NovelToon NovelToon
Sentuhan Semalam

Sentuhan Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.

Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.

Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Sebelum Badai

Malam kembali turun menyelimuti mansion megah keluarga Arisatya. Setelah proses pengukuran gaun yang melelahkan siang tadi, Eli memilih untuk mengurung diri di dalam kamar luasnya, menemani Kenji dan Kiana yang sedang asyik mewarnai buku gambar di atas karpet bulu. Kotak beludru hitam berisi cincin berlian pemberian Xavier masih tergeletak utuh di atas meja rias, sama sekali tidak disentuh oleh Eli. Baginya, memakai cincin itu sama saja dengan mengakui kekalahannya secara sukarela.

Tepat pukul delapan malam, pintu kamar diketuk dengan ritme yang teratur. Bibi Ami, pelayan paruh baya yang ramah, melangkah masuk sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat untuk anak-anak.

"Nyonya, Tuan Xavier baru saja kembali dari kantor. Beliau meminta Anda untuk turun ke ruang makan untuk makan malam bersama," ucap Bibi Ami dengan sikap takzim.

Eli menghela napas berat. Mendengar nama pria itu saja sudah sukses membuat suasana hatinya memburuk. "Katakan pada Xavier, aku tidak lapar. Aku akan makan di kamar saja bersama anak-anak."

Bibi Ami tampak ragu sejenak, wajah tuanya menyiratkan rasa cemas yang samar. "Mohon maaf sebelumnya, Nyonya... tapi Tuan Xavier berpesan, jika Anda menolak, beliau sendiri yang akan naik ke kamar ini untuk 'menjemput' Anda. Dan beliau bilang, beliau tidak keberatan jika harus menggendong Anda turun di depan anak-anak."

Mendengar ancaman tidak tahu malu itu, wajah Eli seketika memerah karena campuran rasa kesal dan malu. Dia tahu persis bahwa Xavier Arisatya bukan tipe pria yang suka menggertak sambal. Pria itu adalah tipe eksekutor yang akan melakukan apa pun yang diucapkannya tanpa peduli tempat dan situasi.

"Ibu, ada apa?" Kenji mendongak dari buku gambarnya, menyadari perubahan ekspresi ibunya.

Eli memaksakan senyum selembut mungkin, lalu mengusap kepala Kenji dan Kiana bergantian. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Ibu harus turun sebentar untuk bicara dengan... Papa kalian. Kalian habiskan susunya lalu langsung tidur bersama Bibi Ami, ya?"

Mendengar kata 'Papa' yang terpaksa keluar dari mulut ibunya, Kenji sempat mengernyitkan dahi tanda tidak suka, namun bocah cerdas itu memilih untuk mengangguk patuh demi tidak membuat ibunya semakin stres.

Eli berdiri, merapikan blus rajut longgar yang dikenakannya, lalu melangkah keluar kamar dengan hati yang diselimuti dongkol. Ketika dia tiba di ruang makan mewah di lantai dasar, Xavier sudah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu telah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tangan kekarnya yang kokoh. Aura dominasi dan ketampanannya yang maskulin seolah memenuhi seluruh ruangan yang sepi itu.

Xavier tidak berbicara. Sepasang mata elangnya hanya bergerak mengikuti langkah kaki Eli hingga wanita itu duduk di kursi tepat di sisi kanannya—bukan lagi berjarak beberapa kursi seperti saat sarapan tadi.

"Kenapa cincinnya tidak dipakai?" tanya Xavier langsung pada inti masalah, suaranya yang bariton terdengar rendah namun sarat akan penekanan yang menuntut kepatuhan.

Eli menatap piring porselen kosong di hadapannya tanpa berniat melihat wajah Xavier. "Cincin itu terlalu besar dan mengganggu pergerakanku. Lagipula, di dalam rumah ini tidak ada orang asing yang perlu tahu apakah aku sudah menikah atau belum."

"Aku tidak suka barang pemberianku diabaikan, Eli," potong Xavier dingin. Dia meletakkan pisau dan garpunya ke atas meja hingga menimbulkan suara dentingan halus yang mengintimidasi. "Besok pagi, aku ingin melihat cincin itu sudah melingkar di jarimu. Jika tidak, aku sendiri yang akan memasangkannya dan menguncinya di jarimu dengan caraku sendiri."

Eli mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan amarah yang mendidih. "Kamu selalu memaksakan kehendakmu, Xavier. Apakah menjebakku dalam pernikahan paksa ini belum cukup memuaskan egomu sebagai seorang penguasa?"

Xavier memajukan tubuhnya, menumpu satu sikunya di atas meja sambil menatap lekat-lekat wajah cantik Eli yang tampak menegang. Ada kilatan posesif yang pekat di mata elang pria itu. "Egoku baru akan puas jika kamu sudah sepenuhnya tunduk dan menyadari posisimu sebagai milikku, Eli. Dan omong-omong tentang pernikahan... Daniel sudah mengatur semua detail untuk konferensi pers tiga hari lagi."

Xavier merogoh saku kemeja putihnya dan mengeluarkan sebuah berkas kecil, lalu menggesernya ke hadapan Eli. "Ini adalah daftar pertanyaan yang akan diajukan oleh para jurnalis terpilih. Aku sudah menyuruh tim humas menyusun jawaban yang sempurna. Kamu hanya perlu menghafalnya."

Eli menyambar berkas itu dan membacanya dengan cepat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca narasi palsu yang tertulis di sana. "Apa-apaan ini?! Menikah diam-diam di luar negeri enam tahun lalu? Dan aku pergi ke luar kota karena ingin fokus mengasuh anak-anak di lingkungan yang tenang? Ini semua kebohongan publik, Xavier!"

"Ini bukan kebohongan, Eli. Ini adalah perlindungan reputasi untuk anak-anakku," sahut Xavier dengan nada datar tanpa riak penyesalan. "Aku tidak akan membiarkan media mencium aroma skandal tentang satu malam kita di Kamar 909 enam tahun lalu. Di mata dunia, Kenji dan Kiana adalah anak sah dari pernikahan resmi seorang Xavier Arisatya. Mereka adalah pangeran dan putri mahkota dari Arisatya Group. Kebenaran di masa lalu tidak penting, yang penting adalah narasi yang dipercayai oleh publik."

Eli melemparkan berkas itu kembali ke atas meja dengan perasaan muak. "Kamu hanya peduli pada nama baik perusahaanmu! Kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku atau anak-anak yang harus hidup dalam kepalsuan ini!"

Xavier berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang lambat membawa tubuh jangkungnya berputar hingga berhenti tepat di belakang kursi Eli. Pria itu menunduk, menumpu kedua tangannya di sandaran kursi Eli, mengurung wanita itu sepenuhnya dalam kungkungan tubuh bidangnya. Aroma parfum mewah wood and amber milik Xavier seketika menyerbu indra penciuman Eli, membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

"Kamu salah, Eli," bisik Xavier tepat di dekat telinga wanita itu, membuat bulu kuduk Eli merinding karena hembusan napas hangatnya. "Jika aku hanya peduli pada perusahaan, aku bisa saja merebut hak asuh anak-anak lewat jalur hukum dan membuangmu ke jalanan tanpa sepeser uang pun. Tapi kenyataannya? Aku membawamu kemari, memberikanmu status sebagai istriku, dan bersiap memamerkanmu ke seluruh dunia sebagai wanitaku. Pikirkan dengan otak cerdasmu itu... kenapa aku repot-repot melakukan semua ini jika bukan karena aku menginginkanmu tetap berada di sisiku?"

Eli menahan napasnya, tubuhnya membeku. Sentuhan jemari besar Xavier yang perlahan bergerak mengusap pundaknya yang tegang terasa seperti aliran listrik yang menyengat. Rasa takut dan sebuah getaran aneh yang familier dari masa lalu mendadak bercampur aduk di dalam dadanya.

"Patuhlah padaku di hari konferensi pers nanti, Eli," lanjut Xavier dengan nada posesif yang mutlak. "Karena setelah hari itu, tikus-tikus dari masa lalumu—Adrian dan saudara tirimu yang tidak tahu diri itu—akan tahu siapa pelindungmu sekarang. Dan aku ingin memastikan mereka melihat dengan jelas, bahwa wanita yang pernah mereka khianati dan buang, kini telah berdiri di puncak tertinggi sebagai Nyonya Arisatya, sosok yang bahkan untuk menatap wajahnya saja mereka tidak akan pernah sanggup lagi."

Mendengar janji perlindungan yang sarat akan aroma balas dendam dari Xavier, hati Eli bergetar hebat. Di satu sisi, dia membenci sifat diktator pria ini yang menjebaknya dalam sangkar emas. Namun di sisi lain, dia tidak bisa menampik bahwa di dalam sangkar inilah, untuk pertama kalinya setelah enam tahun pelarian yang melelahkan, dia merasa benar-benar aman dari bayang-bayang pengkhianatan masa lalu yang mengerikan. Badai besar akan segera datang dalam tiga hari, dan Eli tahu, dia tidak punya pilihan selain berpegangan erat pada sang monster yang kini menjelma menjadi suaminya.

1
Bu Dewi
seru kak 👍👍👍👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!