NovelToon NovelToon
SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rey.writerid

Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.

Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."

Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.

Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJUNG DARI SEMUA KEGILAAN

Suasana area pemakaman pagi itu terasa begitu dingin dan sunyi. Angin bertiup lirih, menggoyahkan dedaunan kering di sekitar gundukan tanah yang masih basah. Serena berdiri bersimpuh di samping makam kecil anaknya yang baru saja berpulang. Air matanya menetes satu per satu di atas taburan bunga mawar yang menghiasi pusara sang buah hati. Kehilangan ini benar-benar meremukkan jiwanya.

Di kejauhan, di balik deretan pepohonan kamboja, sosok Aryo berdiri dengan pakaian yang tampak kusut dan berantakan. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah Serena. Dengan langkah goyah, Aryo mencoba berjalan mendekat, bermaksud untuk memeluk istrinya dan meminta maaf.

Namun, belum sempat kakinya melangkah sampai ke tempat tujuan, tiga orang pria bertubuh kekar dengan setelan jas hitam langsung bergerak cepat menghadang jalannya. Itu adalah bodyguard-bodyguard suruhan Ayah Serena.

"Minggir! Saya mau ketemu istri saya!" bentak Aryo panik.

Melihat dirinya dikepung dan tidak bisa mendekat, Aryo bener-bener nekat. Pria itu mulai menjerit histeris sekuat tenaga, berharap suaranya bisa menembus kesunyian makam. "SERENA!!! SERENA!!! DENGERIN AKU, SER!!!"

Suara lengkingan Aryo menggema jelas, namun Serena yang sedang bersimpuh sama sekali tidak menoleh. Serena mengabaikannya secara total, seolah-olah Aryo hanyalah angin lalu yang tak kasat mata. Dengan sisa ketegaran yang dipaksakan, Serena bangkit berdiri, melangkah pelan meninggalkan makam, dan langsung menuju ke dalam mobilnya. Begitu pintu mobil tertutup rapat dan mesin dinyalakan, pertahanan Serena runtuh total. Di dalam ruang mobil yang sempit itu, Serena menangis sejadi-jadinya, menjerit meratapi nasibnya yang malang.

Aryo terengah-engah, tubuhnya lemas saat mobil Serena melaju pergi menjauh. Dengan langkah kaki yang terasa hampa dan hancur, ia terpaksa pulang ke rumah dinasnya yang sepi.

Keesokan harinya, kehancuran Aryo bener-bener digenapi oleh takdir. Pagi-pagi sekali, beberapa petugas resmi datang ke rumahnya, menempelkan stiker penyegelan. Rumah mewah yang selama ini ia tempati resmi disita oleh pihak Wijaya Group karena Aryo sudah dipecat secara tidak hormat.

Di tengah kebingungan dan kepanikannya yang luntang-lantung di halaman rumah, seorang kurir mendadak datang menghampirinya. Kurir itu menyodorkan sebuah amplop besar berwarna cokelat.

"Dengan Pak Aryo? Ini ada surat penting," ucap kurir itu.

Aryo menerima amplop tersebut dengan tangan gemetar. Begitu ia merobeknya dan membaca lembaran kertas di dalamnya, matanya membelalak kaku. Huruf-huruf di atas kertas itu seakan menusuk jantungnya: SURAT GUGATAN CERAI dari Serena.

Deg. Seketika, akal sehat Aryo bener-bener putus. Pria itu menjerit histeris di tengah jalan, lalu sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak—sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan dan gila. Sorot matanya mendadak berubah menjadi penuh kebencian yang teramat gelap.

"Winda... Ini semua salah Winda! Hahaha! Ini semua salah perempuan sialan itu!" jerit Aryo dengan napas memburu. Pikiran gilanya langsung melimpahkan seluruh kesalahan ini kepada Winda. Jika bukan karena Winda yang menggoda dan menjebaknya malam itu, hidupnya tidak akan sehancur ini.

Tanpa membuang waktu, Aryo langsung masuk ke dalam mobilnya yang tersisa. Pria itu menginjak gas sedalam-dalamnya, membawa mobil dengan sangat ugal-ugalan dan sembarangan, membelah jalanan kota menuju satu tujuan: rumah Winda.

Di kediaman Baskara, suasana pagi itu sebenarnya terasa sangat tenang dan hangat. Baskara dan Winda yang perutnya sudah semakin membesar sedang duduk bersama di meja makan, menikmati sarapan pagi dengan diselingi obrolan kecil.

BRAKK! BRAKK! BRAKK!

Suasana damai itu seketika pecah saat suara gedoran pintu depan terdengar sangat kasar dan berisik, seolah-olah pintu rumah mereka hendak didobrak paksa dari luar.

"Buka pintunya, Winda!!! BUKAAAA!!!" teriakan histeris dari luar membuat Winda dan Baskara kaget setengah mati. Winda langsung mengenali suara itu. Tubuhnya seketika gemetar hebat dan wajahnya pucat pasi.

Baskara mengernyitkan dahi penuh amarah. "Siapa itu pagi-pagi kurang ajar banget?!"

Winda dengan langkah gemetar mencoba berjalan ke depan untuk membuka pintu, diikuti Baskara dari belakang. Begitu selot pintu dibuka, pintu langsung terdorong kasar dari luar. Aryo langsung merangsek masuk dengan mata merah melotot layaknya orang kesurupan. Tanpa aba-aba, Aryo langsung menerjang maju dan mencenkeram kuat leher Winda, mencekik wanita hamil itu dengan brutal.

"Uhukk... Ar-aryo... lep-pas..." Winda terbatuk, wajahnya memerah kehabisan napas.

"Aryo! Kurang ajar kamu!" teriak Baskara murka. Dengan sigap dan gerakan cepat, Baskara melayangkan satu pukulan mentah yang sangat keras tepat di rahang Aryo.

BUMM! Tubuh Aryo terjerembap ke lantai, cengkeramannya di leher Winda terlepas. Winda langsung terbatuk-batuk sembari memegangi lehernya, tubuhnya menyusut ketakutan di sudut ruangan. Sementara itu, Baskara langsung mengukung tubuh Aryo yang masih terkapar di lantai, menanyakan dengan suara menggelegar, "Kenapa kamu?! Ada masalah apa kamu datang-datang mau celakain istri saya, hah?!"

Melihat situasi yang bener-bener kacau dan berbahaya, Winda dengan tangan yang luar biasa gemetar langsung menyambar telepon rumah dan menekan nomor darurat untuk menghubungi polisi. "Halo, polisi! Tolong ada penyusup gila di rumah saya..." tangis Winda pecah.

Aryo yang wajahnya sudah berlumuran darah akibat pukulan Baskara, tiba-tiba menjerit histeris ke arah Winda sembari menunjuk-nunjuk dengan jari yang gemetar. "Semua salah kamu, Winda! Kamu yang bikin aku begini! Kamu yang menggoda aku malam itu! Kamu yang menjebakku!"

Aryo kemudian memalingkan wajahnya menatap Baskara dengan senyuman gila yang mengerikan. "Baskara! Kamu dengerin aku! Perempuan yang kamu bela ini... dia itu iblis! Jangan pernah kamu percaya sama kedok polosnya selama ini! Hahaha! Dia iblis, Baskara! Dia udah khianatin kamu!"

Deg. Kata-kata 'menggoda', 'malam itu', dan 'khianat' yang keluar dari mulut Aryo seketika membuat Baskara tertegun. Baskara mendadak terdiam sejenak di tempatnya berdiri. Matanya yang tadinya penuh amarah pada Aryo, perlahan mulai meredup, berubah menjadi tatapan yang penuh tanda tanya besar. Baskara menatap huru-hara di ruang tamunya yang sudah berantakan, lalu perlahan menoleh menatap Winda yang sedang menangis tersedu-sedu sembari memeluk perut buncitnya di sudut ruangan.

Tidak lama kemudian, suara sirine polisi terdengar meraung mendekat. Beberapa petugas kepolisian bergegas masuk dan langsung meringkus tubuh Aryo yang sudah tidak berdaya. Aryo diseret keluar rumah sembari terus menjerit histeris dan mengoceh tak karuan seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya.

Setelah pintu depan ditutup dan polisi pergi, keheningan yang teramat mencekam mendadak menyelimuti ruang tamu yang sudah berantakan tersebut. Winda masih menangis sesenggukan di sudut ruangan, tubuhnya gemetar hebat sembari kedua tangannya memeluk erat perut buncitnya yang sudah berusia tujuh bulan. Ketakutan terbesar dalam hidup Winda akhirnya benar-benar tiba di depan mata.

Baskara berdiri kaku di tengah ruangan. Pria itu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat dan dingin. Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak, dan tidak ada lagi panggilan hangat yang biasa ia ucapkan. Wajah Baskara berubah menjadi sangat kaku, datar, dan asing—sebuah ketenangan dingin yang justru seribu kali lebih menakutkan bagi Winda.

Baskara membalikkan badannya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Winda dengan tatapan yang tajam dan menuntut penjelasan.

Tanpa memegang tangan Winda, Baskara hanya memberi isyarat pendek dengan dagunya ke arah kursi yang tersisa. "Ayo duduk. Mari kita bicara," ucap Baskara dengan nada suara yang teramat dalam, berat, dan tanpa emulsi kelembutan sedikit pun.

Winda bener-bener membeku di tempatnya, menyadari bahwa ruang pelariannya telah terkunci rapat hari ini.

1
Tamirah
Ikhlaskan Aryo untuk sahabat mu.serena sdh banyak membantu mu.masih banyak laki laki diluar sana yg lebihh baik dari Aryo .Jangan jangan Aryo hanya mengincar kedudukan di perusahaan ituu
Tamirah
cerita ini belummm jelas alur nya, sekilas Kalau winda cinta mati sama Aryo,cinta bertepuk sebelah tangan.Aryo memanfaatkan winda krn dekat dgn Serina.mungkin Karena Serina orang kaya, kalau sekedar cantik itu relatif.lanjut Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!