NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jejak di Lembah Keheningan

​Kabut yang menyelimuti Lembah Tabib Hantu bukan sekadar uap air yang mendingin; ia adalah substansi beracun yang memiliki kesadaran sendiri, berputar-putar seperti tarian hantu di antara pepohonan yang bentuknya bengkok dan aneh. Di tempat ini, sinar matahari tidak pernah benar-benar menyentuh tanah. Suasana selalu berada dalam keremangan abadi, di mana suara kepakan sayap serangga malam dan gemericik air sungai yang berwarna ungu tua menjadi latar belakang yang menghantui.

​Lin Xiao berdiri di tepi sebuah tebing kecil, menatap ke arah pusaran energi yang berada jauh di dasar lembah. Rambut hitamnya yang kini memiliki helai-helai perak permanen tertiup angin yang membawa aroma obat-obatan pahit.

Meskipun tubuhnya masih terasa sangat lemah dan Inti Jiwanya berdenyut kesakitan, matanya tetap memancarkan api tekad yang tidak bisa dipadamkan oleh apa pun.

​"Nona, sebaiknya Anda kembali ke dalam gubuk," suara Kepala Paviliun Gu terdengar dari belakang.

Ia membawa semangkuk ramuan yang mengepulkan uap hijau pekat. "Udara di sini mulai mendingin, dan dalam kondisi Anda saat ini, paru-paru Anda tidak akan sanggup menahan racun kabut yang semakin tebal."

​Lin Xiao menerima mangkuk itu dan meminumnya tanpa ragu, meski rasanya lebih pahit dari empedu binatang buas. "Gu, aku tidak punya waktu untuk bersembunyi di dalam gubuk. Long Tian adalah orang yang sangat teliti. Dia mungkin tidak berani masuk ke sini dengan pasukannya, tapi dia pasti akan mengirimkan para pembunuh bayaran tingkat tinggi atau menggunakan metode pengasapan untuk memaksa kita keluar."

​Gu menghela napas panjang, wajahnya yang penuh kerutan tampak semakin tua di bawah cahaya remang-remang. "Anda benar. Namun, untuk mendapatkan Inti Dewa Kegelapan di dasar lembah, Anda harus melewati 'Ujian Tiga Bayangan'. Dalam kondisi kultivasi Anda yang merosot ke Tahap Pembersihan Sumsum, itu sama saja dengan menyerahkan nyawa pada dewa kematian."

​Lin Xiao menyentuh pedang Nightshade yang terasa dingin di pinggangnya. "Kematian adalah teman lamaku, Gu. Dia sudah mencoba menjemputku berkali-kali, tapi dia selalu gagal. Beritahu aku tentang ujian itu."

​Gu terdiam sejenak, lalu mulai menjelaskan dengan nada bicara yang rendah dan misterius. "Ujian pertama adalah Bayangan Penyesalan. Kau akan dipaksa menghadapi masa lalumu yang paling menyakitkan dalam bentuk ilusi fisik. Jika hatimu goyah sedikit saja, jiwamu akan terjebak selamanya di sana. Ujian kedua adalah Bayangan Kekuatan, di mana kau harus bertarung melawan dirimu sendiri dalam kondisi puncak. Dan yang terakhir... adalah Bayangan Kekosongan, sebuah ujian yang tidak pernah diceritakan oleh siapa pun karena tidak ada yang pernah kembali setelah memasukinya."

​Lin Xiao terdiam. Ujian itu seolah dirancang khusus untuk menghancurkan seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Namun, justru karena ia sudah kehilangan segalanya, ia tidak lagi memiliki rasa takut akan kehilangan.

​Keesokan paginya, tanpa menunggu pemulihan total, Lin Xiao mulai melangkah menuruni jalan setapak yang licin menuju dasar lembah. Ia meninggalkan Yun'er yang masih tertidur pulas di dalam gubuk, tidak ingin gadis kecil itu melihatnya dalam kondisi yang mungkin akan menjadi saat-saat terakhirnya.

​Semakin dalam ia melangkah, kabut di sekelilingnya berubah warna dari kelabu menjadi hitam pekat. Suara-suara aneh mulai membisikkan namanya di telinganya.

​"Ruxue... kenapa kau membiarkan kami mati?..."

​"Lihatlah dirimu, kau hanyalah sampah yang gagal melindungi klanmu sendiri..."

​Lin Xiao memejamkan matanya, menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menjaga kesadarannya. "Ilusi yang murahan," desisnya.

​Tiba-tiba, pemandangan di depannya berubah. Ia tidak lagi berada di hutan berkabut, melainkan di tengah-tengah aula pernikahan yang mewah di Ibu Kota—hari di mana Long Tian mengkhianatinya. Ia melihat dirinya sendiri yang mengenakan gaun pengantin merah, bersimbah darah di lantai, sementara Long Tian berdiri di atasnya dengan pedang terhunus.

​"Kau lihat ini?" suara Long Tian di dalam ilusi itu terdengar begitu nyata. "Kau pikir kau bisa membalas dendam? Kau hanyalah bidak yang kubuang karena sudah tidak berguna."

​Lin Xiao merasakan amarah yang luar biasa meluap di dadanya. Inti Jiwanya yang retak mulai bergetar hebat, mengeluarkan Energi Nirwana yang tidak stabil. Ia ingin menebas sosok Long Tian di depannya, namun ia teringat kata-kata Gu: Bayangan Penyesalan.

​"Ini bukan masa laluku," bisik Lin Xiao pada dirinya sendiri. "Masa laluku adalah kekuatanku. Pengkhianatanmu bukan penyesalanku, melainkan bahan bakarku!"

​Dengan satu sentakan kehendak yang kuat, Lin Xiao menusukkan pedangnya bukan ke arah Long Tian, melainkan ke jantungnya sendiri di dalam ilusi tersebut.

​PYAARR!

​Dunia di sekitarnya pecah seperti cermin yang dipukul keras. Ilusi itu lenyap, dan ia kembali berdiri di jalan setapak hutan yang sunyi. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Retakan di Inti Jiwanya mulai bercahaya ungu redup, seolah-olah ujian tadi justru mulai menjahit kembali luka-lukanya.

​Ia terus berjalan hingga sampai di sebuah gerbang batu raksasa yang dijaga oleh dua patung singa hitam. Di tengah gerbang itu, terdapat sebuah bola kristal gelap yang berdenyut. Begitu Lin Xiao mendekat, sebuah proyeksi cahaya muncul dari kristal tersebut, membentuk sosok yang sangat mirip dengannya—namun sosok ini memiliki rambut perak sepenuhnya dan mata yang benar-benar hitam tanpa pupil.

​"Aku adalah puncak yang ingin kau capai," ucap bayangan itu dengan suara yang merupakan gema dari suara Lin Xiao sendiri. "Untuk menjadi dewa, kau harus membunuh kemanusiaanmu. Mari kita lihat, apakah kebencianmu cukup besar untuk membunuh dirimu sendiri?"

​Bayangan itu melesat maju dengan kecepatan yang bahkan mata Lin Xiao sulit untuk mengikutinya. Sebuah serangan telapak tangan yang mengandung Energi Nirwana murni menghantam dada Lin Xiao, membuatnya terpental menabrak gerbang batu.

​UHUK!

​Lin Xiao memuntahkan darah hitam. Ia menyadari bahwa bayangan ini memiliki kekuatan yang sama dengan dirinya saat melakukan transformasi di hutan tempo hari. Ini bukan pertarungan adil; ini adalah pertarungan antara seorang yang terluka melawan seorang dewa.

​"Jangan menyerah... jika kau mati di sini, Meili akan terus tertawa di atas takhtanya," gumam Lin Xiao sambil mencoba berdiri kembali menggunakan pedangnya sebagai penyangga.

​Ia menutup matanya, tidak lagi mencoba melihat dengan mata fisik. Ia mulai merasakan aliran energi di sekitarnya. Di Lembah Tabib Hantu ini, energi kegelapan begitu melimpah. Jika ia tidak bisa menggunakan energinya sendiri karena Inti Jiwanya rusak, maka ia akan menggunakan energi lembah ini sebagai senjatanya.

​Lin Xiao mulai melakukan teknik pernapasan rahasia yang ia temukan di gulungan kulit naga. Ia membiarkan racun kabut masuk ke dalam tubuhnya, mengubahnya menjadi bahan bakar untuk Energi Nirwana.

​"Kau ingin aku membunuh kemanusiaanku?" Lin Xiao mengangkat kepalanya, tersenyum dengan wajah yang berlumuran darah. "Kau salah. Kemanusiaanku—rasa sakitku, cintaku yang dikhianati, dan dendamku—itulah yang membuatku lebih kuat dari bayangan kosong sepertimu!"

​Lin Xiao melesat maju, bukan untuk menghindar, tapi justru untuk membiarkan pedang bayangan itu menembus bahunya. Di saat yang sama, ia mencengkeram kepala bayangan itu dengan tangan kirinya dan melepaskan seluruh sisa Energi Nirwana yang ia miliki langsung ke dalam pusat energi bayangan tersebut.

​BOOOOOOMM!

​Ledakan energi hitam menyelimuti gerbang batu tersebut. Saat asap menghilang, bayangan itu telah lenyap, dan gerbang batu perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah gua yang sangat dalam dengan cahaya ungu yang berpendar di dasarnya.

​Lin Xiao terjatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal, namun ia merasakan sesuatu yang luar biasa. Inti Jiwanya yang retak kini telah menyatu kembali, bahkan menjadi lebih kuat dan lebih gelap dari sebelumnya. Ia telah melewati dua ujian, dan kini hanya tersisa satu: Bayangan Kekosongan.

​Namun, sebelum ia bisa melangkah masuk, ia merasakan sebuah aura yang sangat kuat dan jahat mendekat dari arah pintu masuk lembah. Bukan Long Tian, tapi sesuatu yang jauh lebih kuno.

​"Sepertinya mawar kecil itu telah membuka gerbang untukku," sebuah suara serak bergema di kejauhan.

​Lin Xiao menoleh dengan tatapan tajam. Ia tahu bahwa waktu bersantainya telah habis. Musuh baru telah tiba, dan ia harus mendapatkan Inti Dewa Kegelapan sebelum semuanya terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!