja. "
"Dan, sekarang fokus hidupku hanya kepadamu saja! "
Veliora terdiam. Kemudian dia mendongakkan kepala menatap mata pria di depannya itu.
Veliora takut, ini hanya sandiwara. Hanya sebuah permainan hidup yang kebanyakan terjadi pada orang lain.
"Dad...! "
"Bolehkah aku punya permintaan? "
"Boleh, katakan saja Veliora. Apapun yang kamu minta, pasti akan aku turuti. Asal jangan suruh aku jauh darimu saja! "
"Nanti malam, aku ingin tidur dengan Daddy. Di kamar Daddy. Peluk aku ya, Dad?. Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku butuh Daddy. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain Daddy. Mami terlalu sibuk dengan perusahaan kosmetiknya."
Veliora membenamkan kepala di dada Kaelric. Kaelric menariknya lebih dalam ke pelukannya.
"Tentu,, tentu saja. Aku tidak akan pernah pergi dari sisi kamu, Veliora. Apapun yang terjadi. Kamu adalah tanggung jawabku."
Baru tersadar kalau sekarang masih berada di dalam toilet. Kaelric akhirnya melepaskan pelukan Veliora.
"Pakai bajumu, Veliora. Sekarang sudah hampir Maghrib. Kita mandi bareng aja yuk? "
Veliora pun bergegas mengambil bajunya yang basah dan dipakai kembali untuk masuk ke dalam rumah.
Sesampai di dalam rumah, dia memilih mandi di kamarnya sendiri. Kemudian, mengganti bajunya yang basah dengan baju yang kering.
Setelah selesai menyiapkan diri, dia memesan makanan dengan delivery.
Veliora merebahkan diri di atas tempat tidur, ponsel ada di genggaman tangannya. Jarinya menggulir daftar makanan tanpa benar-benar fokus.
“Aku pesan Carbonara aja…” gumamnya pelan.
Tanpa ragu, ia pun menekan tombol pesan.
Lalu berhenti.
Matanya menatap layar sedikit lebih lama.
“Ini hanya untukku aja?”
Jarinya bergerak lagi.
Satu menu tambahan masuk ke keranjang. Disitu terpampang gambar Steak. Veliora pun mengerucutkan bibirnya.
“Daddy makan Steak gak ya?”
Tidak ada jawaban yang pasti. Tapi anehnya, ia tetap menekan tombol checkout.
" Aku berharap, Daddy mau memakannya."
"Oke.. Semua sudah siap. Tinggal menunggu makanan datang."
Veliora keluar dari kamarnya dengan langkah pelan. Gaun satin tipis yang ia kenakan jatuh lembut mengikuti setiap gerak tubuhnya.
Rambutnya terurai begitu saja, seolah ia bahkan tidak berusaha terlihat menarik,
tapi justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Begitu juga dengan Kaelric keluar dari kamarnya hampir bersamaan. Kemeja putihnya tidak lagi rapi seperti waktu siang hari kancing atas terbuka, lengan tergulung hingga siku. Terlihat santai, tapi tetap sulit untuk tidak merasa terintimidasi. Begitulah ciri khas Kaelric.
Mereka berdua berpapasan dikoridor depan pintu kamar. Mereka saling bertatapan. Jantung mereka berdua berdetak dengan kencang. Padahal, sudah empat kali mereka berdua melakukan sesuatu yang membuat jantung terutama para pembaca tidak karuan. Hehehe.... Tapi, entahlah. Kenapa mereka masih tegang. Gugup dan ah mungkin malu juga. Kaelric akhirnya membuka suara.
"Vel, malam ini kamu ingin makan apa? Kita bikin nasi goreng, mau?. Atau mi goreng?. Atau kita makan di luar?".
Veliora menggeleng perlahan. Sambil merajuk manja. Dia bergelayut pada lengan Kaelric.
" Gak usah, Dad. Kita makan di rumah saja. Aku sudah pesan makanan di luar. Sebentar lagi akan datang."
"Mmm begitu?. Baiklah."
Mereka berdua turun ke bawah menuju ruang keluarga. Kemudian duduk di sofa. Veliora masih saja menempel di lengan Kaelric yang kelihatan otot bisepnya.
Disambarnya remote TV. Mata mereka melihat TV, tapi pikiran melayang entah kemana.
Beberapa menit kemudian, security-nya mengantar makanan pesanan Veliora.
"Makasih Pak Joni. Ini uang buat beli makanan malam ini. Bik Isa kan gak ada."
Pak Joni, sang security menerima uang pemberian Kaelric. Sambil mengucapkan terima kasih. Lalu, pergi keluar menuju pos penjagaan.
Bau sedap makanan dari brand ternama di Jakarta pun menyeruak. Perut Kaelric mendadak menjerit minta diisi. Begitu juga dengan Veliora.
Akhirnya, mereka menuju ruang makan.
Biasanya, mereka kalau sedang makan selalu nampak tenang. Tapi malam itu, mereka berdua terlihat riuh. Mereka berdua saling bercanda. Kaelric benar-benar ingin santai. Apalagi, ditemani oleh Veliora. Suasana menjadi semakin ramai.
"Ini Dad, aku suapin."
Kaelric pun membuka mulutnya menerima suapan dari Veliora. Kemudian, Kaelric pun tak kalah juga. Dia memberi suapan pada Veliora.
"Enak kan Carbonara-nya?"
Tanya Veliora.
"Ya enak, Vel."
"Sekarang, gantian kamu ya?. Rasain juga Steak yang aku makan ini. "
"Hmmm... Enak, Dad. Aku suka deh kayaknya! "
"Besok malam, kita makan pake delivery lagi aja, Veliora. Kamu yang pesan. Nanti, biar aku yang bayar."
Kata Kaelric. Veliora mengangguk setuju.
"Nanti malam bener nih mau tidur dengan Daddy? "
Tanya Kaelric sambil beranjak menuju sofa ruang tengah yang luas. Veliora belum menjawab pertanyaan Kaelric. Dia mengikuti Kaelric dari belakang. Lalu duduk disebelahnya.
Tadinya, Veliora canggung kembali. Tapi, karena Veliora lebih suka bermanja-manja, akhirnya dia bergeser tepat di samping Kaelric.
Disandarkannya kepalanya ke lengan Kaelric.
"Ditanya kok diam, sih?"
"Iya, Dad. Aku mau tidur sama Daddy. Aku ingin tidur dipelukan Daddy."
Veliora menjawab sambil membenamkan kepalanya ke dada pria itu.
"Kamu tidak takut? "
Bisik Kaelric ke telinga Veliora.
"Haah!. Takut apa Dad?".
" Andaikan nanti malam, Daddy minta sesuatu gimana? "
Tanya Kaelric lagi. Veliora melirik dengan malas.
"Si Daddy mah, suka mencari kesempatan! "
Kaelric tersenyum mendengar ucapan Veliora.
"Tapi, kamu suka kan? "
Veliora merajuk dengan godaan Kaelric. Akhirnya, tanpa ba bi bu lagi. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Kaelric. Bibir Kaelric dia hujani dengan ciuman membara. Hehehe..
Kaelric kebingungan. Hingga susah bernafas.
"Dasar, kamu anak bandel! "
Kata Kaelric setelah beberapa saat Veliora melepaskan ciumannya.
"Biarin, itu hukuman buat Daddy! "
Veliora pura-pura marah. Dia bersedekap sambil pura-pura melihat TV.
"Oke oke... Nah, sekarang kita bobok aja yuk?. Nanti aku mau nen."
Kata Kaelric. TV dimatikan lalu Veliora digendong masuk ke dalam kamarnya.
"Dress kamu ini sangat menggodaku, Veliora. Hmm... Aku lepas ya? "
Kaelric pun melepaskan dress yang dikenakan Veliora.
"Daddy curang!. Kalau Daddy melepaskan dress punyaku?. Lalu kenapa Daddy juga gak lepasin bajunya?"
"Nanti, Veliora. Nanti. Atau kamu aja yang lepasin? "
Tanya Kaelric. Veliora menggeleng perlahan. Tanpa sadar dia melirik ke arah celana Kaelric. Mata Kaelric mengikuti arah tatapan Veliora.
"Hmm.. Aku tahu sekarang. Gadis kecil ini mau lolipop ya? ".
" Iissshhh... Lolipop? " Veliora cekikikan.
"Ya, lolipop punyaku. "
Kaelric terus saja menggoda Veliora. Veliora pun menarik selimut hingga batas lehernya.
"Kapan-kapan aja, Dad. Aku mau tidur. "
Veliora pun memejamkan matanya. Kaelric hanya memandang gadis itu sambil menggelengkan kepala.
Akhirnya, dia biarkan Veliora tertidur. Kaelric berjalan ke arah sofa di dekat jendela kamarnya. Dia duduk disitu dengan tablet di tangannya.
Suara dering handphone terdengar.
"Ya, ada apa Ravian?".
" Bos, ada sesuatu yang harus saya sampaikan malam ini juga."
"Apa itu?. Katakan saja, Ravian? ". Suara Kaelric dibuat lirih agar tidak terdengar Veliora.
" Barang kita yang di sektor 3 diambil oleh Gerard. Saya sudah berusaha mencegahnya, Bos. Tapi, anak buahnya terlalu banyak. "
"Malam ini juga rebut kembali barang kita. Besok pagi, aku yang akan datang sendiri ke gudangnya, Ravian. Jangan biarkan bedebah itu dengan lancang menyentuh barang kita. "
"Ada berapa banyak yang mereka bawa Ravian?"
"Sekitar 5 ton yang akan dikirim ke Peru juga Pennsylvania, Bos!".
" Oke, lakukan perintahku! "
"Baik, Bos. "
Ravian pun menutup sambungan telponnya. Kaelric masih duduk di sofa sambil memandang Veliora yang tengah tidur. Dia tengah menunggu kabar dari Ravian. Jika Ravian gagal malam ini, maka dia yang harus berangkat sendiri.
"Kasihan, Veliora. Aku seharusnya menganggap dirinya sebagai anak. Tapi, aku sudah melampaui batas. Tapi, aku juga tak bisa mengingkari hatiku sendiri. Aku sangat menyayanginya."
"Jika saja Kaeden masih ada. Mungkin, aku gak akan seperti ini."
"Belum lagi Seraphina. Aku dengar Eryndor Hale begitu memujanya. Entah, ibu macam apa dia!"
"Untung, dia punya uang sendiri. Jadi, dia tidak mengambil milik Kaeden sama sekali. Biarkan, apa yang menjadi milik Kaeden jatuh pada pewaris tunggalnya."
Kaelric mengusap wajahnya kasar.
Suara denting handphone terdengar lagi setelah dua jam lamanya.
Notifikasi pesan.
Ravian Bad Boy : Bos, target siap diamankan. Tugas selesai. Silakan lanjutkan bersenang-senang.
Kaelric hanya tersenyum membaca pesan Ravian. Lega sudah hatinya. Tinggal besok pagi giliran dia mengintimidasi Gerard. Dia ingin usaha Gerard yang tergolong kecil jatuh ke tangannya.
Dia sudah menghubungi sepupunya yang tinggal di Italia untuk pulang. Nah, usaha milik Gerard itu nanti akan dia serahkan pada sepupunya.
Malam sudah larut, akhirnya dia melepaskan semua baju yang dikenakannya. Hanya tertinggal boxer yang melekat di tubuhnya.
Dan menyusul Veliora yang sudah terlelap di alam mimpi.
Perlahan, dia menarik selimut. Takut, Veliora terbangun. Diraihnya kepala Veliora dengan perlahan. Diciumnya pelan-pelan takut Veliora terbangun.
Setelah itu dibenamkannya kepala Veliora ke dadanya. Dan mendekap gadis itu dengan erat.