NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Dr. Nolan

...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...

Menyaksikan Quinn teriak-teriak ke Papanya lewat siaran langsung webcam dari ruang tamu, memberikanku kepuasan tersendiri.

Kelihatannya dia mulai kehilangan akal sehatnya, dan jelas dia enggak tahu ginjal itu asalnya dari mana.

Bukan berarti itu bisa mengubah apa pun. Aku tetap akan membuatnya menderita seumur hidupnya. Sama seperti aku yang harus menderita setiap hari karena terpaksa hidup tanpa Naveen.

Quinn jatuh terduduk dan bersandar ke dinding. Dia tampak kelelahan.

Karena aku enggak mau dia mati duluan, aku tahu aku harus membuatnya sedikit lebih nyaman.

“Vloo, ambil kasur, terus taruh di salah satu kantor kosong,” perintahku.

“Siap, bos.”

Mataku menempel ke layar saat aku melihat Tanoko mondar-mandir seperti binatang yang terkurung, sementara Nolan berdiri kaku di pojok ruangan.

Quinn menyembunyikan wajahnya di antara lengan yang melingkari lututnya. Ujung gaunnya menyelip di antara betis dan pahanya.

HPku bergetar di saku. Begitu aku keluarkan dan melihat nama Farris, aku langsung jawab,

...📞...

“Kamu dapat info lain?”

^^^"Ya. Kita punya foto Borris Noor. Dia ketangkep kamera CCTV di beberapa titik di kota."^^^

“Kirim foto sama lokasi terakhirnya.”

^^^"Udah aku kirim."^^^

Dia menguap.

^^^"Gimana keadaan di sana?"^^^

"Bagus ... Aku jadi bisa ikut keringetan bareng Musielak sama Nolan."

^^^“Kapan kamu bakal bunuh mereka?”^^^

“Kapan pun yang aku mau,”

^^^“Ada lagi yang kamu butuhin?”^^^

^^^“Soalnya aku punya pertunjukan balet yang enggak pingin aku lewatin.”^^^

Sambil menggeleng, aku tertawa.

“Pergi sana, dan jangan lupa pakai rok tutu nya.”

^^^“Jangan ngejek sebelum nyobain.”^^^

“Happy balet day, Broo. Makasih buat semua bantuannya.”

^^^“Okeee,”^^^

^^^“Aku bakal mampir ke tempatmu."^^^

“Ditunggu.”

Begitu teleponku ditutup, mataku kembali ke layar. Tapi belum lama, Gustav masuk ke kantor dan mengalihkan perhatianku lagi.

Aku buka email, klik email dari Farris, lalu aku teruskan ke Gustav.

"Aku baru kirimin email. Kita punya foto Noor. Suruh orang-orang kita menyisir setiap sudut Jakarta. Siapa pun yang bisa bawa dia ke sini hidup-hidup, dapat bonus delapan ratus juta."

“Mereka bisa-bisa bakal ngerusak seluruh kota,” gumam Gustav sambil mengecek HPnya.

“Itu memang tujuannya,” jawabku datar sambil terus memperhatikan siaran langsung.

Quinn sekarang bersandar lemas ke dinding, wajahnya pucat.

“Berapa nomor Lazuar?” tanyaku.

Begitu Gustav memberikan, aku langsung menelepon.

...📞...

^^^"Halo."^^^

"Ini Braun."

^^^“Baik, bos,”^^^

Nadanya langsung berubah, penuh hormat.

^^^“Apa yang bisa aku lakuin?”^^^

“Bawa Nabilla ke gudang.”

^^^"Apa Bos udah nemuin kelompok yang harus bertanggung jawab?"^^^

“Belum. Tapi aku butuh keahlian medis Nabilla.”

^^^“Oke. Kami berangkat secepat mungkin, bos.”^^^

Aku tutup telepon dan kembali menatap Quinn.

Jangan mati dulu, tikus kecil. Aku ingin kamu hidup yang lama … dan menderita.

Vloo masuk ke kantor dan mengangguk.

“Kantornya udah siap, Bos.”

"Ikut aku."

...જ⁀➴୨ৎ જ⁀➴...

Aku jalan ke arah tangga sambil kasih isyarat ke Larron buat buka pintu.

Begitu aku masuk, Quinn sudah berdiri dan lari ke bagian belakang ruangan.

Karena aku ingin mengajari dia kalau semua perintahku wajib dipatuhi, jadi aku menggeram, “Kemarilah, Quinn!” Dia menggeleng, tubuhnya menempel ke dinding. "Kalau kamu bikin aku harus bicara dua kali, aku bakal mutilasi kamu!"

"Tolong. Jangan!" Tanoko menangis sambil berdiri di antara aku dan putrinya.

Aku ulurkan tangan. Sedetik kemudian, sebuah pistol diletakkan di telapak tanganku. Jariku langsung mencengkeram gagangnya. Aku arahkan larasnya ke Tanoko.

Tanpa ragu sedetik pun, aku tarik pelatuknya.

Peluru itu menembus lengan kemejanya. Bahkan sebelum darah meresap ke kain putih itu, peluru lain sudah menghantam dinding kurang dari tiga puluh sentimeter dari Quinn.

“Papa!” Quinn teriak sambil berlari ke arahnya.

"QUUINN!" Aku berteriak buat tarik perhatiannya.

Matanya langsung menoleh ke arahku.

"Kemari!"

Dia ragu-ragu. Tapi sekarang, setelah dia tahu aku enggak bakal ragu buat menembak Papanya, akhirnya dia jalan mendekat ke aku.

Saat dia mendongakkan kepala buat menatap mataku, aku ikut melangkah maju sampai wajah kita tinggal berjarak beberapa senti.

"Jangan pernah lagi membantahku!"

Dia menelan ludah sambil menggeleng pelan.

Aku balik badan dan bergumam, “Ikut aku!”

Aku keluar dari ruangan, dan aku bisa dengar napas Quinn yang terengah-engah di belakangku.

Begitu masuk ke kantor yang sekarang menjadi kamar tidur darurat, aku pakai pistol buat menunjuk ke arah kasur.

“Istirahat!” perintahku.

"Apa?"

Tatapanku langsung mengunci wajahnya. Dia tersentak sambil melingkari pinggangnya dengan kedua tangan.

"Kamu beneran pingin aku mengulanginya?"

Dia langsung menggeleng cepat dan lari ke kasur.

Begitu berbaring, tubuhnya kaku seperti papan, lalu perlahan ketegangan di dirinya luruh.

Aku mendekat dan menatap mata ketakutannya, yang berkilau seperti lautan terkena sinar matahari.

“Tidur, Tikus Kecil. Kamu butuh istirahat untuk menghadapi apa yang bakal datang selanjutnya.”

Alih-alih meminta nyawanya untuk diselamatkan, suaranya malah memohon, “Tolong … jangan bunuh Papa aku.”

“Kamu enggak ada hak buat minta itu ke aku,” jawabku dingin.

Dia duduk, air mata mengalir di pipinya.

“Aku bakal melakukannya,” katanya. “Terserah ... apa aja. Tapi ampuni Papa aku. Please.”

Aku enggak punya rencana buat membunuh Tanoko. Setidaknya belum sekarang. Aku ingin dia menderita, hidup dengan kesadaran kalau aku memegang kendali putri kesayangannya.

Sambil mengarahkan tangan kananku yang masih memegang pistol ke wajahnya, aku menyeret larasnya pelan menyusuri jejak air mata di pipinya.

“Lain kali kalau aku ngasih perintah, kamu lakuin!"

Dia langsung mengangguk cepat.

Saat aku berbalik dan berjalan pergi, dia teriak, “Papa aku bakal kamu ampuni?”

Aku berhenti di depan pintu. “Semuanya tergantung seberapa baik sikap kamu.”

Begitu aku keluar, Vloo menutup pintu dan menguncinya.

“Kasih kuncinya ke aku!” perintahku sambil kasih pistol itu ke dia.

Begitu kunci ada di tanganku, aku selipkan ke saku dan balik ke ruangan lain, tempat seorang ayah yang mencemaskan anaknya dan seorang dokter pengecut.

“Apa yang kamu lakuin ke Quinn?” tanya Tanoko, suaranya serak.

“Aku bikin dia nyaman di ranjang,” jawabku jujur.

Aku tahu kata-kata itu bakal bikin pikirannya liar, membayangkan apakah aku akan memperkosanya.

Dan sesuai harapanku, napas Tanoko langsung tertahan. Kulitnya berubah sedikit keabu-abuan. Kepuasan pun langsung menyusup di dadaku.

"Tolong, jangan sakiti dia. Aku mohon. Aku bakal kasih kamu semua yang aku punya."

Bibirku melengkung. Aku mendekat ke Tanoko, condong ke arahnya, lalu mendesis, “Aku bakal bikin dia nyesel pernah dilahirin.”

Aku makin mendekat sampai wajah kita hampir menempel. “Aku bakal bikin kamu ngerasain semua rasa sakit yang aku rasain, bahkan lebih. Karena kamu, aku harus hidup tanpa saudaraku. Jadi kamu bakal hidup tanpa putrimu, aku bakal meniduri dia sampai dia lupa pernah punya orang tua kayak kamu!”

“Aku mohon,” bisiknya lemah. “Aku bakal lakuin apa pun.”

"Tenang aja ... kamu udah lakuin itu, kok." Senyumku makin lebar. "Putri kecilmu yang berharga itu ... sekarang jadi milik aku."

Wajahnya kembali runtuh. Aku miringkan kepala dan tarik napas panjang.

Aku bakal bikin mereka menderita, Naveen.

Aku bakal bikin mereka membayar semuanya.

Aku tatap Tanoko sampai akhirnya dia menunduk, bahunya terguncang oleh isak tangis tanpa suara. “Aku enggak tahu kalau mereka udah membunuh saudaramu,” katanya sambil menangis.

Aku mendekat lagi dan berbisik di telinganya, “Kamu tetap bakal ngelakuinnya demi nyelametin putrimu. Kamu bakal membunuh setengah penduduk Jakarta kalau itu perlu, karena kamu cinta sama dia.”

Aku mundur selangkah, lalu mencekal rahangnya, memaksa dia menatap aku. “Aku menyayangi saudaraku. Dan kamu udah merampas dia dari aku.”

Aku melepasnya dan pandanganku beralih ke dokter yang meringkuk ketakutan di pojok ruangan.

"Dr. Nolan!"

Aku menunggu sampai dia berani menatapku.

"Nikmatin malam terakhirmu. Karena besok aku bakal bunuh kamu."

Saat aku meninggalkan ruangan, aku dengar Larron menutup pintu dan menguncinya.

"Suruh anak-anak jaga para tahanan secara bergiliran," kataku ke Vloo yang jalan tepat di belakangku.

“Oke, bos.”

Kami turun ke lantai bawah.

Sementara aku masuk ke kantor, Vloo berjalan ke arah sekelompok prajuritku yang sedang berkumpul.

Aku menemukan Gustav di balik meja. Dia mengangkat kepala dari layar komputer yang sejak tadi dia tatap.

“Lagi bersenang-senang?” tanyanya.

Aku menjatuhkan diri ke sofa dan bergumam, “Aku butuh minuman.”

Gustav berdiri, jalan ke mini bar, lalu menuang Whisky ke gelas. Dia bawakan minuman itu ke aku dan duduk di sebelahku.

“Makasih,” kataku sebelum menyeruputnya. Sambil menyandarkan kepala ke sandaran sofa, aku memejamkan mata.

“Orang-orang Singapura suka AK,” kata Gustav.

"Good." gumamku.

“Terus Yakuza minta lima puluh Glock 17 full auto. Mereka punya … permintaan khusus,” lanjutnya.

“Emangnya kita punya cukup kit konversi PDW?”

“Ada. Anak-anak bisa mengerjakannya dalam waktu dekat. Jadi pengiriman juga bisa cepat. Bisa berangkat akhir minggu.”

"Oke. Lanjutin kesepakatan itu."

“Kenapa kamu enggak pulang aja dan istirahat?” saran Gustav sambil bangkit dari sofa.

Aku tertawa pelan lalu membuka mata, menghabiskan sisa Whisky di gelas, lalu bilang, “Aku mau bikin Nolan menderita, sebelum membunuhnya.”

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!