Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 222
Langit Benua Terapung.
BUK!
Pukulan kedua Shi Hao mendarat di perut Pangeran Jin.
Jin, Sang Jenius dari Klan Gagak Emas, terbungkuk menahan sakit. Wajahnya yang bengkak (akibat pukulan pertama) kini merah padam karena penghinaan yang tak tertahankan. Dia, seorang Pangeran, dipukuli seperti preman pasar di depan jutaan penonton.
"Sialan... Sialan kau!" Jin meraung, menyemburkan api dari mulutnya untuk memaksa Shi Hao mundur.
Jin melayang mundur, memegangi perutnya. Dia melihat ke bawah, ke arah pasukannya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak Jin histeris, suaranya diperkuat Qi ke seluruh medan perang.
"BUNUH MEREKA! BUNUH TEMAN-TEMAN FENG! KENAPA KALIAN DIAM SAJA?!"
Di bawah sana, suasana hening yang mencekam menyelimuti barisan depan pasukan Klan Titan. Tiga ratus prajurit raksasa itu berdiri mematung, mata mereka tertuju pada serpihan abu hitam yang jatuh dari langit—sisa-sisa jasad Jenderal Atlas.
Jenderal Atlas bukan sekadar komandan bagi mereka. Dia adalah kakak, ayah, dan pelindung bagi ras Titan di sektor ini.
Dan dia baru saja dijadikan perisai daging oleh orang yang dia lindungi.
"Serang! Kalian tuli?!"
Seorang Tetua Jubah Hijau dari Sekte Pedang Suci (sekutu setia Jin) berjalan mendekati barisan Titan. Dia mengayunkan cambuk energi ke punggung seorang Kapten Titan yang diam.
CETAR!
"Raja memerintahkan serangan! Jangan pedulikan Atlas! Dia mati karena dia lambat!" bentak Tetua itu. "Dia cuma alat! Tugas alat adalah rusak demi tuannya!"
Kapten Titan itu bernama Gorg perlahan menoleh.
Di pipinya, ada bekas luka cambuk yang baru. Tapi di matanya, ada api yang jauh lebih panas dari matahari Pangeran Jin.
"Alat...?" suara Gorg berat, seperti batu yang bergesekan.
Gorg menatap abu Jenderal Atlas yang jatuh di bahunya.
"Jenderal Atlas pernah menahan serangan monster sendirian selama tiga hari demi menyelamatkan kami..."
Gorg mencengkeram cambuk energi Tetua Sekte Pedang itu dengan tangan kosong.
"Dan kau bilang... dia cuma alat yang rusak?"
Tetua Sekte Pedang itu mulai panik melihat ekspresi Gorg. "L-Lepaskan! Apa yang kau lakukan? Ini pembangkangan! Pangeran Jin akan memusnahkan klanmu!"
Gorg menarik napas dalam-dalam.
"Persetan dengan Pangeranmu."
KRAK.
Gorg menarik cambuk itu, menyeret Tetua Sekte Pedang mendekat, lalu mengayunkan palu godamnya dengan satu tangan.
SPLAT!
Tubuh Tetua Sekte Pedang itu hancur menjadi bubur darah di bawah hantam palu Gorg.
Keheningan pecah.
Gorg mengangkat palunya yang berlumuran darah ke udara. Dia meraung ke arah tiga ratus saudara Titannya.
"SAUDARA-SAUDARAKU!"
"RAJA GAGAK ITU MENGKHIANATI KITA! DIA MEMBUNUH PEMIMPIN KITA!"
"APAKAH KITA AKAN MATI DEMI PEMBUNUH ITU?!"
"TIDAK!" raung tiga ratus Titan serempak. Suara mereka menggetarkan benua terapung itu hingga ke intinya.
Gorg menunjuk ke arah sisa pasukan Sekte Pedang Suci dan Klan Bersayap yang masih setia pada Jin (sekitar 200 orang).
"UNTUK JENDERAL ATLAS!"
"HANCURKAN MEREKA SEMUA!"
Seperti bendungan yang jebol, barisan Titan berbalik arah. Mereka tidak lagi menyerang Tie Shan atau Shu Ling. Mereka menerjang sekutu di samping mereka sendiri.
Murid-murid Sekte Pedang panik.
"Hei! Kami teman kalian!" "Tunggu! Jangan pukul!"
DUAR! BUK!
Tidak ada ampun. Palu-palu raksasa menghantam barisan Sekte Pedang yang rapuh. Klan Bersayap mencoba terbang, tapi Titan melempar batu-batu raksasa untuk menjatuhkan mereka seperti lalat.
Kekacauan total. Formasi "Aliansi Matahari" yang dibanggakan Jin hancur lebur dari dalam.
Tie Shan (Raksasa Batu dari Tim Asura) berdiri di tengah badai itu, bingung karena tidak ada lagi yang memukulnya.
Gorg, Sang Kapten Titan, berjalan melewati Tie Shan. Dia berhenti sejenak, menatap Tie Shan. Mereka sama-sama ras elemen tanah/batu.
"Hei, Batu Kecil," geram Gorg.
"Kaptenmu..." Gorg menunjuk Shi Hao di langit. "...Dia memukul wajah bajingan itu demi Atlas."
"Mulai sekarang, Klan Titan tidak punya musuh bernama Asura."
Gorg menepuk bahu Tie Shan (hampir membuat Tie Shan ambruk saking kerasnya), lalu berlari menerjang musuh.
Tie Shan menyeringai lebar, meskipun wajah batunya retak-retak.
"Shu Ling! Dengar itu?" teriak Tie Shan. "Kita punya teman baru yang besar!"
Shu Ling (Si Tikus) muncul dari bayangan, membawa tubuh Luo Tian yang pingsan ke tempat aman.
"Bagus!" cicit Shu Ling. "Kalau begitu biarkan para Raksasa bermain. Aku akan menjaga Luo Tian!"
Pangeran Jin melihat ke bawah dengan mata melotot. Pasukannya... Pasukan elitnya... sedang saling bunuh.
Panji Matahari dirobek. Prajurit-prajurit terbaiknya dihancurkan oleh palu Titan.
"Tidak... Tidak mungkin..." Jin gemetar. "Kalian budak! Bagaimana budak bisa melawan?!"
"Karena mereka punya Hati, Jin," suara Shi Hao terdengar dingin di belakangnya.
Jin berbalik kaget.
Shi Hao melayang di sana, aura Naga Asura-nya semakin pekat karena menyerap Niat Perang dari bawah.
"Kau membangun kekuasaanmu di atas rasa takut dan uang," kata Shi Hao. "Saat rasa takut itu hilang, yang tersisa hanya kebencian."
"Lihatlah kerajaanmu runtuh."
Pangeran Jin menatap Shi Hao dengan kebencian murni yang membakar rasionalitasnya. Wajah tampannya terdistorsi menjadi seringai iblis.
"Runtuh?"
"HAHAHA! JANGAN BODOH!"
Jin merobek jubah zirahnya. Tato Matahari di dadanya bersinar menyilaukan.
"Jika pasukan gagal... aku masih punya diriku sendiri!"
"Jika mereka tidak mau melayaniku... MAKA MEREKA SEMUA AKAN MATI BERSAMAMU!"
Tubuh Jin mulai berubah. Kulitnya melepuh dan berubah menjadi bulu-bulu api emas. Hidungnya memanjang menjadi paruh yang tajam. Sayap di punggungnya melebar hingga menutupi matahari asli.
Suhu di benua terapung naik drastis. Hutan di bawah mulai terbakar secara spontan. Sungai-sungai mendidih.
Para Titan dan murid Sekte Pedang di bawah berhenti bertarung, mendongak ketakutan melihat monster yang lahir di langit.
Transformasi Gagak Emas Matahari Berkaki Tiga. Ranah: Dewa Sejati Puncak.
Burung raksasa selebar 500 meter itu memekik, suaranya menghancurkan gendang telinga.
"SHI HAO! AKU AKAN MEMBAKAR TULANGMU MENJADI ABU!"
Shi Hao melayang di depan raksasa api itu. Ukurannya seperti lalat dibandingkan elang.
Namun, Shi Hao hanya memutar lehernya pelan.
"Burung panggang..." gumam Shi Hao.
Dia mengangkat pedang Leviathan Asura.
"Kebetulan aku sedang lapar."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛