NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kejutan

Kanaya berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti. Tangannya terulur membuka pintu lemari besar yang tersedia di kamar hotel itu.

Namun sesaat kemudian matanya langsung membelalak.

"Astaga..." gumamnya pelan.

"Apa-apaan ini, kenapa baju-bajuku jadi begini semua ??" lirihnya, saat melihat baju berada disana bukanlah baju tidur miliknya, namun hanya pakaian berbahan tipis kurang bahan.

"Keisya..!!! Awas kamu ya..." geram Kanaya, meremas baju tipis kurang bahan itu.

Kanaya yakin ini pasti ulah sahabatnya. Padahal dia sudah menyiapkan baju di dalam tasnya sendiri yang berisikan pakaian ganti berupa baju tidur dan pakaian santai miliknya.

Tapi siapa sangka, di dalam lemari itu tak ada satupun pakaian yang layak pakai menurut Kanaya. Semuanya baju kurang bahan dengan berbagai model dan warna.

Kanaya buru-buru meletakkan baju itu dan menutup kembali lemari pakaian dengan cepat saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.

Ia menarik napas pelan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Kanaya duduk di atas ranjang, jemarinya saling bertaut gugup, sementara pandangannya sengaja diarahkan ke jendela besar yang memperlihatkan gemerlap lampu kota di malam hari.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan.

Rafael melangkah keluar dengan rambut yang masih sedikit basah, mengenakan kaus lengan pendek berwarna putih dan celana santai yang membuat penampilannya terlihat jauh lebih sederhana dibandingkan saat resepsi tadi.

Ia sempat menghentikan langkah ketika melihat Kanaya duduk tetapi masih memakai handuk kimononya.

"Belum ganti baju ?" tanyanya dengan nada tenang. "Atau memang sengaja mau menggodaku malam ini ?"

Kanaya tergelak saat mendengar ucapan Rafael, menggeleng cepat.

"Enak aja, siapa juga yang mau menggoda." balasnya ketus.

Rafael menaikan satu alisnya menatap Kanaya, "Terus kenapa masih memakai itu, kenapa tidak ganti baju ?"

Kanaya menggigit bibirnya, bingung mau berkata apa. Melihat hal itu, Rafael berjalan santai menuju lemari pakaian. Namun Kanaya buru-buru menghadang dirinya.

"Eh.. Tunggu, mau ngapain kamu Kak ?" tanyanya gugup.

"Mau ambil baju, awas. Kalau kamu pakai handuk gitu, yang ada kamu bisa masuk angin." katanya santai.

"Jangan !" sanggahnya, "Em.. Maksud aku, aku minjem baju punya kakak aja ada nggak ?" gumamnya pelan.

Kanaya tidak ingin Rafael tahu baju-baju kurang bahan itu, dan nanti akan semakin meledeknya. Bisa jadi, Rafael akan mengira kalau dia benar-benar mencoba menggodanya. Yah.. Walaupun ia memang benar-benar menggoda, kan tidak apa-apa, sudah sah juga kali.

Dahi Rafael mengkerut halus, "Bukannya kamu punya sendiri kan ?"

"Em.. Itu, itu.. Kayanya Keisya salah ambil tas deh. Makanya yang ada disini bukan baju milik aku, tapi.."

Belum sempat Kanaya menyelesaikan perkataannya, Rafael lebih dulu membuka pintu lemari dan seketika kaget melihat isi di dalamnya, lalu menoleh menatap Kanaya dengan tatapan tajam, "Kamu..."

Buru-buru Kanaya maju, menutup pintu lemari. Tangannya terangkat memberikan tanda kalau dia tidak tahu apa-apa, "Aku juga nggak tahu kenapa isi lemari bajuku jadi begitu semua, makanya aku mau minjem baju punya kakak." ucapnya, mengdengus lalu mengerucutkan mulutnya.

Rafael menghela napasnya panjang, tentu ia juga tahu siapa dalang di balik ini semua. Ia lalu membuka sisi lemari baju satunya, mengambil kaos miliknya dan memberikannya pada Kanaya. "Ini, sudah sana pakai sekarang." ucapnya datar seraya menyodorkan kaos miliknya.

Kanaya mengangguk, meraih kaos itu dan dengan cepat berlari masuk ke dalam kamar mandi.

* *

Rafael duduk di atas ranjang dengan tubuh bersandar pada kepala ranjang, setelah lebih dulu menyingkirkan kelopak-kelopak bunga yang memenuhi seprai. Tablet di tangannya menampilkan beberapa email baru yang sedang ia periksa.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya mengangkat kepala.

Kanaya melangkah keluar dengan rambut tergerai yang masih sedikit basah. Kaos putih milik Rafael yang dikenakannya tampak kebesaran, menjuntai hingga menutupi sebagian celana pendek yang dipakainya. Penampilan sederhana itu justru terlihat begitu menawan di mata Rafael.

Tanpa sadar, Rafael menelan ludahnya sendiri. Untuk sesaat, jemarinya yang semula bergerak di atas layar tablet berhenti. Tatapannya mengikuti langkah Kanaya yang berjalan pelan ke arah meja rias sambil mengusap ujung rambutnya dengan handuk kecil.

Menyadari dirinya terlalu lama memandang, Rafael segera mengalihkan perhatian dan berdeham pelan.

"Kenapa masih di situ," ucapnya, berusaha terdengar biasa. Tatapannya kembali menatap layar tablet di tangannya.

Kanaya menoleh sekilas, tampak geming lalu melangkah berjalan mendekat ke tepi sisi ranjang lalu duduk di atas ranjang samping kiri Rafael.

"Kak, kamu serius menikah sama aku ?" pertanyaan random itu entah kenapa tiba-tiba muncul di kepala Kanaya.

Rafael mengangkat kepalanya menoleh menatap kanaya yang sekarang sudah duduk di samping kirinya.

"Maksud mu apa ?" balasnya datar.

"Ya.. Siapa tahu Kakak cuma terpaksa menikah denganku terus membuat kontrak pernikahan, setelah kontrak itu berakhir kakak cerai kan aku. Yah siapa tahu juga, kakak menyetujui pernikahan ini karena desakan Opa sama sepertiku yang tak punya pilihan lain lagi." oceh Kanaya.

Tak !!

Rafael menyentil dahi Kanaya membuatnya mengaduh.

"Aw.. Sakit tau..." gerutu Kanaya mengelus dahinya, "Apaan sih, baru aja nikah tadi pagi udah main kdrt aja."

"Makanya kalau ngomong jangan asal, tidak ada acara nikah kontrak. Jangan kebanyakan nonton sinetron lain kali." kata Rafael, membuat Kanaya mengerucutkan bibirnya.

"Jadi benar, kakak nikah sama aku karena suka sama aku ?" tanyanya, menelisik wajah Rafael.

Rafael menatap Kanaya tajam, "Berharap banget saya suka sama kamu ?" balasnya.

Kanaya hanya mengerjapkan matanya bingung.

Rafael mendengus pelan, lalu mematikan tabletnya. "Sudah, tidak usah tanya aneh-aneh. Sekarang lebih baik tidur." ujarnya. Ia meletakkan tablet di nakas, lalu menarik selimut hingga menutupi sebagian kakinya.

"Tunggu.. Kita tidur bareng ? Yang benar saja kak, aku nggak mau ya." seru Kanaya. "Kalau kamu nanti ngapa-ngapain aku gimana ?"

"Kalau gitu, kamu bisa tidur di sofa." ucap Rafael, dengan memejamkan katanya tanpa melihat wajah kesal Kanaya.

"Tega banget, masa nyuruh cewek buat tidur di sofa. Dasar nggak punya perasaan." gerutu Kanaya kesal.

Rafael menoleh, karena Kanaya yang masih saja menggerutu tak jelas.

"Tidur ! Kita itu suami istri sekarang, kalau saya ngapa-ngapain kamu malam ini. Itu sah-sah saja, tidak usah bawel." tegasnya, lalu kembali mencoba memejamkan matanya.

Sedangkan Kanaya pikirannya kembali membayangkan yang tidak-tidak, membuatnya bergidig ngeri.

"Awas aja ya.. Kalau kamu sampai ngapa-ngapain aku !" kata Kanaya dengan nada mengamcam.

"Hm.."

Kanaya akhirnya pasrah, ia mencoba merebahkan tubuhnya di ranjang, setelah menata bantal sebagai pembatas mereka. Tadinya dia mau tidur di sofa, tetapi ia urungkan karena pasti di sofa sangatlah tidak nyaman. Ia kembali bangkit, melirik Rafael disampingnya yang kini sudah tertidur. Ia menghela napasnya lega, lalu pada akhirnya ia pun ikut terlelap, efek tubuhnya yang sudah lelah seharian di pelaminan.

Malam itu tidak ada malam pertama yang berkesan.

Tidak ada percakapan panjang yang membuat mereka saling mengenal, tidak ada genggaman tangan yang menghangatkan, apalagi janji-janji manis yang biasa mengiringi sepasang pengantin baru.

* *

Di rumah, suasana sudah jauh lebih tenang setelah semua rangkaian acara pernikahan selesai.

Keisya yang baru saja selesai mandi duduk di depan meja rias. Rambutnya yang masih setengah basah ia sisir perlahan sambil menatap bayangannya di cermin.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.

Ia justru sedang membayangkan ekspresi Kanaya saat membuka lemari di kamar hotel.

"Dia pasti kaget, dan bingung," gumamnya pelan sambil terkekeh sendiri. "Pasti sekarang masih kesal dia.."

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Maureen membuka pintu dan masuk membawa segelas susu hangat.

"Belum tidur?" tanyanya sambil meletakkan gelas di meja.

Keisya menggeleng. "Belum, baru aja selesai mandi Bun."

Maureen memperhatikan putrinya yang sedari tadi tersenyum sendiri.

"Kenapa senyum-senyum begitu?"

"Nggak apa-apa, Bun."

Maureen menoleh, lalu melihat sebuah koper kecil di atas ranjang putrinya.

"Loh, itu koper ? Kamu mau kemana sayang ?" tanya Maureen.

Keisya menoleh, lalu terkekeh. "Oh itu. punya Kanaya Bun."

Maureen mengerutkan dahinya tak mengertinya, "Kok disini, kamu lupa nggak bawain kopernya ke hotel tadi ?"

Keisya menggeleng kecil, "Bawain kok, cuma isinya aku ganti aja. Dia pasti sedang kesal sama aku bun sekarang."

Keisya menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.

Maureen menyipitkan matanya, "Maksud kamu apa ? Kamu lagi merencanakan sesuatu ?"

"Cuma berusaha membuat kedua pengantin baru itu panas Bun. Kita juga harus gerak, kalau diam aja. Mereka akan jalan di tempat,"

Maureen ikut tersenyum melihat tingkah putrinya.

"Hm.. Tapi ingat, jangan sampai kamu melakukan hal yang aneh-aneh. Kamu tahu sendiri, sepupu kamu kalau marah."

Keisya terkekeh, "Tenang Bun, aku yakin sahabatku yang satu itu bisa meluluhkan hati es satu itu."

"Iya, Bunda juga harap begitu. Ya sudah kamu sekarang istirahat sudah malam." lirihnya.

Keisya mengangguk, "Bunda juga. Selamat malam,"

"Malam juga sayang.."

Maureen mengusap rambut putrinya, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kembali.

Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Jarinya sempat ingin mengirim pesan kepada Kanaya, namun akhirnya diurungkan.

"Good night bestie.. Semoga suka ya dengan kejutannya."

Isi pesan Keisya pada Kanaya, tak lupa emoticon peace dan tertawa menggoda.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!