Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 terkilir
Roh jahat!"
Nara rasanya ingin tertawa lepas mendengar tuduhan itu. Di dalam hati, dia membatin kalau tebakan dukun palsu ini entah bagaimana bisa tepat sasaran.
Dia memang jiwa dari dunia modern yang terlempar ke tubuh malang milik Nara si Jari Enam.
Tapi heran aja, kenapa keluarga ini niat sekali membawa dukun penipu ke dalam rumah? Padahal dia baru beberapa hari tinggal di zaman kuno ini.
Memangnya apa hal luar biasa yang sudah dia lakukan sampai dituduh seseram itu?
"Omong kosong! Dasar nenek tua gila, jangan bicara sembarangan di sini! Pergi sana, keluar dari rumah kami!" bentak Yan Ning.
Anak itu langsung pasang badan di depan Nara seperti induk elang yang melindungi anaknya, matanya menatap tajam ke arah Mbah Kusno.
"Ya ampun, dari awal aku sudah curiga ada yang aneh. Mana ada anak gadis waras yang tiba-tiba nekat memotong jarinya sendiri pakai pisau dapur kalau bukan karena kemasukan roh jahat?" timpal Han Ruo sambil menepuk pahanya dengan gaya dramatis.
"Ibu, sekarang dia berani potong jari sendiri. Jangan-jangan nanti kita semua yang bakal dipotong sama dia?" lanjut Han Ruo dengan nada ketakutan yang dibuat-buat.
Dia buru-buru bersembunyi di balik punggung Nenek Lou seolah Nara benar-benar sudah gila.
"Ibu Kedua jangan memutarbalikkan fakta! Kalau Ibu tidak memaki-maki kakakku waktu itu, mana mungkin dia senekat itu!" bantah Yan Ning, suaranya agak bergetar karena emosi.
"Mbah Kusno, lalu sekarang bagaimana bagusnya?" tanya Nenek Lou dengan raut wajah masam.
Dia sempat melirik kesal ke arah Han Ruo di belakangnya, sebelum kembali menatap si dukun dengan ekspresi yang dipaksakan tenang.
Mbah Kusno melirik Nenek Lou sejenak, lalu kembali menatap Nara dengan pandangan tajam.
"Aku lihat aura di dahi anak ini hitam pekat, sorot matanya juga tajam dan liar. Sepertinya tubuh aslinya sudah lama dikuasai roh jahat," ujar dukun itu dengan suara berat yang menakut-nakuti.
"Kalau roh itu tidak segera diusir, nyawa anak ini tidak akan lama lagi. Malah kesialannya bisa menular dan bikin seisi rumah ini celaka atau mati," sambungnya gencar menghasut.
Tepat setelah dukun itu selesai bicara, mendadak terdengar suara gaduh dari arah pintu pagar.
Semua orang spontan menoleh dan melihat Yan Shong sedang berjalan terengah-engah sambil menggendong Kakek Yan di punggungnya, disusul oleh Yan Ming yang berlari panik di belakang mereka.
"Ya ampun, ada apa sama Abah?!" Han Ruo buru-buru berlari mendekat dengan raut wajah yang mendadak cemas. Wajah Nenek Lou juga langsung berubah panik melihat suaminya digendong.
"Abah tadi kurang memperhatikan jalan pas di kota, terus jatuh terpeleset ke dalam selokan sampai kakinya terkilir parah," sahut Yan Ming dengan suara panik yang agak serak.
"Ya ampun! Tuh kan, ucapan Mbah Kusno langsung terbukti! Bencana langsung datang!" teriak Han Ruo sengaja memanaskan suasana.
"Diam kamu! Mulutmu itu jangan asal bicara!" bentak Nenek Lou kesal kepada Han Ruo. Saat ini pikirannya sudah telanjur panik, dia tidak peduli lagi soal urusan Nara dan Mbah Kusno.
"Ming, cepat pergi ke ujung desa panggil Tabib Lin!" perintah Nenek Lou.
"Jangan panggil tabib, panggil Mang Heri saja. Dia lebih ahli mengobati urusan tulang terkilir," potong Kakek Yan dengan suara lemas.
Wajah pria tua itu kelihatan sangat pucat menahan rasa sakit yang luar biasa. Yan Ming langsung mengangguk cepat dan kembali berlari keluar pagar.
Suasana halaman berubah jadi kacau saat semua orang sibuk membantu memapah Kakek Yan masuk ke dalam rumah utama.
Nyonya Mu yang mendengar keributan dari kebun belakang juga buru-buru berlari ke depan dengan wajah cemas.
"Roh jahat itu benar-benar kuat, dampaknya langsung membawa malapetaka," gumam Mbah Kusno sambil menghela napas berat, matanya yang sipit kembali melirik tajam ke arah Nara.
Nenek Lou menyuruh Yan Shong dan Yan Ling masuk ke kamar untuk merawat suaminya, lalu dia berbalik menatap Nyonya Mu.
"Mu, cepat ambil tali rami di gudang. Kita ikat si Nara sekarang juga!" perintahnya dengan suara berat.
Walaupun Nyonya Mu belum paham apa yang sebenarnya terjadi, dia tahu betul siapa dukun jubah kuning di depannya itu.
Begitu mendengar perintah mertuanya, wajah Nyonya Mu langsung memucat. "Ibu... k-kenapa Ara harus diikat?" tanyanya dengan suara bergetar ketakutan.
"Kak Mu, anak itu bukan Nara lagi, dia sudah kemasukan hantu pembawa sial!" sahut Han Ruo memotong pembicaraan.
"Nenek melakukan ini justru demi kebaikan anakmu sendiri, makanya kami sengaja mengundang Mbah Kusno datang buat mengusir roh jahat di tubuhnya!" lanjut Han Ruo makin menyudutkan.
Mendengar penjelasan itu, lutut Nyonya Mu mendadak lemas sampai dia hampir ambruk ke tanah.
Namun dengan sisa kekuatannya, dia buru-buru menarik tubuh Nara agar berlindung di belakang punggungnya. "Kamu jangan asal bicara! Anakku tidak kemasukan roh jahat apa pun!"