Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekalahan Shinta
Begitu palu sidang virtual dibangunkan oleh investor resmi untuk menutup rapat pleno, para pemimpin dan staf investor mulai keluar dari ruangan dengan lambat. Namun, suasana di dalam ruangan tetap tegang—bahkan semakin mencekam.
Shinta masih duduk kaku di kursinya. Napasnya terengah-engah, menyebabkan bahunya yang dibalut blazer merah cerah bergerak naik turun, tampak kontras dengan wajahnya yang pucat penuh rasa malu. Tangannya menggenggam meja dengan sangat kuat, membuat buku-buku jarinya tampak memutih.
Saat pintu rapat tertutup rapat, meninggalkan dirinya sendiri, dua stafnya yang ketakutan, serta Arlan dan Ghea yang duduk di ujung meja, ledakan tersebut pun tak terhindarkan.
Brak!
Shinta menghantam meja oval dari kayu jati dengan keras, berdiri hingga kursinya tergeser ke belakang dan mengeluarkan suara gesekan yang nyaring.
"Kalian merencanakan semua ini! " teriak Shinta, suaranya melengking penuh kemarahan, memecah keheningan ruangan. Matanya yang merah dan berair akibat kemarahan menatap tajam, tidak ke arah Arlan, tetapi langsung ke Ghea.
Ia melangkah lebar mengelilingi meja, mengabaikan asistennya yang panik mencoba menahannya. Shinta berhenti beberapa langkah di depan Ghea, napasnya terdengar berat.
"Kamu. . . " Shinta menunjuk wajah Ghea dengan telunjuk yang bergetar, suaranya bergetar antara kemarahan dan keheranan. "Perempuan yang tidak tahu diri! Kamu sengaja menjebakku dengan data palsu itu, kan? ! Kamu memberi informasi palsu untuk mempermalukanku di hadapan konsorsium! "
Ghea tidak mengalah sedikitpun. Ia tetap berdiri tegak dengan tenang, memeluk tabletnya di depan dada. Sorot matanya datar dan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut—ketenangan ini justru semakin menambah amarah Shinta.
"Saya tidak pernah memaksa Anda untuk menerima apa pun dari saya, Ibu Shinta," jawab Ghea dengan suara yang tenang dan terkontrol, bagaikan air es di tengah api. "Anda yang meminta pertemuan. Anda yang menginginkan data itu. Saya hanya memberikan apa yang Anda ingin lihat. "
"Kurang ajar! " Shinta mengangkat tangannya, berniat memberi tamparan keras di wajah Ghea untuk melampiaskan kehinaan yang baru saja ia alami.
Namun, sebelum tangan Shinta bisa bergerak lebih jauh, sebuah pegangan tangan yang kuat dan dingin menahan pergelangan tangannya di udara.
Arlan telah berdiri di depan Ghea, melindunginya. Wajah CEO itu kini tampak sangat menakutkan. Tatapan matanya seperti elang yang mengunci Shinta, memancarkan aura intimidasi yang kuat, membuat asisten Shinta di belakang langsung ketakutan.
"Cukup, Shinta," geram Arlan dengan suara rendah dan berat, penuh ancaman. Ia melepaskan pegangan Shinta dengan keras, membuat wanita itu terhuyung mundur satu langkah.
"Jangan pernah berharap untuk menyentuh asistennya—atau wanitaku—bahkan dengan ujung jarimu sekali pun," kata Arlan menekankan setiap kata.
Shinta tertawa sinis, matanya beralih menatap Arlan dengan penuh kebencian campur rasa sakit hati yang mendalam. "Wanitamu? Oh, jadi sekarang kamu melindunginya, Arlan? Kamu bangga menang dengan cara curang seperti ini? ! Dia sudah menipuku! Dia memalsukan dokumen! "
"Kekalahanmu adalah hasil dari keserakahanmu sendiri, Shinta," kata Arlan dengan nada dingin dan tanpa rasa kasihan. "Kamu berusaha mencuri informasi dari perusahaanku untuk menghancurkanku. Dan sekarang, setelah rencanamu berbalik menyerang dirimu sendiri, kamu bersikap seolah-olah kamu adalah yang dirugikan? "
Arlan melangkah maju, membuat Shinta secara otomatis mundur. "Ghea hanya membela milik kami. Dan jika kamu nekat mengganggu Ghea atau Golden Synergy lebih jauh lagi. . . aku pastikan bukan hanya tawaran ini yang akan hilang darimu, tetapi seluruh bisnismu di Jakarta akan runtuh. "
Mendengar ancaman Arlan yang sangat jelas dan dingin, Shinta terdiam. Ia menyadari bahwa ia mengalami kekalahan fatal—baik dalam bisnis maupun dalam usaha mengganggu kehidupan Arlan.
Dengan napas yang masih tersengal dan air mata kemarahan yang akhirnya menetes merusak make-up-nya, Shinta meraih tas desainer yang ada di atas meja.
"Ini belum berakhir," desis Shinta dengan suara bergetar menahan tangis dan rasa malu. Ia melontarkan tatapan penuh kebencian terakhirnya pada Ghea sebelum berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruang rapat, diikuti oleh stafnya yang tergesa-gesa.
Brak!
Pintu ruang rapat ditutup dengan keras, meninggalkan keheningan yang panjang di dalam ruangan.
Di dalam mobil sedan mewah yang melaju melalui jalanan Jakarta, suasana terasa dingin dan menegangkan. Shinta duduk di kursi belakang dengan tatapan hampa yang tertuju lurus ke luar jendela. Air mata kemarahan yang pernah merusak riasannya kini telah dihapus, meninggalkan wajahnya yang pucat dengan jejak dendam yang semakin menguat.
Denting halus dari kuku-kuku panjangnya yang mengetuk layar ponsel adalah satu-satunya suara yang memecah hening dalam kabin mobil.
"Ibu. . . apakah kita langsung kembali ke kantor? " tanya sekretarisnya dari kursi depan dengan nada pelan, hampir seperti berbisik agar tidak memicu kembali ledakan amarah Shinta.
"Tidak," jawab Shinta dengan nada dingin. "Bawa aku ke apartemen. "
Shinta bersandar dan menutup matanya rapat-rapat. Rasa malu yang ia alami di ruang rapat masih membakar dalam dirinya, namun sakit itu kini telah berubah menjadi energi yang lebih mengancam, keinginan untuk membalas dendam.
Ia menyadari kesalahan besar yang dilakukannya kemarin. Ia terlalu menganggap remeh Ghea. Ia berpikir Ghea hanyalah asisten kecil—seorang bidak yang mudah untuk ditakut-takuti atau disogok. Shinta tidak menyangka bahwa wanita itu memiliki keberanian dan kecerdasan untuk membuat jebakan yang cerdik, cukup untuk menghancurkan reputasi bisnisnya dalam waktu cepat.
"Kau ingin bermain pintar, Ghea? " gumam Shinta dalam hati, sambil tersenyum sinis di kegelapan kursi belakang. "Mari kita lihat seberapa kuat pertahananmu ketika badai sesungguhnya tiba. "
Saat tiba di apartemen mewahnya di Senopati, Shinta langsung menuju ruang kerjanya. Ia menuangkan segelas wiski dan duduk di depan meja kayu ek hitam miliknya. Ia membuka laptop pribadi—bukan yang bisa dilacak dari kantor—dan mulai merencanakan sesuatu yang lebih strategis.
Kali ini, Shinta tidak akan menggunakan metode tidak profesional seperti mencuri dokumen fisik atau mengadakan pertemuan langsung yang berisiko. Ia akan menyerang dari arah yang paling tidak terduga bagi Arlan ataupun Ghea.
Shinta sangat paham bahwa kelemahan terbesar Arlan adalah Mika, anak mereka. Hubungan yang semakin erat antara Arlan dan Ghea pasti akan melibatkan Mika. Shinta mulai merancang strategi untuk membatasi akses Arlan terhadap Mika melalui jalur hukum, atau memanfaatkan Mika untuk menciptakan dilema emosional yang akan mengganggu konsentrasi Arlan dalam menangani proyek Golden Synergy yang baru saja berhasil ia menangkan.
Jebakan data palsu yang terjadi kemarin menunjukkan bahwa informan yang selama ini mendukung Shinta dalam Golden Synergy tidak cukup handal atau mungkin sudah tertangkap basah. Shinta membuka daftar kontak rahasianya. Ia memerlukan seseorang yang memiliki jabatan lebih tinggi, seseorang yang bisa mengakses sistem keuangan atau dewan direksi Golden Synergy yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan Arlan.
Ia mengetik pesan singkat kepada salah satu pemegang saham minoritas Golden Synergy yang ia tahu memiliki dendam pribadi terhadap Arlan: "Aku punya tawaran yang menarik yang bisa mengancam posisi Arlan sebagai CEO. Temui aku malam ini. "
Golden Synergy adalah inisiatif pembangunan yang mengusung prinsip ramah lingkungan. Fokus utama untuk proyek seperti ini adalah isu sosial serta ekologi. Shinta mulai merancang strategi guna mendanai aksi protes berbayar atau menyebarkan informasi melalui media bahwa bahan yang dipilih oleh perusahaan Arlan tidak sepenuhnya ramah lingkungan dan dapat merusak ekosistem lokal di Sudirman. Jika reputasi proyek ini tercemar sebelum peletakan batu pertama, maka para investor internasional akan segera menarik investasi mereka.
Shinta meneguk wiski dengan perlahan, merasakan kehangatan alkohol yang mengalir di tenggorokannya. Matanya bersinar penuh semangat gelap ketika menatap layar laptop yang menampilkan foto Ghea dan Arlan yang diambil dari siaran pers kemenangan tender hari ini.
"Selamat atas kemenangan sementara kalian, Arlan. . . Ghea," bisik Shinta, menatap foto tersebut dengan senyuman dingin penuh kemenangan. "Nikmati momen damai ini selagi masih bisa. Karena setelah ini, aku akan memastikan kalian kehilangan segalanya—baik Golden Synergy, maupun satu sama lain. "