NovelToon NovelToon
Dicerai Saat Mengandung

Dicerai Saat Mengandung

Status: tamat
Genre:Single Mom / Anak Genius / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Eli Priwanti

Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa harus bertemu denganmu?

Hana berdiri di depan podium kecil di ujung meja rapat. Suaranya terdengar stabil dan jernih, bergema di setiap sudut ruangan yang kedap suara itu.

"Selamat siang semuanya. Nama saya Hana Pradipta. Seperti yang telah disampaikan oleh Asisten Raka, saya akan memimpin Global Energi mulai hari ini. Fokus utama kita bukan sekadar profit, melainkan masa depan bumi melalui pengembangan panel surya yang mampu menjangkau pelosok negeri dengan biaya yang efisien."

Cakra dan Pak Ardiwinata duduk mematung. Dunia seolah berputar lebih lambat di mata mereka. Bagi Pak Ardi, fakta bahwa Hana adalah putri tunggal Pak Sutoyo seorang pensiunan Jenderal dengan pengaruh politik dan bisnis yang menggurita adalah sebuah tamparan keras sekaligus peluang yang tak terbayangkan.

Sedangkan bagi Cakra, hatinya terasa seperti diremas. Ia menatap Hana tanpa berkedip.

'Hana... akhirnya semesta mempertemukan kita kembali. Setelah enam tahun lamanya aku mencari mu, kini kau ada di depan mataku. Aku... aku ingin sekali memelukmu.'

batinnya bergejolak.

Namun, ia menyadari Hana yang berdiri di sana bukan lagi wanita yang dulu selalu menunggunya pulang dengan senyum bahagia. Hana yang ini memiliki tatapan setajam elang dan kecerdasan yang mematikan.

Hana mempresentasikan program Sustainable Solar Farm dengan sangat brilian. Ia menjawab setiap pertanyaan teknis dari investor dengan lugas, bahkan pertanyaan jebakan dari salah satu pemegang saham pun ia patahkan dengan argumen yang kuat.

"Program ini bukan hanya tentang memasang alat, tapi tentang membangun ekosistem energi mandiri," tegas Hana menutup presentasinya.

Ruangan itu meledak dengan tepuk tangan meriah. Para investor berdiri, memberikan standing ovation untuk sang CEO baru. Selesai bersalaman secara formal, Hana segera berbalik, memberi kode pada Sekretaris Indah untuk segera meninggalkan ruangan. Pak Sutoyo, yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Cakra dengan mata elangnya, segera berdiri di samping Hana, bertindak sebagai tameng tak kasat mata bagi putrinya.

Begitu Hana keluar, Cakra segera bangkit dari kursinya. Ia hendak mengejar Hana, dorongan rindunya tak terbendung lagi. Ia ingin menanyakan tentang putra mereka yang selama ini ia cari.

"Hana! Tunggu!" seru Cakra pelan namun penuh penekanan.

Baru dua langkah ia berjalan, tangannya dicengkeram kuat oleh Pak Ardiwinata. "Cakra, tahan dulu sebentar!" bisik Papahnya dengan suara rendah namun tajam.

"Tapi Pah, itu Hana! Dia di depan mataku!" Cakra memberontak, matanya terus mengikuti punggung Hana yang kini dikelilingi oleh empat orang bodyguard berbadan tegap yang disiapkan Pak Sutoyo.

"Papah tahu kau merindukannya, tapi lihat situasinya! Hana sekarang bukan Hana yang dulu bisa kau remehkan. Pak Sutoyo bukan pria sembarangan, dia pasti sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu. Kau lihat mereka? Satu gerakan salah darimu, mereka siap menerkam mu!" Pak Ardi menarik Cakra ke sudut koridor.

Cakra mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah dan penyesalan bercampur menjadi satu. "Tapi Pah! Aku ingin bertanya soal putraku!"

"Tidak ada tapi-tapian, Cakra! Sekarang pikirkan perusahaan kita yang terus-menerus rugi. Kerja sama dengan Global Energi adalah satu-satunya cara agar kita tidak gulung tikar!" tegas Pak Ardi. "Setidaknya kau tidak perlu bersusah payah mencari mereka lagi. Kita pikirkan rencana yang lebih matang untuk bisa bicara baik-baik dengan Hana."

Cakra menghela napas kasar, menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi yang memuncak. Ia melihat pintu lift tertutup, membawa Hana pergi dari jangkauannya.

"Baiklah, Pah. Kali ini aku ikut saran Papah," ucap Cakra lirih, meskipun hatinya menolak keras.

"Bagus. Sekarang kita pulang dan susun strategi. Kita harus mendekatinya sebagai mitra bisnis dulu sebelum menyentuh masalah pribadi," ucap Pak Ardi sambil menepuk bahu putranya, sebelum akhirnya mereka melangkah pergi meninggalkan gedung tersebut dengan perasaan yang berkecamuk.

Ruangan CEO

Pintu ruangan CEO tertutup rapat, menyisakan Hana dalam keheningan yang menyesakkan. Keteguhan yang ia tunjukkan di ruang rapat tadi runtuh seketika. Tubuhnya luruh, ia menyandarkan punggungnya di balik pintu sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.

"Kenapa..... Kenapa harus bertemu kembali dengan Mas Cakra?" gumamnya lirih.

Luka yang ia jahit rapat selama enam tahun seolah robek kembali, menyisakan perih yang tak tertahankan.

Tak lama, Pak Sutoyo masuk dengan langkah terburu-buru. Ia melihat putrinya yang tampak rapuh, sangat jauh dari sosok CEO tangguh yang baru saja memukau para investor.

"Hana, putriku!" Pak Sutoyo mendekat, mengusap lembut punggung Hana.

"Papah!" Hana langsung menghambur ke pelukan ayahnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Bahunya bergetar hebat, tangisnya pecah menceritakan rasa sakit yang kembali bangkit.

Pak Sutoyo memeluknya erat, rahangnya mengeras. "Apakah pria yang bernama Cakra Ardiwinata di ruangan rapat tadi adalah mantan suamimu, Nak?"

"I.... Iya, Pah. Dialah orangnya. Pria yang tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Pria yang lebih memilih kata-kata ibunya daripada mempercayai istrinya sendiri," ucap Hana di sela isaknya.

Mendengar itu, api kemarahan menyala di mata sang Jenderal. "Kalau begitu, Papah akan tolak semua kerja sama dengan Ardiwinata Group! Papah tidak sudi bekerja sama dengan orang yang telah membuang permata seperti kamu!"

Asisten Raka yang berdiri tak jauh dari mereka terpaksa menyela dengan nada menyesal. "Maaf sekali, Pak Sutoyo. Tapi Ardiwinata Group sudah menandatangani kontrak kerja sama jangka panjang dengan kita sebelum Ibu Hana menjabat."

"Aku tidak peduli dengan semua itu, Raka! Meskipun aku harus kehilangan perusahaan ini, yang terpenting putriku tidak tersakiti lagi!" tegas Pak Sutoyo dengan suara menggelegar.

Hana perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya dan mencoba tegar. Ia ingat wajah Pak Ardiwinata, mantan mertuanya yang selalu baik padanya saat tinggal di mansion nya dulu.

"Jangan, Pah. Biarkan semuanya seperti ini. Semuanya sudah terlanjur," cegah Hana lembut. "Aku tidak mau mengaitkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Anggap saja aku tidak pernah mengenal mereka, selama Mas Cakra tidak mengganggu hidupku lagi."

Pak Sutoyo menatap dalam mata putrinya. "Apa kau yakin, Hana? Kau yakin dengan keputusanmu? Apakah kau tidak berniat untuk membalaskan dendam pada mereka?"

Hana menarik napas panjang, sorot matanya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.

"Papah tenang saja. Aku punya cara lain untuk membuat Mas Cakra sadar akan kesalahannya tanpa harus menghancurkan bisnis Papah."

.

.

Sore berganti malam. Saat Hana tiba di mansion, rasa lelah luar biasa menghampirinya. Begitu pintu dibuka, El langsung berlari menyongsongnya.

"Akhirnya Bunda pulang juga! Kakek mana, Bun?" tanya El ceria.

"Kakek masih ada urusan dengan temannya, sayang. Nanti juga pulang," jawab Hana sambil mengusap kepala El, lalu melirik Tama yang berdiri gagah di belakang putranya.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini, Han?" tanya Tama serius. Ia menangkap gurat kelelahan dan kesedihan di mata Hana yang tidak bisa disembunyikan.

"Nanti akan aku ceritakan padamu, Mas. Aku mau mandi dulu. Oh iya, terima kasih ya sudah menjaga El dan antar jemput sekolahnya hari ini."

"Sama-sama, Han. Kebetulan nanti jam sembilan malam aku ada tugas di Mabes, mungkin besok tidak bisa antar El ke sekolah."

"Tidak apa-apa, Mas. Nanti ada Mbak Pur yang jaga El."

Selesai makan malam, suasana mansion terasa hangat. El sedang asyik mengerjakan PR di ruang tengah ditemani Pak Sutoyo yang baru saja pulang. Sang Jenderal tampak sangat sabar membimbing cucunya.

Hana dan Tama memilih untuk berbicara di balkon belakang, menikmati semilir angin malam yang dingin. Di sinilah, Hana akhirnya menumpahkan semuanya. Ia menceritakan bagaimana Cakra dan ayahnya muncul di ruang rapat sebagai investor besar.

"Apa?!" Tama langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi tegang karena terkejut. "Jadi.... investor yang kau maksud itu adalah Cakra? Pria itu.... dia ada di kantormu hari ini?"

Tama mengepalkan tangannya. Ia teringat sosok pria yang mengintai kelas El tadi pagi. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Pria yang ia lihat di sekolah, ia yakini adalah Cakra, ayah kandung El yang sedang mencari keberadaan anak dan mantan istrinya.

"Kenapa dunia sempit sekali, Han?" geram Tama pelan. "Lalu, apa yang akan kau lakukan jika dia tahu El adalah putranya?"

Bersambung...

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ga usah balas dendam dengan melibatkan orang lain Hana apa lagi menyangkut peradaan juga karna lama² pasti bakal ada yang tersakiti, entah Tama, atau justru kamu sendiri yang malah gamon dari Cakra meskipun balas dendam mu berhasil kalau ujung²nya kamu menyesal sendiri.
mending tunjukin diri sendiri padanya kalau memang kamu benar² sudah move on dan berubah dari yang dulu dengan keadaan dan kedudukanmu sekarang plus menata hati dan hidup mu... itu baru Oke.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Kejutaaannn... selamat berjuang tepung Cakra, entah harapanmu akan terwujud atau gagal karna ga mudah buat Hana nerima kamu kecuali El mendesak buat kalian bersatu dan tentunya dengan skenario Authornya.😆😆😆
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali akak 🤣🤭
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
El kecil² sok tau padahal mah emang tebakanmu Betul sekali.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
mulai berulah lagi si kuman Jesica... mesti di bikin kapok tuh biar ga ganggu terus Hana.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waduuuhhh... 🫣🫣🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Eng ing eengng... apaksh El mau manggil si tepung papah atau justru diem saja ya.🤔🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
owh Tama bukan sodara sedarah ternyata, pantesan di awal kok bisa Tama jadi kakanya sedangkan pak Sutoyo menikahi Lestari lebih dulu dan hamil Hana sebelum nikah dengan Miranti... sekarang terjawab sudah.
untung Tama baik ga kayak almh. ibunya yang egois sampe mau bantu pak Sutoyo buat menemukan Hana.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ternyata takdir pernikahan Hana sama dengan ibunya, karna perbedaan Kasta.
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waaahh apa Hana sodaraan sama Tama ya.. kalaupun bener syukur lah berarti dia ada sosok pelindung.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Weeehh ada pemeran baru yang bakal jadi saingannya si tepung Cakra....😆😆
pepet terus saja pelan² Tama ga apa².🤭🤭🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waduuuhh El kamu mau ngapain nyari tau bapakmu, kasihan ibu mu masih trauma tuh sama tepung Cakra.🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Preeettlah nyeselmu ga guna tepung Cakra karna intinya kamu lebih percaya pada Ibumu da asumsimu sendiri dan ga pernah percaya Hana sama sekali.
coba saja kamu percaya bahwa kamu percaya pada istrimu dan melihat upaya dia selama menjadi iatrimu mungkin kamu ga akan dengan mudah jatuhin langsung kata talak saat Hana jelasin apa yang sebenarnya terjadi.😤
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hmmm.. biar lah Hana pergi bahagia dengan babynya dan biarkan si tepung Cakra nyesel kebangetan biar si ny.Inggrid jadi ikutan sutrrs anaknya terpuruk.🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aku malah inget nya sama penyanyi Cakra Khan, kak 🤭
total 3 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Baru juga ngintip udah adegan yang bikin dag dig dug Thor..🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih sudah mampir, kak 🙏😘
total 1 replies
syska
ᴋᴇʀᴇɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ...
ʀɪɴɢᴀɴ ᴛᴀᴘɪ ᴍᴀsᴜᴋ ᴋᴇ ʜᴀᴛɪ...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih kak 🙏😘
total 1 replies
aurora
yang menjadi korban jelas El
Rosita Tumbelaka
aq suka sekali krn foto2 visual nya wajah2 Indonesia..beda dgn novel2 lain selalu pake waja wajah Sarangho...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, terimakasih Bunda 🙏😘
total 1 replies
Rosita Tumbelaka
Senang nya lihat pasangan yg gagah tampan dan cantik...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih Bunda 🙏😘
total 1 replies
Opung Boru Caroline Pasaribu
msu apa lagi dia datang
Opung Boru Caroline Pasaribu
kau yg buang lalu kuambil.siapa yg salah kata tama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!