NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGERAN YANG SYUTING MIKRODRAMA

Dunia masih terasa miring.

Eng Sok duduk bersandar di batang pohon Tabebuya, daun-daun kuning berguguran di sekelilingnya. Udara di sini berbeda—tipis, tapi bersih. Tidak ada aroma dupa atau wewangian krisan yang biasa membakar di istana. Yang ada hanyalah bau aspal panas dan sesuatu yang asing, seperti logam berjalan.

Ia mengikuti petunjuk pria melayang itu.

Ambil tas di bawah pohon.

Tas kulit kecil dengan tali putus. Ia buka gespernya dengan jari-jari yang masih gemetar. Isinya: beberapa lembaran persegi panjang berwarna-warni dengan angka-angka aneh. Uang? Bentuknya berbeda, tapi instingnya mengatakan itu alat tukar. Kemudian sebuah kartu tipis dengan potret wajah—wajahnya. Yang di foto rambutnya pendek. Sioh Bu. Lalu selembar kertas terlipat dengan tulisan:

Nama: Kok Sioh Bu

Pekerjaan: Artis figuran

Alamat: Gang Ang Hoe No. 12, Chhai Lian Hoe Po

Sebagian aksara ia kenal. Sebagian lagi bisa ditebak.

Tapi ada beberapa kata yang membuat alisnya berkerut. "HP"? "Sosmed"? "Kamera ponsel"?

"Kamu pasti bingung."

Eng Sok mendongak. Pria melayang itu kini duduk di udara—tidak di tanah, tidak di dahan, tapi melayang persis di depannya. Wajah mereka berhadap-hadapan seperti bercermin.

"Aku Kok Sioh Bu," kata pria itu pelan. "Korban kecelakaan kereta."

Sioh Bu mengulurkan tangan tembus pandangnya. Ujung jari arwah itu menyentuh dahi Eng Sok.

Dan dunia meledak.

---

Bukan ledakan api. Tapi ledakan ingatan.

Eng Sok melihat seorang anak laki-laki berlari di antara gang sempit. Mendengar suara ibu yang memanggil dengan lembut: "Ah Bu... Ah Bu... jangan jauh-jauh." Melihat adik kecil yang menangis minta dibelikan es krim.

Dia merasakan lapar. Bukan lapar biasa—tapi lapar yang membuat perut terasa seperti diikat kencang. Lapar yang sudah menjadi teman tidur bertahun-tahun. Dia merasakan kepedihan menahan malu saat ditolak di puluhan casting. Merasakan getir saat bayaran figuran habis untuk biaya obat ibu.

Kanker.

Kata itu muncul dalam memorinya dengan rasa pahit di lidah.

Mata Eng Sok terpejam. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol. Tangannya mengepal, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Gemetar. Seluruh tubuhnya bergetar seperti daun tertiup angin topan.

Sioh Bu tidak pernah mengenal manja. Ayahnya pergi ketika Ah Ti (adik laki-laki) dia masih kelas 3 SD. Ah Me (ibu) dia, membanting tulang menjadi buruh cuci di samping karyawati. Sioh Bu nyaris nggak kuliah. Untungnya wajah tampan warisan keluarga Kok menyelamatkan dirinya dan adiknya dari putus sekolah. Dia jadi model kecil untuk macam-macam pemotretan. Mulai dari flyer, studio foto, dan lainnya. Itu yang membuat dia selesai kuliah dan adiknya masih sekolah. Setelah kuliah di Liong Hok Star Academy, dia berharap akan banyak tawaran syuting dan jadi artis besar. Tapi sudah 6 tahun ini cuma jadi figuran atau model kecil. Kadang difoto untuk ucapan Selamat Imlek. Dan ia bersyukur karena Ah Kong dia sempat ajari dia main Kochin (Bahasa Mandarinnya Guqin alat musik kecapi meja) dan Jio (Bahasa Mandarinnya Erhu, alat musik gesek) jadi dia bisa ikut konser kecil-kecilan jadi pemusik kalo ada even budaya hari jadi Cia Agung atau Imlek. 

Untung terakhir musim Mikrodrama dan dia jadi banjir tawaran.

Tapi figuran dibayar kecil. Sangat kecil. Tidak cukup untuk tambahan obat. Untung ada bantuan asuransi kesehatan negara. Jadi, Ah Me (Mama) dia bisa diberi kemoterapi walaupun transportasi dan nutrisi tentu harus ia usahakan.

 Sebenarnya dia merasa gak enak udah sebulan. Ya, sebulan itu Sioh Bu diikuti cahaya. Sebagai mantan Tatung dia akhirnya sadar kalau waktu dia sudah habis. Akhirnya dia puasa. Dia tidur di kasur yang ditebari kelopak Krisan. Konon katanya Thien akan mendengarkan doanya. Ia berdoa agar jika dia diambil dari dunia, ada yang jaga Ah Ti sampai bisa kerja. Ada yang jaga Ah Me. Permohonan sederhana dari pemuda yang lelah.

Hari naas itu pun datang dia berangkat syuting. Pengendara motor mabuk dikejar polisi dan menabraknya sampai melewati palang kereta. Kereta super cepat lewat dan ia hanya jadi cerita. Untung Thien berbaik hati. Tabrakan membuat tas dia putus dan semua barang dia ada dalam tas. Termasuk HP.

Eng Sok membuka matanya.

Mulutnya terbuka lebar, terengah-engah, menyedot udara dari hidung dan mulut sekaligus, seperti orang yang baru sadar dari tenggelam. Dadanya naik turun cepat. Ia mencoba meditasi—teknik yang diajarkan gurunya di istana dulu, untuk menenangkan hati sebelum pertempuran.

Tarik. Buang. Tarik. Buang.

Tiga siklus. Baru terasa sedikit mereda.

Dan kemudian—

Trengg... trengg... trengg...

Sebuah benda persegi panjang di dalam tas itu bergetar sambil mengeluarkan suara aneh. Eng Sok hampir melemparkannya. Tapi tangan Sioh Bu melayang menahannya.

"Itu HP. Angkat."

Dengan canggung, Eng Sok mengusap layar seperti yang terlihat dalam memori Sioh Bu. Ponsel butut—layar retak di pojok kanan, casingnya sudah mengelupas.

"Hoe! Ah Bu-A... Lu orang jadi datang gak sih? Ini lu telat gaji kita telat haiyaaaaahhh!"

Suara pria paruh bau, logat campuran Hokkien dan Indonesia. Eng Sok memejamkan mata, menyelam ke dalam memori Sioh Bu.

Toian Hoan. Sutradara keliling. Gampang marah tapi baik hati. Suka ngutangin gaji buat figuran yang lagi kere.

"Bilang lu diserempet motor di perlintasan kereta!" bisik Sioh Bu di sampingnya.

Eng Sok mengangkat ponsel ke telinga. "Maaf, Toian. Hamba... eh, maksudku saya... di... diserempet kuda besi eh salah... motor."

Keheningan di seberang.

"Lu mabok, Ah Bu-A? Kuda besi apaan? Ya udah buruan ke studio! Adegan lu jam satu siang!"

Tut.

Eng Sok menatap ponsel dengan perasaan campur aduk. Di zaman kerajaan dulu, alat komunikasi secepat ini hanya mimpi. Kini ia memegangnya di telapak tangan.

"Kamu kaku banget," Sioh Bu menghela napas. "Udah, ikut aku. Naik bus."

---

Bus itu penuh.

Eng Sok duduk di kursi belakang sementara Sioh Bu melayang di sampingnya, tak terlihat oleh mata manusia lain. Pangeran itu memandang keluar jendela, mencerna dunia baru dengan matanya sendiri.

Gedung-gedung menjulang. Neon berwarna-warni. Manusia berkerumun di trotoar dengan pakaian yang memperlihatkan betis dan lengan—pemandangan yang dulu hanya ia lihat di kamar mandi istri. Sekarang di sini, itu biasa.

"Turun."

Sioh Bu menarik tangannya—meski arwah tidak bisa menyentuh fisik, Eng Sok merasakan dorongan dingin di pergelangan tangannya. Mereka turun di depan gang sempit. Papan bertuliskan: GANG LIAN HOE No. 6-14. STUDIO KREATIF "HOK LAN THIEN".

Di sinilah Sioh Bu mencari nafkah main Mikrodrama dari set ke set lain. Menghafalkan naskah lalu action. Dibayar harian terus pulang bawa sedikit uang.

"Rambutmu acak-acakan, pas ini soalnya di naskah memang acak-acakan," kata Sioh Bu sambil menunjuk. "Tapi mukamu terlalu … polos… Biar nanti Ah Oan yang benahin."

---

Studio itu terasa seperti dunia kecil yang hiruk-pikuk.

Kabel-kabel menjuntai di langit-langit. Lampu raksasa menyorot ke panggung kayu berbentuk singgasana. Orang-orang bolak-balik membawa papan tulis dan benda-benda aneh yang dalam memori Sioh Bu disebut klip.

"Ah Bu-A! Lu dari mana aja?!"

Seorang pria dengan riasan tebal—pipi dipulas merah, alis dicukur tipis—berlari kecil menghampiri Eng Sok. Tangannya yang bersih langsung meraih dagu Eng Sok, memiringkan wajahnya ke kiri dan kanan.

"Wah, kok lu dah pake wig aja sih, Ah Bu-A? Bagus tuh, hemat waktu!"

Ah Oan. MUA—Make Up Artist. Pria berjiwa wanita. Sahabat Sioh Bu yang paling setia di lingkungan studio.

Eng Sok belum sempat menjawab ketika suara berat terdengar dari balik kamera.

"AH BU!"

Toian Hoan. Wajahnya bulat dengan kumis tipis. Di tangannya, gulungan kertas—naskah.

Toian itu melongo.

Matanya membulat melihat Eng Sok. Bukan hanya rambutnya yang panjang, tapi sesuatu yang lain. Sorot matanya. Ada wibawa di sana, seolah pria figuran kecil di depannya ini bukanlah Sioh Bu yang biasa ia kenal.

"Perfect!" seru Toian Hoan tiba-tiba. Ia melepas kacamata hitamnya. "Dandan sendiri lu dari rumah? Bagus, Ah Bu-A. Bagus! Naskah lu baca? Adegan ke-7, eksekusi. Ingat, lu antagonis ya kali ini."

"Minta naskah," bisik Sioh Bu. "Bilang naskah lu rusak digilas motor."

Eng Sok menyatukan kedua tangan, membungkuk hormat—gerakan yang begitu alami baginya. "Mohon maaf, Toian. Naskah hamba raib. Akibat kecelakaan..."

Toian Hoan mengerjap. Tangannya gemetar mengambil naskah. Dia merasa jadi pejabat yang disembah orang berwibawa. "Iya? Ya udah, nih naskah baru. Lu ada luka parah?", tanyanya. Jakun Toian Hoan naik turun.

Pangeran itu menggeleng. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tangannya menerima jilidan buku lalu…. “Kisah Koh Eng Sok: Bunga Negara”. Begitu judul Mikrodrama itu.

Mata Eng Sok membaca baris demi baris.

Monarki Cia Agung.

Ia tersentak.

Bukan Cia Agung yang ia kenal—yang rajanya berkuasa mutlak atas sembilan benua. Ini Cia Agung yang aneh. Ada yang disebut "senat". Ada "perdana menteri" yang dipilih rakyat. Kaisar hanya jadi lambang.

Sudah modern.

Dan tempat ia berpijak sekarang, dalam naskah itu, disebut sebagai Chhai Lian Hoe Po.

Nama yang sama. Tanah yang sama. Tapi sekarang menjadi lokasi syuting drama kostum, karena daerah ini terkenal dengan kebun herbalnya yang asri.

Air mata Eng Sok jatuh.

Toian bilang,”halaman 49! Cepat… jangan kelamaan liat depannya!”

Pangeran menurut saja. Membuka halaman 49 dan membaca naskah terbata-bata. Menyesuaikan aksara. Ia tidak menyadarinya. Tapi tetes demi tetes mulai membasahi kertas naskah. Bukan sedih. Bukan marah. Tapi sesuatu yang campur aduk—rindu, sakit hati, dan kesadaran bahwa masa lalunya ternyata sampai saat ini diingat di Cia Agung. Bahwa Kok Leng Tiat sampai hari ini dijadikan musuh bersama bahkan setelah seribu lima ratus tahun lebih berlalu. 

Toian Hoan melihatnya diam. Lalu, dengan gerakan canggung, ia menyodorkan selembar tisu.

"Ya udah, jangan nangis, Bu. Ntar bedak lo luntur."

---

"Koko... Cici..." Eng Sok terbata memutuskan panggilan yang pas untuk Ah Oan.

"Cici Ah Oan, ganteng!" Ah Oan tertawa, mengacak rambut Eng Sok. "Biasanya lu gampang inget. Moga-moga cepet sembuh ya. Nih, minum dulu nanti touch up sama Cici."

Pangeran itu duduk di kursi rias. Ah Oan mulai menggoreskan pensil alis di wajahnya—tapi tiba-tiba berhenti.

"Eh, ini alis lu kok model begini? Tajam amat, kayak pangeran sungguhan. Tapi ga usah touch up lah. Bagus."

Eng Sok tidak menjawab.

Ah Oan mengangkat bahu. Mengoleskan  BB cream biar hemat bedak dan foundation. Ia melanjutkan: eyeliner hitam, maskara, lalu lipstik warna cokelat kehitaman. Eng Sok menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut panjangnya yang basah keringatan, wajahnya yang pucat dipertegas riasan gelap.

Ia terlihat seperti antagonis.

Ia terlihat seperti Leng Tiat— bahkan agak lebih jahat karena lipstik sekarang pigmented sekali.

Tangannya mengepal.

"Toian," kata Eng Sok pelan. "Boleh gak gua pinjam cincin banyak kalo ada?"

Toian Hoan menyipit. "Buat apa?"

"Biar keliatan makin jahat." Eng Sok menatap matanya sendiri di cermin. "Pokoknya karakter ini mesti hidup. Sedingin mungkin."

Toian manggut-manggut. Berkedip ke Ah Oan, yang langsung tergopoh-gopoh mengambil kotak perhiasan palsu. Eng Sok memilih cincin ukir naga. Semua jarinya diberi cincin. Pelindung jari. Anting palsu. Ketika berdiri, ia tampak seperti kultivator iblis dari legenda kuno.

Sioh Bu melayang di sampingnya, turun naik seperti orang gelisah. "Lu... lu... kan dari proses tukeran memori tadi..."

"Thiam lo. (Diam kau!)”

Suara Eng Sok keluar berat, seperti dari dasar sumur kering. Matanya nyaris kosong, bibirnya miring membentuk senyum yang tidak hangat.

Sioh Bu terdiam.

Eng Sok diarahkan asisten untuk duduk di Tahta dengan gaya tertentu. Setelah diberi kode, dia sedikit improvisasi. Di luar dugaan, Sutradara malah suka improvisasi ini. Dia terlihat seperti… musuh masyarakat.

---

"Siap... Action!"

Eng Sok duduk di singgasana.

Ia tidak perlu berakting. Ia mengingat. Tiga hari lalu, Leng Tiat duduk di kursi ini dengan senyum datar yang sama.

"Tidak mau harta, tidak mau wanita, pasti kamu mau takhta!" kata Eng Sok.

Ia memiringkan wajahnya.

Kameramen yang berada di balik lensa tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri. Tatapan itu—seolah menembus kamera, menembus layar, menembus waktu dan ruang. Seolah-olah karakter antagonis itu benar-benar hidup dan siap membunuh.

Lawan mainnya—aktor pemeran Eng Sok dalam naskah itu—gemetar. Bukan akting. Gemetar betulan.

"Anggur itu kutitipkan khusus!" Eng Sok berdiri. Ia mempermainkan plakat hukuman di tangannya, menjilatnya sedikit, menggigitnya. "Racun dari akar bunga krisan—campurannya kutambah sedikit Leng Tiat asli." Ia diam. Diam yang pas sampai ada beberapa figuran pingsan ketakutan melihat adegan itu. Sutradara tidak cut. Karena sangat ciamik di frame.

Ia tersenyum.

Tapi senyum itu tidak sampai ke mata.

"Hati-hati, sepupuku. Rasa anggur ini dingin seperti besi. Tapi panas di kerongkongan."

Aktor-aktor lawan mainnya mundur selangkah. Tangannya gemetar hebat. Studio itu, di matanya, berubah menjadi alun-alun. Bukan studio. Tapi tempat eksekusi. Api membayang di sekelilingnya. Ia benar-benar merasakan ketakutan.

Toian Hoan tidak berani memotong.

Adegan terus berjalan. Setiap dialog Eng Sok improvisasi—sedikit berbeda dari naskah, tapi lebih hidup. Lebih mengerikan. Ketika dialog "selamat berpisah" tiba, Eng Sok berdiri, membalikkan badan, lalu menoleh ke belakang dengan satu mata menyipit.

"Sampai ketemu di neraka. Hahahahaha."

Tawanya mengerikan, bergema. Apalagi tangannya diangkat satu seperti setan siap mengambil jantung tumbalnya. Sampai aktor-aktor lain berkeringat dingin termasuk yang masih dirias untuk set adegan berikutnya. Kameramen gemetar dan lupa mematikan kamera sampai Eng Sok sudah lima menit meninggalkan frame, baru mereka ada tenaga mematikan kamera.

“Cut!”– cut yang telat 5 menit

Keheningan.

BERSAMBUNG 

Apakah Pangeran akan ketahuan?

Bagaimana nasibnya saat ketahuan?

🪷👩‍❤️‍👨💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!