"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Benang Merah di Bawah Meja
Benang Merah di Bawah Meja
Dunia seolah menjadi panggung sandiwara bagi Mbak Siska. Sejak malam itu, dia tidak lagi hanya diam. Dia mulai "menandai" Gavin lewat kata-kata yang terdengar manis tapi sebenarnya adalah belati yang ditusukkan ke arahku.
Pagi ini, di meja makan, Siska duduk sangat dekat dengan Gavin. Dia sibuk memotongkan daging steak untuk suaminya, seolah Gavin tidak punya tangan sendiri.
"Mas Gavin itu kalau nggak aku yang urus makannya, pasti sembarangan," ucap Siska sambil melirikku dengan senyum penuh kemenangan. "Kasihan ya, Rum. Mas Gavin itu tipe pria yang butuh pelayanan ekstra. Dia nggak suka yang amatiran, dia sukanya yang sudah paham luar-dalam tubuhnya."
Gavin hanya terdiam, mengunyah makanannya tanpa ekspresi. Dia tampak seperti kerbau yang dicocok hidungnya—patuh, diam, dan mengikuti ke mana pun Siska menarik talinya.
"Iya kan, Mas? Semalam saja kamu bilang kalau nggak ada aku, kamu mungkin nggak akan pernah bisa tidur nyenyak," tambah Siska, kali ini dia mengusap rahang Gavin dengan jemarinya yang lentur.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Aku sudah selesai. Mau berangkat kampus."
"Eh, tunggu dulu, Arum," panggil Siska. "Mas, tolong ambilkan tisu di dapur buat Arum. Itu ada sisa selai di sudut bibirnya. Biar dia belajar rapi, jangan berantakan terus kayak anak kecil."
Gavin berdiri. Dia berjalan ke arah dapur, dan saat dia melewati kursiku, aku merasakan tangannya yang besar dan panas sengaja menyerempet bahuku. Singkat, tapi membuat seluruh syarafku bergetar.
Tak lama, Gavin kembali membawa tisu. Namun, bukannya memberikan tisu itu padaku, dia justru berdiri tepat di sampingku. Dia membungkuk, wajahnya sangat dekat dengan telingaku hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang maskulin.
"Diam," bisik Gavin, suaranya serak dan rendah, hanya bisa didengar olehku.
Dia mulai mengusap sudut bibirku dengan tisu. Tapi gerakannya sangat lambat. Jempolnya sengaja menekan bibir bawahku, sedikit menariknya ke bawah, membuatku tanpa sadar membuka mulut sedikit. Matanya yang gelap menatap bibirku dengan intensitas yang bisa membuat es mencair.
"Sudah bersih," ucapnya datar, tapi di bawah meja, aku merasakan kaki Gavin—yang masih memakai celana kain kantornya—sengaja menggesek betisku. Dia menekannya, naik perlahan ke arah lututku, menciptakan sensasi terbakar di balik rok pendekku.
Aku menahan napas, tanganku mencengkeram pinggiran kursi. Siska masih duduk di depannya, sibuk menyesap jus jeruknya, tidak tahu kalau di bawah meja, suaminya sedang melakukan gerilya panas padaku.
Sore Hari - Di Rumah (Saat Siska sedang Fisioterapi)
Siska sedang di ruang tengah bersama terapisnya. Aku sedang berada di perpustakaan kecil Papa, mencoba fokus pada buku tebal yang sebenarnya tidak kubaca satu huruf pun. Tiba-tiba pintu tertutup dan terkunci.
Klik.
Gavin berdiri di sana. Dia sudah melepaskan jasnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung.
"Mas... Mbak Siska ada di luar," bisikku panik sekaligus bergairah.
Gavin tidak menjawab. Dia berjalan mendekat, langkahnya tenang namun mematikan. Dia menyudutkanku di rak buku yang tinggi. Kedua tangannya mengurungku, menumpu pada rak di kiri dan kanan kepalaku.
"Dia memang di luar. Tapi pikiranku sejak tadi pagi ada di sini," Gavin menunduk, hidungnya menyusuri garis rahangku hingga ke ceruk leher. Dia menghirup aromaku dengan rakus. "Bau minyak amis itu sudah hilang. Sekarang kamu bau... godaan."
"Mas Gavin bilang aku murahan, kan?" rintihku saat merasakan bibirnya mulai memberikan kecupan-kecupan ringan di urat nadiku di leher.
"Ya, kamu memang murahan karena sudah membuatku gila," bisik Gavin. Tangannya turun dari rak, merayap ke pinggangku, menarikku hingga tidak ada celah di antara kami.
Dia mulai membuka kancing kemejanya sendiri satu per satu sambil matanya tetap menatapku tajam. "Lihat bekas ini, Arum..." dia menunjuk bekas cakaran Siska yang mulai mengering di dadanya. "Semalam aku membiarkannya melakukannya karena aku membayangkan kamu yang sedang mengerang di bawahku."
Gavin menarik tanganku, menuntun jemariku untuk menyentuh bekas luka itu. "Kamu mau buat yang baru? Yang lebih dalam? Yang hanya milik kita berdua?"
Gavin membungkuk, melumat bibirku dengan sangat perlahan namun penuh tuntutan. Ini bukan ciuman kilat. Ini adalah ciuman yang dalam, basah, dan penuh emosi yang terpendam. Lidahnya mengeksplorasi setiap sudut mulutku, menghisapnya seolah aku adalah sumber kehidupannya.
Tangannya mulai nakal, merayap masuk ke balik bajuku, menyentuh kulit punggungku yang sensitif. Dia menarik napas berat. "Aku benci kenyataan kalau aku harus keluar dari ruangan ini dan kembali menjadi suami yang baik untuknya."
"Kalau gitu jangan keluar," tantangku, keberanianku muncul karena sentuhannya.
Gavin menyeringai tipis. Dia mengangkatku, mendudukkanku di atas meja kayu perpustakaan yang dingin. Dia menyusup di antara kedua kakiku, tangannya mulai menelusuri pahaku dengan gerakan yang sangat detail, seolah sedang menghafal setiap inci tekstur kulitku.
"Mas... nanti Mbak Siska—"
"Dia tidak akan masuk. Terapinya masih satu jam lagi," potong Gavin. Dia menenggelamkan wajahnya di dadaku, menyedot kulitku melalui kain bajuku hingga aku membusungkan dada, mendesah pelan karena nikmat yang terasa berdosa.
Di luar, sayup-sayup aku mendengar suara tawa Siska yang sedang berbincang dengan terapisnya. Kontras yang luar biasa. Di luar ada kesembuhan dan pengabdian, di dalam sini ada pengkhianatan yang membara dan keinginan yang tak terpadamkan.
Gavin terus menggoda setiap titik sensitifku dengan jemarinya, membuatku berkeringat dingin dan memohon lebih. Dia benar-benar sedang membalas dendam atas rasa frustrasinya sendiri, dan aku... aku dengan senang hati hancur bersamanya di atas meja itu.
"Kamu adalah racunku, Arum," bisik Gavin sebelum kembali melumat bibirku dengan lebih beringas.
Napas Gavin semakin memburu di ceruk leherku. Tangannya yang besar sudah mulai merayap naik, mencari pengait di balik pakaianku dengan kemahiran yang membuat seluruh tubuhku lemas. Meja kayu yang dingin di bawah pinggulku terasa kontras dengan panas tubuh Gavin yang seolah membakarku hidup-hidup.
"Mas... ahhh... pelan-pelan..." rintihku tertahan, menjambak pelan rambut belakangnya agar dia tidak berhenti.
Gavin tidak mendengarkan. Dia justru semakin dalam melumat kulit bahuku, meninggalkan jejak kemerahan yang aku tahu bakal susah disembunyikan besok pagi. Gairah sudah menutup logikanya. Dia seolah lupa kalau kami hanya terpisah satu pintu dari dunia luar yang bisa menghancurkan hidup kami dalam sekejap.
Klek. Klek.
Suara gagang pintu perpustakaan yang coba diputar dari luar membuat jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga.
"Arum? Gavin? Kalian di dalam?"
Suara Mama.
Darahku langsung berdesir dingin. Gavin membeku seketika. Posisinya masih di antara kedua kakiku, dengan kemeja yang sudah terbuka separuh. Wajahnya yang biasanya tenang kini memucat, matanya melotot kaget menatap pintu.
"Lho, kok dikunci? Arum? Ini Mama mau ambil buku catatan lama Papa di rak pojok," suara Mama terdengar lagi, kali ini disertai ketukan yang lebih keras.
Aku nyaris berteriak kalau saja Gavin tidak dengan sigap membungkam mulutku dengan telapak tangannya yang lebar. Kami berdua terpaku dalam posisi yang sangat tidak senonoh itu. Napas kami yang masih tersengal-sengal harus dipaksa berhenti. Aku bisa merasakan detak jantung Gavin yang berdegup kencang di dadaku yang masih terekspos.
"Arum! Kamu tidur ya di dalam? Atau lagi belajar?" Mama mulai curiga. "Gavin! Kamu tadi bukannya masuk ke sini?"
Gavin memberi isyarat padaku dengan gerakan mata agar aku segera merapikan baju. Dengan tangan gemetar sehebat gempa bumi, aku buru-buru menarik pakaianku dan meloncat turun dari meja. Sementara itu, Gavin dengan kecepatan kilat mengancingkan kemejanya secara acak—bahkan ada kancing yang salah lubang karena panik.
"I-iya, Ma! Sebentar! Arum tadi... tadi ketiduran!" teriakku dengan suara yang pecah dan bergetar hebat. Aku buru-buru merapikan rambutku yang sudah seperti sarang burung.
Gavin dengan gerakan tenang yang dipaksakan, menyambar sebuah buku tebal dari rak terdekat, lalu duduk di kursi seberang meja seolah-olah dia sedang fokus membaca selama berjam-jam. Dia memberikan isyarat agar aku membuka kuncinya.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur raut wajah agar tidak terlihat seperti baru saja "digempur". Aku memutar kunci dan membuka pintu sedikit.
"Eh, Mama... maaf, tadi Arum emang ngantuk banget sampai ketiduran terus nggak sadar pintu terkunci," ucapku sambil memaksakan senyum yang pasti terlihat aneh.
Mama masuk dengan kening berkerut. Matanya menyapu ruangan, menatapku yang wajahnya masih kemerahan, lalu menatap Gavin yang sedang serius memegang buku—yang ternyata terbalik.
"Kamu belajar sama Gavin, Rum? Tadi Mama cari Gavin di depan katanya mau ambil minum ke dapur, kok malah nyasar ke sini?" tanya Mama penuh selidik.
Gavin mendongak, wajahnya kembali ke mode "Kulkas" yang sempurna, meski keringat dingin di pelipisnya tidak bisa berbohong. "Iya, Ma. Tadi Arum tanya soal jurnal bisnis, jadi saya mampir sebentar buat jelasin. Nggak sadar kalau waktunya sudah lewat."
Mama menatap kami berdua bergantian selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad. "Oalah... ya sudah. Tapi jangan dikunci pintunya, nggak enak kalau Siska tahu atau tetangga lewat. Masih sore begini masak dikunci."
"Iya, Ma... tadi nggak sengaja keputar," sahutku cepat.
Mama berjalan ke rak pojok, mengambil bukunya, lalu keluar sambil bergumam tentang Siska yang sudah selesai fisioterapi. Begitu pintu tertutup, aku langsung merosot ke lantai, lemas sekujur tubuh.
Gavin menutup bukunya dengan keras. Dia menatapku dengan napas yang kembali berat, tapi kali ini penuh dengan ketegangan yang berbahaya. "Hampir saja, Arum. Kita benar-benar gila."
"Mas yang mulai duluan!" bisikku kesal sekaligus masih gemas.
Gavin berdiri, merapikan kemejanya dengan benar, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti tepat di sampingku dan berbisik pelan, "Lain kali, kita cari tempat yang Mama tidak punya kuncinya."
Dia pergi begitu saja, meninggalkanku yang masih gemetar di lantai perpustakaan dengan rasa panas yang masih tertinggal di bibirku. Kami benar-benar sedang berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja.
jngan y thor