Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Racau Malam di Balik Botol Alkohol
Mireya menatap nanar sisa bubur gandum di atas meja nakas. Pintu kamar baru saja tertutup setelah Bi Ani membawa nampan itu keluar. Kamar utama mansion terasa begitu luas dan dingin. Ia meraba benang sulam di pangkuannya, lalu menghela napas panjang.
"Urusan bisnis mendesak," gumam Mireya lirih, mengulang alasan yang diberikan Bi Ani tadi.
Ada rasa lega karena tidak harus menghadapi tatapan intimidasi Calix malam ini. Namun, keheningan kamar ini mendadak terasa asing dan mencekik.
...****************...
Duar! Musik berdentum rendah di ruang VIP. Calix menenggak gelas alkohol ketiganya dalam sekali teguk, lalu membantingnya ke meja kaca. Rahangnya mengatup rapat.
"Hei, Bro! Santai sedikit," seloroh Deo sambil menuangkan kembali minuman. "Kamu minum seperti orang dikejar setan utang. Ada masalah apa? Proyek pelabuhan utara gagal?"
"Bukan soal proyek," dengus Calix sinis. "Urusan kantor semuanya sempurna."
Deo menopang dagu, tersenyum usil. "Kalau bukan uang, berarti wanita. Jangan katakan ini tentang gadis desa yang rahimnya kamu sewa itu? Siapa namanya... Mireya?"
Gerakan tangan Calix terhenti di udara. Ia mengembuskan napas kasar, lalu menggeram rendah, "Aku merasa diriku mulai tidak waras, Deo. Gadis itu... dia aneh. Dia membuatku frustrasi."
"Aneh bagaimana? Bukankah dari awal dia menentangmu? Bukankah itu yang membuatmu tertarik menjinakkannya?"
"Itu dia masalahnya!" Calix memajukan tubuhnya, matanya sayu namun sarat frustrasi. "Sekarang dia tidak lagi menentangku. Sejak neneknya meninggal kemarin, dia berubah menjadi sangat penurut. Dia bilang dia siap menyerahkan tubuhnya kapan saja, memuaskan hasratku sepuasnya, bahkan jika harus mati menahan perih pun dia tidak peduli. Dia pasrah sepasrah-pasrahnya!"
Deo menaikkan sebelah alis. "Lho? Bukankah itu bagus untukmu? Tugasmu menanam benih jadi lebih mudah, kan? Tidak perlu repot bertengkar lagi tiap malam."
"Kelihatannya memang begitu!" Calix mencengkeram rambutnya sendiri, dadanya naik turun menahan sesak. "Tapi sialnya... kenapa setiap kali dia menatapku dengan pandangan dingin dan pasrah seperti itu, hatiku rasanya sakit sekali? Mengapa perihnya jauh lebih menyiksa daripada saat dia memaki atau meneriakiku monster?!"
Deo terdiam sesaat, menatap kerapuhan sahabatnya yang terkenal berhati batu. Sebuah senyuman penuh arti terukir di wajahnya. Ia menepuk bahu Calix.
"Calix, sadar tidak apa yang sedang terjadi pada dirimu sekarang?"
"Apa?" tanya Calix ketus.
"Kamu... sepertinya mulai jatuh cinta pada istri bayaranmu sendiri."
Calix tertegun, lalu meledak dalam tawa sinis yang hambar. "Jatuh cinta? Hahaha! Jangan bercanda, Deo! Aku? Jatuh cinta pada gadis desa yang kubeli rahimnya seharga lima puluh miliar? Itu tidak mungkin! Aku hanya mencemaskan kualitas asetku, tidak lebih!"
"Terserah apa katamu. Tapi matamu tidak bisa berbohong," sahut Deo tenang sambil menggelengkan kepala.
Satu jam berlalu. Calix sudah mabuk berat dan meracau di sofa. "Mireya... kenapa kamu dingin sekali... Mireya..."
Deo menghela napas, lalu mengambil ponsel Calix di meja dan mencari kontak Mireya.
...****************...
Bzzzt... Bzzzt... Di mansion, Mireya mengernyit melihat ponselnya bergetar. Ia menggeser layar. Suara musik berisik langsung menyergap telinganya.
"Halo, Nyonya Mireya? Saya Deo, sahabat Calix."
"Ya, Tuan Deo? Ada apa?"
"Bisa Anda datang ke kelab tempat biasa Calix nongkrong sekarang? Suami Anda mabuk berat, Nyonya. Dia terus meracau memanggil nama Anda dan menolak pulang jika bukan Anda yang menjemputnya."
Mireya terdiam, menatap selendang rajut di pangkuannya. "Tapi... saya tidak tahu jalannya."
"Jangan cemas, Doni—asisten pribadinya—sudah di depan mansion sekarang untuk mengantar Anda. Tolong bantuannya ya, Nyonya."
Klik. Telepon diputus sepihak.
...****************...
Tiga puluh menit kemudian, pintu ruang VIP terbuka. Bau alkohol menyengat hidung Mireya. Doni melangkah maju mendekati Calix yang kemejanya sudah acak-acakan.
"Tuan Besar, mari saya bantu berdiri," ucap Doni, mencoba merangkul bahu bosnya.
"Pergi! Jangan sentuh aku!" Calix menepis tangan Doni dengan kasar hingga hampir limbung. "Aku tidak mau pulang denganmu, Doni!"
Mireya menghela napas, melangkah mendekat hingga bayangannya jatuh di depan Calix. "Calix, ini aku. Ayo pulang."
Fokus mata elang Calix yang sayu langsung terkunci pada wajah Mireya. Tanpa diduga, Calix merangkak maju, menjatuhkan tubuhnya, dan memeluk pinggang Mireya dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di perut Mireya.
"Mireya... kamu datang..." gumam Calix serak dan posesif.
Mireya tersentak, tubuhnya kaku di hadapan Deo dan Doni. "Calix, lepaskan... berat. Ayo berdiri, kita ke mobil."
"Tidak mau! Aku tidak mau berdiri kalau bukan kamu yang merangkulku!" racau Calix seperti anak kecil yang merajuk.
Dengan susah payah, Calix akhirnya berhasil dituntun ke kursi belakang mobil. Begitu pintu tertutup, Calix langsung merebahkan kepalanya di paha Mireya, memeluk pinggangnya erat-erat, dan menenggelamkan wajahnya di perut gadis itu.
"Calix, jangan begini... lepaskan," bisik Mireya, mencoba mendorong bahu Calix.
"Jangan bergerak, Mireya... tetap seperti ini," gumam Calix rapuh. Ia mendongak, menatap Mireya dengan mata berkabut alkohol. "Kenapa kamu sekarang dingin sekali padaku, hah? Kenapa kamu tidak mau marah lagi padaku? Sikap dinginmu itu... Malah membuatku sakit sekali di sini..."
Calix menarik tangan Mireya, menempelkannya tepat di atas dadanya yang berdegup kencang. Mireya tertegun, lidahnya mendadak kelu.
"Usap kepalaku, Mireya... kumohon," racau Calix lagi dengan nada manja yang genit. "Usap kepalaku seperti yang biasa dilakukan nenekmu padamu dulu..."
Mireya menghela napas panjang. Hatinya melunak. Dengan ragu, jemari lentiknya mulai bergerak mengusap lembut rambut hitam Calix. Calix tersenyum tipis dalam mabuknya, mempererat pelukan, lalu mulai mengecupi perut Mireya berkali-kali di balik kain baju.
"Melahirkan anakku... tetaplah di sampingku, Mireya," bisik Calix serak, matanya mulai terpejam sepenuhnya. "Jangan pernah berpikir untuk pergi... aku tidak akan membiarkanmu pergi... Jangan tinggalkan aku..." bisik Calix serak, sebelum akhirnya mata elang itu terpejam sepenuhnya, tertidur lelap di atas pangkuan Mireya dengan posisi memeluk erat masa depan yang tanpa ia sadari telah mencuri seluruh hatinya. Mireya hanya bisa terdiam menatap keluar jendela, membiarkan jemarinya terus mengusap rambut pria yang baru saja mengunci takdir mereka dalam dekapan malam yang rancu.
semangat terus ya Thor...