Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Rekonstruksi Meridian Es Yin
"Bagus. Ingat ucapanmu itu, Bocah. Tahan rasa sakit ini dengan seluruh jiwamu, atau kamu akan lenyap dari dunia ini tanpa meninggalkan bekas," ucap Yue-Jian dengan nada suara yang sedingin es abadi.
Roh Pedang wanita itu melayang mundur satu langkah. Dia mengangkat Pedang Hitamnya tinggi-tinggi ke udara dengan kedua tangan. Seketika, atmosfer di dasar Lembah Ratapan yang semula memang sudah dingin, mendadak turun secara drastis hingga tingkat yang tidak masuk akal. Udara di sekitar mereka seolah membeku, dan kabut hitam pekat mulai berputar-putar membentuk pusaran raksasa dengan liontin giok Ye Chen sebagai pusatnya.
Yue-Jian mengarahkan ujung pedangnya tepat ke arah dada Ye Chen. "Buka pikiranmu, hancurkan sisa harga dirimu yang lama, dan terima energi tertinggi!"
Wuuuush!
Sebuah aliran energi hitam pekat yang luar biasa murni meledak keluar dari bilah Pedang Hitam. Energi itu melesat cepat, menembus liontin giok di leher Ye Chen, dan langsung menghantam tepat di tengah-tengah dadanya.
Seketika itu juga, Ye Chen menjerit histeris. Suara jeritannya begitu melengking dan penuh penderitaan, menggema berulang-ulang di sepanjang dinding tebing Lembah Ratapan yang sunyi.
Rasa sakit yang menghantamnya kali ini benar-benar berada di luar batas imajinasi manusia. Jika tebasan pedang Bai Long sebelumnya terasa seperti merobek dagingnya, maka energi dari Pedang Hitam ini terasa seolah-olah ribuan cacing es gaib sedang merayap masuk ke dalam pembuluh darahnya, menggrogoti setiap inci daging, tulang, dan sumsumnya dari dalam. Energi Es Yin murni yang sangat pekat mulai merangsek masuk, memaksa jalurnya sendiri melewati sisa-sisa reruntuhan jalur meridian Ye Chen yang telah hancur berantakan.
"Jangan berani-berani kehilangan kesadaranmu!" teriak Yue-Jian dengan suara tegas yang bergema langsung di dalam jiwa Ye Chen. "Energi Es Yin ini tidak memiliki belas kasihan. Jika jiwamu menyerah dan membiarkan kesadaranmu padam bahkan untuk sekejap saja, hawa dingin abadi ini akan langsung membekukan jantung dan menghancurkan jiwamu menjadi serpihan es!"
Ye Chen mendengar peringatan itu, namun pikirannya sudah hampir mati rasa karena rasa sakit yang teramat sangat. Matanya melotot lebar hingga urat-urat merah di bola matanya terlihat jelas. Urat-urat di sekujur tubuhnya, mulai dari leher, lengan, hingga kaki, menonjol keluar dengan warna biru kehitaman yang mengerikan. Tubuhnya melengkung kaku di atas tanah, gemetar hebat seperti orang yang sedang kejang-kejang di tengah badai salju.
Di ambang batas antara hidup dan mati, di saat jiwanya tergoda untuk menyerah pada kegelapan agar rasa sakit itu hilang, sebuah bayangan muncul di benaknya. Itu adalah bayangan wajah Bai Long yang menatapnya dengan penuh penghinaan sambil menginjak dadanya. Itu adalah bayangan wajah munafik Tetua Mo Feng yang tersenyum palsu selama bertahun-tahun demi mengincar liontin giok peninggalan orang tuanya.
Tidak... Aku tidak boleh mati di sini! raung Ye Chen di dalam batinnya yang terdalam. Jika aku mati sekarang, mereka akan merayakan kemenangannya! Mereka akan hidup mewah dan dihormati di atas penderitaan dan kematianku! Aku adalah Ye Chen! Aku menolak untuk tunduk pada takdir sialan ini!
Kemarahan dan kebencian yang membakar jiwanya tiba-tiba meledak menjadi sebuah tekad yang tak tergoyahkan. Alih-alih menolak atau menahan energi dingin yang merusak tubuhnya, Ye Chen justru membuka seluruh pori-pori dan sisa titik energinya. Dia membiarkan dirinya sepenuhnya ditelan oleh hawa dingin tersebut.
Melihat perubahan sikap mental Ye Chen, mata Yue-Jian berkilat tajam. "Oh? Menarik. Kamu justru memilih untuk berasimilasi dengan hawa dingin ini?"
Seketika itu juga, pusaran kabut hitam di sekitar mereka bergerak semakin liar. Udara dingin yang telah mengendap di dasar Lembah Ratapan selama ribuan tahun seolah-olah menemukan rumah baru. Seluruh energi dingin abadi dan aura kematian di tempat itu berbondong-bondong tertarik, mengalir masuk ke dalam tubuh Ye Chen melalui liontin gioknya. Lembah Ratapan yang semula menjadi tempat eksekusi mati bagi Ye Chen, kini secara tidak sengaja berubah menjadi sebuah tempat kultivasi paling sempurna yang tidak akan pernah bisa ditemukan di dunia luar.
Satu jam. Dua jam. Lima jam berlalu tanpa terasa di tengah kegelapan dasar lembah yang abadi.
Jeritan penderitaan Ye Chen perlahan-lahan mulai mereda, digantikan oleh suara tarikan napas yang sangat berat, dalam, dan teratur. Lapisan es tipis berwarna hitam legam mulai terbentuk dan menyelimuti seluruh permukaan kulit tubuhnya, membuat Ye Chen tampak seperti sebuah patung es yang mati di tengah kegelapan.
Namun, di balik lapisan es hitam tersebut, sebuah keajaiban besar sedang terjadi. Di dalam tubuh Ye Chen, serpihan-serpihan meridian lamanya yang telah hancur kini telah lenyap total, dilebur oleh hawa dingin ekstrem. Sebagai gantinya, jaringan jalur meridian baru yang jauh lebih lebar, kokoh, dan berwarna hitam berkilauan keperakan telah terbentuk dengan sempurna di setiap sudut tubuhnya. Jalur ini membentang luas, menghubungkan setiap titik akupunktur langsung ke area Dantiannya yang kini berbentuk seperti pusaran badai es mini.
Meridian Es Yin tertinggi telah resmi direkonstruksi dengan sempurna.
KREEEK...
Lapisan es hitam yang menyelimuti tubuh Ye Chen tiba-tiba retak, lalu hancur berantakan menjadi serpihan-serpihan kecil yang langsung menguap ke udara.
Ye Chen perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Ketika matanya terbuka, sepasang pupil matanya tidak lagi berwarna hitam biasa. Sepasang matanya kini memiliki kilatan cahaya biru es yang sangat tajam, jernih, dan memancarkan aura dingin yang mampu mengintimidasi siapa saja yang menatapnya secara langsung.
Ye Chen secara tidak sadar mencoba mengalirkan energi penyerapan dasar, menguji jalur barunya. Rasa sakit yang luar biasa yang biasanya menyertai tubuh dengan meridian hancur kini telah hilang total tanpa bekas. Sebagai gantinya, dia merasakan sebuah aliran energi murni yang sangat dingin, pekat, dan luar biasa kuat mengalir dengan sangat lancar dan cepat di dalam tubuhnya, memberikan kekuatan yang jauh melampaui apa yang pernah dia miliki saat masih menjadi murid inti biasa di Sekte Azure Cloud.
Dia mengangkat tubuhnya dan duduk, menatap telapak tangannya sendiri dengan rasa tidak percaya.
Yue-Jian melayang turun, mendarat dengan anggun di depan Ye Chen. Dia menurunkan Pedang Hitamnya dan menatap murid barunya itu dengan ekspresi wajah yang tetap datar, meskipun ada sedikit anggukan samar yang menunjukkan rasa puas.
"Luar biasa," puji Yue-Jian dengan nada bicaranya yang tenang. "Kamu memiliki kemauan hidup dan kapasitas menahan rasa sakit yang cukup mengesankan untuk ukuran seorang manusia di benua kecil ini. Proses rekonstruksi telah selesai dengan sempurna. Kamu sekarang bukan lagi seorang sampah tak berguna."
Ye Chen segera bangkit berdiri. Gerakan tubuhnya sekarang terasa jauh lebih ringan, bertenaga, dan responsif daripada saat dia masih mengandalkan jalur meridian normalnya dulu. Dia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, merasakan energi dingin yang berputar-putar di bawah kulitnya, siap untuk diledakkan kapan saja.
Dia menatap ke arah Yue-Jian, lalu membungkuk dalam-dalam dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih, Senior Yue-Jian. Tanpa bantuan Anda, saya pasti sudah menjadi tumpukan tulang kering di tempat ini. Mulai hari ini, hidup saya adalah milik jalan balas dendam ini."
Yue-Jian hanya mendengus pelan mendengar ucapan terima kasih tersebut. "Simpan ucapan terima kasihmu nanti setelah kamu berhasil bertahan hidup di tempat ini, Bocah. Jalan yang akan kamu tempuh baru saja dimulai, dan tantangan yang sebenarnya sudah menunggumu di depan mata."