“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: SELAMAT DATANG DI PENJARA EMAS
Limosin hitam itu meluncur mulus membelah jalanan Roma yang mulai temaram oleh cahaya senja.
Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh ketegangan yang pekat.
Alesha duduk menyandar di jok kulit yang lembut, namun tubuhnya terasa sekaku batu.
Di sampingnya, Matteo Al-Ricci duduk diam, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, seakan-akan kehadiran Alesha di sana hanyalah sebuah pajangan yang tak berarti.
Alesha menghela napas panjang, mencoba membuang rasa sesak di dadanya. Ia tidak tahan dengan keheningan ini.
Baginya, keheningan adalah cara halus untuk membunuh seseorang perlahan-lahan.
"Jadi..." Alesha memulai, suaranya ceplas-ceplos memecah kesunyian.
"Limosin ini cukup bagus. Tapi jujur saja, suasananya lebih mirip ambulans jenazah daripada mobil pengantin. Kau memang selalu sedingin ini atau sedang latihan menjadi patung es?"
Matteo tidak bergerak.
Bahkan kelopak matanya tidak berkedip. Ia tetap terpaku pada pemandangan deretan pohon cemara Italia yang berkelebat di luar jendela.
Alesha mendengus, kepalanya miring menatap cadar yang masih menempel di wajahnya.
Ia meraih pinggiran kain transparan itu dan menyibakkannya ke belakang dengan gerakan kasar, seolah sedang membuang beban berat.
Ia ingin menghirup udara langsung, tanpa penghalang.
"Yah, bicara denganmu ternyata lebih sulit daripada menawar harga kain di pasar loak," gumam Alesha lagi, kali ini sambil memperhatikan kuku-kukunya.
"Dengar, Tuan Al-Ricci. Aku tahu pernikahan ini hanyalah transaksi. Tapi setidaknya beri aku sedikit hiburan. Apa kau punya hobi selain menatap jendela dan terlihat seperti malaikat maut?"
Matteo akhirnya memberikan reaksi, meskipun sangat kecil.
Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menonjol di bawah kulitnya yang pucat.
Namun, pria itu tetap tidak menoleh. Bibirnya tertutup rapat, seolah-olah berbicara dengan Alesha adalah sebuah pemborosan energi yang tidak perlu.
"Oh, jadi kau tipe pria yang hemat kata-kata? Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu takut kau akan menceramahiku sepanjang malam," Alesha mencibir.
Ia menyilangkan kakinya dengan gaya angkuh, membiarkan gaun pengantinnya yang mahal itu tersingkap sedikit.
"Tapi ingat satu hal, aku bukan tipe wanita yang bisa kau kurung dalam diam. Jika kau diam, aku akan bicara dua kali lebih banyak untuk kita berdua."
Limosin itu kemudian berbelok memasuki sebuah gerbang besi raksasa yang dihiasi ukiran naga dan mawar, lambang keluarga Al-Ricci.
Mobil melaju melewati jalan setapak yang panjang, diapit oleh taman-taman yang tertata sangat rapi namun terasa mati.
Tidak ada bunga warna-warni yang menyambut, hanya ada tanaman hijau yang kaku dan patung-patung marmer yang tampak sedih di bawah cahaya rembulan yang mulai muncul.
Begitu mobil berhenti di depan teras utama Villa, seorang pelayan pria berseragam hitam membukakan pintu.
Matteo diangkat keluar dengan prosedur yang sangat mekanis oleh para pengawalnya, lalu diletakkan kembali ke kursi rodanya.
Alesha keluar mengikuti di belakang, menatap bangunan megah di depannya.
Villa itu luar biasa. Arsitektur yang megah dengan pilar-pilar raksasa yang menjulang tinggi.
Namun bagi Alesha, bangunan itu terlihat lebih seperti benteng pertahanan daripada sebuah rumah. Dingin, sunyi, dan sangat tertutup.
Saat mereka melangkah masuk ke aula utama yang luasnya bisa digunakan untuk pertandingan bola basket, langkah kaki Alesha terhenti.
Matanya tertuju pada tumpukan koper dan beberapa tas besar yang ia kenali dengan baik.
Itu adalah barang-barangnya.
Koleksi kain desainnya, mesin jahit portabel kesayangannya, bahkan bantal kecil dari kamarnya di rumah lama.
"Tunggu dulu," Alesha berjalan mendekat ke tumpukan barang itu, wajahnya memerah karena amarah yang mulai naik ke kepala.
Ia menoleh ke arah pengawal yang sedang mendorong kursi roda Matteo.
"Kenapa barang-barangku ada di sini? Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh privasiku?!"
Matteo memberi isyarat agar kursi rodanya dihentikan.
Alesha berjalan cepat menuju Matteo, berdiri tepat di depan kursi roda itu hingga mereka beradu pandang.
"Aku bertanya padamu! Siapa yang menyuruh orang-orangmu merampok kamarku dan memindahkan semuanya ke sini tanpa izin dariku? Kau pikir aku ini paket kiriman yang bisa kau pindahkan sesukamu?!"
Suara Alesha bergema di aula yang kosong itu, memantul di dinding-dinding marmer. Ini bukan lagi soal pernikahan paksa, ini soal privasi yang dirampok.
Di dalam tas-tas itu terdapat sketsa-sketsa yang ia kerjakan dengan keringat dan air mata, rahasia-rahasia kreatif yang tidak seharusnya disentuh tangan asing.
"Jawab aku!" bentak Alesha, tangannya mengepal di samping tubuhnya.
Sifat bar-bar-nya sudah berada di puncak. Jika Matteo tidak menjawab, ia bersumpah akan menendang salah satu patung mahal di ruangan ini.
Matteo perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang berwarna kelabu gelap menatap Alesha dengan ketenangan yang mengerikan.
Tidak ada rasa bersalah, tidak ada permintaan maaf. Hanya ada otoritas yang mutlak.
"Kau adalah milikku sekarang, Alesha," suara Matteo rendah, hampir berbisik, namun getarannya terasa hingga ke tulang belakang Alesha.
"Apapun yang kau miliki, di manapun kau berada, itu adalah keputusanku. Kau tidak lagi memiliki izin untuk memiliki privasi di bawah atap ini."
Alesha tertawa getir, tawa yang penuh penghinaan.
"Milikmu? Kau pikir kau sedang membeli budak? Aku punya nama, aku punya kehidupan, dan aku bukan salah satu dari patung-patung matimu ini!"
Alesha melangkah lebih dekat, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Matteo. Ia bisa mencium aroma kayu cendana yang sama seperti di gereja tadi, tapi kali ini terasa lebih menyesakkan.
"Dengar ya, Tuan Besar. Aku mungkin terikat kontrak pernikahan denganmu, tapi jiwa dan barang-barangku bukan bagian dari kesepakatan itu. Jangan pernah sekali lagi menyentuh milikku tanpa izin, atau kau akan tahu bagaimana rasanya melihat rumah megahmu ini berubah menjadi tumpukan kain perca."
Matteo menatap Alesha dalam diam selama beberapa detik yang terasa sangat lama.
Sudut bibirnya berkedut sedikit, bukan sebuah senyuman, melainkan ekspresi geli yang sangat tipis melihat keberanian wanita di depannya.
"Kau bicara terlalu banyak," ucap Matteo datar.
Ia kemudian memberi kode kepada pengawalnya untuk mendorongnya menuju lift pribadi di sudut ruangan.
Namun, tepat sebelum pintu lift terbuka, Matteo menyuruh mereka berhenti sekali lagi.
Ia menoleh sedikit, memberikan profil samping wajahnya yang terlihat setajam pahatan batu.
"Simpan energimu untuk berteriak nanti, Alesha," ucap Matteo tanpa ekspresi.
"Karena di rumah ini, sekeras apapun kau berteriak, suaramu tidak akan pernah ada yang mendengar. Kau berada di wilayahku sekarang. Dan di sini, hanya ada satu hukum yaitu kepatuhan."
Pintu lift tertutup dengan dentingan halus, meninggalkan Alesha berdiri sendirian di tengah aula yang dingin dan luas.
Ia menatap koper-kopernya yang tergeletak seperti barang rongsokan.
Alesha mengepalkan tangannya.
"Kita lihat saja nanti, Matteo," gumamnya pada udara kosong.
"Kau mungkin penguasa di sini, tapi kau belum pernah bertemu dengan badai yang tidak bisa kau jinakkan."
Alesha berbalik, menendang salah satu koper besarnya hingga tergeser beberapa sentimeter, lalu berjalan dengan langkah tegas menuju tangga.
Selamat datang di penjara emas, batinnya. Tapi penjara ini tidak tahu bahwa mereka baru saja mengurung seekor harimau yang siap merobek jerujinya.