Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meriana bertemu Bianca
"Bu?" Elgard menatap ke arah Ibunya.
"Kenapa, apa yang kau pikirkan?" Tanya Ami, dia khawatir melihat wajah kusut putranya itu.
"Kalau seandainya aku mengakhiri hubunganku dengan Meriana, apa yang akan terjadi?"
"Kenapa? Apa kalian ada masalah?" Ami menatap putranya, mencoba membaca masalah Elgard dari raut wajahnya.
"Tidak ada, tapi aku merasa ragu untuk melangkah lebih jauh!"
"Apa yang membuatmu merasakan itu? Apa ada wanita lain yang kau sukai?" Ami semakin mendesak Elgard.
"Wanita lain?" Tanya Elgard dalam hati. Tiba-tiba dia teringat tentang Bianca. Akhir-akhir ini pikirannya memang terus dipenuhi dengan Bianca tapi tidak, Bianca bukan penyebab utamanya.
Hubungannya dengan Meriana memang baik-baik saja, tapi sebenarnya keraguannya itu sudah muncul sejak lama. Semenjak Meriana terus-menerus menolak mempublikasikan hubungan mereka berdua meski nama Meriana sudah cukup dikenal orang-orang.
Dulu memang Elgard tidak masalah dengan permintaan Meriana itu. Tapi beberapa tahun belakangan ini, di saat semua orang sudah mengenal Meriana, kekasihnya itu tetap saja menolak dengan berbagai alasan.
Elgard juga merasa kurang nyaman dengan Meriana yang selalu saja digosipkan menjalin hubungan dengan pria lain dari industri yang sama. Tidak adanya bantahan ataupun klarifikasi dari Meriana akan berita-berita itu membuat Elgard memendam kekesalannya sendiri.
Sekarang, setelah Meriana sudah terbuka tentang hubungan mereka, pertunangan mereka juga akan segera diadakan, Elgard justru semakin ragu.
"Tidak ada wanita lain, ini murni karena perasaanku sendiri yang merasa ragu!"
"Jangan pernah melangkah satu langkah pun kalau kau merasa ragu. Jangan sampai keraguanmu itu justru membuatmu terperosok ke dalam lubang yang akan melukai dirimu sendiri. Bertunangan kemudian menikah itu bukan waktu yang sebentar, kalian akan menjalani waktu yang lama. Seumur hidup itu waktu yang tidak sebentar. Jadi kau harus benar-benar yakin. Tenangkan dirimu dulu, baru ambil keputusan!" Ami menasehati putranya dengan bijak.
"Tapi Bu, walau pada akhirnya aku tidak mau melanjutkan bubunganku dengan Meriana, Ayah tidak akan setuju. Ayan aka tetap memaksaku bertunangan dengan wanita yang menurut Ayah menguntungkan untuknya. Suatu saat nanti, kalau wanita itu membuat kesalahan atau keluarganya terkena skandal, Ayah pasti akan membuangnya lagi seperti Bianca dulu!"
Ami hanya mampu menghela napasnya dengan kasar. Dia lupa akan sifat suaminya yang egois dan keras kepala.
Memang benar, apapun keinginan Elgard dan yang lainnya, semua keputusan tetap ada pada Ayahnya.
Dulu saat Kakaknya juga begitu, Stephanie menikah karena perjodohan yang dilakukan oleh Ayahnya. Untung saja Stephanie mendapatkan pria yang benar-benar baik dan menerima Stephanie dengan sepenuh hati.
"Benar El, tapi coba kau bicarakan lagi dengan Ayahmu. Ibu berharap kalau kau tidak menjalani sebuah hubungan dengan terpaksa!"
🌻🌻🌻
Sudah berhari-hari Elgard tidak bertemu dengan Bianca, bukannya sengaja tapi menang Elgard sedang sibuk di rumah sakit. Selain itu, Kevin juga menghindarinya karena Kevin jarang sekali membalas pesan darinya.
Padahal sesekali Elgard ingin mengajak Kevin minum untuk sekedar melepas penat di tengah kesibukannya. Tapi Kevin selalu saja menolak, dia selalu mengatakan jika paginya ada meeting penting atau dengan alasan lelah dan baru pulang dari kantor.
Elgard tau kalau semua itu hanyalah alasan Kevin untuk menghindarinya karena Kevin tidak ingin Elgard bertemu dengan Bianca.
Sebanarnya, malam nanti Elgard akan pergi ke apartemen Bianca untuk meminta dimasakkan seperti biasa. Elgard begitu merindukan masakan wanita itu.
Tapi sayangnya, malam ini Meriana mengajaknya datang ke acara teman-teman kuliah mereka dulu. Padahal sejak dulu Elgard paling malas datang ke acara-acara seperti itu.
Namun karena Meriana terus merengek dan juga menagih janjinya yang katanya ingin menemani Meriana jalan-jalan kemana pun, Elgard tak bisa menolak.
"Hay Mer, apa kabar?!" Sambut teman Meriana di ruangan privat yang sengaja di sewa untuk acara itu.
"Jelas aku baik-baik saja. Kau pasti sudah melihat kabarku di media sosial kan?"
"Benar, aku tak menyangka saja kalau hubunganmu dengan Tuan Muda Rodriguez masih terjalin hingga saat ini. Pasalnya, dulu dia sempat menjadi tunangan dari anak koruptor itu!"
"Dia sempat menjadi tunangan wanita itu karena perjodohan. Sementara cintanya tentu saja hanya untukku. Perempuan itu saja yang tidak tau malu dan terus berharap kalau Elgard akan mencintainya. Padahal dia tau kalau kami sudah menjalin hubungan, tapi wanita itu tetap saja mau menerima perjodohan itu!!"
"Mer!" Tegur Elgard karena yang Mariana ceritakan cenderung menjelekkan Bianca.
"Memang dasarnya wanita itu saja yang gatal!" Teman bicara Meriana itu justru menghina Bianca dengan sesuatu yang tidak diketahui kebenarkannya.
"Sudahlah, kalau kau masih seperti tadi, aku akan pulang!" Kata Elgard mengancam Meriana.
Mereka sekarang duduk dengan meja makan bundar yang begitu besar di depan mereka.
"Oh ya, kapan kalian akan akan mengadakan pesta pertunangan?" Tanya salah satu teman Meriana.
"Belum pasti, tapi dekat-dekat ini. Ya kan sayang?" Meriana menyandarkan bahunya pada Elgard.
"Hmm!" Lama Elgard terdiam sampai akhirnya dia hanya bergumam saja untuk menjawabnya.
"Lihatlah, siapa yang aku bawa!" Seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu dengan berteriak menujukkan dua orang yang mengikutinya dari belakang.
"Kevin?!!" Seru Meriana melihat kedatangan Kevin.
Yang lainnya terlihat senang menyambut kedatangan Kevin. Sedangkan Elgard justru menatap ke arah wanita yang hanya menunduk di belakang Kevin. Elgard merasa kalah tempat itu tidak nyaman untuk Bianca saat ini.
"Apa-apaan ini Zayn? Katanya kau hanya sendirian? Tapi kenapa ada mereka semua di sini?" Kevin terlihat begitu geram karena merasa dibohongi oleh Zayn.
Tadi Kevin sempat bertemu dengan Zayn di depan. Pria itu mengajak Kevin untuk minum sebentar, makanya Kevin dan Bianca mengikuti Zayn. Tapi ternyata Zayn berbohong kepadanya. Di dalam ruangan itu ternyata terdapat banyak orang dari Universitasnya dulu.
Dia juga melihat ketidaknyamanan melihat Bianca saat ini, sekretarisnya itu pasti ketakutan dan malu.
"Hey, lihat. Siapa yang datang bersama Kevin!" Seru seorang wanita. Dia bahkan sudah berjalan mendekati Bianca, semua mata pun tertuju pada Bianca saat ini.
"Apa kalian masih ingat, Nona muda centil di Universitas kita dulu? Tapi lihatlah sekarang, hidupnya begitu mengenaskan setelah Ayahnya ditangkap polisi!"
"Jaga ucapanmu!" Selingkuh Kevin pada wanita di depannya.
"Jadi kenapa kau bisa datang bersamanya?" Tanya Meriana pada Kevin. Meriana juga melihat pada Elgard yang tampak duduk tenang tanpa terkejut sedikitpun dengan kedatangan Bianca di sana. Sikap Elgard itu justru membuat Bianca curiga.
"Dia sekretarisku!"
"Apa? Kau menjadikannya sebagai sekretarismu?" Semua orang di sana terkejut namun tidak dengan Elgard yang sudah tau sebelumnya.
"Iya, ada masalah denganmu?"
"Tidak, aku hanya terkejut saja kenapa mau bisa mempekerjakan anak koruptor seperti dia. Kau tidak takut dia menggelapkan dana di perusahaanmu seperti apa yang Ayahnya lalukan?"
"Ayahku bukan koruptor!" Bianca kembali mengucapkan kalimat itu lagi dihadapan orang-orang yang dulu mencemoohnya.
Byuurrr..
Bianca tersentak karena tiba-tiba ada yang menyiram wajahnya dengan air.
"Aku bantu menyiram wajahmu dengan air supaya kau sadar kalau Ayahmu memang koruptor!" Kata wanita yang tadi menyambut kedatangan Meriana.
"Benar, dia sepertinya masih bermimpi menjadi Nona Muda!" Sahut yang lain. Meriana ikut tersenyum miring melihat Bianca diperlakukan seperti itu oleh teman-temannya.
"Kau harusnya sadar, mau tidak pantas untuk berada di dekat Kevin apa lagi menjadi sekretarisnya. Kau bahkan tidak lulus kuliah seingatku!" Kata wanita itu lagi.
"Kau benar, atau mungkin dia sengaja jual diri untuk mendapatkan uang!"
"Jaga bicaramu!" Kevin menatap wanita tadi dengan tajam.
"Kenapa Vin? Bukankah itu kenyataan, dia memang anak koruptor dan dia tidak pantas berada di sini. Bahkan seharusnya dia dan keluarganya harusnya mati dan membusuk di penjara!"
Brak...
Perhatian semua orang kini bersih apda Elgard yang tiba-tiba saja berdiri dari duduknya dan mendorong kursinya hingga kursinya tercampakan ke belakang hingga menyentuh lantau dengan keras.
"Sayang, kau kenapa?" Merisna merasakan heran.
Sedangkan Elgard tak menjawab, dia malah berjalan mendekati Kevin dan Bianca. Tanpa di duga, Elgard mendekati Kevin dan Bianca, dia menggenggam pergelangan tangan Bianca kemudian menariknya pergi dari ruangan itu.
"Sayang!! Kau mau kemana?!!" Meriana berteriak memanggil Elgard yang sudah pergi dari ruangan itu.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur