NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 02: BATAS SABAR REVAN

BAB 02: BATAS SABAR REVAN

Suara bising knalpot motor saling bersahutan di area parkir belakang warung kelontong dekat sekolah. Revanza berdiri bersandarkan motor matic-nya yang lecet, membiarkan rona merah dan lebam di pipinya akibat hantaman bogem mentah tadi siang menjadi tontonan teman-temannya. Ia baru saja terlibat perkelahian hebat dengan siswa dari sekolah sebelah hanya karena masalah sepele: tatapan mata yang menantang di persimpangan jalan.

Bagi Revan, rasa sakit fisik setelah baku hantam adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa dirinya masih bernyawa. Di luar rumah, ia adalah singa yang ditakuti dan disegani. Namun di dalam rumah, ia tak lebih dari sekadar pajangan berdebu yang tak kasat mata.

"Gila, Van. Lo nekat banget tadi. Si Danu anak SMA sebelah sampai babak belur," ucap Miko, salah satu teman nongkrongnya, sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin.

Revan menerima botol itu, meneguknya kasar hingga airnya membasahi dagu dan kerah seragamnya yang sudah kusut. "Dia yang cari gara-gara duluan. Lo tahu sendiri gue gak suka diinjak."

"Tapi, Van, lo gak takut dipanggil ke ruang BK? Kepala sekolah kita kan sensitif banget sama kasus perkelahian. Pasti orang tua lo bakal dipanggil besok," timpal teman yang lain dengan wajah cemas, membayangkan amukan orang tua mereka jika berada di posisi Revan.

Mendengar kata 'orang tua', Revan justru tersenyum sinis. Bukannya takut, di dalam hati kecilnya yang paling dalam, ada setitik harapan yang egois dan kekanak-kanakan.

 Baguslah, pikirnya pahit. Kalau Ibu dipanggil ke sekolah, Ibu terpaksa harus mengalihkan pandangannya dari Kak Arka dan datang demi gue. Biar Ibu tahu kalau gue juga butuh diurus.

Namun, ekspektasi Revan malam itu langsung hancur berkeping-keping. Sebuah surat panggilan dari pihak sekolah tergeletak mengenaskan di atas meja ruang tamu. Ibu duduk di hadapan surat itu dengan wajah yang tampak luar biasa lelah. Kantung matanya menghitam, menandakan wanita paruh baya itu kurang tidur selama beberapa hari terakhir—yang Revan yakini pasti karena Ibu terlalu sibuk menemani Arka belajar semalaman untuk olimpiade sainsnya.

"Apa lagi ini, Revan?" tanya Ibu. Suaranya terdengar bergetar, bukan karena marah yang meledak-ledak, melainkan karena rasa frustrasi yang teramat sangat. "Ibu capek-capek cari uang, banting tulang bareng Ayah buat biaya sekolah kamu, tapi ini balasan kamu? Berantem lagi? Kamu mau jadi preman?"

Revan berdiri di ambang pintu ruang tamu, menatap Ibunya dengan pandangan menantang yang dingin. "Revan gak nyari masalah, Bu. Cuma bela diri karena mereka yang mulai."

"Bela diri sampai bikin anak orang masuk klinik?!" suara Ibu meninggi, bergema di ruang tamu yang sunyi. "Kenapa kamu gak bisa sekali aja meniru Abangmu, Revan? Arka selalu juara kelas, gak pernah bikin masalah, selalu bikin Ibu bangga. Kenapa kamu malah sebaliknya?! Kamu gak mikir apa, Abangmu besok mau ujian besar, jangan bikin rumah ini jadi kacau dengan kelakuan kamu!"

Kalimat itu. Lagi-lagi kalimat pembanding itu keluar dari mulut Ibunya, seolah-olah Arka adalah standar manusia sempurna dan Revan adalah produk gagal. Dada Revan seketika bergemuruh hebat, rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata.

"Oh, jadi karena Kak Arka anak emas yang selalu sempurna, Revan gak boleh bikin kesalahan sedikit pun?" sahut Revan, suaranya naik satu oktav, tidak lagi bisa menahan dongkol yang menumpuk. "Ibu cuma peduli sama Kak Arka, kan? Dari dulu selalu Kak Arka! Kak Arka pusing dikit, Ibu panik kayak kiamat. Revan pulang babak belur, Ibu cuma bisa ngomel dan salahin Revan!"

"Revan, jaga bicara kamu!"

Tiba-tiba, suara bariton yang tegas memotong perdebatan mereka. Ayah berjalan keluar dari dalam kamar dengan langkah yang agak pelan. Wajah Ayah terlihat pucat dan lelah setelah seharian bekerja, tapi sorot matanya tetap memancarkan ketegasan seorang kepala keluarga. Ayah menatap Revan dengan pandangan penuh kekecewaan.

"Minta maaf sama Ibu kamu, Revan. Jangan jadi anak pembangkang," perintah Ayah dengan suara rendah namun sarat akan penekanan yang menekan dada.

Revan mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan air mata kemarahan yang mendesak ingin keluar. "Gak. Revan gak salah."

Di saat ketegangan itu memuncak, Arka melangkah turun dari tangga lantai dua. Rupanya keributan di bawah mengganggu fokus belajarnya. Namun, ada yang aneh dengan penampilan Arka malam itu. Langkah kakinya tampak sangat berat, dan satu tangannya bertumpu erat pada pegangan tangga kayu, seolah-olah seluruh energinya telah habis terkuras habis karena begadang belajar.

Wajah Arka seputih kain kafan, dan bibirnya tampak sedikit bergetar.

"Bu... Ayah... udah, jangan ribut lagi," lirih Arka, mencoba menengahi. Suaranya terdengar sangat parau, lemah, dan habis.

Melihat kedatangan Arka yang sok menjadi penengah, Revan justru semakin tersulut emosi. Ia merasa Arka sengaja turun untuk memamerkan posisinya sebagai 'anak baik' di depan Ayah dan Ibu.

"Gak usah sok jadi pahlawan kesiangan lo, Bang! Lo seneng kan lihat gue disalahin terus di rumah ini? Lo—"

Ucapan Revan terhenti seketika. Di depan matanya, tubuh Arka tiba-tiba limbung. Kedua lutut sang kakak membentur lantai dengan keras, sebelum akhirnya tubuh tegap itu ambruk sepenuhnya di atas ubin ruang tamu yang dingin, tidak bergerak lagi.

"Arka?!" Jeritan histeris Ibu memecah keheningan malam. Ibu langsung berlari badai, memangku kepala Arka yang sudah tidak sadarkan diri. "Ya Tuhan, badannya dingin banget! Ayah, Arka pingsan lagi!"

Ayah pun ikut panik, dengan tangan gemetar mencoba memeriksa denyut nadi di leher anak sulungnya. "Bu, siapin mobil! Arka kecapekan banget ini, stresnya kumat lagi gara-gara besok ujian! Kita harus bawa ke rumah sakit!"

Revan terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Di tengah kekacauan itu, egonya yang terluka berbisik dengan sangat kejam: Halah, paling cuma pingsan biasa karena lebay begadang tiap malam demi nilai seratus. Sengaja banget pingsan sekarang biar omelan Ibu ke gue kepotong lagi.

Revan membuang muka, menolak untuk membantu saat Ayah dengan susah payah membopong tubuh Arka keluar rumah menuju mobil, diikuti Ibu yang menangis tersedu-sedu. Pembaca yang melihat ini pasti akan mengutuk sikap dingin Revan, sekaligus ikut percaya dengan ucapan Ayah bahwa Arka pingsan murni karena "stres dan kecapekan belajar" akibat ambisi tingginya.

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!