Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Sagara. Membawa Wibawa Yang Tak Biasa.
Bab 3. Sagara. Membawa Wibawa Yang Tak Biasa.
Di luar ruangan, Winda dan dua orang yang lain masih menunggu. Diam tak menyela, meski pembicaraan di dalam sudah ditangkap dengan sempurna. Namun di balik itu, laporan sudah dikirimkan. Sesuai peraturan, tentang apa pun yang terjadi pada Shafiya, satu pun tak boleh luput dari pengawasan.
Beberapa saat berlalu.
Koridor di depan ruang rawat itu masih sama. Panjang. Putih. Sunyi.
Namun langkah yang terdengar kali ini… berbeda.
Langkah yang Terukur. Mantap. Dan tidak tergesa--tapi tidak memberi ruang untuk diabaikan.
Winda yang berdiri di dekat pintu lebih dulu menyadari. Tubuhnya langsung sedikit menegang. Refleks.
"Tuan."
Sapaan itu lirih. Hampir seperti kode.
Dua petugas lain otomatis menyesuaikan posisi.
Pintu ruangan yang sebelumnya setengah tertutup… kini terbuka penuh.
Dan ia masuk.
Sagara.
Tidak ada yang berlebihan dari penampilannya.
Namun justru itu yang membuatnya sulit diabaikan. Setiap langkahnya terukur. Seperti memang sudah terbiasa berada di tempat yang harus ia kendalikan.
Beberapa orang di dalam ruangan tanpa sadar menghentikan percakapan.
Pandangan mereka tertuju pada satu sosok yang asing--namun membawa wibawa yang tidak biasa. Terlihat rapi. Tegas. Dan… dingin.
Sagara tidak terlihat mencari perhatian.
Namun kehadirannya… cukup untuk membuat ruang yang tadinya penuh percakapan, perlahan sunyi, seolah menata ulang dirinya sendiri.
Di sudut ruangan, seseorang bahkan tanpa sadar membenahi duduknya.
Yang lain saling melirik singkat.
Seolah bertanya dalam diam--siapa dia?
Namun sebenarnya tanpa diperkenalkan pun, semua orang tahu, ia bukan orang biasa.
Shafiya menoleh. Terhenyak sesaat.
Ia tak mengira, Sagara akan datang. Namun juga tidak bertanya.
Sagara juga tidak langsung melihat Shafiya. Pandangannya lurus ke ranjang perawatan. Melangkah mendekat, dan berhenti pada jarak yang diukur.
Sagara menunduk singkat.
“Bagaimana kondisi beliau?”
Suasana sempat hening sekejap.
Beberapa orang saling berpandangan, sebelum akhirnya salah satu keluarga menjawab pelan.
“Alhamdulillah… sudah lebih baik.”
Sagara mengangguk singkat. Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Di atas ranjang, Kyai Fakih perlahan membuka mata. Pandangan beliau langsung jatuh pada sosok yang berdiri di sana.
Tidak butuh waktu lama. Beliau mengenalnya.
Sagara.
Lelaki yang telah menikahi putrinya.
Kyai Fakih menarik napas pelan. Lalu mengangguk. “Terima kasih… sudah datang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun nadanya hangat--meski tidak sepenuhnya ringan. Dan itu cukup menjadi perhatian semuanya. Mendatangkan tanda tanya yang kian besar.
Sagara tak menjawab dengan kata. Hanya anggukan singkat. Pandangannya lalu bergeser ke Shafiya. Tidak lama. Tidak terlihat lembut, juga tidak dingin sepenuhnya. Itu adalah pandangan netral yang disengaja.
“Sudah selesai?” pertanyaan sederhana.
Seperti menanyakan sesuatu yang memang sewajarnya. Tak ada yang lebih.
Shafiya mengangguk pelan.
“Sudah.” satu jawaban singkat. Tidak ada tambahan. Dan tidak ada penjelasan.
Namun entah kenapa, di balik pertanyaan dan jawaban singkat itu, seolah ada sesuatu yang berbeda.
Di sudut ruangan--Gus Ilzam memperhatikan dalam diam. Tanpa ekspresi yang berubah.
Namun matanya… tidak lagi terlihat tenang.
Dan di antara semua yang hadir di sana--hanya satu hal yang mereka lihat jelas. Hadirnya Sagara dengan membawa dunia yang berbeda. Dan kini, berdiri dalam satu ruang yang sama.
Suasana itu belum sempat kembali tenang, ketika langkah lain terdengar di koridor.Lebih cepat. Lebih pasti.
Pintu kembali terbuka.
Dokter Raka Pradipta masuk.
Dokter kepala Adinata Medical Center itu ditemani dua orang dokter yang lain. Salah satunya dokter ruangan yang menangani kyai Fakih.
Mereka hadir di luar jam kunjungan dokter, membuat semua serempak berdiri. Beberapa malah memberi celah untuk dokter memeriksa pasien.
Namun, langkah mereka hanya berhenti di tengah ruangan. Dan tatapan dokter Raka hanya tertuju pada satu titik.
Sagara.
Tidak ada keterkejutan.
Seolah kehadiran pewaris Adinata itu sudah ia perkirakan.
“Harusnya kabarin dulu.”
Kalimatnya keluar dengan nada ringan.
Bukan teguran. Tapi seperti kebiasaan lama yang terulang antara sesama teman.
Sagara menoleh. Tidak ada senyum.
Namun sorot matanya berubah sepersekian detik.
“Tidak sempat.” Jawaban singkat. Datar.
Raka menghela napas pendek. Nyaris tak terdengar. Terlalu paham dengan mode interaksi Sagara yang terlalu minim kata.
Ia lalu kembali ke sikap profesionalnya.
“Maaf baru bisa ke sini,” ucap dokter Raka, kali ini lebih formal. “Baru dapat laporan." Ia melanjutkan. Lalu melirik sekilas ke arah Kyai Fakih, kemudian ke Shafiya.
“Dokter yang pegang langsung ada di sini,” katanya lagi, memberi isyarat pada rekannya.
Dokter di sampingnya maju sedikit. Mengangguk singkat ke Sagara. Singkat, tapi terbaca oleh semuanya.
Dokter itu kemudian Menjelaskan kondisi Kyai Fakih secara singkat.
Sagara mendengarkan dalam diam.
Namun fokusnya utuh.
“Pastikan penanganannya maksimal.”
Kalimatnya terdengar tenang.
Namun jelas itu bukan sekadar saran. Itu keputusan.
Raka mengangguk. “Baik." Kali ini tanpa basa-basi. Jawaban singkat, tapi penuh jaminan.
“Kalau ada perubahan, saya yang akan handle langsung.” Ia menambahkan.
Tidak ada tambahan formalitas dan janji berlebihan.
Dari interaksi singkat itu dapat terbaca, hubungan mereka tidak kaku seperti hubungan biasa. Juga tidak akrab secara terbuka. Namun jelas rasa saling percaya itu ada, tanpa perlu dijelaskan.
Beberapa orang di ruangan itu kembali saling berpandangan.
Ternyata kedatangan dokter kepala dan dua dokter yang lain, bukan untuk visit pasien. Tapi untuk menyambut satu orang.
Sagara. Yang sampai saat ini masih asing bagi mereka.
Dan justru di situlah--terlihat kian jelas posisi Sagara. Dia benar-benar bukan orang biasa.
"Dan untuk keluarga--" Sagara memotong ucapannya. Pandangan itu tertuju pada beberapa orang yang ada di ruangan. Bukan pada Shafiya.
Ilzam maju setengah langkah.
"Saya yang mendampingi sejak awal."
Nadanya tenang. Tidak menantang, dan tidak merendah. Hanya menyatakan posisi.
Sagara mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Ilzam. Menatap sejenak.
"Baik." Satu kata ia ucap. Namun itu belum selesai.
"Pastikan beliau tidak terlalu banyak menerima tamu." Terdengar seperti instruksi umum yang wajar, dan masuk akal. Namun pandangannya tidak bergeser dari Ilzam--seperti sedang membaca, atau menilai.
Ilzam mengangguk.
"Sudah kami atur." Jawabannya sama tenang.
Di sisi lain, Shafiya tetap diam.
Namun kali ini, ia tahu--lelaki yang berdiri di sana bukan hanya membawa namanya sebagai suami.
Tapi juga… dunia yang sepenuhnya berada dalam kendalinya.
"Elara." Sagara menyebut satu nama.
Ia terbiasa memanggil Shafiya dengan nama itu.
"Ya." Shafiya mendongak.
"Pulang sekarang."
Bukan pertanyaan. Bukan perintah, tapi keputusan.
Shafiya diam sejenak. Menatap abinya, lalu maju satu langkah. "Saya masih ingin di sini. Temani abi."
Sagara tak langsung menjawab. Tapi tatapannya jelas, ia tidak suka ditolak.
"Shafa." Kyai Fakih bersuara lirih.
Shafiya menoleh.
"Patuh pada suami."
Tidak keras. Tidak menekan.
Tapi kalimat itu jatuh… tanpa memberi ruang ruang untuk disalah artikan.
Hening.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Namun beberapa pasang mata, arahnya mulai berpindah--dari Kyai Fakih… ke Shafiya… lalu berhenti pada satu sosok. Sagara.
"Suami…?"
Kali ini bukan sekadar bisik.
Tapi pertanyaan yang akhirnya berani keluar.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering