Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.
Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."
Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.
Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKATAN TANPA RASA
Pesta pernikahan Serena dan Aryo digelar dengan begitu megah dan mewah di salah satu hotel bintang lima paling elite di ibu kota. Hari itu, Serena tampil bak ratu semalam yang sangat cantik dan berkharisma, sementara Aryo berdiri di sampingnya dengan senyum kemenangan yang tak pernah luntur dari bibirnya. Di sudut ruangan, di antara ratusan tamu undangan kelas atas, Winda berdiri mengenakan seragam gaun pendamping pengantin. Ia bertepuk tangan, tersenget tersenyum lebar hingga matanya menyipit, menyembunyikan sisa-sisa remukan hatinya yang kini sudah sepenuhnya ia ikhlaskan. Demi Serena, Winda rela melepas mimpinya.
Namun, roda takdir berputar terlalu cepat, kejam, dan tak tertebak. Hanya berselang dua bulan sejak hari bahagia Serena dan Aryo, kini justru giliran Winda yang harus mengenakan kebaya pengantin.
Bukan karena pinangan lelaki idaman yang mencintainya, melainkan karena sebuah perintah mutlak yang tak bisa diganggu gugat dari sang ayah. Pak Hendra, dengan segala rasa hormat, rasa utang budi, dan loyalitasnya yang teramat besar pada keluarga Wijaya, menjodohkan Winda dengan seorang manajer dari perusahaan rekanan utama Bapak Rudi Wijaya. Pria itu bernama Baskara.
"Ini semua demi kebaikan masa depanmu, Winda. Pak Rudi sendiri yang menjamin bobot, bibit, dan bebet Baskara. Keluarga kita utang budi terlalu banyak pada beliau, kita tidak bisa menolak," ucapan Ayah malam itu di meja makan langsung mengunci seluruh bantahan dan tangisan yang sempat ingin Winda suarakan. Sebagai anak yang berbakti dan tahu diri, Winda akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah menerima takdirnya.
Di sisi lain, Baskara pun setali tiga uang. Cowok berkulit hitam manis dengan garis wajah tegas, mata elang, dan rahang kokoh itu menerima pernikahan ini sama sekali bukan karena cinta. Sebagai seorang manajer muda yang ambisius di perusahaannya, Baskara terpaksa menelan egonya dan menerima perjodohan ini demi memastikan perusahaan tempatnya bernaung bisa bersahabat baik dan mengunci kontrak kerja sama jangka panjang dengan Bapak Rudi Wijaya. Pernikahan ini, bagi Baskara, tak lebih dari sebuah kesepakatan bisnis di atas kertas yang kebetulan disahkan oleh penghulu.
Hari pernikahan itu akhirnya tiba dengan konsep yang sangat sederhana, berbanding terbalik 180 derajat dengan kemegahan pesta Serena dua bulan lalu. Saat prosesi ijab kabul selesai dan Baskara menyematkan cincin ke jari manis Winda, tidak ada binar bahagia sedikit pun di sepasang mata elang pria itu. Tatapannya dingin, sedingin es di kutub, meskipun ia tetap memaksakan diri bersikap sopan dan tersenyum tipis di depan para tetua dan tamu yang hadir.
Bulan-bulan pertama pernikahan mereka, semuanya tampak berjalan baik-baik saja di permukaan. Mereka tinggal di sebuah rumah minimalis yang rapi dibelikan oleh mertua. Winda mencoba menjalankan perannya sebagai istri yang baik dengan sebaik mungkin. Di awal-awal pernikahan, Baskara masih menampilkan sifat seorang suami yang manis dan tahu tata krama; menegur Winda dengan sopan, dan sesekali mengajaknya mengobrol formal di meja makan saat sarapan pagi. Winda sempat berpikir optimis, mungkin pelan-pelan mereka bisa membangun rasa cinta dari nol.
Namun, topeng kesopanan itu lama-kelamaan mulai mengikis dan hancur.
Seiring berjalannya waktu, Baskara mulai menunjukkan sifat aslinya yang teramat cuek dan tidak acuh. Pria hitam manis itu berubah menjadi sosok yang sangat dingin. Dia memperlakukan rumah tak lebih dari sekadar tempat menumpang tidur dan mandi. Pertanyaan-pertanyaan perhatian dari Winda hanya dijawab dengan dehaman pendek tanpa menoleh, tatapan matanya selalu beralih ke layar ponselnya, dan yang paling membuat dada Winda sesak, Baskara mulai sering pulang larut malam dengan alasan rentetan pekerjaan kantor yang seolah tak ada habisnya.
Awalnya Winda sering mencoba menasihati, menyuruhnya beristirahat, atau sekadar bertanya apakah suaminya itu sudah makan malam. Namun, respons Baskara selalu sama: dingin, ketus, dan mengabaikan keberadaannya. Karena sudah bosan dan lelah emosinya berujung pada keheningan rumah yang menyakitkan, Winda akhirnya memilih untuk diam. Dia tidak lagi menghiraukan jam berapa suaminya pulang atau seberapa dingin sikap pria itu saat berada di dalam rumah. Winda mematikan seluruh ekspektasinya tentang pernikahan bahagia, persis seperti yang ia lakukan pada Aryo dulu.
Meski hatinya pelan-pelan mulai mengering dan hancur, Winda tetaplah perempuan yang dididik untuk selalu berbakti. Setiap pagi, tanpa pernah absen satu hari pun, Winda selalu menyiapkan kotak bekal makan siang untuk Baskara sebelum suaminya itu berangkat kerja. Ia menata nasi dan lauk-pauknya dengan sangat rapi, sebuah bentuk perhatian terakhir yang masih bisa ia berikan sebagai seorang istri yang tak dianggap ada.
Hingga pada suatu pagi yang mendung, rutinitas itu mendadak terusik. Baskara berangkat terburu-buru karena ada rapat penting pagi hari, membuat kotak bekal yang sudah disiapkan Winda dengan susah payah tertinggal begitu saja di atas meja makan.
Winda menatap kotak bekal itu dengan helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan batin. Setelah menimbang-nimbang sejenak di depan pintu, ia akhirnya memutuskan untuk mengantarkannya langsung ke kantor Baskara sebelum jam makan siang tiba. Winda tidak pernah tahu, bahwa langkah kakinya menuju kantor suaminya hari itu, justru akan membuka kotak pandora yang menyimpan rasa sakit yang jauh lebih hebat dari apa yang pernah ia bayangkan selama hidupnya.