Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 21
BRUUUUMMM
BRUUUUMMM
BRUUUUMMM
Aruna di kejar tiga motor saat pulang sekolah. Entah siapa mereka, Aruna sendiri juga tidak tahu. mereka bukan Xavier dan teman-temannya, Aruna tahu betul motor yang digunakan oleh mereka. Siapa mereka yang mencoba untuk mencelakai Aruna. Tadi mereka sempat untuk menyenggol motor Aruna.
"Shiiit! Siapa mereka!" kesal Aruna saat melihat mereka terus mengejarnya. Tiga pria itu tak menyerah dan terus mengejar Aruna.
"Berhenti! Kalau tak mau ku buat kau mati terbakar dengan motormu!" teriak salah satu dari mereka meminta Aruna berhenti.
"Siapa kalian?" tanya Aruna setelah menghentikan motornya.
Ketiga pria itu juga menghentikan motornya dan membuka helm mendekat ke arah Aruna. Tiga pria yang memiliki tubuh tinggi besar. Tak lama Aruna melihat ada sebuah mobil berhenti tak jauh dari sana. Dengan sangat jelas Aruna bisa melihat jika dia adalah Adrian.
"Ternyata kalian adalah suruhan pria pecun-dang itu!" tanya Aruna yang melihat ke arah mobil dengan tatapan tajam.
Adrian hanya melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Karena meras senang bisa membalas perlakuan Aruna yang membuatnya malu di sekolah. Harga dirinya seolah di injak oleh Aruna saat itu.
Bugh
Bugh
Bugh
Mereka bertiga mulai menyerang Aruna. Tak adil dan tak seimbang. Tiga pria dewasa menyerang satu gadis kecil, benar seperti yang dikatakan Aruna. Jika mereka adalah orang-orang pengecut.
"Dasar para pecundang ban-ci, beraninya sama perempuan! kalian pikir aku akan menyerah?!" umpat Aruna dan terus menyerang mereka.
Walau tenaganya tidak maksimal karena dia masih memiliki beberapa luka di bagian tubuhnya. akibat operasi malam kemarin, tapi Aruna tidak menyerah dan terus melawan mereka. Walau harus mendapatkan beberapa pu-ku-lan lagi dari mereka.
Bugh
"Shiiiit!" umpat Aruna yang mundur beberapa langkah setelah perutnya berhasil di pukul oleh salah satu dari mereka. Dia merintis, tak lama 4 motor besar datang, mereka adalah Xavier dan teman-temannya.
"Wah! Nggak bener ini! Masa bapak-bapak begini lawan anak kecil! Nggak ada akhlak emang! Dasar bencisssss! Menjauh dari ayang gue loh!" teriak Rexa dan segera berlari ke arah tiga orang itu bersama dengan Xavier dan dua temannya yang lain.
"Minggir!" Xavier sedikit mendorong Aruna untuk menjauh dan diam.
Dia melihat Aruna sudah terluka cukup parah. Lu-ka di wajahnya juga kembali bertambah. Kemampuan Aruna untuk bertarung dengan mereka belum lah cukup. Karena dia masih harus banyak belajar untuk menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sekarang. Xavier cukup kagum dengan kemampuan Aruna yang bisa bertahan melawan tiga orang di depannya.
Bugh
Bugh
bugh
Mereka kembali bertarung empat lawan tiga. Xavier dan teman-temannya juga emang lumayan memiliki kemampuan bela diri. Karena mereka juga merupakan atlet di beberapa cabang olah raga.
"Pergi!" ajak salah satu dari mereka yang sudah tak bisa lagi melawan mereka berempat.
"Yah kabur! Dasar pecun-dang!" ledek Aldo.
"Kamu dah apa-apa, Runa?" tanya Rexa mendekat ke arah Aruna yang sedang bersandar samping motor besarnya.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantuku!" jawab Aruna.
"Siapa mereka? Apa kamu mengenal mereka?" tanya Xavier dengan tatapan tajam ke arah Aruna.
"Mereka hanya orang suruhan, mungkin orang yang tidak suka padaku," jawab Aruna santai.
Xavier tak suka dengan tatapan dan jawaban santai Aruna. Xavier tahu jika Aruna tidak baik-baik saja, tapi kenapa dia tak mau terlihat rumah di mata semua orang. Dia berusaha tetap memperlihatkan keadaan yang baik saja.
"Apa kamu tahu siapa yang menyuruh mereka?" tanya Rexa khawatir.
"Tahu, tadi juga ada orangnya, hanya saja dia terlalu penge-cut sehingga tak mau menemuiku!" jawab Aruna.
"Apa tidak salah anak usia tiga belas tahun sepertimu punya musuh sejahat itu. Bahkan dia menyewa orang-orang seperti mereka. Jika saja kamu tidak memiliki kemampuan bela diri, mungkin kamu sudah mati dihajar oleh mereka!" ujar Gani tak habis fikir.
"Mungkin memang semua orang mengharapkan kematianku," jawab Aruna membuat semua orang terdiam.
Dengan santai Aruna membalikkan badannya dan menggunakan helm full face miliknya.
"Terima kasih atas bantuannya. Aku rasa mungkin aku tak perlu memberikan uang untuk kalian berobat, karena kalian semua anak orang kaya. Tapi sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian semua, aku permisi pulang dulu!" ucap Aruna sebelum benar-benar pergi dari sana dengan menggeber motor besarnya.
"Kalian merasa aneh nggak sih sama Aruna? Kok aku merasa dia itu menyimpan banyak rahasia yang aneh. Anak seusia dia bahkan ah, bagaimana ya aku menjelaskannya kok bingung sendiri!" ucap Gabi yang sedari tadi berfikir keras dengan kejadian tadi.
"Yang pasti dia adalah wanita tangguh dan keren. Dia wanita mahal yang akan sangat sulit di dapatkan. Aku harus bisa menjadi pacar dia dan aku akan melindungi Aruna!" jawab Rexa.
"Lo pikir! kita masih bocah juga kali!" Aldo menonjok bahu Rexa.
"Sudahlah kita pergi dan obati lu-kanya di rumahku. Kalau sampai orang tua kalian tahu kalian berkelahi. Aku yakin kalian kena omel satu Minggu kedepan!" ajak Xavier.
"Astaga! Benar juga. Emakku pasti ngomel nggak berhenti wajah anaknya yang paling ganteng jadi bonyok begini!" jawab Aldo mengusap sebelah pipinya yang terkena tonjokan.
"Ah elah, udah jelek juga masih sok ganteng!" jawab Gani menoyor kepala Aldo.
Mereka memang sahabat sesak sekolah menengah pertama. Bukan hanya mereka yang bersahabat, melainkan kedua orang tua mereka yang sama-sama pengusaha juga bersahabat.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/