NovelToon NovelToon
Kontrakan Maut

Kontrakan Maut

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Perjodohan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maulana Alhaeri

Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.

Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?

SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Warisan Terakhir

Angin malam membawa bau tanah basah dan bunga kamboja. Aku, Bimo, berdiri di depan kontrakan tua itu lagi. Catnya sudah terkelupas, pintunya miring, tapi hawa dingin yang dulu menusuk tulang sekarang sudah hilang. Diganti sepi. Sepi yang aneh. Sepi yang damai.

Setahun sudah berlalu. Setahun sejak Sumi, arwah penjaga kontrakan maut ini, memilih pergi bersama Melati ke alam yang lebih tenang. Setahun sejak aku bersumpah tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat terkutuk ini. Katanya, “Epilog”. Katanya, “Tamat”. Tapi hidup memang suka bercanda.

Tadi sore, Pak RT datang ke rumahku di kampung. Mukanya pucat. Di tangannya ada sepucuk surat lusuh, amplopnya sudah menguning. “Ini, Le. Titipan. Dari pemilik kontrakan yang dulu. Baru ketemu di lemari kelurahan pas beres-beres arsip. Katanya penting.”

Jantungku deg-degan. Tanganku gemetar saat membuka surat itu. Tulisannya pakai tinta merah yang sudah pudar, tapi masih bisa kubaca jelas:

“Bimo, nek kowe moco iki, berarti aku wis ora ono. Warisanku durung rampung. Kunci laci ngisor tangga. Ojo lali, Sumi nitip salam. Ngapurane wis nglibatkke kowe. – Mbah Karto”

Mbah Karto. Pemilik pertama kontrakan maut. Orang yang dulu hilang tanpa jejak, yang katanya jadi tumbal pertama. Dadaku sesak. Jadi selama ini belum selesai?

Dengan langkah berat, aku kembali ke kota. Kembali ke kontrakan yang sudah setahun kutinggalkan. Malam ini, dia terlihat lebih reyot. Lebih tua. Seolah ikut menua bersamaku.

KLEK.

Laci di bawah tangga itu berderit saat kubuka. Isinya bukan harta, bukan emas, bukan jimat. Cuma sebuah buku catatan kumal bersampul kulit dan satu foto hitam putih. Di foto itu, Mbah Karto muda, gagah, berdiri di samping seorang perempuan berkebaya. Perempuan itu tersenyum teduh. Wajahnya... wajah Sumi saat masih hidup. Sumini. Di belakang mereka, kontrakan ini masih baru, bersih, dan di halamannya... ada sebuah sumur tua yang dipenuhi bunga. Kembang Suargo.

Buku itu kubuka. Halaman pertama membuat napasku tercekat:

“1955. Aku, Karto, menikahi Sumini. Dia bukan manusia. Dia penjaga Kembang Suargo, sumur pintu antar alam. Aku serakah. Aku ingin kaya. Aku paksa dia nutup sumur pakai mantra. Aku kurung dia di kontrakan ini. Akibatnya, dia jadi arwah penasaran. Dan setiap 70 tahun, sumur itu nagih tumbal.”

DINGIN. Seluruh bulu kudukku berdiri. Tahun ini, 2025. Tepat 70 tahun.

Tiba-tiba HP-ku bunyi. Nomor tak dikenal. Suaranya lirih, seperti gema dari dasar sumur. “Mas Bimo... tolong...”

“Melati?”

“Bukan Mas... Ini aku, Sumini... Sumi... Aku dijebak lagi di bawah... di Kembang Suargo... Mbah Karto gagal. Sekarang giliranmu... Kamu harus milih...”

TUT. Mati.

Aku terduduk lemas. Jadi ini warisannya. Bukan harta. Tapi kutukan. Aku harus turun ke sumur itu, menggantikan Sumi jadi kunci, agar Kembang Suargo tidur lagi 70 tahun. Atau aku pergi, membiarkan kutukan ini mencari tumbal lain. Membiarkan Sumi tersiksa lagi.

Hujan mulai turun. Rintiknya merah. Bau anyir darah menusuk. Di belakangku, pintu kontrakan berderit sendiri. Langkah kaki basah terdengar dari dalam. Satu-satu. Berat. Mendekat.

Aku pejamkan mata. Aku sudah capek lari. Capek takut. Aku ambil foto Sumi dan Mbah Karto, kugenggam erat. “Sepurane, Sumi... Aku ra iso.”

Aku balik badan, menatap lorong gelap itu. Bukan dengan takut. Tapi dengan pasrah. “Metuo, Kembang Suargo. Aku wes siap.”

Tapi yang terjadi justru aneh. Angin kencang berhembus dari dalam kontrakan. Bau melati menguat, mengalahkan bau anyir. Suara Sumi, bukan isak tangis, tapi suara tawa yang lega, bergema di seluruh ruangan: “Mas Bimo... matur nuwun... Kowe wis milih urip. Milih ngelawan. Iki sing tak tunggu. Wani ngomong 'ora' karo takdir.”

Lantai di bawah kakiku bergetar. Dari celah papan kayu, cahaya keemasan menyembur keluar. Hangat. Bukan panas. Bau busuk itu hilang, tergantikan wangi kamboja. Suara langkah berat tadi berubah jadi suara gemericik air.

Laci di tanganku tiba-tiba panas. Kubuka lagi. Buku kumal dan foto itu... hancur menjadi debu emas, lalu terbang keluar, menembus atap. Di dasar laci, ada tulisan baru yang terukir: “Kontrak Lunas”.

Hujan merah berhenti. Berganti gerimis biasa. Hawa dingin itu benar-benar lenyap. Aku lari ke halaman belakang. Tanah tempat sumur itu dulu berada sekarang rata. Tumbuh bunga kamboja kecil di atasnya. Mekar. Indah.

HP-ku bunyi lagi. Dari adikku. “Mas, kapan balik? Ibu masak rawon. Katanya kangen.”

Aku tersenyum. Air mataku netes. Bukan sedih. Tapi lega.

Aku melangkah keluar dari kontrakan untuk terakhir kalinya. Tidak menengok ke belakang. Pintu itu tertutup sendiri. Pelan. Klik. Suara yang paling damai yang pernah kudengar.

Di dinding luar, tempat dulu ada tulisan darah, sekarang ada ukiran baru yang entah sejak kapan ada di sana: “Matur Nuwun, Mas Bimo”.

Kontrak Maut. Warisan Terakhir. Semuanya... lunas.

Aku melangkah keluar dari kontrakan untuk terakhir kalinya. Tidak menengok ke belakang. Pintu itu tertutup sendiri. Pelan. Klik.

Tapi sebelum bunyi 'klik' itu selesai...

TOK. TOK. TOK.

Ada yang mengetuk pintu dari dalam kontrakan yang sudah kosong.

Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu:

"Permisi... Denger-denger kamar sebelah kosong ya? Saya Bakri. Baru pindah."

Di dinding luar, tulisan "Matur Nuwun, Mas Bimo" tiba-tiba luntur, diganti tulisan baru yang meneteskan darah:

"SELAMAT DATANG, MAS BAKRI"

[ BERSAMBUNG KE SEASON 2 : Tamat? Kata Siapa,Lanjut Terus... ]

1
jeakawa loving❤️
edan itu kunti
jeakawa loving❤️
kenapa banyak yang di ulang sih part nya jadi perbab itu ada bagian sama nya kakak,lain kali d cek dulu ya kak bagian editor juga kaya nya gak teliti deh bab sama masih aja d lolosin🙏
jeakawa loving❤️
oh gt ya rupanya 🤣🤣
jeakawa loving❤️
maaf ya kenapa kata katanya gt amat ke suaminya kaya Ama temen aja jangan d banyakin kutu kupret nya dong Ama sue Lo kan bisa ganti lainnya
Maulana Alhaeri: Halo kak jeakawa loving ❤️

Makasih banget ya kak masukannya 🙏 Maaf banget kalo kata-katanya bikin gak nyaman.

Soalnya MC di cerita ini tipe orang Betawi medok kak, jadi dialognya sengaja dibikin 'sehari-hari' biar kerasa real 😅 Tapi aku usahain kurangi kata kasarnya di bab depan ya kak.

Sehat-sehat kak jeakawa! Makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
jeakawa loving❤️
ntar dulu bukannya cari kontrakan Ama Deni ya terus Deni nya kemana.
Maulana Alhaeri: Halo kak jeakawa loving ❤️

Makasih banyak ya kak udah baca 'Kontrakan Maut' dan udah komen 🙏

Untuk tokoh Deni kayaknya belum ada di cerita ini kak 😅 Mungkin kakak keinget sama novel lain ya. Di 'Kontrakan Maut' MC-nya cari kontrakan sendirian kok.

Sehat-sehat terus ya kak! Ditunggu komen selanjutnya ❤️
total 7 replies
Mega Arum
cari kontrakanya dg deni, knp jd sama fitri istrinya ya ???
Maulana Alhaeri: Ralat ya kak Mega Arum 🙏😅

Tadi aku salah bales kak. Di cerita 'Kontrakan Maut' dari Bab 1 emang gak ada tokoh Deni & Fitri. MC dari awal cari kontrakan sama istrinya sendiri kok.

Maaf ya kak udah bikin bingung ❤️ Makasih udah teliti bacanya! Sehat-sehat kak!
total 2 replies
Mega Arum
mampir thor...suka.dg crta horor
Maulana Alhaeri: Makasih banyak udah mampir kak Mega 🙏
Semoga betah di Kos 666 ya... horornya baru pemanasan 😈
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!