Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pak Bara yang sejak tadi mendengarkan penjelasan Nathan mengenai kondisi Aru mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Bagaimana reaksi sahabatnya Dika jika melihat putri kesayangannya terluka?
Belum lagi tiga singa jantan keluarga Wiratama yang terkenal ganas dan posesif—jika sampai mengetahui kondisi adik mereka. Apa yang akan mereka lakukan?
Pikiran itu membuat kepala Pak Bara berdenyut. Rasa frustrasi perlahan menyergapnya.
“Apa yang kamu pikirkan, Bara?” tanya Papi Bas yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu hanya terdiam sejak Nathan keluar dari kamar tamu.
Pak Bara menghela napas panjang.
“Huft… bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini ke keluarga Aru, Bas?” ucapnya lirih. “Kalau mereka tahu Aru terluka, aku yang diserang. Apalagi tiga kakaknya… bisa habis aku.”
Semua orang yang mendengar keluhan Pak Bara ikut terdiam. Mereka pun berpikir hal yang sama,bagaimana menjelaskan kejadian ini pada keluarga Wiratama?
Makan malam yang seharusnya menjadi ajang mendekatkan Kenan dan Aru justru berujung pada luka. Bahkan ada kemungkinan, hubungan mereka malah semakin menjauh.
Ruangan itu larut dalam keheningan.
Aru yang baru saja keluar dari kamar tamu tanpa sengaja mendengar ucapan Pak Bara. Ia melangkah menuju ruang tamu dengan penampilan yang sedikit berbeda. Rambutnya kini terikat rapi, menampakkan wajahnya yang lembut. Senyum hangat terbit di bibirnya.
"Nggak perlu khawatir, Om,” ucap Aru lembut. “Ini hanya luka kecil. Kalian tidak perlu memikirkan reaksi ayah dan abang-abang Aru. Nanti Aru yang akan menjelaskan semuanya.”
Langkahnya terhenti begitu ia menyadari semua mata tertuju padanya.
Termasuk mata Kenan.
Untuk sesaat, Kenan membeku.
Ada sesuatu yang menghantam dadanya keras,bukan marah, bukan kesal. Melainkan rasa asing yang membuat napasnya tercekat. Aru berdiri di sana, terluka karena dorongannya sendiri, namun masih menundukkan kepala sopan, masih tersenyum kecil… tanpa satu pun tatapan menyalahkan.
Cantik.
Bukan karena rupa semata,melainkan ketenangan yang ia pancarkan di tengah kekacauan.
Kenan tak sadar sejak kapan ia berhenti menggendong Kai.
“Bun—”
Suara kecil itu memecah keheningan.
Semua orang menoleh.
Kai meronta turun dari gendongan Kenan, lalu berlari kecil dengan langkah goyah. Tangannya terulur, wajahnya basah oleh sisa air mata.
“Bunda…!”
Aru terkejut. Tubuhnya refleks menegang.
“Kai?” panggilnya pelan.
Anak itu langsung memeluk kaki Aru erat,terlalu erat untuk ukuran balita. Tangis kecilnya pecah lagi, kali ini bukan karena takut, melainkan lega.
“Bunda… Kai takut…” gumamnya terputus-putus.
Aru berjongkok perlahan meski bahunya terasa nyeri. Tangannya yang bebas langsung mengusap rambut Kai lembut, refleks alami yang bahkan tak ia sadari.
“Shh… nggak apa-apa,sayang.” bisiknya lirih.
Kai menggeleng keras, lalu memeluk leher Aru, wajah kecilnya menyusup ke dada Aru. Tubuhnya bergetar pelan, namun tangisnya mulai mereda.
“Jangan tinggalin Kai…”
Ruangan itu sunyi.
Kenan menatap pemandangan di hadapannya dengan mata yang perlahan memerah. Kata-kata Papi Bas terngiang jelas di kepalanya.
Kai sendiri yang memeluk Aru… dan memanggilnya bunda.
Bukan kebetulan.
Bukan imajinasi.
Kai menolak dilepaskan bahkan ketika Kenan melangkah mendekat.
“Kai… sini sama Daddy, sayang. ” suara Kenan terdengar kaku, nyaris asing di telinganya sendiri.
Kai justru memeluk Aru lebih erat.
“Nggak mau…” rengeknya. “ Kai mau sama bunda…”
Aru mengangkat wajahnya perlahan, menatap Kenan. Tatapan itu lembut tanpa dendam, tanpa luka yang dipamerkan. kejujuran dan ketulusan yang telanjang.
“Boleh… Saya gendong sebentar Kai nya pak Kenan?”
Kenan terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus menjawab apa.
Dan untuk pertama kalinya pula, ia menyadari bahwa ada seseorang yang bisa membuat anaknya tenang hanya dengan kehadirannya.
Sementara dirinya… gagal.
Kenan menarik napas panjang. Ada perang kecil di dadanya,antara gengsi yang selama ini ia pertahankan dan kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.
Perlahan, sangat perlahan, ia mengangguk.
“Sebentar saja,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan berat. “Hati-hati… bahumu masih luka.”
Aru terkejut kecil. Ia mengangguk, nyaris tak berani bicara.
“Iya.”
Dengan gerakan hati-hati, Aru menggeser posisi Kai ke dalam gendongannya. Begitu tubuh kecil itu terangkat, Kai langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Aru, memeluk erat seolah takut terjatuh atau ditinggalkan.
“Bunda…” gumamnya lirih.
Aru menahan napas sejenak. Dadanya terasa hangat, meski bahunya berdenyut pelan. Ia mengusap punggung Kai dengan gerakan lambat dan berirama, naluriah seolah tubuhnya tahu persis apa yang harus dilakukan.
“Nggak apa-apa,sayang” bisiknya.
Tangis Kai berubah menjadi isak pendek. Kepalanya bersandar di bahu Aru, tepat di dekat perban putih itu. Aru sedikit meringis, namun tak bergeser.
Aru duduk di sofa, berhadapan langsung dengan Kenan dan Kai. Di antara mereka terbentang meja kecil yang terasa seperti jarak emosional yang sulit dijelaskan.
“Aru, Om minta maaf,” ucap Papi Bas dengan nada penuh penyesalan. “Karena kelakuan anak Om, kamu sampai terluka.”
“Aru, om juga minta maaf,” sambung Pak Bara. “Seharusnya tidak mengajakmu dalam pertemuan ini. Om akan bertanggung jawab menjelaskan semuanya pada ayahmu.”
“Kami juga minta maaf, Nak,” ujar Mami Amara lirih. “Seharusnya ini menjadi pertemuan yang indah, bukan meninggalkan luka.”
Aru hanya tersenyum hangat.
“Jangan merasa bersalah, Om, Tante, Paman,” katanya tulus. “Aru baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dan sudah diobati dengan sangat baik sama Nathan. Lagipula, Pak Kenan juga tidak sengaja. Beliau hanya refleks karena melihat anaknya menangis.”
Semua orang mulai tersenyum lega.
“Terima kasih, Aru,” ucap Papi Bas tulus. “Kamu memang anak yang baik.”
Aru membalas dengan senyum kecil.
Tiba-tiba, Kenan berbicara.
“Saya minta maaf,” ucapnya pelan. “Atas sikap buruk saya. Saya benar-benar tidak sengaja mendorong kamu. Saya hanya refleks karena takut Kai disakiti. Sekali lagi, saya minta maaf.”
“Kalau mau minta maaf, kepalanya diangkat dong,” sela Joe dengan senyum jahil. “Mau minta maaf ke lantai apa ke Aru? Atau jangan-jangan… lo habis nangis?”
“Diam, Joe,” tegur Nathan singkat.
Kenan perlahan mengangkat kepalanya.
Deg.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Jantung keduanya seakan lupa cara berdetak normal. Kenan baru benar-benar melihat wajah Aru dengan jelas—cantik, sederhana, dan menenangkan. Aru pun terpaku melihat mata Kenan yang sembab, menyimpan sisa emosi yang belum reda.
Perasaan asing menyergap mereka berdua.
Aru cepat-cepat memalingkan wajah, memutuskan kontak mata itu.
“Kok malah natap lama banget?” goda Joe lagi.
“Kayak mau ngajak nikah aja.”
“Diam!” sahut Kenan kesal.
Kenan kembali menatap Aru.
“Saya benar-benar menyesal.”
Aru mengangguk.
“Saya mengerti, Pak. Itu bentuk kasih sayang seorang ayah. Lebih baik kita lupakan saja. Ini hanya luka kecil.”
“Terima kasih,” ucap Kenan lega.
Namun di dalam hatinya, Kenan panik.
"Apa yang terjadi dengan jantungku? Kenapa berdetak seperti ini? Aku tidak boleh jatuh cinta lagi…" batinnya.
Aru pun sama gelisahnya.
"Kenapa jantungku berdebar? Apa aku sakit? Tuhan…" batinnya.
Semua orang dewasa di ruangan itu saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti.
“Ekhem,” deham Papi Bas. “Kalian berdua kenapa melamun? Nanti kesambet baru tahu rasa.”
Aru dan Kenan tersentak.
“Aru baik-baik saja, Om,” ucap Aru gugup.
Mami Amara tersenyum lembut.
“Kalau begitu, ayo kita makan malam. Keburu masakan nya dingin.”
Mereka pun bergerak ke ruang makan.
Aru ikut melangkah sambil tetap menggendong Kai,anak itu sama sekali tidak mau dilepaskan.
Ruang makan keluarga Mahendra terasa hangat oleh cahaya lampu gantung yang temaram. Meja panjang telah dipenuhi hidangan, aroma masakan rumah menyatu dengan suasana yang perlahan mencair setelah ketegangan panjang.
Aru duduk di kursi ujung, Kai masih dalam gendongannya. Anak itu bersandar di dadanya, kepalanya menempel di bahu Aru yang diperban. Napas kecilnya sudah mulai teratur, berat tubuhnya sepenuhnya bersandar, seolah menemukan tempat paling aman di dunia.
Aru bergerak hati-hati saat pelayan meletakkan piring di hadapannya.
“Biar tante yang ambilkan lauknya,sayang” ucap Pak Bara cepat, khawatir melihat posisi Aru.
“Nggak papa tante,” jawab Aru lembut. “Aru bisa.”
Ia menyendok nasi perlahan, satu tangan memegang sendok, tangan lainnya menopang tubuh Kai. Gerakannya pelan, terlatih seperti seseorang yang sudah sering melakukan hal itu.
Kenan yang duduk berseberangan menghentikan gerakan makannya.
Matanya tak lepas dari pemandangan itu.
Aru makan perlahan, memastikan Kai tidak terganggu. Setiap kali anak itu mengerang kecil dalam tidurnya, Aru refleks menepuk-nepuk punggungnya dengan ritme tenang. Bibirnya sesekali bergerak pelan, entah doa atau sekadar bisikan menenangkan.
Dan perlahan…
Kai tertidur sepenuhnya.
Kepalan kecil di baju Aru mengendur. Napasnya dalam dan teratur, wajahnya damai,damai yang bahkan jarang Kenan lihat saat Kai tidur di pelukannya sendiri.
Semua orang di meja itu menyadarinya.
Mami Amara tersenyum tipis, menatap Aru dengan mata berkaca-kaca.
Papi Bas menyandarkan punggungnya, menghela napas panjang seolah baru menyaksikan sesuatu yang tak perlu diperdebatkan lagi.
Pak Bara saling pandang dengan Nathan dan Joe, lalu mengangguk pelan,pengakuan tanpa kata.
“Tidur beneran…” gumamnya pelan. “Cepat banget.”ucap Joe
Nathan menyenggol lengannya. “Anak kecil itu sensitif, bang. Mereka tahu mana yang tulus sama yang nggak.”ucap Nathan.
Kenan menelan ludah.
Dada kirinya terasa ditekan sesuatu yang tak kasat mata.
Ia mengingat malam-malam panjang ketika Kai sulit tidur, tangis yang tak reda meski sudah dipeluk, sudah dibujuk, sudah digendong berjam-jam. Dan sekarang… anak itu tertidur pulas hanya dengan berada di pelukan Aru. Bahkan di tengah keramaian. Bahkan dengan bahu yang jelas-jelas sedang sakit.
Kenan berdiri tanpa suara.
Semua menoleh.
“Ada apa?” tanya Papi Bas.
Kenan tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, berhenti di samping Aru. Tatapannya tertuju pada Kai, lalu naik perlahan ke wajah Aru yang tampak sedikit lelah namun tetap tenang.
“Biar saya gendong,” ucapnya pelan. “Kamu makan saja dengan benar.”
Aru menggeleng kecil. “Tidak apa-apa, Pak. Kai sudah nyaman.”
Kenan terdiam sejenak. Lalu suaranya turun satu oktaf, lebih lembut dari sebelumnya.
“Bahumu luka. Kamu butuh istirahat.”
Aru ragu. Tangannya refleks mengencang di punggung Kai.
Namun sebelum ia menjawab, Kai bergerak kecil, wajahnya berkerut, tangannya kembali mencengkeram baju Aru kuat.
“Bunda…” gumamnya dalam tidur.
Kenan membeku.
Satu kata itu… menghantam tepat ke pusat dadanya.
Aru menahan napas. Wajahnya sedikit memucat, namun ia tetap menepuk punggung Kai lembut hingga kerutan itu menghilang.
“Tidak apa-apa,” bisiknya lirih.
Kenan menarik napas panjang. Ia mundur setengah langkah.
“…Baik,” ucapnya akhirnya. “Kalau dia bangun, bilang ke saya.”
Aru mengangguk pelan.
“Iya.”
Kenan kembali ke kursinya, namun nafsu makannya hilang. Garpu di tangannya hanya berpindah tempat tanpa benar-benar digunakan. Matanya kembali tertuju pada Aru,pada cara perempuan itu tetap makan meski perlahan, pada caranya menahan rasa sakit tanpa keluhan, pada cara ia memeluk anaknya seolah Kai memang bagian dari dirinya. Aru sudah seperti seorang ibu dan anaknya.
Di dalam hati Kenan, sebuah kenyataan pahit mulai terbentuk.
Bukan hanya Kai yang nyaman dengan Aru.
Dirinya juga.
Dan itu… menakutkan.
Mami Amara menatap Kenan dari ujung meja, senyum kecil terbit di bibirnya. Papi Bas berdeham pelan, menyembunyikan senyum puasnya di balik gelas minum.
Malam itu, tanpa disadari siapa pun, sebuah ikatan mulai terjalin.
Bersambung......................