Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Dinasti yang Runtuh
Kamil terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya bergetar hebat saat petugas kepolisian dengan sigap mengunci kedua pergelangan tangannya dengan borgol besi yang dingin. Surban putihnya yang semula tersampir pongah kini melorot jatuh ke lantai marmer, merepresentasikan kehormatannya yang runtuh dalam sekejap mata.
"Abah Kyai ! Ini fitnah ! Anda tidak bisa memercayai dokumen digital begitu saja! Ini konspirasi orang-orang Jakarta untuk menghancurkan pesantren kita!" teriak Kamil histeris, suaranya yang biasa tertata rapi kini melengking sumbang, menggema di antara rak-rak kitab kuning yang sunyi.
Abah Kyai bahkan tidak memandang wajah Kamil saat pria itu diseret keluar melewati pintu jati ruang sidang pleno. Para kyai sepuh dewan pengasuh hanya bisa mengembuskan napas panjang, menatap kepergian Kamil dengan pandangan sarat akan kekecewaan mendalam. Parasit yang selama dua puluh tahun menggerogoti martabat Al-Anwar dari dalam akhirnya tercabut hingga ke akarnya.
Setelah ruang sidang kembali tenang, Abah Kyai meraih tablet digitalnya kembali. Beliau menekan tombol panggil pada sebuah nomor privat yang terenkripsi. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara bariton yang sangat tenang dan dingin menyahut dari seberang sana.
*"Assalamu'alaikum, Abah Kyai. Semua berjalan sesuai rencana?"* tanya Kapten Sagara dari kamar hotelnya di Shanghai. Suaranya terdengar datar tanpa intonasi kemenangan, khas seorang pilot taktis yang mengendalikan situasi dari ketinggian tiga puluh lima ribu kaki.
"Wa'alaikumussalam, Kapten Gara," jawab Abah Kyai, senyum teduh akhirnya kembali terukir di wajah sepuhnya. "Kamil sudah dibawa oleh pihak berwajib. Semua bukti digital yang Anda kirimkan sangat valid dan tidak bisa diganggu gugat oleh dewan pengasuh. Atas nama keluarga besar Al-Anwar, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perlindungan yang Anda berikan pada putra saya, Zayyad."
Di Shanghai, Sagara berjalan menuju jendela besar kamar hotelnya, menatap matahari pagi yang mulai memancarkan sinar keemasan di atas gedung-gedung pencakar langit. *“Satu masalah selesai,”* batinnya.
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai kakak tertua, Abah," sahut Gara dingin namun sarat akan rasa hormat. "Saat ini, Gus Zayyad dan adik bungsu saya, Davika, sedang dalam perjalanan kembali ke rumah utama kami di Jakarta. Saya rasa... sudah saatnya kita mempersiapkan akad nikah resmi untuk Nara dan Gus Zayyad tanpa ada sekat dokumen manipulasi lagi."
"Betul, Kapten. Saya sendiri yang akan memimpin rombongan dari Jombang menuju Jakarta besok pagi. Sampaikan salam takzim saya pada Bapak Handoko," pungkas Abah Kyai sebelum mengakhiri panggilan satelit tersebut.
...****************...
Sementara itu, SUV mewah abu-abu gelap yang membawa Gus Zayyad dan Davika akhirnya berbelok memasuki kompleks perumahan elite di kawasan Jakarta Selatan. Mobil itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah besar berarsitektur *Modern Luxury* dengan dominasi palet monokrom, slate, dan aksen emas—rumah utama keluarga Mwohan yang dijaga ketat oleh sistem keamanan pintar terintegrasi.
"Gus, kita sudah sampai," ucap sang sopir pelan.
Gus Zayyad membuka matanya. Wajah tampannya kini sudah sepenuhnya bersih dari sisa *cushion* dan *liptint peach* buatan Davika, mengembalikan wibawa kaku dan tegas seorang CEO logistik hulu. Ia melirik ke samping kirinya. Davika masih tertidur sangat lelap, bahkan tidak menyadari bahwa mobil telah berhenti bergerak.
Zayyad turun terlebih dahulu dari kabin mobil, lalu kembali menggendong tubuh mungil nan padat Davika secara *bridal style*. Meskipun ia sudah mencoba mematikan rasa sensitifnya, keempukan masif dari proporsi tubuh berisi Davika yang kembali menempel ketat pada dadanya yang bidang sepanjang langkah mereka masuk ke dalam rumah sempat membuat jakun Zayyad naik turun menahan debar aneh sekali lagi.
Zayyad melangkah melewati ruang tamu bernuansa minimalis mewah, lalu meletakkan tubuh Davika dengan sangat hati-hati di atas sofa beludru panjang yang empuk. Ia menarik selembar selimut tebal bernuansa abu-abu untuk menutupi tubuh gadis remaja itu hingga sebatas dada.
Saat Zayyad menegakkan kembali tubuh tegapnya, ia menyadari perban kain putih dengan ikatan simpul pita imut buatan Davika masih bertengger dengan absurd di bahu kemeja hitamnya yang robek. Zayyad menatap simpul pita itu sejenak, lalu beralih menatap wajah tidur Davika yang kini tampak begitu damai tanpa riasan *cat-eye* yang mencolok.
Sebuah helaan napas pendek namun sarat akan kehangatan keluar dari bibir tegap sang CEO. Malam yang gila telah berlalu, badai di dua benua telah diredam, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari menemukan sebuah debaran asing yang enggan ia hapus dari ingatannya.
selalu bilangnya kitab😄😄😄