Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 Tirai yang tertutup
Reigan menyambar jasnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Hana.
Langkah kakinya terdengar terburu-buru, lalu dentuman pintu yang tertutup keras menggantikan kehadirannya.
Hana tidak bergerak. Ia hanya berdiri terpaku menatap gedung di seberang, seolah sedang menghitung sesuatu di balik kegelapan kaca itu. Jarinya bergerak pelan di atas bingkai jendela, mengikuti garis imajiner yang hanya ia yang tahu.
"Anginnya terlalu kencang untuk sudut itu," bisiknya pada diri sendiri, hampir tidak terdengar. Lalu ia menutup tirai dengan rapat, seolah hanya ingin menghindari silau lampu kota.
***
Pukul tiga dini hari.
Pintu apartemen terbuka. Reigan masuk dengan rahang mengeras. Kemeja hitamnya kini kusut dan ada noda debu di bahunya. Operasi di pelabuhan Ethendore tadi berantakan. Nico memberikan informasi bahwa informan mereka telah dieksekusi sebelum sempat membuka mulut—dan yang lebih buruk, ada kebocoran internal di Valerius.
Reigan melangkah masuk, disambut oleh keheningan ruang tamu yang biasanya megah namun malam ini terasa menyesakkan. Biasanya, siluet sofa dan meja kristalnya akan terlihat jelas oleh bias lampu neon dari gedung-gedung Odelgard.
Namun sekarang, ruang tamu itu gelap gulita.
Kening Reigan mengerut. Ini tidak biasa.
Ia tidak suka kegelapan yang total seperti ini; baginya, cahaya kota Odelgard adalah satu-satunya pemandangan yang layak dinikmati dari unit mahalnya. Ia merasa seolah privasi dan otoritasnya di rumah sendiri baru saja diusik.
lalu ia menyalakan lampu kecil di dekat bar. Cahaya kuning redup mulai menyinari ruangan, memperlihatkan tirai yang tertutup rapat dari ujung ke ujung. Ini alasan ruang tamu terlihat gelap dan memutus satu-satunya sumber cahaya alami yang ia sukai.
Reigan merasa ada yang aneh, sampai ia mendengar suara gemericik air dari arah dapur.
Hana ada di sana. Ia sedang mencuci gelas di bawah lampu wastafel yang menyala sangat redup, hanya cukup untuk menerangi tangannya sendiri.
Sesaat ia merasa tidak waspada. Mungkin karena dia tidak peduli pada keberadaan wanita ini yang ia anggap sebagai pajangan saja.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Reigan sedikit terkejut. Baginya, ini adalah jam tidur yang seharusnya tidak diisi dengan aktivitas apa pun di dapur.
Hana menghentikan gerakannya namun tidak langsung menoleh. "Aku haus. Maaf jika suara airnya mengganggumu."
Reigan tidak membalas. Ia berjalan mendekat ke arah bar, menuangkan air mineral. "Kenapa tirainya ditutup? Aku tidak suka ruangan ini gelap total seperti gua."
Hana menunduk lebih dalam. "Tadi... Aku merasa anginnya bertiup sangat kencang. Suaranya sedikit menakutkan, jadi aku menutupnya agar lebih tenang."
Reigan mendengus hambar. "Ini apartemen kedap suara, Hana. Angin tidak akan menembus kaca setebal itu," ujar Reigan datar sembari meletakkan gelasnya. "Lain kali biarkan terbuka. Aku lebih suka cahaya kota daripada lampu interior yang menyilaukan."
Bagi Reigan, penjelasan Hana adalah bukti nyata betapa berbedanya dunia mereka. Wanita ini hanyalah seorang gadis pinggiran yang takut pada suara angin yang menghantam gedung tinggi—seseorang yang sangat tidak pada tempatnya di dunia Odelgard yang keras. Ia tidak habis pikir mengapa kakeknya memilih wanita seaneh ini untuk dinikahkan dengannya.
"Baik. Maaf, Reigan," sahut Hana pendek. Ia meletakkan gelas yang sudah bersih ke rak dengan gerakan yang sangat hati-hati, nyaris tanpa suara.
Reigan sama sekali tidak memperhatikan langkah Hana yang sepertinya masuk kembali ke dalam kamar. Baginya, wanita itu hanyalah tanggung jawab dari kakeknya yang harus ia toleransi kehadirannya demi rasa hormat pada kakek Douglas, bukan karena keinginan pribadi.
Ia kembali menatap ke arah tirai yang tertutup rapat itu, merasa Hana adalah orang asing yang sangat tidak pada tempatnya di dunia Odelgard yang keras. Hana benar-benar tidak membawa manfaat apa pun selain menambah rasa pening di kepalanya.
Ia sendirian di tengah ruang tamu yang gelap, memikirkan pengkhianatan di pelabuhan dan betapa rapuhnya loyalitas di Ethendore. Ia merasa seolah semua orang sedang mengincarnya dari balik bayang-bayang.
Reigan menyesap airnya sekali lagi, merasakan dingin yang menjalar di tenggorokannya. Ia menatap tirai yang tertutup itu cukup lama. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menggelitik tengkuknya—sebuah naluri predator yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di luar sana, namun kegelapan tirai itu meredam segalanya.
Ia mendengus, mengusir pikiran konyol itu. Ia tidak sadar bahwa keputusannya untuk membiarkan tirai itu tetap tertutup—meski dengan rasa kesal—adalah garis tipis yang memisahkannya dari maut malam ini. Reigan berbalik, melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
***
Matahari Odelgard terbit dengan warna perak yang pucat, tertutup oleh kabut tipis yang menyelimuti puncak-puncak gedung pencakar langit. Di lantai empat puluh, cahaya itu mulai merambat masuk melalui jendela besar yang kini sudah terbuka lebar.
Reigan yang membukanya sendiri sesaat setelah ia terbangun, seolah ingin segera menghapus sisa-sisa "kegelapan" yang diciptakan Hana semalam.
Dia sudah siap dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Ia berdiri di depan cermin ruang tengah, merapikan jam tangan kronograf-nya. Wajahnya tetap datar, menyembunyikan fakta bahwa ia hanya sempat memejamkan mata selama dua jam.
Saat ia menuruni tangga menuju ruang tengah, aroma kopi yang kuat mulai tercium. Langkah kakinya yang berat terhenti sejenak di anak tangga terakhir.
Hana sudah ada di dapur.
Wanita itu sedang menata meja makan dengan gerakan yang sangat tenang, nyaris tanpa suara.
"Selamat pagi, Reigan," sapa Hana saat melihat kehadirannya.
Reigan tidak menjawab sapaan itu. Ia bahkan tidak menghentikan langkahnya atau sekadar menoleh untuk mengakui keberadaan wanita itu di dapurnya.
Untuknya, sapaan Hana hanyalah suara latar yang tidak perlu ditanggapi, seperti bunyi mesin kopi atau deru pendingin ruangan.
Ia melewati meja makan yang sudah tertata rapi tanpa meliriknya sedikit pun. Langkah sepatunya yang tegas berdentum menuju bar kopi di sudut dapur. Di sana, ia mulai bergerak dengan efisien. Reigan mengambil biji kopi dari wadah kedap udara, memasukkannya ke dalam mesin, dan membiarkan suara geraman mesin penggiling memecah kesunyian pagi.
Setelah kopinya siap, Reigan menyesap cairan hitam pekat itu perlahan. Aroma pahit yang tajam memenuhi indra penciumannya, memberikan sentakan energi yang ia butuhkan setelah malam yang melelahkan di pelabuhan.
Reigan meletakkan cangkirnya yang masih setengah penuh di atas bar. Ia hanya memeriksa ponselnya sekilas sebelum memasukkannya ke dalam saku jas, lalu menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja bar.
Ia tahu Nico sudah menunggunya di lobi gedung dengan mesin mobil yang sudah menyala. Di dunia Reigan, keterlambatan satu detik saja bisa berarti hilangnya nyawa informan lain atau celah bagi pengkhianat di Valerius untuk melarikan diri lebih jauh.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa pamit, apalagi menoleh ke arah Hana, ia melangkah pergi. Baginya, Hana benar-benar tidak ada di sana. Ia melangkah keluar dari apartemen, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.
Klik.
Suara pintu yang menutup otomatis menjadi satu-satunya tanda bahwa pria itu telah pergi.
Hana menghela napas dan mulai sarapan pagi yang sudah ia buat untuk dirinya.
semangattttt
lanjutttt😄💪
lanjuttt
smangattt💪😄