NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Teratai Di Atas Abu

Bab 9 — Murid Sampah

Tempat tinggal murid luar Sekte Gunung Awan Putih terletak di lereng bawah, jauh dari bangunan utama yang megah dan indah. Di sini, gubuk-gubuk kayu berjejer sederhana, agak reyot dan dingin, sangat berbeda jauh dari kediaman para murid inti atau murid dalam yang berada di puncak gunung. Di sinilah Lian Hua ditempatkan, bergabung dengan puluhan pemuda lain yang juga dianggap memiliki bakat biasa-biasa saja atau rendah.

Sejak hari pertama ia melangkah masuk, ejekan dan pandangan meremehkan tak pernah lepas dari dirinya. Berita soal hasil ujiannya yang nyaris tak memancarkan cahaya dari batu pengukur, sudah menyebar ke seluruh penjuru sekte dalam sekejap. Semua orang tahu: ada murid baru bernama Lian Hua, bakatnya seburuk debu jalanan, namun entah bagaimana bisa diterima atas keputusan Tetua Bai sendiri. Hal ini saja sudah cukup membuat banyak orang iri dan tidak suka, apalagi ditambah fakta bahwa ia tampak tenang dan tak pernah menanggapi cemoohan mereka.

“Lihatlah dia, murid kesayangan Tetua Bai itu,” ujar seorang pemuda berwajah angkuh bernama Zhang Hao, yang dianggap paling berbakat di antara murid luar. Ia melewati Lian Hua yang sedang mengangkat kayu bakar, sambil menatap sinis. “Bakat nol, dasar hancur, tapi berani-beraninya bermimpi jadi pendekar. Menurutku, lebih baik kau pulang saja jadi petani. Di sini kau cuma memalukan nama sekte kami.”

Tawa riuh terdengar dari teman-temannya yang berjalan di belakang. Bagi mereka, mengejek Lian Hua sudah menjadi hiburan sehari-hari. Lian Hua hanya diam, menundukkan kepala, terus berjalan membawa beban berat di bahunya. Ia sudah terbiasa. Kata-kata ini tak lebih dari angin yang lewat di telinganya. Selama tak menyentuh hal yang berharga baginya, ia takkan marah atau meladeni.

Hari-harinya diisi dengan tugas-tugas berat: mengangkut air dari mata air jauh di lembah, memotong kayu bakar, membersihkan halaman luas, hingga merawat kebun obat. Di waktu luang, saat murid-murid lain berkumpul berlatih tenaga dalam atau belajar gerakan silat dasar, Lian Hua akan duduk di sudut paling belakang, jauh dari kerumunan.

Saat ia mencoba menggerakkan tenaganya, hawa yang keluar terlihat sangat lemah, nyaris tak berwarna, dan tak memiliki daya dorong apa pun. Jika orang lain saat berlatih bisa membuat daun-daun di sekitarnya bergoyang kencang, atau batu kecil bergetar, di sisi Lian Hua, tak ada apa pun yang berubah. Tampak persis seperti orang yang tak memiliki kekuatan sedikit pun.

“Lihat itu! Dia sedang berlatih? Hahaha!” seru salah satu murid sambil menunjuk ke arah Lian Hua. “Tenaga spiritualnya lemah sekali, bahkan tak bisa menggerakkan sehelai rumput. Sungguh murid sampah sejati! Kalau aku jadi dia, sudah lama aku malu dan pergi dari sini.”

“Diam saja, jangan ejek dia terus,” sahut temannya sambil tertawa. “Bagaimanapun dia murid Tetua Bai. Siapa tahu nanti dia jadi pemimpin besar... pemimpin pemulung mungkin!”

Suara tawa kembali meledak. Lian Hua tetap tak bergeming. Di luar, ia terlihat sedang berusaha keras namun sia-sia mengumpulkan hawa. Namun di dalam dirinya, sebaliknya, ia sedang dengan tenang menjalankan aliran Seni Teratai Langit. Ia membiarkan mereka melihat apa yang ingin mereka lihat. Di balik penampilan lemah itu, setiap hari ia perlahan memadatkan tenaga, menguatkan tulang, dan memperlebar jalur meridian barunya—sesuatu yang tak bisa dipahami atau dilihat oleh orang-orang dangkal seperti mereka.

Ia tak perlu membuktikan apa-apa sekarang. Waktu akan menjawab semuanya.

Sore itu, matahari mulai condong ke barat, menyinari puncak-puncak gunung dengan cahaya keemasan. Di atas sebuah balok batu besar di pinggir lapangan latihan, duduklah seorang gadis berpakaian jubah putih bersih dengan sulaman awan di ujung lengan. Wajahnya cantik dan tenang, kulitnya putih bersih, dan sorot matanya jernih bagai air danau. Ia adalah Gu Qing Cheng, salah satu murid berbakat yang masuk di tahun yang sama, bahkan dianggap memiliki bakat terbaik di angkatannya. Ia adalah putri dari kepala desa terdekat, dan memiliki dasar ilmu bela diri yang cukup kuat sejak kecil.

Sejak awal, Gu Qing Cheng sering diam-diam memperhatikan Lian Hua. Ia melihat bagaimana pemuda itu diperlakukan, bagaimana ia selalu diam dan menelan semua hinaan dengan tenang yang tak biasa. Ia melihat betapa kuat dan kokohnya tubuh Lian Hua saat mengangkat beban yang beratnya dua kali lipat dari yang bisa diangkat orang lain, seolah beban itu tak lebih dari sepotong kapas. Ia juga melihat sorot mata pemuda itu—dingin, tajam, dan menyimpan tekad yang dalam, jauh berbeda dari tatapan murid lain yang sombong atau sombong.

Ia melihat Lian Hua bangkit berdiri setelah berlatih, wajahnya penuh keringat namun tak ada sedikit pun rasa putus asa atau malu. Pemuda itu menyeka wajahnya dengan tenang, lalu berjalan pergi menuju kediamannya dengan langkah tegap, seolah tak ada satu pun di antara mereka yang layak ia pandang.

“Dia bukan orang biasa...” gumam Gu Qing Cheng pelan, matanya tak lepas dari sosok Lian Hua yang perlahan menjauh. “Orang yang benar-benar lemah dan tak berguna, takkan memiliki ketenangan dan keteguhan hati seperti itu. Di balik sikap diam dan penampilan lemah itu... sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi.”

Di bawah cahaya senja yang mulai memudar, gadis itu masih duduk diam di sana, menatap ke arah jalan yang baru saja dilalui Lian Hua, penuh rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh di dalam hatinya.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!