Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ditenangkan ibunya..
Indira berdiri kaku setelah mengiyakan perintah Arjuna.
Rasa nyeri di dadanya kembali mendominasi. Ini harus segera diselesaikan.
Ia menoleh ke arah meja dekat pintu. "Tuan Arjuna, sebentar. Biar saya panggil perawat dulu untuk mengambil pompa ASI," katanya, mencoba menjaga nada suaranya tetap formal seperti yang diinginkan Arjuna.
Indira mulai melangkah menuju interkom.
"Tidak perlu," potong Arjuna, suaranya tegas.
Indira terhenti dan menoleh. Arjuna menatapnya, ada sedikit kegelisahan di balik tatapan dingin itu, tetapi rasa haus dan kebutuhan lebih kuat dari segalanya.
"Kondisiku kritis setelah kecelakaan. Setiap keterlambatan dalam asupan ini memperlambat proses penyembuhan. Pompa membutuhkan waktu. Pemanasan, sterilisasi, dan proses memompa itu sendiri. Itu terlalu lama," jelas Arjuna, nadanya kini terdengar mendesak.
"Aku butuh... langsung dari 'wadahnya'. Sekarang." sambung Arjuna lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Indira merasa wajahnya kembali memanas. Permintaan itu terdengar begitu vulgar, begitu intim, apalagi diucapkan oleh pria sedingin Arjuna setelah mereka baru saja menandatangani kontrak profesional.
"T-tapi, Tuan Arjuna, bukankah itu... tidak higienis?" tanya Indira, mencoba mencari alasan untuk mempertahankan sedikit batas kesopanan yang tersisa di antara mereka.
Arjuna tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak ramah, melainkan sinis. "Kamu pikir mengapa Ayahku dan Dokter berani membawamu ke sini dan mengujimu? Tubuhmu sudah dicek dan dinyatakan steril. Lagipula," Arjuna mencondongkan tubuh sedikit, membuat Indira terpaksa menatap matanya yang tajam. "Aku sedang terbaring lemah. Kekuatan hisapku tidak akan sekuat bayi. Ini adalah cara tercepat dan paling efisien untuk memasukkan nutrisi ini ke dalam tubuhku yang sedang sekarat."
Arjuna menjeda, lalu menambahkan dengan nada final. "Ingat kontrak kita, Indira. Aku membayar untuk 'asupan' ini. Aku berhak menentukan cara yang paling efektif untukku."
Indira terdiam, kalah telak. Ia tidak bisa membantah logika dingin dan egois Arjuna. Kontrak sudah ditandatangani. Ia kini adalah pemasok, dan Arjuna adalah klien yang memiliki hak untuk menentukan bagaimana 'barang' itu dikirim.
"Baik, Tuan Arjuna," ucap Indira, pasrah.
Dengan hati-hati, ia mendekati ranjang, menarik selimut yang membatasi mereka. Ia membuang napas, lalu memejamkan mata sejenak, mengumpulkan semua keberaniannya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sedang merawat pasien, bukan melakukan sesuatu yang memalukan.
Arjuna menyaksikan semua kegugupan Indira dengan ekspresi datar. Ia merasa tidak nyaman, tetapi kebutuhan fisiknya kini telah mengambil alih kendali. Ia berjuang untuk duduk lebih tegak.
"Kamu tidak perlu menutup matamu," perintah Arjuna, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, mungkin karena ia melihat betapa menderitanya gadis di hadapannya. "Lakukan saja. Anggap aku... tidak ada."
Indira membuka matanya. Ia melihat Arjuna membaringkan tubuhnya sendiri,,lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela, seolah-olah memang ingin memberi Indira privasi—meski tindakan intim ini harus dilakukan di depan mata kepalanya sendiri. Ini adalah bentuk canggung yang disamarkan dengan keprofesionalan.
Indira menguatkan hati. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia melepaskan pakaiannya sendiri yang kini terasa sangat menyiksa karena isinya.
Indira memakai blus yang lumayan ketat,jadi tidak nyaman kalau hanya menyingkap saja tanpa melepaskan.
Rasa lega yang familiar segera datang begitu saja.
Indira merangkak perlahan, memosisikan dirinya di samping tubuh Arjuna yang masih kaku. Ia berusaha untuk tidak menyentuh kulit Arjuna yang masih terasa hangat karena demam.
Perlahan, ia memiringkan tubuhnya menghadap Arjuna yang juga telah menghadap padanya.
Benar benar posisi yang sangat memalukan sebenarnya.
Mau bagaimana lagi? ini semua sudah menjadi tugas barunya mulai sekarang hingga beberapa tahun kedepan,kalau asinya masih memproduksi.
Indira mengarahkan sumber nutrisi itu ke bibir Arjuna yang menoleh padanya.
Begitu sentuhan itu terjadi, rasa dingin yang ada di antara mereka seolah mencair.
Arjuna, yang tadinya memalingkan wajah, kini memejamkan mata rapat-rapat. Refleksnya bekerja lebih kuat daripada hari-hari sebelumnya. Ia menghisap dengan kuat, tanpa sadar mencengkeram erat seprai putih di bawahnya untuk menahan rasa malu yang bergejolak di dalam dirinya.
Di sisi lain, Indira kini hanya merasakan satu hal: kelegaan yang luar biasa. Rasa nyeri yang selama ini menyiksanya menghilang seperti sihir. Ia melihat bagaimana wajah Arjuna yang tadinya pucat mulai tampak lebih hidup.
Meskipun ini adalah transaksi bisnis yang dingin, entah mengapa, melihat Arjuna membaik karena dirinya, membawa kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan sepuluh miliar rupiah pun.
Sepuluh menit berlalu.
Arjuna perlahan melepasnya. Napasnya terengah, wajahnya kini terlihat jauh lebih sehat dan ada rona merah samar di pipinya—entah karena nutrisi atau karena malu yang luar biasa.
"Ganti,," titahnya datar.
Indira mengarahkan dadanya satu lagi yang masih penuh ke bibir Arjuna.
Arjuna langsung melahap nya dan menelan cairan itu cepat cepat,karena asi milik Indira cukup banyak.
Setelah mengosongkan wadah kedua,Arjuna melepaskan nya.
tampak puting Indira kemerahan akibat sedotan Arjuna yang lumayan kencang.
Ia membuang pandangan ke jendela lagi, tidak berani menatap mata Indira.
Indira dengan cepat merapikan pakaiannya, menjaga semua gerakannya tetap efisien dan cepat. Ia kembali duduk di kursi, mencoba mengatur napas.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Ada ikatan canggung, rahasia bersama, yang baru saja tercipta di antara pewaris konglomerat yang dingin dan putri pembantu yang polos.
Arjuna berdeham, mencoba mengembalikan udara profesional yang tadi ia bangun.
"Terima kasih," katanya singkat, tanpa menoleh. "Kamu boleh istirahat sampai sesi berikutnya."
Indira mengangguk kaku, meski ia tahu ucapan 'terima kasih' itu terasa sangat hambar setelah apa yang baru saja terjadi. Ia kini benar-benar terikat pada pria berdarah dingin ini, bukan hanya oleh kontrak, tetapi juga oleh kebutuhan tubuhnya.
Darsih kembali dan mendapati Arjuna sedang tidur nyenyak, ia merasa sangat bersyukur dan bertekad melindungi rahasia putrinya. Dia mulai berinteraksi dengan Arjuna seolah tidak ada yang berubah.
***
Sesi 'pengobatan' sore itu berakhir, meninggalkan Indira dengan rasa lega fisik yang cepat berganti menjadi beban emosional yang berat. Ia duduk di kursi, menggenggam erat tangannya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu kencang.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan Darsih masuk membawa tas kecil dan sebuah bungkusan berisi makanan. Wajah Darsih tampak cerah, penuh kelegaan karena melihat Arjuna terlelap dengan tenang, napasnya teratur, dan rona wajahnya lebih baik.
"Alhamdulillah... Den Arjuna tidur nyenyak, Nduk," bisik Darsih penuh syukur, lalu meletakkan barang-barangnya. Ia mendekati putrinya, melihat wajah Indira yang kini ditekuk dan sedikit basah oleh air mata yang berusaha ditahan.
"Kenapa, Sayang? Dada kamu sakit lagi?" tanya Darsih khawatir.
Indira menggeleng. Ia bangkit, memeluk ibunya erat-erat, dan menenggelamkan wajahnya di bahu Darsih. Air matanya pun tumpah.
"Aku nggak kuat, Bu. Aku malu..." isak Indira pelan, takut suaranya terlalu keras dan membangunkan Arjuna. "Tuan Arjuna... dia minta langsung. Dia nggak mau pakai pompa. Katanya kelamaan dan kurang efektif. Dia memperlakukanku seperti... seperti wanita murahan."
Darsih memeluk putrinya dengan erat. Ia mengerti rasa malu dan guncangan yang dialami Indira. Ia sendiri merasa cemas, tapi ia harus kuat demi masa depan mereka.
"Sstt... Nak. Jangan bicara begitu. Ibu tahu, Ibu tahu ini sulit. Sangat sulit dan memalukan. Tapi dengarkan Ibu baik-baik," kata Darsih, menarik putrinya agar menatapnya, kedua tangannya memegang bahu Indira.
"Lihat Den Arjuna. Dia sudah sekarat, Nduk. Dan kamu... kamu adalah satu-satunya yang bisa menolongnya. Rasa malu ini akan segera berlalu, tapi nyawa Den Arjuna, dan janji Tuan Wijaya, itu jauh lebih berharga."
"Janji itu... sudah diresmikan jadi kontrak bisnis, Bu. Lima puluh juta per bulan dan sepuluh miliar untuk kuliah. Dia tidak menganggapku penyelamat, dia menganggapku karyawan yang dia bayar mahal," rintih Indira.
Darsih mengusap air mata Indira, matanya menunjukkan keteguhan seorang ibu. "Lalu kenapa? Kita ini siapa, Nak? Kita ini pelayan. Kita tidak punya apa-apa selain kesehatan dan tenaga. Kalau Den Arjuna ingin membeli 'jasa' kamu dengan harga setinggi itu, terima! Ambil! Ini adalah hadiah dari Tuhan yang diberikan lewat kondisimu yang aneh itu."
"Lagipula, ini hanya sementara, Sayang. Kata Dokter, minimal lima tahun memang dia butuh asupan. Tapi siapa tahu, tubuhnya kuat, dan dia bisa pulih lebih cepat. Ini hanya akan terjadi selama dia sakit dan kamu kesakitan, Nak."
"Anggap saja ini adalah 'pekerjaan' sementara kamu, pekerjaan yang menyelamatkan nyawa orang kaya raya. Setelah ini selesai, kamu akan menjadi Nona terpelajar yang kaya raya, tidak akan ada yang bisa merendahkanmu lagi, Nak. Kita tidak akan tinggal di paviliun belakang lagi. Kita bisa beli rumah sendiri." penjelasan ibunya membuat Indira sedikit lega.
Indira perlahan mengangguk, isakannya mereda. Kata-kata ibunya, meski terdengar pragmatis dan sedikit memaksa, berhasil menanamkan kembali harapan dan tujuan. Ia harus bertahan demi masa depan mereka.
"Tapi, Bu," kata Indira, kini suaranya lebih tenang. "Aku tidak mau berinteraksi dengannya di luar 'pekerjaan' itu. Aku akan melakukan tugasku, tapi setelah itu... biarkan aku sendiri. Aku tidak mau bicara dengannya."
"Tentu, Sayang," balas Darsih lembut. "Lakukan saja apa yang membuatmu nyaman. Ibu akan selalu ada di sini, menemani kamu, menemani 'pekerjaan' kamu. Ibu akan memastikan tidak ada yang menyakiti kamu."
Indira memeluk ibunya lagi, kini bukan karena keputusasaan, melainkan karena dukungan yang ia butuhkan.
Menjelang Maghrib
Arjuna terbangun, merasa jauh lebih baik. Ia memanggil perawat untuk membantunya duduk dan meminta air hangat. Di kursi sofa, Indira sedang membuka buku pelajarannya, terlihat sibuk dan sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Ia benar-benar menjaga jarak profesional seperti yang ia minta.
Arjuna merasa aneh. Ia terbiasa dengan pelayan yang tunduk dan selalu siap melayani, tapi gadis ini... gadis ini mengabaikannya. Tentu saja, ia sendiri yang meminta Indira bersikap profesional. Namun, diabaikan oleh seseorang yang baru saja melakukan tindakan paling intim dengannya terasa... menjengkelkan.
Saat perawat hendak pergi, Arjuna memanggilnya.
"Suster, jadwal 'asupan' berikutnya jam berapa?" tanya Arjuna, suaranya kembali dingin.
"Sekitar pukul tujuh sore, Tuan Arjuna," jawab perawat itu.
Arjuna melirik jam di dinding. Masih ada setengah jam lagi. Ia merasa bosan, dan tubuhnya yang kekar terasa lelah terbaring terus menerus.
Arjuna menoleh ke arah Indira yang tampak tenggelam dalam bukunya.
"Indira," panggil Arjuna.
Indira tersentak, menutup buku pelajarannya dan menoleh. Matanya masih menunjukkan sedikit rasa takut dan canggung, tapi ia berusaha memasang ekspresi datar.
"Ya, Tuan Arjuna?" tanyanya formal.
"Aku bosan," kata Arjuna lugas. Ia berpikir sejenak, lalu muncul ide untuk menguji batasan gadis itu—seperti yang sering ia lakukan pada karyawannya.
"Kau sedang belajar, kan? Bacakan aku bab yang sedang kau pelajari. Aku ingin tahu seberapa bagus pendidikan yang dibayar oleh Ayahku untukmu. Bacakan dengan suara yang jelas."
Indira terkejut. Membacakan buku pelajaran? Itu bukan bagian dari kontraknya. Ini adalah perintah personal dan sewenang-wenang.
Dia mulai mengujiku, batin Indira.
Ia menarik napas, mengingat janjinya pada ibunya: ini hanya sementara. Ia harus menurut.
"Baik, Tuan Arjuna," jawab Indira, mengambil buku fisikanya. "Saya sedang mempelajari Hukum Newton II tentang percepatan. Apakah Anda ingin saya bacakan definisinya, atau langsung ke contoh soal?"
Arjuna menyeringai tipis. Reaksi Indira yang patuh namun formal membuatnya penasaran.
"Langsung ke contoh soal. Aku ingin tahu kemampuan analitismu. Tapi sebelum itu, coba jelaskan dulu, bagaimana rumus F\=ma itu bisa mempengaruhi hidupku sekarang ini?" tantang Arjuna, matanya kini menatap penuh minat.
Indira menggigit pipi bagian dalamnya. Ini adalah permainan. Arjuna menguji kecerdasannya dan batas kepatuhannya sekaligus. Ia harus memenangkan permainan ini untuk menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang "wadah".
bersambung...