NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:785
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Badai Mulai Datang

#

Malem itu, aku baru selesai sholat isya. Sajadah masih terbentang di lantai semen yang dingin. Bapak udah tidur—napasnya teratur, damai. Aku duduk bersila, natap HP yang baru aku nyalain.

Lima belas missed call dari Arkan.

Dua puluh tiga pesan.

**Arkan Alexander:**

*"Zahra, aku seneng banget hari ini. Makasih udah mau dateng ke kantor ku."*

*"Aku harap kamu nggak kaget liat dunia ku. Aku tau kita beda. Tapi... perbedaan itu nggak masalah buat aku."*

*"Zahra, jawab dong. Aku khawatir."*

*"Please. Aku cuma pengen tau kamu udah sampe rumah dengan selamat."*

Dan pesan terakhir—dua jam yang lalu:

*"Zahra... aku kena masalah. Mama tau soal kamu. Dia... dia marah banget. Aku nggak tau siapa yang lapor. Tapi... tapi ini parah. Tolong hubungin aku kalau kamu baca ini."*

Mama tau.

Mrs. Angelina Wijaya.

Ibu Arkan yang strict. Perfeksionis. Yang nggak bakal suka aku.

"Ya Allah... ini... ini pasti gara-gara aku..."

Tangan ku gemetar. Aku mau bales pesan Arkan—tapi...

TRING!

Telpon masuk.

**Arkan Alexander**

Aku angkat. Cepet.

"Halo? Mas?"

"Zahra... akhirnya kamu angkat..." Suaranya parau. Capek. Kayak abis nangis. "Kamu... kamu baik-baik aja?"

"Aku... aku baik-baik aja Mas. Mas yang... yang gimana? Pesan Mas bilang Mama Mas tau soal aku..."

Hening sebentar. Aku denger suara hembusan napas panjang di seberang.

"...iya. Mama tau. Dan dia... dia nggak terima."

"Mas... maaf... ini... ini pasti gara-gara aku dateng ke kantor tadi... aku—"

"Bukan salah kamu!" Suaranya naik. Tegas. "Ini... ini salah sekretaris aku. Veronica. Dia yang lapor ke Mama. Dia... dia sengaja bikin masalah."

Veronica.

Wanita cantik itu.

Aku... aku tau dia nggak suka aku. Dari cara dia natap. Dari senyum palsunya.

"Mas... Mas sekarang dimana?"

"Aku... aku di mobil. Parkir di pinggir jalan. Aku... aku nggak bisa pulang dulu. Mama... Mama lagi marah besar. Dia... dia bilang kalau aku pulang, kita harus ngobrol. Dan aku tau... aku tau itu bukan 'ngobrol' biasa."

"Mas... mungkin... mungkin Mas harus pulang. Jelasin semuanya ke Mama Mas. Bilang... bilang aku cuma temen—"

"Zahra." Dia potong. "Aku nggak mau bohong. Aku nggak mau bilang kamu cuma temen. Karena... karena kamu bukan cuma temen buat aku."

Jantung ku berhenti sedetik.

"Mas... jangan ngomong kayak gitu..."

"Kenapa? Ini kan kenyataan. Aku... aku suka sama kamu, Zahra. Aku nggak bisa bohong lagi. Nggak ke Mama. Nggak ke siapapun. Dan... dan nggak ke kamu."

Air mata mulai ngumpul di pelupuk mata.

"Mas... tapi... tapi Mama Mas nggak bakal terima... keluarga Mas nggak bakal—"

"Aku nggak peduli!"

Suaranya keras. Emosi keluar.

"Aku nggak peduli Mama nggak terima. Aku nggak peduli keluarga nggak setuju. Aku... aku cuma peduli sama perasaan aku. Dan perasaan kamu."

"Mas... aku... aku nggak tau aku ngerasain apa..."

"Kamu tau, Zahra. Kamu cuma takut ngakuin."

Aku diem.

Karena... karena dia bener.

"Zahra, aku harus pulang sekarang. Aku harus ngadepin Mama. Tapi... tapi aku mau kamu tau satu hal." Dia ambil napas panjang. "Apapun yang terjadi nanti... aku nggak bakal ninggalin kamu. Aku janji."

"Mas... jangan bikin janji yang Mas nggak bisa tepatin..."

"Aku bakal tepatin. Percaya sama aku."

KLIK.

Sambungan terputus.

Dan aku duduk sendirian di kamar sempit yang gelap. Megang HP yang layarnya retak. Nangis diam-diam.

"Ya Allah... kenapa... kenapa ini semua jadi rumit?"

---

**RUMAH KELUARGA WIJAYA - MANSION MEWAH DI DAERAH PONDOK INDAH**

Arkan parkir mobilnya di halaman luas rumah keluarganya. Rumah dua lantai dengan taman depan yang rapi—rumput dipotong sempurna, bunga-bunga warna-warni, air mancur kecil di tengah.

Dia turun dari mobil. Jalan pelan ke pintu utama. Buka pintu.

Ruang tamu luas. Sofa kulit putih. Meja kaca. Lukisan mahal di dinding. Lampu kristal gantung di langit-langit.

Dan di sofa tengah...

Mrs. Angelina Christine Wijaya.

Duduk dengan postur tegak. Pake dress hitam elegan. Rambut di-blow rapi. Wajahnya... dingin. Seperti patung es.

Di sebelahnya, Mr. Richard Jonathan Wijaya. Ayah Arkan. Pake kemeja putih, celana kain hitam. Mukanya datar—nggak marah, nggak seneng. Cuma... lelah.

"Arkan. Duduk."

Suara Mrs. Angelina. Dingin. Komando.

Arkan duduk di sofa seberang. Jarak tiga meter dari orang tuanya.

"Mama... Papa... maaf aku telat pulang—"

"Jangan basa-basi." Mrs. Angelina potong. "Kamu tau kenapa Mama panggilin kamu?"

"...iya."

"Siapa dia?"

"Siapa?"

"Jangan pura-pura bodoh, Arkan! SIAPA WANITA YANG KAMU BAWA KE KANTOR HARI INI?!"

Suaranya meledak. Keras. Nyaring.

Arkan nggak gerak. Tetep tenang.

"Namanya Zahra. Zahra Amanda Putri."

"Zahra?" Mrs. Angelina ketawa sinis. "Nama muslim. Sudah Mama duga."

"Iya. Dia muslim."

"Dan kamu... kamu bawa dia ke kantor? Ke KANTOR KELUARGA KITA? Kamu tau nggak itu memalukan?!"

"Memalukan kenapa?" Arkan naikkan suara. Dikit. "Dia nggak salah apa-apa. Dia cuma—"

"Dia dari keluarga MISKIN, Arkan!" Mrs. Angelina berdiri. Jalan deket ke Arkan. "Veronica cerita semuanya. Wanita itu pake baju lusuh. Hijab compang-camping. Sendal jepit! SENDAL JEPIT, ARKAN! Di kantor kita yang MEWAH!"

"Terus kenapa kalau dia miskin? Terus kenapa kalau dia pake sendal jepit? Itu nggak ngubah siapa dia sebagai manusia!"

"MANUSIA?!" Mrs. Angelina melotot. "Kamu pikir Mama peduli dia manusia atau bukan? Yang Mama pedulikan adalah REPUTASI KELUARGA KITA! Kamu tau nggak kalau orang-orang di kantor udah mulai ngomongin kamu? Ngomongin 'Direktur Wijaya bawa cewek kampungan ke kantor'?!"

"Mama... jangan sebut dia kampungan..."

"MEMANGNYA APA? DIA BUKAN KAMPUNGAN? DIA BUKAN MISKIN? DIA BUKAN MUSLIM YANG NGGAK SETARA DENGAN KITA?!"

"MAMA!" Arkan berdiri. Napasnya ngos-ngosan. "Jangan... jangan sebut agama dia kayak gitu..."

Mrs. Angelina senyum sinis. "Oh, sekarang kamu bela dia? Kamu bela wanita muslim itu di depan Mama kamu sendiri? MAMA YANG UDAH BESARIN KAMU DARI KECIL?!"

"Mama, ini bukan soal bela-belain. Ini soal... soal respect. Zahra nggak salah apa-apa. Dia... dia orang baik. Dia berjuang hidup sendirian buat ngurusin Bapak nya yang sakit. Dia—"

"Mama nggak peduli dia berjuang atau nggak!" Mrs. Angelina jalan ke meja, ambil gelas wine-nya, minum. "Yang Mama tau, dia NGGAK COCOK buat kamu. Kamu anak keluarga WIJAYA. Kamu DIREKTUR. Kamu... kamu harusnya nikah sama wanita yang SETARA. Yang KRISTEN. Yang dari keluarga BAIK-BAIK!"

"Baik-baik itu ukurannya apa, Ma? Uang? Status? Agama?"

"SEMUANYA!" Mrs. Angelina hempaskan gelas ke meja. Bunyi BRAK keras. "Arkan, dengerin Mama. Mama nggak mau kamu dekat sama wanita itu lagi. Putus kontak. Sekarang. Atau Mama yang akan urus sendiri."

"Urus sendiri? Maksud Mama apa?"

Mrs. Angelina senyum. Senyum yang bikin bulu kuduk Arkan berdiri.

"Mama punya banyak cara, Arkan. Mama bisa... bikin dia kehilangan pekerjaan. Bikin Bapaknya nggak diterima di rumah sakit manapun. Bikin hidupnya... lebih susah dari sekarang."

"MAMA NGGAK BOLEH—"

"Mama BOLEH. Dan Mama AKAN. Kalau kamu nggak putus sama dia."

Arkan natap Mama nya. Nggak percaya.

"...Mama... Mama sejahat itu?"

"Mama nggak jahat. Mama cuma... melindungi keluarga. Melindungi kamu dari kesalahan yang akan kamu sesali seumur hidup."

"Kesalahan? ZAHRA BUKAN KESALAHAN!"

"DIA MUSLIM, ARKAN!" Mrs. Angelina teriak. "DIA NGGAK SEIMAN SAMA KITA! Alkitab bilang, 'Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan?' 2 Korintus 6:14! KAMU NGERTI NGGAK ARTINYA?!"

"Aku ngerti! Tapi aku juga ngerti Yesus ngajarin kita untuk MENGASIHI! 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!' Matius 22:39! Zahra... Zahra manusia yang baik, Ma. Dia... dia layak dikasih."

"Mengasihi bukan berarti MENIKAH DENGANNYA!"

"Siapa bilang aku mau nikah? Aku cuma... aku cuma mau kenal dia lebih jauh!"

"Dan terus? Kamu pikir Mama bodoh? Mama tau kemana arahnya! Kamu bakal jatuh cinta. Terus nikah. Terus anak kamu dibiarin jadi apa? Muslim? Atau dibaptis jadi Kristen? TERUS KAMU MAU ZAHRA MASUK GEREJA? ATAU KAMU YANG MASUK MASJID?!"

Arkan diam.

Karena... karena dia nggak punya jawaban.

Mr. Richard—yang dari tadi diem—akhirnya buka suara.

"Arkan, duduk dulu."

Arkan duduk. Napas nya masih ngos-ngosan.

"Arkan, Papa ngerti kamu lagi... lagi suka sama wanita itu. Papa tau perasaan kamu tulus. Tapi... Papa juga setuju sama Mama. Perbedaan agama itu... bukan hal kecil, nak. Papa dulu pernah punya temen dekat yang beda agama. Mereka nikah. Dan sekarang? Mereka cerai. Anak mereka bingung. Hidup mereka kacau."

"Papa... tapi nggak semua kasus kayak gitu kan?"

"Nggak semua. Tapi SEBAGIAN BESAR." Mr. Richard natap Arkan serius. "Papa nggak mau kamu sengsara, nak. Papa sayang sama kamu. Makanya Papa minta... pikirin lagi. Pikirin matang-matang."

"Aku udah mikir, Pa."

"Belum cukup!" Mrs. Angelina potong. "Kamu pikir cuma seminggu dua minggu udah cukup? BELUM! Kamu masih terbawa nafsu! Masih terbawa... terbawa perasaan sesaat!"

"Ini bukan perasaan sesaat!" Arkan berdiri lagi. "Aku... aku serius sama Zahra!"

"SERIUS APANYA?! KAMU BARU KENAL DIA BERAPA LAMA?! DUA MINGGU?! TIGA MINGGU?! DAN KAMU BILANG SERIUS?!"

"IYA! AKU SERIUS! Karena... karena aku nggak pernah ngerasain perasaan kayak gini sama wanita manapun! Aku... aku ngerasa... ngerasa hidup aku punya arti pas ketemu dia!"

Mrs. Angelina natap Arkan lama. Mata nya berkaca-kaca. Tapi nggak nangis.

"...kamu... kamu milih dia... daripada keluarga kamu sendiri?"

"Mama, ini bukan soal milih—"

"JAWAB! KAMU MILIH DIA ATAU KELUARGA?!"

Hening.

Arkan napas panjang. Keras.

"...aku... aku nggak mau milih. Karena aku sayang keduanya."

"Tapi kamu HARUS PILIH." Mrs. Angelina jalan deket. "Kalau kamu terus deket sama dia... Mama akan cabut posisi kamu sebagai Direktur. Mama akan potong akses kamu ke rekening keluarga. Mama akan... akan MEMBUANG kamu dari keluarga ini."

"ANGELINA!" Mr. Richard berdiri. "Kamu kelewatan!"

"Papa diem!" Mrs. Angelina natap Arkan lagi. "Jadi? Pilihan kamu apa?"

Arkan natap Mama nya.

Mama yang udah besarin dia dari kecil.

Mama yang galak tapi sayang.

Mama yang... yang sekarang ngasih ultimatum.

"...Mama... aku... aku nggak bisa ninggalin Zahra."

Mrs. Angelina melangkah mundur. Kayak ditampar.

"...baik. Kalau itu pilihan kamu." Dia ambil HP. "Mulai besok, akun bank kamu Mama bekukan. Posisi Direktur kamu Mama cabut. Dan kamu... KELUAR dari rumah ini. SEKARANG."

"Angelina! Jangan—"

"PAPA DIEM!" Mrs. Angelina ngeluarin air mata. Pertama kalinya. "Ini... ini demi kebaikan dia... demi kebaikan keluarga kita..."

Arkan natap Mama nya terakhir kali.

Terus jalan ke tangga. Naik ke kamar dia di lantai dua. Ambil tas. Masukin baju, dokumen penting, dompet.

Turun lagi.

Mr. Richard berdiri di ruang tamu. Mukanya sedih.

"Arkan... kamu yakin?"

"...iya, Pa. Aku yakin."

"Ini... ini keputusan besar, nak. Kamu... kamu bakal nyesel—"

"Aku nggak bakal nyesel." Arkan senyum pahit. "Karena aku... aku berjuang buat sesuatu yang aku percaya."

Mr. Richard diem. Terus pegang bahu Arkan.

"...Papa bangga sama kamu, nak. Meskipun Papa nggak setuju... Papa bangga."

Arkan peluk Papa nya. Erat.

"Makasih, Pa."

Dia jalan ke pintu.

Mrs. Angelina nggak ngeliatin. Cuma duduk di sofa. Nangis diam-diam.

Arkan keluar.

Pintu tertutup.

BLAM.

Dan dia... dia nggak nengok ke belakang lagi.

---

Arkan duduk di mobil. Di parkiran rumah keluarganya. Tangan nya gemetar di setir.

HP nya bunyi.

Pesan dari Papa:

**Papa:**

*"Nak, Papa transfer uang ke rekening pribadi kamu. Cukup buat hidup beberapa bulan. Jangan bilang Mama. Papa... Papa sayang sama kamu. Apapun keputusan kamu."*

Arkan nangis.

Pertama kalinya... dia nangis sejak jadi dewasa.

"Ya Tuhan... aku... aku bener nggak?"

Dia nggak tau.

Yang dia tau cuma...

Dia udah kehilangan keluarga nya.

Demi seorang wanita yang... yang mungkin nggak akan bisa dia miliki.

Tapi... tapi dia nggak nyesel.

Karena dia percaya...

Cinta itu... lebih kuat dari apapun.

Meskipun... meskipun dia harus bayar dengan harga yang mahal.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 10...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!