Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guncangan Rapat Pleno
Gema tawa histeris Rendy Surya mengoyak sisa-sisa keheningan di dalam ruangan kerja lantai lima puluh. Ponsel di tangannya masih memancarkan grafik siaran langsung yang bergulir cepat dengan kolom komentar yang meledak oleh kepanikan para investor.
Alana merasa seluruh pasokan oksigen di paru-parunya lenyap seketika. Tatapannya terpaku pada layar gawai Jefri yang mendadak bergetar hebat, menampilkan notifikasi darurat mengenai penurunan nilai saham Adhitama Group yang merosot tajam dalam hitungan detik.
Monolog batinnya bergolak dihantam rasa bersalah yang teramat pekat. Apakah kehadiranku di sini benar-benar hanya menjadi kutukan bagi Tuan Devano? Aku menghancurkan reputasinya, menghancurkan dinasti bisnis yang dibangunnya dengan darah dan air mata, batin Alana.
Jefri melangkah maju dengan cepat, menyerahkan sebuah tablet digital ke hadapan Devano dengan raut wajah yang luar biasa tegang. "Tuan Besar, spekulasi liar mulai menyebar di kalangan pers. Dewan Direksi di lantai bawah menuntut penjelasan langsung dari Anda mengenai silsilah Nyonya Muda."
Rendy Surya semakin melebarkan senyum provokatifnya, menatap Devano dengan tatapan penuh kemenangan semu. "Kau tidak bisa menyembunyikan wanita haram itu lagi, Devano! Pilihannya hanya dua: kau mengundurkan diri dari kursi pimpinan, atau kau biarkan perusahaan ini hancur demi ego posesifmu!"
Devano Adhitama masih diam di kursi roda elektriknya, namun aura dingin yang meluap dari tubuh kekarnya kian mencekam. Pria itu perlahan meletakkan tablet digital di atas meja oak, lalu mengarahkan sepasang netra obsidiannya tepat ke arah Rendy.
Tatapan intimidatif dari Devano begitu pekat, sanggup melubangi keberanian Rendy hingga tawa pria dari Keluarga Surya itu perlahan surut menjadi senyuman kaku. Devano tidak membalas dengan makian; ketenangannya justru menjadi ancaman psikologis yang paling nyata di dalam ruangan tersebut.
"Jefri, bawa tikus ini ke ruang isolasi bawah tanah dan pastikan dia tidak bisa mengakses perangkat komunikasi apa pun," perintah Devano dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan otoritas mutlak.
"Baik, Tuan Besar," sahut Jefri tegas. Dengan satu isyarat tangan, dua pengawal berbadan tegap langsung meringkus lengan Rendy Surya dengan kasar, menyeret pria itu keluar menembus pintu ganda yang hancur.
Rendy sempat meronta, berteriak penuh kemarahan melodrama yang bergema di sepanjang lorong. "Kau tidak bisa membungkam kebenaran, Devano! Direksi akan menendangmu keluar hari ini juga!"
Setelah pintu kembali tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang menyesakkan, Devano perlahan memutar kursi rodanya menghadap Alana. Wanita itu berdiri gemetar di sudut meja kerja, menyembunyikan wajah pucatnya di balik kedua telapak tangan.
Devano tidak membiarkan jarak di antara mereka bertahan lama. Ia menggerakkan kursi rodanya mendekat, lalu menjangkau kedua pergelangan tangan Alana dengan cengkeraman tangan dominan yang kuat namun penuh kehangatan yang protektif.
Ia menarik tangan Alana dari wajahnya, memaksa sepasang mata bulat yang digenangi air mata itu untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya, tidak ada satu pun kekuatan yang boleh membuat wanitanya merasa terancam.
"Tatap aku, Alana," kata Devano dengan suara serak yang sangat rendah di depan bibir mungil Alana yang bergetar. "Aku tidak pernah menyesali keputusan hukum untuk menjadikanmu istriku. Apa pun yang dikatakan oleh dunia luar, kau adalah milikku secara absolut."
Alana mendongak, merasakan dilema psikologis yang kian rumit di dalam dadanya; ia takut setengah mati dengan skandal publik yang bisa menghancurkan Devano, namun sentuhan hangat tangan pria itu di pipinya menjadi satu-satunya pelindung tempat ia bersandar.
"Tapi saham perusahaan Anda... Dewan Direksi akan menyudutkan Anda karena saya, Tuan Devano," cicit Alana dengan suara parau yang sarat akan kecemasan mendalam.
Devano menggunakan ibu jarinya untuk menyeka sisa air mata di sudut mata Alana dengan gerakan lambat yang penuh kelembutan tirani, sebelum akhirnya mencondongkan tubuh besarnya untuk mengunci ruang gerak wanita itu di antara tubuh kekar dan tepi meja kerja.
"Direksi Adhitama Group tidak lebih dari sekumpulan serigala tua yang kelaparan, Istriku. Mereka mengira bisa menggunakan dokumen manipulasi Keluarga Surya untuk menjatuhkan kekuasaanku," ucap Devano dengan seringai tipis yang sangat kejam terukir di sudut bibirnya.
Pria itu bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya, postur tubuh tingginya yang tegap melangkah dengan pasti menuju lemari besi rahasia di balik lukisan dinding. Ia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna merah darah yang berisi dokumen orisinal dengan segel hukum internasional yang sah.
"Mari kita turun ke ruang rapat pleno, Alana. Kau harus ikut denganku untuk menyaksikan bagaimana aku mematahkan leher finansial mereka satu per satu," perintah Devano sembari kembali duduk di kursi rodanya dengan wibawa penguasa yang mutlak.
Alana hanya bisa mengangguk pasrah, melangkah mengekor di belakang kursi roda Devano saat lift privat bergerak turun menuju lantai empat puluh lima, tempat rapat pleno dewan direksi sedang berlangsung dalam tensi yang panas.
Ting!
Pintu lift privat terbuka langsung di balik ruang rapat utama yang megah. Atmosfer di dalam ruangan tersebut langsung membeku seketika saat sosok Devano Adhitama masuk bersama Alana di sisinya.
Belasan pria paruh baya dengan setelan jas mewah bergaya formal tampak sedang berdebat sengit di depan layar proyektor yang menampilkan grafik penurunan saham sebesar lima belas persen.
Seorang direktur senior bernama Kusuma Wijaya—kerabat jauh dari mendiang keluarga Alana yang membelot ke kubu lawan—langsung berdiri dari kursinya dengan raut wajah penuh penghinaan yang manipulatif.
"Tuan Devano! Siaran langsung dari pelabuhan lama tadi telah menghancurkan reputasi pasar kita! Bagaimana Anda menjelaskan skandal hubungan tabu ini kepada para pemegang saham?!" bentak Kusuma dengan nada penuh provokasi sabotase.
Devano tidak langsung menjawab tuduhan tersebut. Ia membiarkan Jefri mendorong kursi rodanya hingga ke ujung meja oval raksasa, menempati posisi tertinggi sebagai pemimpin absolut Adhitama Group.
Devano melemparkan map kulit merah darah itu tepat ke tengah meja rapat hingga menimbulkan dentuman keras yang menghentikan semua bisikan spekulasi para direksi.
"Buka halaman pertama dari dokumen itu, Tuan Kusuma," kata Devano dengan nada suara yang sangat datar namun mengandung tekanan intimidasi yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun di ruangan itu.
Kusuma Wijaya dengan tangan gemetar membuka map tersebut, dan sedetik kemudian, wajah tuanya mendadak pucat pasi seperti mayat saat membaca baris kalimat laporan audit forensik digital yang tertera di sana.
Namun, sebelum Devano sempat membongkar siapa dalang sebenarnya di balik manipulasi saham ini, lampu ruang rapat pleno mendadak berkedip merah, dan suara alarm darurat kebakaran di seluruh gedung Adhitama Group berbunyi nyaring, memutus jalannya rapat dalam cliffhanger yang sangat mencekam.