Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
..."Tidak ada yang benar-benar suci saat dia mulai Menghancurkan kesucian sebuah janji demi hasrat yang tak termaafkan."...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gema detak jantung yang liar dan napas yang terengah-engah perlahan-lahan memenuhi ruang pemeriksaan VIP yang kembali kedap udara.
Sisa gairah murni yang meledak dari ciuman panas itu masih terasa pekat, menggantung di antara Dr. Emmeline Valerio dan pria raksasa di depannya.
Bibir Emmeline terasa kebas, basah, dan sedikit membengkak—sebuah bukti nyata dari klaim kepemilikan mutlak yang baru saja dilakukan oleh Kingdom Kyle Stone.
Deg.
Kesadaran Emmeline mendadak ditarik kembali ke permukaan bumi seperti hantaman palu godam. Kilatan cahaya lampu neon di atas kepala seolah menertawakan kerapuhannya. Otak bedahnya yang rasional dan dingin langsung mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sistem sarafnya.
Dengan sentakan yang tiba-tiba dan sisa tenaga yang dia miliki, Emmeline mengangkat kedua tangan kecilnya, lalu mendorong dada bidang Kyle yang sekeras baja dengan kasar.
Dia melangkah mundur dua langkah hingga tumit sepatunya membentur kaki meja periksa, menciptakan jarak aman yang dipaksakan.
"Ini salah..." ucap Emmeline, suaranya bergetar hebat, tercekat di tenggorokan. Dia menutupi bibirnya dengan punggung tangan kiri, matanya membelalak panik menatap Kyle. "Ini benar-benar salah. Apa yang baru saja kita lakukan... ini kegilaan."
Kyle tidak mengejar. Pria itu tetap berdiri di tempatnya, membiarkan dorongan Emmeline menciptakan jarak di antara mereka.
Napasnya yang berat perlahan-lahan mulai teratur, namun sepasang mata elangnya tidak pernah lepas dari wajah Emmeline yang kini memerah sempurna akibat perpaduan antara gairah dan rasa syok.
Melihat bagaimana jas dokter putih Emmeline sedikit terbuka dan kerah blusnya berantakan akibat pagutan intens tadi, Kyle melangkah maju satu kali dengan sangat tenang.
Sebelum Emmeline sempat memprotes atau mundur lagi, tangan besar Kyle yang dipenuhi kapalan taktis bergerak dengan luar biasa telaten.
Dia meraih kerah jas lab Emmeline, merapikan lipatannya yang kusut, lalu mengancingkan kembali kancing teratas yang sempat terlepas selama ciuman panas mereka.
Gerakannya begitu protektif, seolah-olah dia sedang mengemas kembali sebuah mahakarya berharga agar tidak terlihat cacat oleh dunia luar.
"Apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Kyle tiba-tiba, suaranya yang bariton dan rendah memecah keheningan koridor batin mereka.
Pertanyaan itu meluncur begitu tenang, namun sarat akan selidik yang tajam. Sebagai mantan agen yang terlatih membaca mikro-ekspresi manusia, Kyle menangkap ada sesuatu yang hancur di dalam diri Emmeline sebelum mereka berciuman tadi.
Tidak ada binar kebahagiaan dari seorang wanita yang baru menikah empat bulan. Yang ada hanya luka, amarah, dan keletihan mental yang mendalam.
Mendengar pertanyaan tentang Edward Snowden, tubuh Emmeline menegang seketika. Pertanyaan itu seperti garam yang ditaburkan di atas luka menganga yang semalam baru saja dirobek oleh suaminya sendiri.
Bayangan pesan dari Niyna Boo dan ucapan kejam Edward yang mengatainya 'porselen mahal yang tidak suci' kembali berputar di kepalanya, memicu rasa sakit yang menghimpit dada.
Namun, harga diri seorang Valerio menolak untuk terlihat menyedihkan di depan pria yang telah merenggut kesuciannya enam tahun lalu.
Emmeline memaksakan sebuah tarikan napas dalam-dalam. Keangkuhannya yang dingin, angkuh, dan penuh penolakan perlahan-lahan merayap kembali ke wajah cantiknya. Dia menegakkan punggung, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dan menatap Kyle dengan pandangan mata yang sengaja dibuat sedingin es.
"Itu bukan urusan Anda, Tuan Stone," kata Emmeline, suaranya kini terdengar sangat angkuh dan sarat akan batasan yang tegas.
"Anggaplah apa yang terjadi di antara kita tadi... hanya sebuah kesalahan. Kekhilafan sesaat karena emosi saya sedang tidak stabil akibat kelelahan pasca-operasi. Saya... saya adalah istri orang lain. Saya memiliki suami dan sebuah pernikahan yang harus saya jaga. Jadi, saya minta dengan sangat, jaga batasan Anda."
Kyle tidak marah mendengarnya. Dia hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis, sebuah senyum samar yang penuh teka-teki dan dominasi yang tidak terpatahkan.
Dia tahu wanita di depannya ini sedang berbohong demi melindungi harga dirinya yang terluka.
"Kapan kamu pulang?" tanya Kyle, mengabaikan benteng pertahanan verbal yang baru saja Emmeline bangun.
"Dua jam lagi," jawab Emmeline secepat mungkin, ingin segera mengakhiri interogasi tak kasat mata ini.
"Apa aku harus menjemput?" tawar Kyle, nadanya begitu kasual seolah-olah menawarkan tumpangan pada kekasihnya sendiri.
Emmeline mendengus pelan, menampilkan senyum meremehkan yang palsu. "Tidak perlu. Aku akan dijemput oleh suamiku," bohongnya dengan tegas.
Dia sengaja menyebut kata 'suami' untuk menegaskan kembali statusnya yang terikat, padahal dia tahu Edward saat ini mungkin sedang berada di apartemen selingkuhannya atau sibuk dengan urusan Snowden Group.
Mendengar kalimat "Aku akan dijemput oleh suamiku," tubuh tegap Kyle mendadak membeku selama satu detik.
Deg.
Ada rasa sakit yang tajam dan tak kasat mata yang menghantam dada lelakinya. Informasi bahwa wanitanya kini secara legal dimiliki oleh pria bernama Edward Snowden terasa seperti peluru kendali yang menembus baju besi antipelurunya.
Selama enam tahun bertahan di medan perang hitam tanpa sinyal, ini adalah kenyataan paling brutal yang harus dia hadapi. Gadisnya... telah pulang ke pelukan pria lain.
Namun, Kyle tidak membiarkan rasa sakit itu menguasainya. Dia melangkah menuju meja kerja Emmeline, meraih ponsel pintar taktis milik Emmeline yang tergeletak di samping papan klip medis, lalu menyodorkannya ke depan wajah Emmeline.
"Berikan nomor ponselmu," perintah Kyle, suaranya kembali memberat, dalam, dan penuh otoritas mutlak. "Dan simpan juga kontakku, Sayang."
Mendengar kata 'Sayang' keluar dari bibir pria berwajah dingin dan maskulin seperti Kyle, wajah Emmeline seketika memerah sempurna karena malu bercampur panik.
Dia merenggut ponselnya dari tangan Kyle dengan sentakan kasar.
"Berhenti panggil aku sayang! Aku bukan kekasihmu!" desis Emmeline tajam, matanya berkilat penuh amarah. "Aku adalah Dr. Emmeline Valerio-Snowden, jika Anda lupa!"
Sejujurnya, Kingdom Kyle Stone bukanlah tipe pria dari keluarga Stone yang dididik untuk menjadi seorang pengganggu rumah tangga orang lain, atau seorang pembinor yang merebut istri pria lain.
Martabat dan kehormatan keluarganya di Chicago serta pelatihannya di CIA selalu menuntutnya untuk bersikap kesatria.
Namun... enam tahun memendam cinta dan rindu yang membara sendirian di tengah desingan peluru, tanpa pernah menyentuh wanita lain karena hatinya telah terkunci rapat untuk Emmeline, telah membuatnya buta.
Ego lelakinya menolak untuk mengalah pada selembar kertas pernikahan itu.
Kyle maju satu langkah, memotong seluruh jarak di antara mereka hingga tubuhnya kembali mengurung Emmeline dalam bayangan tegapnya.
"Angkat teleponku nanti malam," ucap Kyle, nadanya berubah menjadi sangat rendah, bergetar karena emosi posesif yang pekat yang dia tahan sekuat tenaga di dalam dadanya. Itu bukan sebuah permintaan, melainkan sebuah perintah yang mutlak.
Emmeline menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Kyle yang berkilat berbahaya. "Aku sibuk," sergah Emmeline, suaranya diusahakan tetap tegap meskipun jantungnya kembali berpacu liar.
"Aku punya suami yang harus aku urus di rumah nanti malam. Jangan gila, Kyle. kita tidak memiliki Hubungan, Dan kita sudah berakhir enam tahun yang lalu."