Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : SURAT DARI MUSUH YANG BELUM PASTI
Setelah keputusan semalam, akhirnya menara pertama selesai dalam satu hari.
Panglima Qinghan tidak memerintahkan itu dengan cara yang membuka ruang untuk diskusi. Dia menunjuk titik tertinggi di tepi pantai, menyebutkan spesifikasi yang dibutuhkan dalam kalimat-kalimat singkat yang sudah mencakup material, tinggi, dan sudut pandang yang diperlukan, lalu meninggalkan Chen Mo untuk mengeksekusinya. Menara kedua pun dibangun di ujung lain pantai di hari berikutnya. Sementara tim pengawas dibagi menjadi tiga sif, masing-masing berisi orang-orang yang Qinghan pilih sendiri berdasarkan kriteria yang tidak dia jelaskan tapi yang hasilnya menunjukkan pertimbangan yang sangat cermat.
Tak luput dari itu, panji-panji Long Yuan juga dikibarkan di puncak menara pertama pada pagi hari ketiga, kain merah dengan naga emas di tengahnya bergerak ditiup angin laut, dan bagi siapa pun yang melihatnya dari dalam hutan, pesannya jelas tidak membutuhkan penerjemah.
Perbaikan kapal masih berlangsung di separuh pantai yang lain, suara ketukan dan gergaji bercampur dengan suara ombak, dan kru yang tidak bertugas mengawasi keamanan. Perkiraan terbaru Paman Dao menyebutkan tiga hari lagi, tapi perkiraan itu sudah bergeser dua kali, dan tidak ada yang sepenuhnya yakin tiga hari itu tidak akan bergeser lagi.
Namun setidaknya hari ini terasa berbeda setelah seorang penjaga dari menara timur turun dengan langkah yang cukup cepat untuk menarik perhatian Qinghan sebelum pria itu sampai ke tempatnya berdiri. Di tangannya ada gulungan kertas yang diikat dengan benang berwarna biru tua.
"Saya menemukannya di kaki menara, Panglima," katanya sembari menyodorkan gulungan itu dengan sedikit membungkuk. "Sayangnya tidak ada yang melihat siapa yang menaruhnya."
Qinghan pun mengambil gulungan itu dan membukanya. Tulisan di atasnya menggunakan aksara yang tidak dia kenali, bukan aksara Long Yuan, bukan aksara Feng Hua, bukan dialek pesisir mana pun yang pernah dia lihat di peta.
"Panggil adikku," katanya.
Penjaga itu membungkuk dan berbalik.
Qinghan menatap kertas itu sebentar lagi, kemudian melipat kembali. Pikirannya bergerak ke arah yang sangat spesifik dan tidak bisa dia hentikan meskipun mau. Haifeng sudah berlatih setiap hari sejak beberapa hari lalu, dari sebelum matahari naik sampai hampir tidak bisa mengangkat tangannya. Kalau dibiarkan terlalu lama di pantai selatan tanpa pengawasan, ada kemungkinan yang tidak nol bahwa anak itu akan pingsan karena dehidrasi dan tidak ada yang tahu sampai sore.
Atau dicapit kepiting waktu duduk di batu karena terlalu dekat ke air.
Atau malah menginjak bulu babi yang tidak terlihat.
Sesuatu yang sangat mirip dengan tawa getir keluar dari tenggorokan Qinghan dalam satu hembusan pendek sebelum bisa ditahan.
Penjaga yang baru saja berbalik untuk memanggil Haifeng pun menoleh.
Sementara Qinghan berdehem. “Tidak jadi.” Ekspresinya kembali ke posisi datarnya dalam waktu yang sangat singkat. "Aku yang akan ke sana sendiri."
Penjaga itu membungkuk lagi dengan ekspresi yang sangat berhati-hati untuk tidak menunjukkan bahwa dia mendengar apa pun.
Samudera berbaring miring di udara setinggi pinggang orang dewasa, kepala ditopang tangan yang ditopang siku yang tidak menyentuh apa pun. Posisinya menyerupai seseorang yang sedang berbaring santai di permadani yang tidak terlihat, dan ekspresinya menyerupai seseorang yang sedang menonton pertunjukan yang cukup menghibur.
Haifeng di depannya memang tidak terlihat santai sama sekali.
"Pergelangan tanganmu lagi," kata Samudera. "Putar dari sendi, bukan dari bahu. Kalau dari bahu, kau akan kelelahan dua kali lebih cepat dan kekuatannya setengahnya."
Haifeng mengulang gerakan itu. Bilah Pedang Samudera bergerak dalam busur yang lebih kecil kali ini, lebih presisi, dan di sepanjang bilahnya ada riak tipis yang datang dan pergi, lebih konsisten dari kemarin meskipun masih jauh dari kata stabil.
"Itu lebih baik." Samudera mengubah posisi kepalanya sedikit. "Sekarang lagi. Dua puluh kali lagi."
"Sudah dua ratus."
"Dua puluh lagi."
Haifeng mengulang. Riak di bilahnya sedikit lebih stabil di ayunan ketujuh, kemudian mulai tidak konsisten lagi di ayunan keduabelas. Dia mengulangi sampai ayunan keduapuluh, lalu menurunkan pedang dan mengambil napas dalam.
"Kau mulai bisa mengarahkan qi ke bilah," kata Samudera, dan kali ini nada menggodanya tidak ada karena lebih serius. "Tentu saja bukan dari dirimu sendiri. Tapi kau mulai bisa membuka jalur antara bilah dan sekitarnya. Itu berbeda dari mengandalkanku sepenuhnya."
"Bedanya apa?"
"Bedanya seperti perbedaan antara seseorang yang meminjam lengan orang lain untuk mengangkat sesuatu, dengan seseorang yang melatih lengannya sendiri sampai bisa mengangkat hal yang sama." Samudera mengangkat tangannya, menunjuk ke bilah pedang. "Yang pertama bergantung. Yang kedua bertumbuh."
Haifeng lantas menatap bilahnya. Riak itu sudah berhenti sekarang, kembali ke permukaan biru gelap yang tenang. Tapi dia bisa merasakan perbedaan antara cara dia memegang pedang ini hari ini dan cara dia memegangnya dua minggu lalu, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata tapi sangat bisa dirasakan.
Langkah kaki di belakang akhirnya membuat dia berbalik, dan gerakan memutar itu membawa bilah Pedang Samudera berakhir menunjuk lurus ke depan.
Tepat ke arah Qinghan yang baru berhenti berjalan dua langkah dari ujung bilah itu.
Keduanya pun terdiam selama satu hitungan sebelum Haifeng menurunkan pedangnya. "Maaf."
"Kau sudah jauh lebih baik," kata Qinghan. Tatapannya bergerak ke bilah pedang sebentar, lalu ke postur tubuh Haifeng sebelum ke wajahnya. "Kau sudah minum hari ini?"
"Pagi tadi sudah."
"Itu tidak cukup." Qinghan mengeluarkan tabung air dari sisi pinggangnya dan meletakkannya di pasir di depan Haifeng. Kemudian mengeluarkan gulungan kertas dari lengan bajunya. "Ini ditemukan di kaki menara tadi pagi, dan aku tidak mengerti aksaranya."
Haifeng segera mengambil gulungan itu dan membukanya.
Matanya bergerak dari kiri ke kanan, berhenti di beberapa titik, kemudian kembali ke atas dan bergerak lagi dengan kecepatan yang berbeda dari cara orang membaca sesuatu yang tidak dimengerti.
"Kau bisa membacanya," kata Qinghan.
"Ada gulungan tua di perpustakaan klan tentang dialek-dialek wilayah kepulauan yang jauh," kata Haifeng tanpa mengangkat mata dari kertas. "Aku tidak ingat semua aksaranya tapi cukup untuk mengetahui isinya." Mulutnya bergerak pelan sambil matanya mengikuti baris demi baris. "Yang jelas ini surat resmi. Formatnya seperti pernyataan dari pihak yang merasa memiliki wilayah tertentu."
Samudera yang masih melayang di dekatnya sudah bergeser posisi, kini duduk melayang dengan lutut ditekuk, menatap gulungan itu dengan ekspresi penasaran.
"Mereka menyebut diri mereka Penjaga Tanah Suci," lanjut Haifeng, membacakan sambil menerjemahkan. "Kehadiran kita dianggap sebagai pelanggaran terhadap batas yang sudah ada sejak... ada kata yang tidak aku kenal ini, mungkin artinya 'zaman sebelum manusia pertama' atau semacamnya." Dia melanjutkan ke baris berikutnya. "Mereka mengakui bahwa Garan dan pengikutnya yang mati adalah bagian dari ordo mereka. Kehilangan itu tidak akan mereka biarkan tanpa balasan." Matanya berhenti di baris terakhir. "Mereka..."
Qinghan menunggu sampai adiknya mengangkat matanya dari kertas dan menatap kearahnya. "Mereka menyatakan bahwa dalam waktu lima hari setelah surat ini diterima, mereka akan datang untuk membebaskan tanah suci ini dari kehadiran asing. Termasuk menurunkan panji yang kita kibarkan."
Qinghan mengambil kembali gulungan itu dari tangan Haifeng, menatapnya sebentar meskipun tidak bisa membaca isinya, kemudian melipat kembali dengan gerakan yang sangat teratur.
"Deklarasi perang," katanya begitu datar dan dingin. Pandangannya sudah bergerak ke arah menara untuk menghitung ataupun memetakan.
"Mungkin saja," kata Haifeng. "Tapi Kak, dengarkan dulu."
Qinghan berbalik menatapnya.
"Mereka sudah ada di pulau ini jauh sebelum kita datang. Mereka menyebut ini tanah suci, dan dari yang aku lihat di bawah tanah kemarin, mereka punya pengetahuan tentang pulau ini yang tidak akan bisa kita dapatkan dari mana pun selain dari mereka." Haifeng memegang gulungan kertas itu kembali, bukan untuk dibaca, hanya sebagai sesuatu untuk dipegang. "Kalau ada yang tahu hubungan antara Pulau Penjaga ini dengan Pulau Xuanyuan, itu pasti mereka. Kita tidak bisa membunuh semua orang yang mungkin punya informasi yang kita butuhkan."
Qinghan menatapnya selama beberapa detik.
"Adikku, jadi kau mau bernegosiasi dengan kelompok yang telah membunuh sebagian orang-orang kita?"
"Aku hanya mencoba berbicara dengan orang yang mungkin tahu di mana tujuan kita," jawab Haifeng. "Kakak, itu berbeda."
Samudera di sampingnya tidak berkata apa-apa, tapi sudut bibirnya naik sedikit ke arah yang tidak bisa dilihat oleh Qinghan.