NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELESAI?

Aneh. Padahal aku yakin kalau sedang terbaring kaku. Tapi, tidak tau mengapa, tubuhku tidak terasa sakit. Aku merasa bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhku, baik itu kepala, tangan, badan, hingga kaki tanpa ada masalah. Hanya saja, tidak ada yang bisa kulihat. Tidak ada warna yang masuk ke dalam bola mataku. Aku bahkan tidak bisa mendengar atau mengatakan apapun. Kesunyian yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Aku sendiri. Sepertinya aku baru saja kembali.

Aku kembali ke alam yang tidak aku mengerti. Alam yang berada diluar kemampuanku untuk memahaminya. Alam setelah kematian. Hanya itu satu – satunya yang mampu aku terima dalam pikiranku berdasarkan apa yang telah terjadi. Sekali lagi aku kembali. Tidak aku sangka semua akan berakhir begitu saja. Meski masih banyak hal yang ingin kulakukan, tapi itu tidak begitu diperlukan, hanya tersisa hal – hal egois. Aku memang sempat tersesat ditengah jalan, tapi untung saja akhirnya aku berhasil melepas keraguanku. Saat – saat terakhir memang selalu berat. Kalau bukan karena Awan yang datang, mungkin masih akan ada keraguan dalam diriku. Untung saja dia muncul. Kalau tidak, aku tidak bisa mengungkapkan terimakasihku padanya untuk terakhir kali. Yah …, untung saja semua berakhir dengan baik.

Selanjutnya bagaimana?

Aku cukup yakin kalau aku sudah merasa puas dengan kesempatan kedua yang diberikan. Aku tidak merasa ada hal yang perlu disesali. Aku hanya penasaran dengan beberapa hal. Misalkan saja apa yang terjadi pada Dimas? Apa akhirnya dia akan mengakui perbuatannya karena sudah terciduk? Atau dia akan tetap berusaha menghindarinya dan meminta orang tuanya seperti kasus yang lain? Entahlah! Aku sih berharapnya dia bertaubat. Lalu, Bang Nanang, sebenarnya apa pekerjaan dia? Kok bisa – bisanya hampir setiap hari pergi ke puncak? Freelance apa yang dia kerjakan? Jangan bilang kalau sebenarnya dia pengangguran seperti kata Awan? Semoga saja dia cepat dapat kerjaan. Hal yang membuatku penasaran berikutnya, mungkin itu berkaitan dengan Awan dan Clarissa. Apa mereka pacaran? Kenapa mereka bisa saling berkirim pesan? Yah maksudku kan, Clarissa ingin bicara denganku setelah kejadian pesta yang tidak bisa kuhadiri, kenapa harus lewat perantara Awan? Yah, sebenarnya bisa saja sih karena Clarissa tidak punya kontak nomorku. Tapi, ada satu hal yang membuatku berubah pikiran, itu adalah sifat Awan dan Clarissa. Aku tidak tau pasti hubungan mereka atau perasaan mereka. Hanya saja, aku merasa ada sebuah tempat dimana aku tidak bisa bergabung. Sebuah tempat yang hanya bisa dimasuki oleh mereka berdua. Aku pikir, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimiliki olehku.

Masih banyak pertanyaan yang ada dibenakku, tapi pikiranku teralihkan pada hal lain setelah menyadari sesuatu yang lebih besar. Ada satu hal yang sangat aneh. Aku merasa berada di alam yang berbeda dengan sebelumnya. Aku bukan berada ditempat yang gelap atau tidak terlihat. Aku berada ditempat yang cerah, sangat cerah. Malahan, aku berada ditempat yang sangat indah. Ketika aku membuka mata, aku bisa melihatnya. Aku sedang bernaung dibawah pohon besar sambil memandang langit yang begitu luas.

Awan dilangit terlihat berlalu lalang dengan sangat lambat. Awan yang terbuat dari kumpulan kristal es memenuhi langit yang biru. Mereka terlihat serasi, langit dan awan. Keduanya saling melengkapi. Awan yang aku bicarakan bukanlah Awan sahabatku, tapi awan yang benar – benar awan. Rasanya aneh juga ada nama seseorang yang sebutannya sama seperti kata benda. Misalkan kursi, apakah ada yang namanya dipanggil kursi? Mungkin saja ada dan aku tidak mengenalnya. Hanya saja terdengar asing kalau ada seseorang dengan nama itu – Sudahlah! Kenapa aku malah memikirkan hal tidak penting. Tapi, kalau sekarang, aku pikir itu tidak masalah. Lagipula tidak ada hal penting juga yang perlu aku pikirkan. Sekarang aku bisa menenangkan diri. Menikmati keadaan yang ada, tanpa memikirkan apapun. Aku bisa merasakan kebebasan.

SELESAI?

Kamu melupakan yang terpenting.

Suara siapa itu? Aku mendengar sesuatu, bukan dari luar, melainkan dari dalam diriku sendiri. Apa maksudnya kata – kata itu? Bukankah seharusnya sudah tidak ada lagi penyesalan? Aku sudah mengucapkan kata – kata yang ingin kusampaikan pada orang – orang yang berarti dalam hidupku. Apa yang kurang? Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku salah memahami sesuatu? Apa ada yang tertinggal? Seharusnya sudah semua, tapi kenapa? Kenapa belum berakhir? Apa hal penting yang aku lupakan?

“TOLONG!”

Aku kembali mendengar suara. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini bukan berasal dari diriku sendiri, melainkan suara dari luar, suara orang lain. Ternyata bukan hanya aku sendiri yang ada di alam ini. Aku penasaran. Aku ingin menemui orang itu. Aku menoleh kiri – kanan dan tidak menemukan siapapun. Aku melangkah lebih jauh untuk memastikan keberadaannya. Aku tidak mengerti. Padahal itu hanyalah suara dari orang yang mungkin tidak kukenal, tapi entah kenapa aku merasa harus bertemu dengannya. Aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan orang tersebut. Langkahku terhenti setelah aku melihat seorang anak kecil yang terlihat gelisah.

“Kamu kenapa?” Anak tersebut tidak menjawab pertanyaanku. Malahan dia seperti mengabaikanku. Dia tetap gelisah dan berusaha untuk mencari sesuatu. Aku mengikutinya ketika dia mulai berjalan tanpa arah. Ditaman yang begitu luas, aku tidak melihat siapapun selain kami berdua. “Kamu mencari sesuatu?”

“Aku harus menemukan bunga krisna hijau.” Aku menanyakan kembali kenapa dia mencari bunga itu, tapi lagi – lagi anak itu mengabaikanku. Terlepas dari itu, setelah kusadari, meskipun taman tempatku berada dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman, aku tidak melihat bunga yang dicari oleh anak itu. Malahan, aku sama sekali tidak melihat satu bunga pun yang tumbuh. Hanya ada dedaunan yang sangat banyak. “Itu dia.” Tidak kusangka anak itu akan menemukan bunga yang dia cari. Bukan hanya itu, aku lebih terkejut dengan keberadaan bunga tersebut. Bunga itu muncul begitu saja didepan mataku, seolah – olah baru tumbuh dengan kecepatan yang tidak wajar. “Bunga yang indah.”

Anak kecil itu tiba – tiba berlari setelah menemukan yang dia cari. “Tunggu!” Aku mengejar anak tersebut dari belakang. Larinya cukup cepat untuk ukuran anak kecil, meski begitu bukan berarti aku tidak bisa mengejarnya. Aku bisa saja membalapnya, hanya saja aku sengaja mengikuti kecepatannya dibelakang untuk mengetahui kemana anak kecil itu akan pergi.

Anak itu berlari cukup jauh. Taman yang awalnya dipenuhi oleh daun – daun hijau, kini berubah menjadi ranting – ranting dengan banyak daun coklat berguguran. Matahari cerah yang menyinari mulai redup, seperti hari disaat senja. Aku melihat banyak orang dari kejauhan. Alam yang awalnya hanya ada kami berdua, sekarang dipenuhi oleh banyak manusia. Aku akhirnya sampai ditujuan anak itu. Dia meletakkan bunga yang dari tadi dia bawa diatas tanah. Sekarang aku mengerti. Alam yang kudatangi sekarang bukanlah alam setelah kematian, melainkan sebuah kenangan yang sudah lama kulupakan. Anak itu adalah aku ketika menghadiri acara pemakaman Mama.

Pantas saja anak itu mengabaikanku. Aku pikir saat dia bicara, dia menjawab pertanyaanku, tapi sebenarnya tidak, dia hanya bicara sendiri. Tidak ada yang bisa mendengar atau melihatku di alam ini. Kehadiranku bukanlah sesuatu yang bisa dia atau siapapun rasakan. Aku bukanlah bagian dari timeline yang ada. Aku berada di dunia yang berbeda. Ingatan dan kenyataan bukanlah sesuatu yang bisa disatukan. Aku kembali mengingat luka yang sudah lama kupendam. Aku pikir aku sudah menyembunyikannya dengan baik. Aku berharap, dengan menyembunyikan perasaan, lama kelamaan luka tersebut akan hilang. Aku pikir dengan membohongi diriku sendiri, perasaan itu akan berubah menjadi lebih baik. Ternyata aku salah. Aku hanya mencoba untuk menghindar. Aku tidak pernah berani menghadapinya. Kejadian masa kecil merupakan awal dari perubahan yang ada pada diriku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!