NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Masa Lalu

Ruang kantor baru Nadia di The Golden Bridge tidak seluas ruang Komite milik Kirana, namun dinding-dinding kacanya memberikan pemandangan yang jujur. Tidak ada lagi gorden beludru berat yang menyembunyikan cahaya. Pagi itu, Nadia sedang meninjau laporan dana beasiswa tahunan saat pintu kantornya diketuk dengan ragu.

"Masuk," ujar Nadia tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Pintu terbuka perlahan. Nadia mendongak dan seketika jemarinya membeku di atas papan tik. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita yang nyaris tak ia kenali jika bukan karena sorot mata tajam yang kini tampak redup. Itu Kirana Widjaja. Tidak ada lagi setelan Chanel atau kalung berlian biru. Ia hanya mengenakan blus katun sederhana dan wajahnya polos tanpa riasan tebal.

"Kirana?" Nadia berdiri, suaranya tetap datar namun waspada.

"Boleh aku masuk?" tanya Kirana pelan. Suaranya tidak lagi memerintah; suaranya parau, seperti seseorang yang baru saja sembuh dari sakit panjang.

Nadia mempersilakannya duduk. Keheningan di antara mereka terasa berat, hanya diisi oleh deru pendingin ruangan. Kirana menatap sekeliling ruangan sebelum akhirnya matanya tertambat pada Nadia.

"Kantormu... kecil," gumam Kirana dengan senyum pahit. "Tapi kurasa kau tidak butuh ruangan besar untuk menghancurkan hidup seseorang, bukan?"

"Aku tidak menghancurkanmu, Kirana. Aku hanya menarik tirai agar orang-orang bisa melihat apa yang sebenarnya ada di sana," jawab Nadia tenang. "Ada keperluan apa kau kemari? Prosedur hukummu masih berjalan, kan?"

Kirana mengangguk pelan. "Wijaya dan pengacaranya sedang sibuk memindahkan aset ke luar negeri. Mereka ingin meninggalkanku sebagai kambing hitam untuk kasus Yayasan. Tapi aku tidak ke sini untuk bicara soal hukum." Ia menarik napas panjang. "Aku ke sini soal Vanya."

Nadia mengerutkan kening. "Vanya? Rina bilang dia sudah pindah ke sekolah seni."

"Dia menolak bicara padaku, Nadia," suara Kirana mulai bergetar. "Setiap kali aku mencoba mendekat, dia menatapku seolah aku adalah monster. Dia bilang... dia bilang dia lebih suka hidup miskin daripada harus menjadi 'proyek' ibunya lagi. Dia bahkan mengganti nama belakangnya di akun media sosialnya."

"Bukankah itu yang kau inginkan selama ini? Agar dia punya identitas yang kuat?" Nadia bertanya, sedikit menyindir namun tetap dingin.

"Bukan seperti ini!" Kirana tiba-tiba meninggikan suara, namun segera merendahkannya lagi. "Aku melakukannya demi dia. Semua kemewahan itu, posisi itu... aku ingin dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diinjak-injak karena tidak punya apa-apa. Kau tahu bagaimana dunia ini bekerja, Nadia. Jika kau tidak punya tembok tinggi, orang akan masuk dan menjarah rumahmu."

"Dan untuk membangun tembok itu, kau menghancurkan rumah orang lain?" potong Nadia tajam. "Kau menghancurkan Aksa. Kau memfitnah anak belasan tahun hanya karena dia lebih pintar dari putrimu. Kau pikir itu perlindungan?"

Kirana menunduk, jari-jarinya yang tanpa perhiasan saling bertautan dengan gelisah. "Aku salah soal Aksa. Aku akui itu sekarang. Tapi kau... kau sangat rapi, Nadia. Bagaimana kau bisa tahu soal Vila Uluwatu? Soal Widodo Raharja?"

Nadia bersandar di kursinya, menatap Kirana dengan saksama. "Data tidak pernah berbohong, Kirana. Orang-orang yang kau sakiti cenderung meninggalkan jejak. Aku hanya mengumpulkan kepingannya. Perjanjian kerahasiaan Widodo, memo Taufik... mereka semua adalah bom waktu yang kau pasang sendiri. Aku hanya menyalakan sumbunya."

"Dan sekarang kau pemenangnya," ucap Kirana lirih.

"Tidak ada pemenang dalam perang seperti ini, Kirana. Aksa kehilangan dua tahun masa mudanya dengan label penipu. Vanya kehilangan ibunya karena ia tidak lagi bisa mempercayaimu. Dan kau? Kau kehilangan ilusi yang kau bangun seumur hidupmu."

Kirana berdiri, tampak rapuh. "Aku datang untuk meminta satu hal. Jika kau bertemu Vanya di luar sana... tolong jangan ceritakan betapa buruknya aku lebih dari yang sudah ia tahu. Aku tahu aku tidak punya hak meminta ini padamu, tapi dia satu-satunya yang tersisa."

Nadia menatap mantan musuhnya itu. Ada rasa iba yang tipis, namun ia teringat saat Aksa menangis karena beasiswanya dicabut. "Vanya anak yang cerdas, Kirana. Dia akan melihat kebenaran dengan matanya sendiri. Tugasku di sini bukan untuk meracuni pikiran anak-anak, tapi memastikan tidak ada lagi 'Kirana' lain di sekolah ini."

Kirana berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Gerbang mahoni itu... mereka akan mengecatnya kembali, Nadia. Orang-orang akan lupa. Mereka akan selalu menginginkan pemimpin yang tampak sempurna, meskipun itu palsu."

"Mungkin," jawab Nadia. "Tapi kali ini, aku yang memegang kuncinya."

Setelah Kirana pergi, ruangan itu terasa lebih luas. Nadia kembali duduk dan menatap jendela. Di bawah sana, ia melihat Aksa sedang tertawa bersama teman-temannya di lapangan basket. Itu adalah dialog paling indah yang pernah ia dengar—suara tawa anaknya yang tulus, tanpa beban dari fitnah masa lalu.

"Bu!" Aksa menyerbu masuk ke kantor Nadia sore itu, wajahnya berkeringat setelah bermain basket. "Mr. Taufik bilang aku terpilih jadi ketua tim debat untuk kompetisi bulan depan!"

Nadia tersenyum lebar, menarik beberapa lembar tisu untuk menyeka keringat putranya. "Benarkah? Wah, itu tanggung jawab besar, Aksa."

"Iya, tapi aku agak takut, Bu," Aksa duduk di sofa kecil di sudut ruangan. "Bagaimana kalau orang-orang mulai mengungkit soal... soal plagiarisme itu lagi? Meskipun namaku sudah bersih, mereka tetap ingat, kan?"

Nadia berjongkok di depan putranya, memegang kedua bahunya. "Dengarkan Ibu. Orang mungkin akan selalu ingat, tapi mereka tidak lagi punya kuasa untuk menghakimimu. Kebenaran adalah perisai paling kuat. Jika ada yang bertanya, tunjukkan pada mereka hasil kerjamu. Biarkan prestasimu yang berbicara lebih keras daripada fitnah mana pun."

"Seperti Ibu waktu melawan Ibu Kirana?" tanya Aksa dengan mata berbinar.

Nadia terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Kurang lebih begitu. Tapi Ibu ingin kau bertarung dengan cara yang lebih jujur daripada Ibu. Ibu harus masuk ke lumpur untuk menarikmu keluar, Aksa. Sekarang kau sudah di tempat yang bersih, tetaplah di sana."

"Terima kasih, Bu. Ibu pahlawanku." Aksa memeluk ibunya erat.

Nadia memejamkan mata. Di balik Gerbang Mahoni yang kini terbuka bagi siapa saja yang berprestasi, ia menyadari bahwa warisan terbaiknya bukanlah kehancuran musuhnya, melainkan keberanian putranya untuk kembali bermimpi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!