NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pagi itu di SMA Pelita Bangsa, suasana tampak seperti hari-hari biasanya. Matahari bersinar cerah, dan keriuhan khas jam istirahat mulai memenuhi setiap sudut sekolah. Di kantin belakang, yang seringkali menjadi "wilayah kekuasaan" tertentu, gelak tawa keras terdengar mendominasi suasana.

Rendi duduk di bangku tengah kantin dengan kaki yang diangkat ke atas meja, tampak sangat santai seolah beban dunia tidak pernah menyentuh pundaknya. Di sampingnya, ada Dito dan miko ikut tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon kasar yang dilontarkan Rendi.

"Woy, Beno! Sini lo!" teriak Miko sambil melambaikan tangan dengan kasar ke arah seorang siswa berkacamata tebal yang sedang berusaha melewati kantin dengan kepala tertunduk.

Beno gemetar. Ia mencoba mempercepat langkahnya, namun Dito dengan sigap berdiri dan menjegal kakinya hingga Beno jatuh tersungkur. Buku-bukunya berhamburan di lantai kantin yang kotor.

"Aduh, maaf ya Ben. Lantainya licin banget emang hari ini," ucap Dito dengan nada mengejek yang dibuat-buat, memicu tawa dari siswa-siswa lain yang tidak berani membela.

Rendi turun dari meja, berjalan mendekati Beno yang sedang memunguti bukunya.

Dengan gerakan santai namun mengintimidasi, Rendi menginjak salah satu buku catatan Beno dengan sepatu mahalnya.

"Mana 'pajak' hari ini? Gue laper nih, pengen siomay tapi dompet gue ketinggalan di mobil," kata Rendi sambil menyeringai. Tangannya merogoh saku seragam Beno tanpa permisi.

"T-tapi Ren, itu uang buat bayar buku..." suara Beno mencicit pelan.

"Banyak bacot lo!" bentak Rendi, menarik paksa beberapa lembar uang dari saku Beno. Ia lalu menoleh ke arah teman-temannya sambil memamerkan uang itu. "Lumayan, bisa buat traktir kalian minum."

"Gila, lo emang paling jago kalau soal narik 'dana hibah', Ren!" seru Miko sambil bertepuk tangan.

Mereka kembali ke meja mereka, memesan makanan dengan berisik seolah mereka adalah pemilik sekolah itu. Di tengah percakapan, Dito sempat berbisik pelan, "Eh Ren, soal yang kemarin... si Vina itu gimana? Gue denger dia nggak masuk sekolah hari ini."

Rendi memutar bola matanya, menunjukkan ekspresi bosan yang luar biasa. Ia menyeruput es tehnya dengan tenang.

"Alah, palingan juga lagi drama di rumah. Cewek kayak gitu kan emang suka cari perhatian," jawab Rendi enteng. "Lagian siapa yang bakal percaya sama dia? Bokap gue bisa urus semuanya kalau dia berani macem-macem. Mending kita bahas ntar malem mau nongkrong di mana. Gue denger ada kafe baru yang asik."

Mereka kembali bersulang dengan gelas plastik masing-masing, tertawa puas di atas penderitaan orang lain.

" Rendi "

Kantin yang tadinya hanya berisi suara tawa geng Rendi mendadak berubah suasananya saat seorang siswa yang memanggil namanya. Itu Rian, ketua kelas sebelah sekaligus anggota tim basket yang dikenal memiliki integritas tinggi. Ia berhenti tepat di depan meja Rendi, menatap tumpukan uang milik Beno yang masih tergeletak di samping gelas es teh.

"Balikin uang Beno, Ren," ucap Rian datar, namun matanya menatap tajam.

Rendi tidak langsung menjawab. Ia sengaja menyeruput minumannya perlahan, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan sambil menunjukkan seringai meremehkan.

"Wah, pahlawan kesiangan datang. Kenapa, Yan? Mau jadi pengacara si pecundang ini?"

"Nggak perlu jadi pengacara buat tahu kalau yang lo lakuin itu nyuri," balas Rian tanpa gentar. Ia menoleh ke arah Beno yang masih gemetar di pojokan. "Ben, ambil uang lo."

Saat Beno hendak maju dengan ragu, Dito menggebrak meja dengan keras hingga gelas-gelas bergetar. "Heh! Siapa yang izinin dia ambil? Uang ini udah jadi hak milik kita karena dia udah numpang lewat di sini!"

Rian mengalihkan pandangannya kembali ke Rendi. "Lo pikir sekolah ini punya bapak lo? Lo baru saja melakukan perundungan dan pemalakan di depan umum. Balikin sekarang sebelum masalah ini jadi lebih besar dari yang lo kira."

Rendi tertawa sinis, ia berdiri hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Rian. "Masalah besar? Lo pikir gue takut sama ancaman receh lo? Yan, denger ya, di sekolah ini ada kasta. Dan lo... lo cuma orang yang terlalu banyak baca buku moral sampai nggak sadar siapa yang lo lawan."

"Gue tahu persis siapa yang gue lawan," sahut Rian, suaranya naik satu oktavi namun tetap terkontrol. "Gue lawan orang yang cuma berani sama yang lemah tapi pengecut kalau harus hadapi konsekuensi. Lo pikir karena uang bokap lo, lo bisa injak-injak harga diri orang selamanya?"

"Jaga mulut lo!" Rendi mencengkeram kerah baju Rian, membuat suasana kantin mendadak senyap. Murid-murid lain mulai berbisik, beberapa mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam.1

"Kenapa? Marah?" Rian tidak melawan balik dengan fisik, ia justru membiarkan kerahnya dicengkeram. "Pukul gue kalau itu bisa bikin lo ngerasa lebih hebat. Tapi setelah itu, gue pastikan surat skorsing bukan satu-satunya hal yang bakal mendarat di meja bapak lo."

Rendi yang sadar banyak kamera menyorot ke arah nya membuatnya bergegas pergi dari sana dengan kemarahan yang masih memuncak

......................

Langkah Rendi yang terburu-buru dan penuh emosi setelah percekcokannya dengan Rian membuatnya tidak memperhatikan jalan. Di tikungan koridor menuju kantor kepala sekolah, ia menabrak seorang siswi dengan cukup keras hingga tumpukan kertas yang dibawa gadis itu jatuh berserakan.

"Woy! Punya mata nggak sih?!" bentak Rendi spontan, suaranya menggelegar di koridor yang mulai sepi.

Gadis itu, Dara, tersentak kaget dan langsung berjongkok untuk memunguti kertas-kertasnya. "Maaf, maaf... Gue tadi juga kurang lihat jalan," ucapnya dengan nada lembut yang tulus.

Rendi awalnya sudah siap untuk meluapkan sisa amarahnya dari kantin tadi. Namun, saat Dara mendongak untuk menatapnya, kata-kata kasar yang sudah berada di ujung lidah Rendi mendadak lenyap. Ia terdiam mematung.

Dara adalah siswi kelas sebelah yang terkenal akan kecantikan dan kepintaran nya membuat rendi terpaku. Wajahnya tampak tenang meski baru saja dibentak, dengan binar mata yang jernih dan tatanan rambut yang rapi. Sinar matahari dari jendela koridor jatuh di wajahnya, memberikan kesan yang berbeda bagi Rendi.

Kemarahan yang tadinya meluap-luap di dada Rendi seolah mendingin seketika, digantikan oleh tatapan yang sulit diartikan. Ia memandang Dara cukup lama, sebuah tatapan yang merupakan campuran antara rasa terkejut, ketertarikan yang tiba-tiba, dan keangkuhan yang masih tersisa.

Dara yang merasa risih dipandang seperti itu, segera berdiri setelah semua kertasnya terkumpul. "Sekali lagi maaf, ya," ucap Dara pelan sembari mencoba berjalan melewati Rendi.

Rendi tidak bergeser. Ia masih berdiri di sana, matanya terus mengikuti pergerakan Dara. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya merasa ingin menunjukkan kekuasaannya dengan cara yang berbeda, bukan dengan gertakan seperti yang ia lakukan pada Beno.

"Tunggu," panggil Rendi dengan suara yang jauh lebih rendah, kehilangan nada kasarnya.

Dara berhenti dan menoleh sedikit. "Ya?"

Baru saja Rendi ingin membuka mulut untuk menanyakan nama gadis itu, suara berat dari arah belakang memecah suasana.

" Ngapain kalian masih disana ! Masuk kelas sekarang "

1
Zainatul Fibriyana
bagus bgt cerita
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Zainatul Fibriyana
bagus bgt ceritanya
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!